Wait A Minute {Part 2}

wait a minute

Title :Wait A Minute

Genre :Romance, Family

Rating : PG-17

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Victoria
  • Nickhun

Other Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Choi Siwon
  • Jung Kyungho
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Lee Taemin
  • Luhan

Part 2
Scared

~Sooyoung POV~
Aku masih duduk dan menunggunya disini. Aku menatap ke arah jam dengan gusar. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia tak kunjung datang. Entah sudah berapa gelas wine yang kuhabiskan karena bosan. Pikiranku benar-benar kacau. Aku mengambil cellphoneku dan memutar ulang pesan yang kukirimkan padanya
‘Oppa. Temui aku di Palace Lounge jam delapan malam. Kita harus bicara mengenai kelanjutan hubungan kita’
Kurasa pesan itu jelas dan tidak bernada mengancam. Kenapa dia tidak datang? Aku menyandarkan kepalaku di meja. Jung Kyungho. Benar-benar manusia yang menyebalkan

~Kyuhyun POV~
Entah kenapa kakiku bergerak ke tempat ini. Mungkin karena aku tidah tahu dimana aku harus pergi. Aku tidak mungkin pulang ke rumah appa, apalagi kembali ke vict. Aku melangkahkan kakiku dengan gusar. Seketika kudengar suara ribut dari dalam
“KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU HAH? AKU CHOI SOOYOUNG! PEMILIK LOUNGE INI! KENAPA KAU MELARANGKU MINUM?!”
Aku cepat-cepat bergegas ke dalam. Kulihat para pelayan berbisik. Beberapa orang memperhatikannya.
“Kalian semua tidak mengertiku! Lalu apa hak kalian melarang?”
Aku melihat mejanya. Satu botol wine ada di sana. Habis setengah. Apa dia sudah gila hah? Aku berjalan mendekat ke arahnya
“Yaa! Choi Sooyoung?”
“Kyungho oppa?”
Dia memegang wajahku. Aku memejamkan mata. Jadi karena namja itu.
“Kau menyebalkan sekali! Aku menunggumu dua jam! Kau kemana haaa?”
“Dimana kunci mobilmu?”
Dia tidak memedulikanku dan menarikku ke kursi. Para pelayan bergerak menjauh karena dia sudah tenang.
“Temani aku minum.”
“Mwo?”
“Itu hukumanmu! Karena kau datang terlambat!””Tapi–”
Dia menatapku dengan tatapan menuntut. Aku tidak mengerti. Tapi yang jelas, dia mengira aku jung kyungho. Aku mengambil gelas itu dan meneguknya dalam satu tegukan. Aku memang membutuhkan wine ini untuk tenang. Vict membuatku kesal
“Wah..kau ternyata peminum yang baik.”
Aku tidak memedulikannya dan tetap menuangnya ke gelasku. Perlahan air mataku menetes. Vict sialan. Aku ingin sekali mengumpat padanya seperti itu. Tapi faktanya, yang kulakukan hanya diam. Tiba-tiba dia menarik kerahku
“Wae?”
“Aku sudah memikirkannya oppa. Aku tidak bisa terus menunduk pada appa dan menuruti semuaaa yang dia inginkan.”
Kepalaku terasa pusing. Aku membiarkannya berceloteh tentang namja itu sedangkan tanganku terus bergerak menuang wine itu
“Aku tidak bisa meninggalkanmu. Sekalipun appa mendesakku dan bahkan menamparku. Kita kabur bersama oppa.”
Aku tidak memedulikannya hingga botol itu habis
“Oppaaaa! Kau mendengarku atau tidaak?”
Aku berbalik dan menciumnya. Membuatnya berhenti berkata-kata dan berceloteh lagi

———————–

~Kyungho POV~
Aku memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur. Youngie mian. Tapi aku tidak akan bisa datang karena..aku tidak bisa membuatmu berharap. Kau masih kekanak-kanakkan dan lugu soal cinta. Dan sekarang saatnya kau mencoba menjadi dewasa dan berpikir jernih. Kalau kau memang harus melupakanku. Karena itulah yang terbaik.

~Victoria POV~
Aku tidak bisa tidur. Aku mengkhawatirkannya. Apa dia baik-baik saja? Kemana dia pergi? Ke rumah appanya? Jika memang ya..semoga saja

~Kyungho POV~
Aku melihat cellphoneku. Apa dia masih disana? Aku sudah mencoba untuk tidur. Tapi hasilnya nihil. Aku mengambil jaketku. Ternyata aku memang tidak bisa melepaskannya seperti ini.

——————————-

~Kyuhyun POV~
Kami berada di mobilnya sekarang. Setidaknya ini lebih baik daripada meninggalkannya disana sendirian. Aku memundurkan kursi dan merebahkan diri.
Aku menoleh ke arahnya. Mata kami bertemu. Satu..dua..tiga

~Tiffany POV~
“Haish..kenapa dia tidak bisa dihubungi?”
Aku menaruh cellphoneku dengan kesal. Tidak biasanya youngie tidur jam sebelas malam

—————————-

~Sooyoung POV~
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Saat aku membuka mataku, kudapati diriku berada di dalam mobil.
“A..h..”
Tubuhku terasa sakit. Bagian bawah tubuhku terasa perih. Aku melihat sekelilingku. Tidak ada siapapun.
“Namja brengsek.”

~Kyuhyun POV~
Aku merutuki diriku sendiri. Namja macam apa aku ini? Apa bedanya aku dan victoria? Aku mengepalkan tanganku. Brengsek. Aku mengatakan hal itu pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku meninggalkannya setelah apa yang terjadi semalam. Padahal selama ini aku menghina-hina Jung Kyungho. Ternyata aku sendiri tidak lebih baik. Bahkan namja itu belum pernah menyentuhnya. Siapa aku ini? Aku mengusap wajahku. Mianhae sooyoung ah. Bahkan aku adalah oppa yang tidak bisa menjaga yeodongsaengnyanya sendiri.

————————

~Victoria POV~
Aku  berada di bridal sekarang. Mengurus pernikahanku dan Nickhun. Perasaanku masih sangat ganjil. Tapi segurat rasa dalam benakku masih berkata bahwa aku tidak akan bisa melupakannya..

