Wait A Minute {part 3}

wait a minute

Title :Wait A Minute

Genre :Romance, Family

Rating : PG-17

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Victoria
  • Nickhun
  • Tiffany Hwang

Other Cast :

  • Choi Siwon
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Lee Taemin
  • Luhan

Part 3
Etude of Memories

~Kyuhyun POV~
Aku berada di rumah sekarang. Dia tidak memperbolehkanku masuk ke dalam ruangan, jadi siwon appa menjaganya. Aku masih berada di kamarku dan memandang ke langit-langit kamar. Seketika bayangan yang pernah kulihat muncul kembali. Aku memejamkan mataku dan memegang kepalaku. Kenapa..aku merasa tersiksa seperti ini? Apa karena aku merasa bersalah pada sikap eomma? Tapi jujur..aku sangat ingin menggendong dan melihat Kyungsoo…sangat..

——————–

~Sooyoung POV~
Aku tengah merapikan barang-barangku. Besok, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Seketika aku terdiam begitu melihat Kyungsoo. Aku menghampirinya. Dia tengah tertidur pulas. Dibanding Kyungho, entah kenapa aku merasa dia lebih mirip kyuhyun. Ngomong-ngomong soal dia.. sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya. Apa aku terlalu keras?
“Appa tahu kau marah pada eommanya. Tapi bukan berarti kau juga mendiamkannya seperti ini. Dia sangat ingin melihat Kyungsoo.”
“Dia bukan putranya.”
“Hei. Kau tidak boleh mengatakannya di depan anakmu.”

~Author POV~
“Ini seperti mujizat.”
“Kau benar yeobo. Dia bertahan.”
Yeosong itu mengecup kening putra kecilnya. Hanya satu orang di dunia ini yang tahu siapa bayi itu sebenarnya.
“Jadi kita akan menamakannya siapa?”
“Lee Taemin.”
“Yeobo kurasa sebaiknya kita pulang ke Busan.”
“Waeyo?”
“Biaya hidup di Seoul terlalu tinggi untuk mengurus seorang anak. Kita mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mempertahankannya. Sebaiknya, kita menunggu. Saat Taemin dewasa, barulah kita kembali ke Seoul.”

———————–

~Kyuhyun POV~
“Kyu ah..irreona.”
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Cahaya matahari menyilaukan mataku. Kudapati appa berdiri di depanku. Aku menoleh ke arah jam. Masih pukul enam pagi
“Dia sudah pulang,” ujar appa
“Jinjja?”
Aku cepat-cepat berdiri dan pergi ke kamar di sebelah kamarku. Saat aku membuka pintunya, kudapati dia sedang menggendong seorang bayi yang tengah tertidur. Saat aku berjalan mendekat, dia mengisyaratkanku untuk diam. Aku menurutinya dan memandang bayi itu dengan gemas. Dia sangat mungil dan menggemaskan. Setelah youngie merebahkannya di tempat tidur, dia menarik tanganku
“Aku perlu bicara denganmu.”

~Victoria POV~
“Kyuhyun ah!”
Aku terbangun dari tidurku. Nafasku terengah-engah. Saat aku menoleh ke samping, aku tidak mendapati Nickhun di sebelahku. Aku mengambil air dan meminumnya. Seketika air mataku menetes. Kyu, aku tidak percaya kalau anak kita meninggal. Saat lahir dia baik-baik saja. aku bisa merasakannya. Dia masih hidup. Tapi dimana dia? Dan siapa bayi yang meninggal itu? Aku tidak mengerti kyu ah. Lama-lama aku bisa jadi gila

~Kyuhyun POV~
“Aku bisa menerima sikap eommamu padaku. Aku tidak peduli dia menghinaku, atau bahkan merendahkan kehormatanku. Tapi aku tidak bisa membiarkannya menyakiti Kyungsoo. Dia bisa mendengarnya. Kau tahu itu kan?”
“Appa bilang dia akan bicara pada eomma dan appa minta, besok kita datang ke rumahku dan membawa kyungsoo.”
“Aku tidak mau.”
“Waeyo?”
“Mianhae kyu. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya pilihan lain selain menjauhkan Kyungsoo dari keluargamu. Aku tidak mau dia mendengar kata-kata eommamu yang sangat menyakitkan. Aku tidak bisa membiarkan putraku tahu seberapa buruk eomma dan appanya. kau mengerti maksudku kan?”
Aku hanya diam. Kulihat matanya sembab. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini
“Tapi dia putraku.”
“Kyu, kau tahu kalau kau bukan appa kandungnya kan?”
“Berhenti berkata seperti itu.”
“Aku bisa memahami sikap eommamu padaku. Tapi tidak pada Kyungsoo. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya hadir di saat yang kurang tepat.”
“Apa kau masih belum bisa melupakannya?”
Dia hanya diam dan berniat masuk ke kamar kyungsoo. Aku menahan tangannya
“Kau yang membuat semuanya menjadi mencurigakan dengan memberikan nama kyungsoo padanya.”
Dia melepaskan tanganku
“pertama, Aku tidak menamakannya kyungsoo karena kyungho. Aku hanya menyukai nama itu. Dan kedua, saat dia dewasa nanti aku akan menceritakan apa yang seharusnya dia ketahui.”
“Geojitmal.”
“Aku tidak bohong. Sebelum aku lahir, seharusnya aku memiliki seorang oppa. Appa bilang, mereka akan menamainya Kyungsoo. Tapi eomma keguguran. Aku tidak memintamu untuk percaya. Tapi aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan”
Dia menutup pintunya. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu kamar itu. Kurasakan appa menepuk pundakku
“Dia butuh waktu.”
“Apa yang dia katakan..benar? Mengenai nama bayi itu?”
“Ne. Aku memang berencana memberinya nama Kyungsoo. Tapi mungkin perkataan para orang tua benar. Kau tidak boleh merencanakan nama anak saat istrimu baru mengandung sebulan. Aku terlalu gegabah.”
Aku menghela nafas. Kebetulan yang membuat salah paham
“Kurasa sebaiknya kau menunda pertemuan dengan bumonimmu. Karena..kau tahu, para eomma baru sangat sensitif.”
“Ne.”

———————–

~Nickhun POV~
Dia bukan Qian. Kalimat itu menghantuiku belakangan ini. Aku mengusap dahiku. Rasanya sangat memusingkan. Seketika pandanganku tertuju pada sebuah frame foto yang berada di atas mejaku.

Tiffany. kenapa justru dia yang menghantui pikiranku sekarang?

———————-

~Tiffany POV~
“Kau tahu. Jika aku tidak mendengar cerita aslinya, aku akan percaya kalau dia adalah putra kyuhyun.”
Youngie hanya tersenyum tipis dan memasangkannya pakaian
“Kau terlihat sangat pro,” ujarku
“Ne.”
“Setelah ini apa rencanamu?”
“Setelah dia berumur satu bulan, aku akan kembali ke kantor.”
“Mwo?”
“Aku harus menunjukkan apa yang bisa kulakukan pada keluarga cho.”
“Tapi..bagaimana dengan kyungsoo?”
“Aku akan membawanya ke kantor.”
“MWOYA?!”
“wae? Apa itu salah? Appa juga membawaku ke kantor sejak kecil.”
“Aish…jinjja. Kau gila hah? Tidak ada bayi yang dapat tidur di kantor”
“Ada. Aku. Dan aku rasa dia akan menurunkan sifat itu.”
“Haish..terserah.”
Aku memegang tangan kecilnya
“Dia sangat manis.”
“Ne.”
“Aku jadi ingin memiliki bayi.”
Pletak! Dia memukul kepalaku
“Yaa!”
“Jangan macam-macam nona hwang. Agency bisa membunuhmu.”
“Aku tahu. Lagipula aku masih ingin sibuk berkarier sampai usiaku tiga puluh tahun. Aku hanya berbicara saja”

~Victoria POV~
Aku mendatangi rumah sakit itu untuk melihat data suster yang menjaga ruang bayi. Hanya ada seorang suster yang bernama Kim Hyoyeon
“Tidak ada tanda-tanda apapun. Mereka tertidur dengan pulas. Tiba-tiba saat pagi hari, bayi Nyonya Song sudah meninggal.”
“MWOYA?! Bayiku baik-baik saja saat lahir. Mengapa dia meninggal tiba-tiba di malam hari. Ini kesalahan rumah sakit!”
“Sabar nyonya,” ujar kepala rumah sakit
“Kau adalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab!” ujarku
“Animnida! Saya berjaga berdua bersama seorang suster magang.”
“Suster magang?”tanyaku
“Ne. Namanya Kim Sejin.”
Aku mengambil data itu dari tangan sang kepala rumah sakit
“Nyonya–”
Aku tidak menemukan nama kim sejin disana
“Mwoya?! tidak ada nama kim sejin. Bagaimana bisa rumah sakit ini membiarkan anak magang berjaga semalaman hah?!”
Mereka berdua hanya diam
“Aku akan menuntut rumah sakit ini atas ketidakprofesionalan dan kupastikan izinmu sebagai suster dicabut!”
Seketika yeoja itu berlutut
“Maafkan saya Nyonya atas kelalaian saya. Saya mohon jangan tuntut saya. Saya memiliki seorang putra yang masih sekolah.”
Aku menahan air mataku
“Saya..mungkin bayi Nyonya tertukar.”
Seketika aku terdiam
“n…ne?”
“Karena…bayi Nyonya lee…meninggal dan tiba-tiba..dia kembali bernafas. Dan dia berada di inkubator di sebelah bayi nyonya.”
“KIM HYOYEON!” kepala rumah sakit itu berteriak
Aku berlutut bersamanya
“Katakan..dimana alamatnya?”
“kami tidak bisa me–”
“Saya bersumpah tidak akan menuntut rumah sakit ini. Tapi berikan saya informasi. Dimana alamatnya?”