~Kyuhyun POV~
Aku berada di rumah appa sekarang. Pikiranku terlalu kacau.
“Aku tidak akan memarahimu karena membangkang padaku. Tapi aku hanya ingin kau memetik pelajaran dari hal ini.”
“Mianhamnida appa. Karena aku tidak mendengarkanmu. Appa benar. Aku sangat emosional dan–”
Appa memeluk dan menepuk pundakku
“Kau pulang.”
Seketika aku menumpahkan air mataku dan memeluknya. Appa..aku benar-benar namja yang buruk.

—————————

~Tiffany POV~
Aku tersenyum begitu melihat hidangan yang berada di atas meja makan. Sempurna. Semuanya adalah makanan kesukaan Nickhun. Aku duduk dan menunggunya. Tepat pukul 6 malam, dia datang.
“Annyeong!”
“Annyeong tiff.”
“Masuklah. Aku membuatkan beberapa makanan untukmu.”
“Ani. Aku hanya sebentar disini.”
“Makanlah sebentar.”
Aku menariknya ke dalam ruang makan. Dia hanya tersenyum tipis
“Kau tidak biasanya bilang akan kesini. Jadi aku memasak–”
“Aku hanya ingin sebentar disini. Setelah ini aku harus pergi ke bridal.”
Seketika aku terdiam mendengarnya
“Bridal. Maksudmu?”
Dia tersenyum dan berjalan mendekat ke arahku. Jantungku berdetak kencang. Kulihat dia mengeluarkan sebuah undangan
“Aku akan menikah minggu depan.”
“Ne?”
Aku mengambil undangannya dan membaca namanya. Tunggu. Ini…
“Kuharap kau datang.”
“Hahahahahahahaa. Kau sedang bercanda kan?”
“Ani aku serius.”
“Ani. Kau ada-ada saja. Mana mungkin kau menikah dengan victoria. Kalaupun kau menikah, kau akan menikah denganku! Apa aku sebodoh itu? Hahahahaha”
“Ne?”
Seketika aku terdiam
“Kau kan namjachinguku. Kau akan menikah dengan siapa kalau bukan yeojachingumu?”
“Yeojachingu? Namjachingu?”
Wajahnya serius. Aku menatap matanya dengan bingung
“Nickhun–”
“Sejak kapan kita jadian?”
“M…mwo? Kau..tidak sedang bercanda kan?”
“Tiff. Aku tidak pernah menyatakan cinta padamu dan–”
“Kau bilang..”

Flashback
“Kau benar-benar hebat oppa! Aku akan mempromosikan restoranmu kepada chingudeul ku.”
Dia tersenyum dan memakan bulgoginya. Tak lama kemudian dia berkata padaku
“Tiff?”
“Ne?”
“Tiff..aku menyayangimu. Jebal jangan tinggalkan aku seperti Qian meninggalkanku.”
Flashback End

“Tapi aku tidak pernah bermaksud menyatakan cinta.”
Seketika aku terdiam. Bibirku bergetar. Tidak..tidak mungkin
“Oppa. Selama ini aku ada di sampingmu..apa artinya? Apa artinya kau bercerita segala hal padaku dan berkata kau menyayangiku..”
“Aku memang menyayangimu sebagai adik tiff.”
Aku menjatuhkan gelasku.
“Tiff..”
“Keluar oppa.”
“Tapi–”
“KELUAR!”

———————————-

~Sooyoung POV~
“MWO? JADI DIA MENIKAH DENGAN ASISTENNYA? SECEPAT ITU?”
Tiffany mengangguk dan menahan air matanya
“Youngie. Kau tahu sendiri kan? Aku selalu ada di sampingnya. Aku menunggunya. Aku mengorbankan banyak hal untuknya. Sedangkan dia bisa-bisanya menikah dengan asisten yang baru dia kenal hanya karena wajahnya mirip Qian.”
“Benar-benar keterlaluan.”
“Cinta.. dia bisa datang dengan cepat dan pergi dengan lambat. Bukan begitu?” tanya tiff padaku
Seketika aku mengingat kejadian hari itu
“Molla.”

———————–

~Victoria POV~
Aku melangkahkan kakiku ke altar dengan gugup. Ini bukan yang pertama kalinya. Tapi..jujur aku ragu. Aku memejamkan mataku. Kyu..ini yang terbaik..bukan?

~Kyuhyun POV~
Hari pertamaku bekerja di Choi corp. Aku tidak tahu ekspresi apa yang harus kutunjukkan saat bertemu sooyoung. Apa dia mengingatnya? Aku memejamkan mataku. Frustasi.
“Kyu ah. kaja.”
“Ne.”
Aku menuruni anak tangga. Kulihat eomma tersenyum menyambutku
“Ini baru putraku,” ujarnya sambil merapikan dasiku. Aku masuk ke mobil dan bertekad. Akan kubuktikan pada vict. Apa yang bisa kulakukan

~Sooyoung POV~
Aku berada di dalam lift seorang diri. Perkataan Tiffany menghantuiku. Cinta. Dia mudah datang, sulit pergi. Ting. Seketika pintu itu terbuka, kulihat sosok yang sangat kukenal berdiri di depan pintu
“Kyu…hyun oppa?”

~Kyuhyun POV~
Aku tercengang melihatnya di sana. Apa dia mengingatnya dan akan menamparku? memakiku? Atau..
Tiba-tiba dia berlari ke arahku dan memelukku
“Aaaaaa jeongmal jeongmal jeongmal bogosipho!!”
Seketika aku tahu. Dia tidak ingat apapun
“Kapan kau pulang dari Amerika? Kenapa tidak memberitahuku?”
“Ne?”
“Studimu sudah selesai?”
“Ne?”
“Ah kau lupa bahasa korea?”
Aku menggeleng pelan
“Aku hanya bingung apa yang harus kujawab terlebih dulu.”
“Ah ya! Kau bekerja disini?”
“Ne. Dan aku adalah atasanmu.”
“MWO?”
Youngie seandainya kau tahu apa yang kulakukan..sebesar apa kau akan membenciku?