—————————

~Kyuhyun POV~
Aku membuka pintu itu diam-diam. Kulihat dia sudah tidur. Aku menutupnya perlahan dan mengendap-endap masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Aku memegang tangan kecilnya. Seketika tubuhku terasa hangat. Inikah rasanya memegang seorang bayi? Aku tidak menyangka akan menjadi appa di usia semuda ini. Aku mengusap kepalanya perlahan. Bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
“Appa.”
Aku melafalkan kata itu sendiri. Aku tidak sabar dia memanggilku dengan sebutan itu

 

~Sooyoung POV~
“Appa.”
Aku terbangun begitu mendengar suara itu. Kuputuskan untuk tetap diam di tempatku.
“Kapan eommamu menerimaku sebagai appamu?”
Aku memejamkan mataku. Molla kyu. Di satu sisi aku ingin hal itu memang faktanya. Di sisi lain, aku tidak bisa membohongi putrak sendiri dan menyeretmu ke dalam masalahku
“Semoga kau menjadi anak pintar dan baik.”
Aku menitikkan air mata. Kenapa aku begitu lirih mendengarnya? Seolah-olah aku memisahkan appa dari anak kandungnya sendiri

————————-

~Victoria POV~
Sudah tiga puluh menit aku berdiri dan mengetuk pintu ini. Hasilnya nihil
“Jogiyo!!”
“Berisik!” seorang tetangga akhirnya memakiku
“yaa! Apa kau tidak tahu hah?! Ini sudah malam!”
Aku tidak mempedulikannya dan masih mengetuk pintu
“Kau seperti orang bodoh! Siapa yang akan membuka pintu itu hah?!”
“Ne?”
“Keluarga Lee pindah ke Busan kemarin.”
“n…..ne?”
“Percuma kau berdiri di sana! Cepat pulang!”
Aku menghampiri ahjumma itu dan berlutut di depannya
“Yaa! Irreona! Apa yang kau lakukan!”
“Ahjumma, jebal katakan padaku. Dimana mereka?”
“Aku tidak tahu agassi. mereka hanya pamit dan berkata kalau mereka pindah ke Busan.”
Seketika air mataku berjatuhan
“yaa! Agassi!”
“Ahjumma…jebal…beritahu aku.. dimana bayiku…dimana?”
“Mwo…mwoya? Apa yang kau bicarakan?”
“Dimana bayiku..”
“Maksudmu bayi nyonya lee? Lee….Taemin?”
Seketika aku berdiri
“Dia masih hidup? Dia baik-baik saja?”
“Ne. Dia sangat manis. Aku sendiri heran. Bagaimana bisa suami istri yang sudah paruh baya itu memiliki anak setampan itu.”
“Dia bayiku ahjumma.”
“M…mwo?!”
Aku memeluknya
“Dia masih hidup…aku tahu dia masih hidup.”
“Yaa! Agassi! Agassi!”

————————

~Nickhun POV~
Krek. Kudengar pintuku dibuka dengan keras
“Dia masih hidup Nickhun.”
“Ne?”
“Anakku. Dia masih hidup.”
Aku berdiri dari kursiku.
“Vict…sadarlah.”
“Aku tidak gila! Aku serius. Dia masih hidup.”
Vict mengambil barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper
“Aku harus mencarinya.”
Aku menahan tangannya
“Ni..”
Aku menciumnya. Seketika kurasakan dia mendorongku dan menamparku dengan sangat keras.
“Aku harus pergi.”
Aku masih mematung di tempatku. Seketika mataku terbuka dan menyadari satu hal. Dia bukan Qian. Dan bahkan tidak bisa menggantikan posisinya. Aku mengepalkan tanganku dan menonjok tembok
“ARRRGHH!”

——————————–

~Kyuhyun POV~
Aku membuka pintu kamar itu perlahan. Kudapati suara kyungsoo yang menangis di sana.
“Kyungsoo ya..jebal uljima.”
Aku memasuki ruangan itu perlahan. Dia hanya menoleh sebentar ke arahku kemudian memalingkan wajah ke jendela
“Mungkin dia lapar,” ujarku
Dia hanya diam
“Mungkin dia–“
“Aku adalah eommanya. Aku tahu apa yang dia butuhkan.”
“Sampai kapan kau mau berperilaku dingin seperti ini padaku?”
Dia tidak menjawab. Aku menutup pintu itu perlahan dan memejamkan mataku. Kenapa rasanya sesakit ini

~Sooyoung POV~
“Lagi-lagi bertengkar.”
Aku menghela nafas dan menatap kyungsoo
“Kyungsoo ya. Eomma mu masih terlalu muda untuk menjalani ini semua. Tapi aku akan mencoba yang terbaik.”
Aku mengecup kenignnya. Seketika dia berhenti menangis
“Kau memang anak yang pengertian.”
Aku duduk di tempat tidur dan memperhatikan wajahnya
“Semakin lama kau justru mengingatkan eomma pada kyuhyun. Bukan appa kandungmu. Waeyo?”
Aku memperhatikan matanya. Puppy eyes. Kyungho tidak punya mata seperti itu. Begitupula aku.
“Kyungsoo ya.. eomma berjanji akan menjadi dewasa untukmu. Eoddae?”