—————————–

~Victoria POV~
“Makanlah ini. Sehat untukmu.”
Aku tersenyum mendengarnya. Keluarga Nickhun sangat baik padaku. Termasuk eomma dan appanya. Entah aku harus menebusnya dengan apa
“Gomawo.”
“Kau tahu vict. Kami sangat senang melihat Nickhun tersenyum seperti itu.”
“Ne. Kami sudah lama kami tidak melihatnya.”
“Ne?”
“Ah.. ya jika kau butuh bantuan, panggil pelayan saja. Arra?”
“Ne eomoni.”
Aku melanjutkan makanku. entah kenapa.. aku merasa ada yang disembunyikan

————————-

~Kyuhyun POV~
Aku baru tahu dari appa. Ternyata dia berkata pada semua orang kalau aku pergi ke Amerika. Aku bisa menghela nafas lega untuk sesaat.
“Kau tahu. Selama kau di Amerika, aku seringkali berhalusinasi. Pertama, aku melihatmu menjadi cleaning services. Kedua, aku melihatmu menjadi pelayan di lounge. Aneh bukan?”
Aku mengusap tengkukku
“Padahal jelas-jelas itu mustahil. Kau kan di Amerika. jadi menurutmu siapa yang kulihat?”
“Molla.”
Aku memalingkan wajahku ke arah dokumen.
“Kau masih bersama vict?” tanyanya padaku
Seketika aku terdiam
“Atau..kalian sudah putus?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Mian.”
“Kau sendiri?”
“Molla. Aku sendiri tidak tahu. Pada dasarnya kami sama-sama saling menyakiti. Kami tahu kami tidak bisa bersama tapi–”
“Putus saja,” ujarku tiba-tiba
“Ne?”
“Maksudku..kalau tidak bahagia untuk apa dilanjutkan?”
Dia hanya diam dan duduk di depanku
“Semuanya tidak akan semudah itu.”

————————-

~Nickhun POV~
Aku duduk di dengan Tiff sekarang. Matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia kecewa. Tapi apa yang harus kuperbuat?
“Kau menikah dengannya karena Qian bukan karena kau mencintainya kan?”
“Tiff.”
“Aku tahu kau sangat mencintai Qian. Tapi itu tidak berarti Victoria bisa menggantikannya.”
“Bisakah kita menghentikan semua ini? Kau salah paham tentang hubungan ki–”
PLAK!
Dia menamparku
“Aku hanya ingin menamparmu seperti itu. Setidaknya agar kau merasakan sedikit dari yang kurasakan.”

——————————–

~Victoria POV~
Aku sedang membereskan lemari baju baruku. Aku memindahkan barang-barangku kesini. Sejujurnya aku merasa sangat buruk pada Nickhun. Aku menikah dengannya karena itulah yang dinamakan kesempatan. Seketika pandanganku tertuju pada sebuah kotak yang ada di sana. Aku mengambilnya. Saat aku akan membukanya, tiba-tiba seseorang mengambilnya dari tanganku
“Nickhun..”
“Kau tidak boleh membuka kotak ini.”
“Waeyo?”
Dia tidak menjawab apapun. Dia malah pergi membawa kotak itu. Sedangkan aku hanya bisa berdiri mematung. Ada yang aneh disini

~Sooyoung POV~
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
“Haish..”
Aku melempar cellphoneku ke bangku sebelah. Jung Kyungho bodoh. Menyebalkan. Tolol. Bisa-bisanya dia tidak mengangkat teleponku.

~Kyungho POV~
Cellphoneku terus berbunyi. Aku tidak ingin mengangkat teleponnya. Apalagi yang ingin ia katakan? Apalagi yang ingin ia jelaskan? Semuanya sudah terlalu jelas.

Flashback
Aku masuk ke dalam Lounge itu. Dia tidak ada. Apa dia sudah pulang?
“Jogiyo.”
“Ne?”
“Apa yeoja yang tadi duduk di pinggir jendela itu sudah pulang.”
“Ah ne. Dia pulang bersama namjachingunya.”
“Namjachingu?”
“Ne.”
Aku melangkahkan kaki ke luar Lounge itu. Namjachingu. Apa pelayan itu salah paham? Aku masih mencoba mencernanya. Saat aku menstarter motorku, aku menemukan mobilnya di tempat parkir. Dia tengah berciuman dengan seorang namja. Aku mengepalkan tanganku dan meninggalkan tempat itu. Aku memicu motorku dengan kecepatan tinggi. Apakah ini yang dinamakan pengkhianatan? Sesakit..ini?
Flashback End

———————

~Siwon POV~
Aku berada di ruang makan sekarang. Sangat sepi. Tidak ada keributan seperti biasanya
“Dimana Nona?” tanyaku
“Nona..”
“Annyeong appa.”
Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat pucat
“Wajahmu pucat. Kau sakit?” tanyaku
“Ani.”
Dia mengoleskan selai ke rotinya. Sedangkan aku hanya bisa menatapnya dengan was-was
“Jangan terlalu memforsir dirimu untuk bekerja.”
“Hm.”
“Kau bisa beristirahat di rumah hari ini kalau kau mau.”
Seketika dia menoleh ke arahku
“Biasanya appa memaksaku ke kantor. Apapun yang terjadi.”
“Hei. itu kan kecuali kau sakit.”
Dia mengambil rotinya setelah itu berdiri
“Kau mau kemana?”
“Ke kantor. Jika aku telat, aku mendapat hukuman.”
“Hukuman?”
“Ne. Dari atasanku.”
“maksudmu kyuhyun?”
“Ini semua karena appa membuatnya menjadi atasanku. Aku pergi dulu. Annyeong!”
“Ne.”
Aku tersenyum tipis melihatnya. Kyuhyun. Hebat sekali dia.

~Kyuhyun POV~
Aku berada di ruang meeting sekarang. Harus kuakui, jika menjadi cleaning services melelahkan tenaga, maka yang ini melelahkan otak. Setelah selesai meeting, aku memejamkan mataku. Aku mengusap dahiku. Ini benar-benar membuatku pusing. Saat aku menoleh ke samping, kulihat youngie tertidur
“Yaa.”
Aku menepuk pundaknya. Tidak ada reaksi.
“Yaa..youngie ah.”
“Hmph..”
Dia mengusap matanya
“Kemana yang lain? Mereka belum datang juga?”
“Yaa! Meetingnya sudah selesai. Kau tidur daritadi hah?”
“Mianhae..”
“Haish…”
Aku berdiri dari kursiku dan melangkah keluar ruangan. Saat aku sampai di pintu, dia tak kunjung berdiri dari kursinya
“Youngie.”
“A..h..”
Aku menghampirinya.
“Gwaenchanha?”
“Perutku sakit.”
“yaa! Kau tidak makan pagi hah?”
“Aku sarapan roti.”
“Haish. Arra. Aku akan mengambilkan teh. Tunggu disini.”

~Sooyoung POV~
Mataku seperti melihat kunang-kunang. Aku benar-benar merasa pusing sekarang. Ini bahkan lebih buruk daripada berada di pesawat 12 jam.
“ini.”
“Gomawo.”
Aku meminumnya perlahan. Teh ini tidak membantu
“Kau maag?”
Aku menggeleng
“Memang apa yang kau rasakan?”
“Perutku kram.”
“Kau mau ke rumah sakit?”
“Shirheo. Kau tahu seberapa aku membenci tempat itu.”
“Yaa! Kalau kau sakit bagaimana pekerjaanmu nanti hah?!”

~Victoria POV~
Setelah Nickhun pergi, aku diam-diam mencari kotak itu di gudang. Tapi hasilnya nihil. Haish..aku benar-benar penasaran. Apa yang berada di dalam sana? Kenapa aku tidak boleh melihatnya? Seketika pandanganku tertuju pada sebuah foto yang tergeletak di lantai. Ini……

Aku mengerutkan dahiku. Seingatku, aku tidak pernah berfoto dengannya seperti ini. Tapi..bagaimana bisa yeoja itu sangat mirip denganku?

————————

~Sooyoung POV~
Berkat paksaannya, aku berada di tempat yang bau dan sangat menyebalkan itu sekarang. Dia bahkan ada di sampingku untuk memastikan kalau aku tidak kabur. Aku benar-benar benci dengan rumah sakit dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Itu mengingatkanku pada eomma.
“Saya akan membuatkan resep vitamin. Harus diminum tiga kali sehari–”
Aku memainkan cellphoneku. Aku malas mendengar penjelasannya. Kyuhyun menyenggol tanganku. Aku masih tidak mempedulikannya
“Dan saya sarankan, jangan memakai heels setinggi itu,” ujar euisa
Aku baru menolehnya setelah dia mengatakan itu
“Waeyo?” tanyaku
“Karena itu tidak berbahaya bagi–”
“Berbahaya? Aku sudah memakai heels selama lima tahun setiap hari dan aku tidak pernah jatuh ataupun terkilir. Begitu pula–”
“Ne. Itu memang tidak berbahaya bagi anda. Tapi itu mungkin berbahaya bagi janin anda.”
“N..ne?”
“Anda harus menjaga pola makanan dan pastikan istri anda tidak bekerja terlalu keras. Apalagi memakai heels seperti ini karena kandungannya cukup lemah.”
“Chankanman. Kau bercanda hah?”

~Kyuhyun POV~
“Animnida. Ini hasilnya”
Euisa itu memberinya kertas. Entah apa isinya. Seketika aku terdiam mendengarnya. Geuronika eobso..
“Usia kandungan anda memang masih 3 minggu. Tapi anda harus berhati-hati dan–”
Sret. Dia berdiri dari kursinya
“Kita pergi.”
Dia menarik tanganku. Aku mengikutinya keluar tanpa berkata apapun. Dalam benakku aku masih bertanya-tanya. Tiga minggu.
“Youngie..”
“Dokter itu bodoh. Dia salah. Mana mungkin aku hamil. Benar kan?”
Aku hanya diam.
“Atau kau mempercayainya? Yaa Cho Kyuhyun. Jawab aku!”
Aku tidak menjawab apapun. Dia melepaskan tanganku dan pergi. Sementara aku masih berdiri mematung. Vict.. sekarang aku benar-benar tidak ada bedanya denganmu.

~Sooyoung POV~
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
Aku menyeka air mataku dan menekan tombol dua. Pesan suara
“YAA! ANGKAT TELEPONKU APA KAU GILA HAH?! CEPAT TEMUI AKU DI SUNGAI HAN NANTI MALAM!”Aku menstarter mobilku dan memicu kecepatan tinggi.

~Kyungho POV~
Aku datang ke sungai han. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa dia membentakku seperti itu. Sesampainya disana, kulihat dia sedang duduk di dekat sungai
“Youngie.”
Dia berdiri dan menatapku. Matanya sembab
“Kau..menangis?”
PLAK!
Seketika dia menamparku. Aku menatapnya dengan bingung
“Yaa! Kenapa kau menamparku?”
“Kenapa aku menamparmu? Tidakkah kau memiliki pertanyaan yang jauh lebih baik dibanding itu?”
“Mwo?”
“Dasar namja brengsek! Setelah apa yang terjadi kau tidak mau mengangkat teleponku? Kau mau lari hah?”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!”
Dia melempar sebuah kertas padaku. Aku membacanya. Seketika aku merasa seperti..pecahan kaca mengiris-ngiris kulitku sampai yang terdalam.
“Setelah ini apa yang harus kulakukan?”
Aku mengembalikan kertas itu padanya. Sejujurnya aku merasa marah dan sangat kecewa. Tapi apalagi yang bisa kukatakan
“Temui namja itu dan tuntutlah pertanggungjawabannya! Apalagi?”
“Mwo?”
“Kau tidak seharusnya berada disini dan melampiaskan kemarahanmu padaku. Aku yang seharusnya marah karena aku melihatmu bersamanya dengan mataku sendiri.”
“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu.”
“Aku yang tidak mengerti maksudmu Choi Sooyoung. Setelah kau mengkhianatiku, kau datang dan berkata padaku kalau kau mengandung anak namja itu.”
“N…ne?”
Tubuhnya bergetar
“Ani. Kau mencoba menipuku dan lari dari tanggung jawab?”
“Aku benar-benar tidak tahu siapa appanya. Tapi dia adalah namja yang bersamamu di hari itu.”
Seketika dia terduduk lemas
“Geuronika eobso..”
“Youngie..”
“Pergi,” ujarnya
“Tapi–”
“PPALI KA!”
Aku menghela nafas dan melangkah pergi. Aku menstarter mobilku dan memicu kecepatan maksimal

~Kyuhyun POV~
Aku memicu mobilku dengan kecepatan setinggi mungkin ke sungai han. Ani. Dia tidak boleh menemui Jung Kyungho di sana. Aku tidak ingin menghancurkannya lebih dari ini apabila dia mendengar cacian namja itu. Lebih baik dia membenciku setelah mengetahui faktanya. Lebih baik dia tahu anak itu adalah anakku dan menghujatku dibanding Kyungho menyakitinya.
Tiba-tiba cellphoneku berbunyi. Dari appa. Aku berniat mengambilnya. Tiba-tiba cellphoneku jatuh ke lantai mobil.
“Haish….”
Aku berusaha mengambilnya.
“Yeobose–”
Seketika sebuah motor dengan kecepatan yang sangat tinggi muncul di depanku. Aku langsung membanting setir ke sebelah kanan. Kudengar suara hantaman keras dari sebelah kiri mobilku. Setelah itu..semuanya gelap