—————————-

~Sooyoung POV~
“Kau yakin akan masuk kantor hari ini?”
Aku mengangguk yakin sambil memasukkan beberapa barang-barang milik kyungsoo ke dalam tas. Aku tidak bisa berdiam diri dan bergantung pada namja itu.
“Appa rasa sebaiknya kau memanggil seorang baby sitter dan–“
“Aku akan mengurus putraku sendiri. Seperti yang appa lakukan dulu. Apa itu salah?”
Appa hanya menghela nafas
“Kenapa dari sekian banyak sifatku, keras kepala harus menurun padamu?”
Aku hanya tersenyum tipis dan menggendong kyungsoo. Saat aku keluar pintu, kulihat kyuhyun sudah berdiri di sana. Aku tidak memedulikannya dan berjalan ke mobil. Dia hanya mengikutiku dari belakang dan duduk di kursi pengemudi
“Kau tidak kasihan padanya?” tanya kyuhyun
“maksudmu?”
“Dia masih berumur satu bulan.”
“Appa membawaku ke kantor sejak umurku 3 minggu.”
“Suasana di kantor tidak nyaman untuk tidur. Lagipula banyak yang harus kau urus. Itu akan membuyarkan konsentrasimu.”
“Aku bisa meminta tolong karyawan lain yang sedang tidak sibuk.”
“Kau hanya akan merepotkan mereka semua.”
Dia hanya diam. Seketika dia membuka pintu mobil
“Kau mau kemana?”
“Mian. Aku baru sadar kalau sepertinya aku memang merepotkanmu. Aku akan pergi ke kantor sendiri. Tanpa bantuanmu.”
“Soo–“
Dia menutup pintunya dan pergi.
“HAISH!!”
Aku memukul setir. Lagi-lagi aku salah bicara.
“Babo babo babo babo!”
Aku memukul kepalaku sendiri. Kenapa aku sangat bodoh? Aku tidak bermaksud begitu youngie..

~Sooyoung POV~
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya
“Sabar..sabar..”
Aku duduk di dalam bis sambil memperhatikan pemandangan dari jendela. Seketika setitik air mataku menetes
“Kyungsoo ya. Aku benar-benar lemah dan kekanak-kanakkan. Bukan begitu?”
Aku tersenyum tipis dan mengusap kepalanya
“Kenapa semua ini terasa berat kyungsoo ya?”

——————————–

~Kyuhyun POV~
Aku berada di kantor sekarang. Kulihat dia sudah duduk di tempatnya. Kyungsoo tertidur dengan tenang di kereta bayinya.
“Dia tidak akan berisik dan merepotkanmu. Aku berjanji,” ujarnya
“Mianhamnida.”
“Tidak perlu meminta maaf. Perkataanmu benar. Semua bayi memang merepotkan bagi orang lain.”
Orang lain.
“Eottokhe sooyoung ah?”
“Maksudmu?”
“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menganggapku seperti appanya? Kau membuatku merasa tersiksa dengan sikapmu yang seperti ini.”
“Kyuhyun ah. Aku tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai appanya karena itu bukan kenyataannya. Aku bisa membohongi siapapun termasuk orang-orang di kantor ini. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.”
“Soo–“
“Seandainya kau memiliki seorang anak kandung dari yeoja yang kau cintai, kau akan lebih menyayangi anak itu dibanding kyungsoo. Bukan begitu?”
Aku hanya diam
“Ah ya. Kau bukan lebih menyayanginya. Kau bahkan hanya menyayanginya dan kyungsoo bukan siapa-siapa.”
“Hentikan.”
“Aku ingin kau sadar. Ada garis di antara kau dan kyungsoo, namanya adalah realita. Jadi berhentilah menuntut banyak karena kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan masing-masing.”
“Ne?”
“Yang kuinginkan hanya satu. Kyungsoo lahir dengan status yang jelas. Sedangkan yang kau inginkan adalah perusahaan ini. Tidakkah egois jika kau meminta lebih dari itu?”

~Sooyoung POV~
“CHOI SOOYOUNG!”
Aku hanya bisa diam. Dia membentakku. Baru pertama kali ini. Dia sering memarahiku tapi dia tidak pernah membentakku. Baik kuakui dia benar-benar marah sekarang. Tapi aku tidak bisa memberinya izin untuk marah padaku. Apa salahku? Yang kukatakan memang benar.
“Huweeee!!”
Aku cepat-cepat berbalik dan menggendongnya
“Kau mengagetkannya.”
Dia hanya diam dan masuk ke ruangan.
“Dia memang benar-benar tidak mengerti.”