—————————

~Sooyoung POV~
Pandanganku kosong. Hanya tertuju pada sungai han yang menjadi saksi bisu. Ani.. Tidak mungkin. Aku yakin kalau yang kulihat benar-benar dia. Kepalaku terasa pusing.
Drrrt..
Aku melihat cellphoneku. Dari Kyungho.  Aku cepat-cepat mengangkatnya
“Yeoboseyo..?”
“Apa anda mengenal pemilik cellphone ini?” tanya seorang namja padaku
“Ne. Waeyo?”
“Dia mengalami kecelakaan. Sekarang dia berada di rumah sakit Seohan.”
“N….ne?”
“Cepatlah datang!”
Teleponnya dimatikan. Aku mengusap wajahku. Tuhan…apalagi ini

~Kyuhyun POV~
Aku mengerjapkan mataku. Sangat terang..
“Kyu ah? Kyu ah?”
Aku mencoba memandang ke sekitar. Kulihat appa dan eomma ada di sampingku
“Syukurlah..aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk padamu.”
Eomma memelukku dengan erat.
“Apa yang terjadi?”
“Kau mengalami kecelakaan.”
“A..h..”
Aku memegang kepalaku.
“Yeobo cepat panggil euisa!”
“Ne.”

~Sooyoung POV~
“Suster, dimana kamar pasien yang mengalami kecelakaan dekat sungai han?”
“Di ruang lima. Lurus dan belok kanan.”
“Gamsahamnida.”
Aku cepat-cepat berlari ke sana. Setelah menemukan ruangannya, aku masuk ke dalam. Kulihat euisa berdiri di sana dan suster sedang menutup selimutnya
“Andwaeyo! Cepat pasang semua alat-alatnya kembali!”
Mereka hanya diam
“Agassi.”
“Dia belum meninggal. Tidakkah kalian lihat!”
Aku mengguncang tubuhnya
“Oppa! Ini tidak lucu. Cepat bangun dan katakan pada mereka kalau kau hanya bercanda!”
“Agassi..”
“Oppa…jebal..”
“Agassi!”
Semuanya menjadi gelap dalam seketika. Apa aku akan mati menyusulnya?

~Kyuhyun POV~
“Kepalanya terbentur setir. Tapi semuanya sudah kami atasi.”
“Apa yang terakhir kali kau ingat?” tanya euisa
Aku mencoba mengingatnya. Saat itu aku keluar dari rumah setelah vict memintaku menandatangani surat itu dan…
“Apa aku tertabrak saat aku akan ke rumah?”
Appa menatap eomma
“Apa aku tertabrak karena aku tidak hati-hati menyebrang?”
“Kau menabrak pohon saat mengendarai mobil. Mungkin kau mencoba menghindari pengendara motor yang salah jalan.”
“Mobil?”
“Sebaiknya jangan mamaksa dirimu mengingat apapun,” ujar eomma
“Pengendara motor itu…bagaimana?”
Mereka semua hanya diam
“Yaa! Bagaimana?”
“Dia terpental ke trotoar setelah tertabrak dan–”
“Dia selamat?”
Mereka tidak menjawabnya. Seketika aku mengetahui jawabannya
“Dia meninggal?”
“Sebaiknya jangan memikirkan hal itu terlebih dahulu. se–”
“Yaa! Mana mungkin bisa seperti itu!”
Krek..tiba-tiba ruanganku terbuka
“Sonsaengnim, ada seorang pasien yang pingsan di ruang lima.”

~Sooyoung POV~
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Semuanya sangat terang. Apa aku sudah meninggal? Kuharap begitu. Tapi itu semua hanyalah pertanyaan bodoh seseorang yang baru sadar dari pingsan.
“Youngie?”
Aku menoleh ke sumber suara itu. Kudapati kyuhyun di sana. Wajahnya terlihat khawatir. Kepalanya diperban dan dia mengenakan baju pasien
“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ada disini?”
Dia hanya diam. Seketika aku mengingat apa yang terjadi
“Kyungho oppa..”
Kyuhyun menahan tanganku
“Lepaskan,” ujarku
“Bisakah..kalian meninggalkan ruangan ini?” tanyanya pada euisa dan orang-orang lainnya
“Ne.”
Aku teduduk lemas di tempat tidurku. Setitik air mataku jatuh. Kulihat dia berlutut di depanku
“Yaa! Irreona! Apa yang kau lakukan?”
“Mianhamnida…”
“Ne?”
“Jika saja aku tidak melintas di jalan itu..mungkin..”
“Apa maksudmu?”
“Aku..yang menabraknya.”
Kepalaku seperti ditusuk panah.
“N…ne?”
“Aku yang menabraknya. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tapi…”
PLAK!
Aku menampar pipinya. Aku tidak bisa menahan emosiku. Aku ikut terduduk lemas di lantai
“Kyu ah…setelah ini apa yang harus kulakukan…”
“aku benar-benar meminta maaf. Aku–”
“Apa kau tahu seberapa pentingnya dia hah?”
“Aku sendiri tidak ingat bagaimana–”
“Bagaimana aku melanjutkan hidupku setelah ini? Siapa yang akan jadi appa anak ini. Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu.”
“Youngie..”
“Atau dia memang mencoba bunuh diri? Atau dia benar-benar ingin kabur dari tanggung jawab. Aku tidak tahu kyu ah..aku tidak tahu.”
“Youngie..”
“Tinggalkan aku disini.”
“Tapi–”
“Jebal.”

~Siwon POV~
Aku memasuki ruangan itu dengan geram. Kulihat dia duduk di tempat tidurnya. Aku berjalan secepatnya ke sana. Dia menatapku dengan pandangan kosong. Matanya sembab. Seketika rasa geramku sedikit menurun. Jujur, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Tapi di sisi lain, aku sangat kecewa
“Siapa appanya? Pembalap itu?” tanyaku
“Appa boleh mencaciku. Berkata kalau aku bodoh dan sebagainya. Tapi akupun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa meminta pertanggungjawaban seseorang yang sudah mati”
“Appa benar-benar kecewa padamu. Kau tahu itu kan?”
Dia mengangguk
“Setelah ini apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak bisa melahirkan seorang anak tanpa seorang appa. Semua orang akan bertanya-tanya dan membicarakanmu dengan sangat buruk.”
“Aku tahu.”
Aku mengusap wajahku. Jujur aku sangat frustasi.
“Gugurkan,” ujarku
“N..ne?”
“Kau tidak bisa melahirkannya, kau tahu itu youngie. Itu hanya akan menjadi beban bagimu.”
“Tapi..”
“Kau tidak akan bisa menikah dengan nampyeon yang baik. Kau tidak akan bisa berkonsentrasi pada pekerjaanmu. Masa depanmu akan hancur bila kau mempertahankannya.”
“Aku tidak bisa appa.”
Aku memegang kedua bahunya
“Tatap appa.”
Dia menoleh ke arahku. Sejujurnya aku tidak tega mengatakannya. Tapi ini satu-satunya cara
“Appanya pun tidak mau mengakuinya dan mencoba bunuh diri dengan masuk ke jalur kendaraan yang salah. Sekarang kau ingin mempertahankannya? Itu hanya akan menyulitkan hidupmu. Pikirkan itu baik-baik.”

~Kyuhyun POV~
Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang. Pikiranku dipenuhi youngie. Dia pasti membenciku sekarang karena aku terlibat dalam kecelakaan itu. Sekalipun polisi telah menjelaskan bahwa ini adalah salah Kyungho yang masuk ke jalur yang salah, aku tetap terlibat. Aku membunuh appa dari anak itu. Aku keluar dari kamarku. Aku harus bicara dengannya. Setibanya di sana, aku mendapati kamarnya kosong.
“Suster, dimana pasien Choi Sooyoung?” tanyaku pada seorang perawat yang lewat
“Dia.. baru saja masuk ke lift. Mungkin ingin pergi ke taman dan mencari udara segar.”
“Gamsahamnida.”
Aku berjalan ke arah lift. Kulihat panahnya ke atas. Berhenti di lantai 12. Saat aku menoleh ke petunjuk, lantai dua belas…atap rumah sakit?

~Sooyoung POV~
Angin bertiup dengan kencang. Aku mengusap lenganku yang terasa dingin. Aku menoleh ke bawah. Sangat tinggi. Aku memejamkan mataku. Oppa..sekalipun kau tidak mau mengakuinya. Sekalipun orang-orang membencinya. Aku tidak bisa membunuhnya dan hidup dalam rasa bersalah. Aku mencintainya. Bahkan sebelum dia lahir. Karena dia adalah satu-satunya kenangan yang bisa kumiliki. Aku melangkahkan kakiku ke atas. Appa mianhamnida karena aku tidak bisa menjadi putri yang baik. Tapi..appa benar. Aku tidak bisa melanjutkan hidupku..
Aku memejamkan mataku. Di hitungan ketiga, kita akan pergi bersama aegi. Satu…dua…ti..
Hup. Tiba-tiba seseorang menarikku
“YAA! KAU GILA HAH?!”
Aku membuka mataku. Kyuhyun ada di depanku. Nafasnya terengah-engah. Aku melepaskan tangannya
“APA YANG KAU LAKUKAN?!”
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau mau bunuh diri hah?”
Aku hanya diam
“Yaaa! Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah!”
“Begitu pula hidup. Hidup tidak menyelesaikan masalah!”
Dia hanya diam
“Bisakah kau membayangkan perasaanku hah? Aku hanya akan membebankan semua orang. Aku mencoreng kehormatan appaku dan diriku sendiri. Aku hanya mempermalukan keluargaku!”
“Youngie..”
“Appa memintaku menggugurkannya untuk melanjutkan masa depanku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa hidup dalam rasa bersalah.”

~Kyuhyun POV~
“mianhamnida..” akhirnya hanya itu yang bisa kukatakan
“Kau tidak perlu meminta maaf. Ini memang salahku karena–”
“Aku akan bertanggung jawab.”
“n…ne?”
“Aku akan menjadi appanya.”
“Ani. Aku tidak ingin melibatkanmu.”
“Aku jelas terlibat dalam kecelakaan itu.”
“Tapi kau bukan appa anak ini. Aku tidak ingin menggunakan kematian Kyungho sebagai alibi.”
Entah kenapa hatiku terasa sakit mendengarnya
“Aku tidak bisa hidup dalam rasa bersalah.”
“Begitu pula aku. Aku tidak bisa membiarkanmu bertanggung jawab pada–”
“Aku akan belajar.”
“Ne?”
“Aku akan belajar mencintaimu. Tidak bisakah kita mulai dari awal dan beri aku kesempatan untuk menebus semuanya? Pikirkan anakmu, youngie.”

—————————–

~Victoria POV~
Aku sedang menyiapkan makanan bersama eomoni. Seketika muncul rasa penasaran dalam benakku
“Eomoni.”
“Ne?”
“Apa..eomoni mengenal Qian?”
Seketika dia terdiam. Aku menoleh ke arahnya. Reaksinya mencurigakan
“Ani.”
“Apa dia sangat mirip denganku?”
“Kenapa kau menanyakan pertanyaan seperti itu?”
“Aku hanya penasaran karena..”
“Sebaiknya kau tidak bertanya seperti itu pada Nickhun. Arra?”

———————–

~Sooyoung POV~
Seminggu lagi aku menikah. Ne, seminggu lagi. Aku terduduk lemas di balkon kamarku. Pandanganku kosong. Aku merasa menjadi yeoja yang sangat buruk. Aku mengambil undangan yang ada di atas meja itu. Bagaimana bisa..

~Kyuhyun appa POV~
“Kau benar-benar gila. Bagaimana bisa kau merestui pernikahan itu hah? Lebih baik aku memiliki mantu seperti victoria.”
Aku hanya diam dan melepaskan dasiku
“Ini baik untuk masa depannya.”
“Masa depan? Bagaimana menurutmu perasaannya? Dia baru berpisah dengan vict. Dan sekarang harus menikah dengan yeoja lain. Apa menurutmu aku akan menerima anak itu sebagai cucuku?”
Aku menghela nafas dalam
“Kyuhyun akan menjadi pemimpin di choi corp. Tidakkah itu baik?”
“Kau hanya mementingkan perusahaan dan choi corp. Kau tidak mementingkan perasaan putramu. Jika saja kau tidak mengusirnya hanya karena menikah dengan vict, mungkin dia berbahagia dengan yeoja itu.”
“Terserah kau saja. itu keputusan putramu sendiri. Bukan keputusanku.”