~Nickhun POV~
Krek..pintu kamar tebuka. Kulihat dia masuk ke dalam ruangan
“Sebulan menghilang tanpa kabar. Kau kemana?”
Dia hanya diam
“Kau benar-benar tidak realistis. Mana mungkin kau bisa menemukan seorang bayi di Busan?”
“Berhenti Nickhun.”
Aku berbalik dan memegang kedua bahunya
“Lupakan dia vict.”
“Kau benar-benar kekanak-kanakkan.”
“Ne?”
“Tidak ada seorang pun ibu yang bisa melupakan anaknya. Apalagi anaknya masih hidup.”
Aku melepaskannya
“Aku belum menemukannya. Tapi suatu saat nanti aku pasti bisa menemukannya.”
“Kau masih mencintainya?”
Dia hanya diam. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menyudutkannya ke tembok dan menahan tangannya
“Mwo ya..”
“Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah menahannya selama ini. Aku menikahmu karena aku melihat Qian.”
“Qi..an..”
“Hentikan semua ini sebelum aku membuatmu menyesal. Kau mengerti maksudku kan?”
“Nickhun ah..”
Aku melepaskannya
“Jadilah Qian dan aku bisa memastikan hidupmu bahagia. Tidakkah itu menguntungkanmu, victoria ssi?”

—————————————-

~Tiffany POV~
“Kurasa kau tidak bisa terlalu keras padanya.”
Dia hanya diam dan membereskan berkas-berkasnya. Aku memainkan tangan kyungsoo. Dia berceloteh manja. Sangat lucu
“Molla Tiff.”
“Kurasa sebaiknya kau belajar untuk menerimanya sebagai appa kyungsoo. Coba bayangkan. Bagaimana perasaan kyungsoo saat dia mengetahui kenyataan tentang kau dan kyungho oppa?”
“Dia memang harus mengetahuinya saat dewasa. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darinya.”
“Tapi kadang, lebih baik menyembunyikannya daripada membuat sakit.”
“Tiff..”
“Kau tahu. Sejak kecil aku hanya diurus appa. Aku merasa hidupku baik-baik saja tanpa keberadaan eomma. Tapi saat aku dewasa dan aku menemukan fakta kalau eomma membuangku, kurasa sebaiknya aku tidak tahu. Kau hanya akan menyakitinya dengan membiarkannya mengetahui kenyataan pahit saat dia sudah bahagia dan merasa semuanya lengkap.”
“Tiffany..”
“Jangan menghancurkan kebahagiaannya saat semuanya sudah sempurna. Kau mengerti maksudku kan, youngie?”
Dia tidak menjawab.. Aku memegang wajahnya
“tatapn aku youngie. Belajarlah mencintai kyuhyun oppa. Itu lebih baik dibanding semuanya menjadi hancur. Arra?”

————————–

~Kyuhyun POV~
Pukul 9 malam. Aku membuka pintu ruanganku perlahan. Kudapati dia tertidur di kursi. kepalanya bersandar ke meja
“Bagaimana bisa dia tidur di sana?”
Aku berniat membangunkannya. Seketika aku mengurungkan niatku begitu melihat wajahnya. Dia terlihat kelelahan. Aku menarik kembali tanganku dan menghampiri kyungsoo. Matanya memandang ke sekitar dengan bingung
“Kyungsoo ya.”
Aku memegang tangan kecilnya. Diam-diam, aku mencoba menggendongnya. Entah kenapa rasa hangat menjalar di bagian tubuhku. Seketika aku tersenyum
“Neomu kwiyeopta.”
Kulihat dia tertawa
“Jaemi isseo? Wae usoyo?”
Aku melihat ke arah jam
“Ah..sudah malam. Kita harus bangunkan eomma ne?”
Aku merebahkannya di dalam kereta perlahan. Saat aku berbalik kudapati sooyoung ada di belakangku
“Omona! Yaa! Kau mengagetkanku!”
Dia hanya diam. Aku mengusap tengkukku perlahan
“Sudah malam. Sebaiknya kita pulang.”
Aku berbalik dan berniat mendorong kereta bayi itu. Tiba-tiba dia memelukku dari belakang
“Mian.”
“Ne?”
“Kau tahu oppa. Aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang eomma. Banyak hal yang tidak kuketahui. Aku merasa ini semua benar-benar berat. Aku merasa kesal pada eommamu karena aku tahu perkataannya benar. Aku hanya menyulitkanmu.”
Aku berbalik menghadapnya
“Aku benar-benar kekanak-kanakkan dan lemah. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh mengeluh. Tapi ini semua terlalu berat untuk kujalani dan kutanggung sendirian. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada kyungsoo saat dia dewasa kalau eommanya adalah orang yang sangat buruk.”
Aku memeluk dan mengusap kepalanya. Bukan sebagai oppa, seperti yang biasanya kulakukan. Tapi..
“Menangislah kalau itu memang yang terbaik. Setelah ini jangan mengeluarkan air mata lagi. Kau tidak menjalani dan menanggung semua ini sendirian. Aku ingin kau membaginya padaku, dan kita jalani ini bersama. Kau tidak perlu memberitahu kyungsoo kenyataan yang sebenarnya. Appanya adalah Cho Kyuhyun. Dan dia menyandang nama margaku Cho Kyungsoo. jadi jangan berkata yang bukan-bukan lagi.”
“Oppa..”
“Ne?”
“Aku tahu aku adalah orang yang egois. Tapi tidak bisakah kita belajar saling mencintai agar semuanya menjadi lebih ringan untuk dijalani?”
“Kita akan mencobanya, youngie”

—————————

~Siwon POV~
Hari ini hari minggu. Aku mengetuk pintu kamar kyungsoo perlahan. Saat aku membukanya, kudapati youngie sedang menggendongnya dan kyuhyun sibuk membuat susu
“Oppa, ini terlalu panas.”
“Jinjja?”
Aku menahan tawa melihat mereka. Benar-benar manis. Akhirnya mereka bisa akrab seperti dulu
“Oppa! Pampersnya terbalik!”
“Hahahahha. Mianhae.”
Aku menutup pintu itu perlahan. Aku jadi teringat masa-masa dimana aku mengurus youngie. Sesibuk itu.

~Kyuhyun POV~
“Akhirnya selesai.”
Aku terduduk lemas di lantai. Youngie masih menggendongnya. Setelah dia sudah tertidur, youngie merebahkannya di dalam cradle. Aku masih menatapnya dengan heran
“Kau hebat.”
“Ne?”
“Mengurus bayi ternyata sangat sulit. Kukira tinggal dimandikan dan diberi makan.”
“Kau lelah?”
“Ne. Tapi menarik.”
Aku memperhatikan wajahnya. Dia terlihat sangat tenang sekarang. Dia menidurkan kyungsoo dengan lembut. Sosok eomma idaman. Sooyoung ah. Ini gila tapi apakah kau percaya..kalau sepertinya aku mencintai sosok yang lembut itu lagi. Seperti bagaimana dia menjadi cinta pertamaku

Flashback
Jika aku mengingat kejadian itu, aku benar-benar merasa sangat malu. Saat itu aku masih TK. Aku menangis di bawah mejaku karena tidak banyak orang mengolok-olok nilai matematikaku. Tiba-tiba seorang yeoja muncul di depanku
“Kenapa kau duduk disini Kyuhyun ah?” tanyanya
Aku masih diam. Dia menarik tanganku
“Keluarlah. Disini gelap. kata appa, setan suka bersembunyi di tempat gelap.”
“Sooyoung ah. Kenapa kau menakut-nakuti ku?”
“Aniya. Aku tidak menakut-nakuti. makanya keluar.”
Aku keluar dari sana semudah itu karena takut. Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan bergambar hello kitty dan memberikannya padaku
“Kata appa jagoan tidak boleh menangis.”
“Aku bukan jagoan. Aku Cho Kyuhyun.”
Tiba-tiba dia menghapus air mataku. Aku hanya tercengang melihatnya. Saat itu, dia terlihat seperti seorang malaikat
“Nah, begitu terlihat lebih tampan.”
Dia menaruh saputangan itu di tanganku
“Setiap orang gagal. Appa juga pernah mendapat nilai tiga puluh saat dia sekolah. Tapi sekarang dia sukses. Kurasa kau pasti bisa seperti itu. Kau bisa belajar dan bisa menjadi pintar saat besar
Flashback End

Aku tersenyum mengingatnya.Aku menyukai yeoja itu hingga duduk di bangku SMA. Setelah dia jadian dengan kyungho aku memutuskan untuk melupakannya. Dan sekarang kurasa..aku akan merebutnya kembali.

———————————-

~Sooyoung POV~
“Kyungsoo yaa lihat sini. Hana dul set!”
aku menekan tombol kameranya. Seketika aku tersenyum begitu melihat hasilnya
“Kwiyeopta~” ujar kyuhyun
Kudengar pintu kamarku terbuka. Appa masuk ke dalam
“Wah!! Dia sudah bisa terngkurap?”
“Ne appa.”
Aku memotretnya saat tertawa
“Dasar norak.” ujar appa
“Appa sendiri pasti seperti itu saat aku masih kecil!”
“Ne. Tapi tidak sampai menempelkan foto-fotonya di dinding
“Appaa!!”

~Victoria POV~
Tiga bulan sudah dia mengurungku di dalam rumah. Aku berpikir keras. Aku harus bisa mencari jalan keluar. yang jelas aku tidak boleh gegabah. aku harus tenang. Aku memejamkan mataku perlahan. Kyu ah, apa kau tahu putra kita hidup. Tapi aku tidak tahu dimana dia sekarang

———————————

~Kyuhyun appa POV~
“Kurasa anak itu sudah melupakan kita. Sudah 6 bulan dia tidak kesini dan menjenguk kita.”
Aku hanya diam dan membaca koran
“Apa pekerjaannya sesibuk itu?”
Aku menutup koranku
“Yeobo. Kurasa kau harus meminta maaf pada sooyoung.”
“Mwoya? Meminta maaf? untuk apa hah?”
“Kau tidak sadar? Dia marah padamu karena kau memperlakukan istrinya seperti itu”
“Yeobo!”
“Apa sulitnya meminta maaf? Kau ingin kyuhyun kemari kan?”