—————–

~Victoria POV~
Aku menatap undangan itu dengan tak percaya. Undangan pernikahan. Bagaimana….bisa? Aku tahu ini akan terjadi. Tapi aku tidak tahu..akan secepat ini.
Sret. Tiba-tiba undangan itu diambil dari tanganku
“Nickhun..”
“Kita tidak perlu datang.”
Dia membuang undangan itu ke tempat sampah dan pergi. Aku memungutnya kembali. Apa-apaan ini? Aku berkorban untuknya dan dia melupakanku secepat ini? Ani. Tidak mungkin. Pasti ada yang tidak beres. Aku harus mencari tahu hal ini.

~Kyuhyun POV~
Resepsi pernikahan. Aku memandang ke sekitar. Aku tidak menemukan vict di salah satu undangan. Pesta ini digelar dengan sangat meriah. Benar-benar menakjubkan. Padahal persiapannya hanya seminggu. Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya cukup pucat.
“Kau lelah?”
“Ani.”
“Kau bisa beristirahat di ruangan sebelah kanan kalau kau mau.”
“Ani. Tidak perlu.”
Dahinya mengeluarkan keringat dingin. Aku mengambil sapu tanganku dan berniat menghapusnya. Dia malah menahan tanganku
“Tidak perlu.”
Aku cukup khawatir dengannya. keseimbangannya tidak terlalu baik. Aku menahan bahunya saat dia hampir jatuh
“Sebaiknya kau beristirahat.”
“Tidak bisa..masih banyak undangan disini. Kau akan menimbulkan kecurigaan.”
Aku tidak bisa melihatnya seperti ini terus. Aku bergegas menggendongnya. Seketika para undangan bersorak
“Apa yang kau lakukan?”
“Ini tidak akan mendatangkan kecurigaan.”
Aku merebahkannya di sofa.
“Aku akan mengambilkan air. Tunggu sebentar, ne?”

~Sooyoung POV~
Aku menyandarkan punggungku di sofa dan memejamkan mata. Hari ini benar-benar melelahkan. Krek..kudengar pintu itu terbuka
“Kau cepat seka–”
Seketika aku terdiam begitu melihat siapa yang masuk. Dia..
“Lama tak berjumpa. Choi Sooyoung.”
Aku masih tercengang melihatnya
“Atau aku harus memanggilmu cho sooyoung?”
“Bagaimana kau bisa berada disini?”
dia mengeluarkan undangannya
“Kurasa ada satu hal yang harus kau ketahui.”
“Ne?”
“Sejak awal aku sudah tahu. Ada yang tidak beres dengan pernikahan ini. Dan aku menemukannya.”
Dia membanting sebuah koran di meja itu. Artikel kematian Kyungho
“Choi corp tidak akan membiarkanmu menghancurkan nama mereka.”
Aku berdiri dari kursiku
“Kau tidak tahu apa-apa tentangku jadi–”
“Aku tahu segalanya, Choi Sooyoung. Kau mengorbankan perasaan teman masa kecilmu untuk kepentinganmu dan–”
PLAK! Aku menamparnya
“Jaga mulutmu.”
“Jaga mulutku? Dengar baik-baik posisiku ada di atasmu.”
“Maksudmu?”
“Anak yang kukandung ini adalah anak Kyuhyun. Jadi jangan macam-macam denganku.”
“M…mwo?”
“Kau tahu apa yang akan terjadi jika dia mengetahuinya kan?”
“Kau mengancamku?”
“Bisa dibilang begitu.”
Tok..tok..tok.. Kudengar pintunya diketuk
“Kurasa Kyuhyun datang. Bagaimana menurutmu jika aku berkata bahwa kau menampar mantan istrinya?”
“Mantan..istrinya?”
“Ah..rupanya kau benar-benar tidak tahu apa-apa.”
Dia berjalan mendekat ke arahku
“Dengar baik-baik. Aku bisa menyerangmu kapan saja. Jadi bersiaplah.”
“Kau–”
“Aku merelakannya menikah dengan yeoja lain karena kupikir dia adalah yeoja yang benar-benar baik dan bisa membahagiakannya. Nyatanya tidak. Kuakui, aku menyesal dan salah langkah. Aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Tapi dengar ini baik-baik. Aku tidak akan melepaskannya dengan mudah.”

~Tiffany POV~
Aku mengambil wine dan meneguknya perlahan. Seketika kudapati Nickhun berada di ambang pintu. Awalnya aku merasa itu hanya halusinasi sampai aku melihatnya menarik yeoja itu. Aku mengikutinya dari belakang. Kulihat mereka bertengkar di lapangan parkir
“Sudah kubilang kau tidak sepantasnya datang kesini!”
“Wae? kakiku adalah milikku. Itu hakku.”
“Mwo?”
“Aku lelah denganmu dan muak berada di rumah terus!”
“Lalu apa maumu?”
“Siapa yang kau lihat dari diriku?”
“Ne?”
“Qian?”
Seketika aku berbalik dan berjalan menjauh. Aku harus tahu. bagaimana bisa youngie mengenalnya.

~Sooyoung POV~
“Kenapa pintunya terkunci tadi? Aku sampai memanggil keamanan untuk membukanya.”
“Ani…tadi aku sedang bicara dengan temanku.”
“Teman?”
Krek..Tiffany berlari terengah-engah ke tempatku
“Kyuhyunie..bisakah kau meninggalkan kami sebentar?” tanyaku
“Ne.”
Setelah pintu itu tertutup, tiffany memegang tanganku
“Kau mengenal Nickhun?”
“Pertanyaan macam apa itu. Jelas-jelas aku hanya bisa mendengar namanya saja darimu.”
“Atau..barangkali kau mengenal victoria?”
“Darimana kau mendapatkan nama itu?”
“Jadi kau mengenalnya? Kau yang mengundangnya kesini?”
“Aku sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa datang.”
“Ne?”
“Dia adalah orang yang sangat kubenci. Dia musuhku. Sama seperti bagaimana kau membenci asisten Nickhun. Memangnya kenapa? Dia berbuat sesuatu yang buruk padamu?”
“Dia…adalah asisten Nickhun yang kuceritakan padamu.”
“N..ne?”
“Bagaimana bisa dia menyulitkanmu?”
“Dia…adalah mantan Kyuhyun dan dia mengancamku.”
“Ne?”