~Kyuhyun POV~
“Igeo.”
“Ini apa appa?” tanyaku sambil memegang amplop itu
“Buka saja.”
Aku membukanya. Kudapati dua buah tiket pesawat di sana
“Ini..anggaplah sebagai permohonan maaf dari eommamu. Dia benar-benar merasa bersalah pada kalian. tapi kau tahu kan kalau dia gengsi untuk meminta maaf?”
“Mianhamnida appa. bukannya kami berniat menolaknya. Tapi…kyungsoo–“
“Kami akan mengurusnya. kau tidak perlu khawatir.”
“Tapi–“
“Sekarang pergilah berlibur. Kalian bekerja dengan sangat keras akhir-akhir ini. Kalian butuh hiburan.”
“Algesseumnida. Gamsahamnida appa.”
“Ne.”

————————————-

~Sooyoung POV~
“Ani aku tidak bisa.”
“Waeyo?”
“Oppa. Aku tidak bisa mempercayakan kyungsoo pada eommamu. kau tahu itu kan?”
“Eomma juga masih memiliki peri kemanusiaan youngie. Dia tidak mungkin mencelakakan kyungsoo, bahkan sekalipun dia membencinya.”
“Kau yakin?”
“Ne. Aku jamin.”

—————————–

~Kyuhyun eomma POV~
Ting tong..
Aku bergegas membuka pintu. Kudapati suamiku berdiri di sana. Dia menggendong seorang bayi
“Annyeong halmeoni.”
Seketika aku tercengang melihatnya. Bayi itu menatapku dengan bingung. Matanya bulat. Kulitnya sangat putih dan wajahnya tampan. Suamiku membawanya memasuki rumah
“Ini..anak siapa?” tanyaku
“Ini cucu kita.”
Seketika aku tahu maksudnya
“Yaa! kenapa kau membawanya kesini? Kemana bumonimnya?”
“Aku menyuruh mereka pergi ke Jeju.”
“MWO? Dan kau membawa anak yeoja itu kesini?”
“Dia bukan anak yeoja itu. Dia cucu kita.”
“YEOBO!””
“Seharusnya kau berterima kasih. ini adalah saat dimana kau bisa berdamai dengan kyuhyun. Arra?”
“Kau…haish…semua orang disini benar-benar sudah gila!”
“Tidakkah kau merasa dia mirip kyuhyun saat kecil.”
Aku menatapnya sesaat. Harus kuakui dia memang bayi yang sangat manis. Tapi tetap saja..
“Dia bukan cucu kita. Camkan itu.”
“Terserah. yang jelas dia akan berada disini sampai dua hari ke depan.”
“MWO?!”

—————————–

~Kyuhyun POV~
Kami sudah berada di hotel. Dia terlihat gelisah daritadi.
“Kenapa appa tidak mengangkat teleponnya..”
“Youngie, tenang saja. Kyungsoo pasti baik-baik saja.”
“Aku percaya kalau appamu akan menjaganya. Tapi tidak dengan eomma.”
Dia terus mencoba menghubungi appa.
“Yeoboseyo? Appa? Bisakah aku berbicara dengan kyungsoo? ne.”
Aku menghela nafas. Dia menekan tombol loudspeaker
“Annyeong kyungsoo ya…”
“Ma ma ma ma.”
“Eomma.”
“Eo..eo..mma”
“Kau sudah makan?”
“Ma ma.”
“Aigoo~”

—————————————–

~Kyuhyun POV~
Hari sudah malam. Kami berdua duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Suasana disini benar-benar awkward. Aku menatapnya sebentar. Kudapati dia sedang melihat foto-foto kyungsoo di cellphonenya. aku mengusap tengkukku. jujur, aku benar-benar gelisah sekarang.
“Kau tidur di tempat tidur saja oppa. Aku tidur di sofa.”
“Ne?”
“Yang membayar penginapan ini adalah appamu. mana mungkin aku yang tidur di tempat tidur?”

~Sooyoung POV~
Biarpun aku berkata seperti itu, sejujurnya aku sendiri gelisah. Aku berada di kamar yang sama dengan seorang namja. Kami memang suami istri. Tapi perasaanku belum sampai ke tahap itu. Aku butuh waktu untuk memulihkan semuanya. Karena aku sendiri..tidak mengerti perasaanku padanya sekarang. Aku egois. Ya, aku tahu itu. Aku tidak ingin dia kembali ke tangan vict. Tapi di sisi lain aku belum siap menerimanya sebagai nampyeonku. Dia terlalu baik untukku.

~Kyuhyun eomma POV~
“Aigoo..kenapa kau menangis daritadi?”
Aku mulai panik disini. Sudah lama aku tidak mengurus bayi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Saat aku memegang dahinya aku mengetahui satu hal. Dia demam
“Apa AC kamar ini kedinginan?”
Aku mematikan AC kamarku dan mengukur suhu tubuhnya. Tidak terlalu panas. bisa diatasi dengan kompres. Sepertinya aku harus membelinya sebentar di luar

~Sooyoung POV~
Kami hanya diam daritadi hingga akhirnya dia mematikan televisinya
“Aku akan menunggumu.”
“Ne?”
“Aku akan menunggumu untuk melihatku sebagai seorang namja. bukan seorang oppa pada yeodongsaengnya.”
Dia berdiri dari kursi. Aku menahan tangannya
“Bukan…itu maksudku.”
“Ne?”
“Kau tahu…aku…”
Aku mencoba memikirkannya. Ani. Aku tidak bisa mengatakannya duluan. Dimana harga diriku?

~Kyuhyun appa POV~
“Yeobo aku pulang!”
Tidak ada suara. Bahkan pintu rumah terkunci. Aku mencoba mencari kuncinya di dalam tasku. Haish..kemana dia?

~Kyuhyun POV~
Dia hanya diam dan menggigit bibir bawahnya. Aku kembali duduk di kursi
“Aku tidak tahu apa yang kurasakan.”
Aku menatap matanya. Aku tumbuh bersama yeoja ini. Aku mengetahui semua sifatnya. Yang buruk dan yang baik. Termasuk sekarang. Dia pernah mengatakan hal yang sama dulu, saat dia menyukai Jung Kyungho. Dia tidak mengerti perasaannya sendiri. Dan saat itu aku berkata hanya ada satu hal yang akan membuatnya mengerti. Yaitu..

~Kyuhyun appa POV~
Saat aku memasuki rumah tidak ada siapapun. Bahkan tidak ada makanan di atas meja. Aku melangkahkan kakiku ke lantai atas. Saat aku membuka pintu kamarku, kudapati suara tangisan kyungsoo yang sangat keras
“KYUNGSOO!!!!!”

~Sooyoung POV~
Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku hanya diam. Perlahan aku memejamkan mataku.Tiba-tiba kudengar cellphoneku berbunyi. Aku cepat-cepat mengambilnya begitu melihat nama penelponnya
“Yeoboseyo appa? Ada apa?”
“Kyungsoo jatuh dari tempat tidur!”

————————————

~Kyuhyun POV~
Kami berdua menaiki pesawat di jam terdekat. Pukul 11 malam pesawat itu take off. Aku memandang youngie. Dia terus berdoa daritadi. Dia menangis. Aku bisa memahami perasaannya karena aku sendiri merasa kacau sekarang. Semoga tidak terjadi sesuatu yang fatal. Setibanya di Seoul, orang suruhan appa sudah menunggu. Kami cepat-cepat pergi ke rumah sakit itu. Youngie terus memandang ke arah jendela
“Tenanglah, dia pasti baik-baik saja.”
“Bagaimana aku bisa tenang kyu? Dia masih enam bulan dan dia jatuh dari ranjang setinggi itu! Inilah kenapa dari awal aku tidak bisa mempercayai eommamu. Dia tidak mungkin menjaga kyungsoo”

~Sooyoung POV~
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung mencari kamarnya. Jam 2 pagi. Saat aku tiba di sana, kudapati appa dan eommanya duduk di depan ruangan itu.
“Bagaimana appa?”
“Dokter sedang menanganinya.”
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya kyuhyun
“Tadi..eomma pergi ke minimarket untuk membeli kompres karena badannya panas.”
“Panas? Dia baik-baik saja tadi pagi.”
“Berapa suhu kamar eomma?” tanya kyuhyun
“tujuh belas derajat.”
“MWO? Eomma! Mana ada bayi yang tahan di suhu 17 derajat di musim gugur seperti ini!”
“Yaa! Kenapa kau memarahi eomma?”
“Ahjumma,” aku menarik dalam nafasku. Aku tidak bisa menahannya lagi
“Aku tahu kalau kau memang tidak menyukai kyungsoo. tapi aku tidak menyangka kalau kau bisa mencelakakannya seperti ini.”
“Yaa! Kenapa kau berbicara seolah-olah aku berniat membunuhnya hah? Aku tidak tahu. Aku hanya meninggalkannya sebentar ke minimarket dan tiba-tiba dia jatuh saat aku pulang.”
“Sekarang ahjumma menyalahkan bayi yang tidak tahu apa-apa?”
“YAA! Kau benar-benar keterlaluan! Kau yang menitipkan anakmu padaku dan kau menuduhku mencelakakannya?!”
“AHJUMA!”
Krek. pintu itu terbuka
“Bagaimana sonsaengnim?” tanyaku pada dokter
“Kami sudah menanganinya. Ada beberapa memar di tangannya. Sebagai orang tua, seharusnya kalian lebih menjaganya. Apa kalian tahu resiko yang bisa terjadi bila tidak ditangani dengan cepat?”
Aku membungkuk
“Ne.”
Dokter itu berlalu. tak lama kemudian, kyungsoo keluar dari sana. Aku mengikutinya ke dalam ruangan. Kulihat tangannya memar
“Kyungsoo ya..mianhae… Eomma berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi..ne?”

———————–TBC——————–

 

64 thoughts on “Wait A Minute {part 3}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s