———————

7 months later

~Victoria POV~
“Chukkhae bayi pertamamu namja yang sehat.”
Aku menghela nafas lega. Aku mengecup keningnya.
“Aku tidak merasa dia mirip Nickhun,” ujar eomoni saat menggendongnya
“Mungkin dia mirip vict waktu bayi. Bukan begitu, victoria?”
“N..ne.”
“Anak itu benar-benar parah. Bisa-bisanya dia pergi dinas ke luar negeri di saat istrinya melahirkan hari ini.”
“Mau bagaimana lagi. Ini kan demi masa depan putranya juga. Bukan begitu?”
Aku tersenyum tipis. Jelas saja dia tidak peduli.

~Kyuhyun POV~
Tujuh bulan berlalu. Aku tengah berada di kantor untuk menyelesaikan tugasku. Tiba-tiba cellphoneku bergetar
“Yeoboseyo?”
“Kyu ah.. apa youngie bersamamu?”
“Ani. Waeyo?”
“Ani. Hanya…tadi dia bilang akan pergi ke tempatmu tapi..dia belum pulang sampai sekarang.”
“Ne?”

~Sooyoung POV~
“Oppa..Nan wasseo.”
Aku memegang kaca itu dan mengusapnya perlahan.
“Jeongmal bogosipho.”
Aku mengusap air mataku.
“Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak bisa melupakan oppa dan mencintainya. Apa yang harus kulakukan? Aku sangat buruk oppa.”
Aku memejamkan mataku dan menarik nafas dalam
“Sebulan lagi anak ini akan lahir. Kau tahu oppa, kadang aku bertanya-tanya.. apa appa anak ini tidak mau mengakuinya atau..bahkan aku tidak tahu siapa appanya? Tapi apapun itu..aku merasa sangat buruk.”
Aku melepaskan tanganku dari kaca itu
“Oppa, seandainya dia tahu kalau anak kandungnya akan lahir hari ini..apa dia akan meninggalkanku? Aku tidak tahu perasaan apa yang kurasakan saat ini. Aku takut kehilangan atau aku takut menanggung ini sendirian? Aku sangat egois oppa..”

~Kyuhyun POV~
Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali. Tidak diangkat. Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisinya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kudengar pintu kamarku terbuka
“Kau belum tidur?” tanyanya
“Yaa! Kemana saja kau seharian? Semua orang di rumah mencarimu. Mereka benar-benar panik.”
“Mianhae.”
“Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu dan anak kita?”
Dia hanya diam dan duduk di sofa
“Kau membuatku merasa sangat buruk sekarang.”
“Aku tidak bermaksud memarahimu. Kau tahu kan aku khawatir dan–”
“Ani. Bukan karena itu.”
Aku melangkahkan kaki ke arah pintu
“Aku akan mengambilkanmu minum.”
Saat aku membuka pintunya, kudengar dia berkata
“Tapi karena kau menyebutnya sebagai anakmu.”
Aku pura-pura tidak mendengarnya dan keluar

~Tiffany POV~
Hari sudah malam. Aku berjalan dengan yakin ke arah ruangan itu. Penampilanku sudah sempurna. Pakaian, rambut, dan bahkan sepatu. Aku berjalan memasuki ruangan itu. Tiba-tiba kudengar seseorang memanggilku
“Jogiyo.”
“Ne?”
“Apa..kau karyawan baru?” tanyanya
“Ne. Joneun Kim Sejin imnida. Aku sedang magang disini.”
“Ah…pantas kau mendapat shift jaga malam.”
“Ne.”
Aku memandang ke sekeliling. Tiba-tiba kudapati dua orang bayi berada di dalam inkubator. Entah mengapa yang seorang hanya diam, tidak terlihat bernafas
“Ah..kau pasti heran melihatnya. Aku juga.”
“Ada..apa?”
“Aku sangat kasihan pada keluarganya. Sepuluh tahun mereka tidak dikaruniai anak. Akhirnya mereka dikaruniai seorang putra, tapi putra mereka meninggal sesaat setelah dilahirkan. Sang ibu tidak mau putranya dikeluarkan dari inkubator. Dia yakin putranya akan hidup lagi. Padahal dokter yakin, itu mustahil. Dokter sudah menyarankan mereka mengikhlaskannya karena biaya yang mereka keluarkan sudah sangat banyak dan mereka bukanlah keluarga yang sangat berkecukupan.”
“Kasihan.”
“Ne.”
Kulihat suster itu memejamkan mata
“Kau, berjagalah. Aku sangat lelah.”
“Ne.”
Setelah memastikannya benar-benar tertidur, aku melihat ke sekeliling. Tidak ada CCTV. Aku menarik nafas dalam. Victoria. Aku tidak berniat mencelakakannya. Aku hanya ingin kau merasakan sedikit dari yang kurasakan. Katakan selamat tinggal.

~Nickhun POV~
“Andwaeyo….andwaeyo..”
“Sudahlah vict..” Eomma mencoba menenangkannya
Aku mengusap bahunya.
“Ini takdir vict.”
“Ani..dia masih baik-baik saja kemarin..aku yakin..”
“Ikhlaskan vict.”
“Andwae…”

~Tiffany POV~
“ini benar-benar mujizat. Bahkan secara medis tak dapat dijelaskan.”
Aku berjalan meninggalkan para suster itu. Aku memicu mobilku dengan kecepatan tinggi. Dibanding keberadaannya menyulitkan banyak orang, bukankah sebaiknya dia bersama seseorang yang bisa mencintainya? Bukan begitu, vict?

————————

~Nickhun POV~
Aku duduk di samping vict sekarang. Jujur aku tidak tega melihatnya seperti ini. Tapi bayangan dirinya yang mirip Qian tidak terlihat di mataku sekarang. Qian tidak pernah menangis di depanku. Dia yeoja tegar yang akan langsung menyeka air matanya
“Katakan ini bohong.”
“Terimalah vict. Ini takdir.”
“Ani…tidak mungkin. Aku yakin dia masih hidup. Bisa saja seseorang menculiknya atau–”
“Vict..”
“Apa yang harus kulakukan Nickhun ah?”

~Sooyoung POV~
“Mwo? Jugosseo?”
Tiff mengangguk
“Aku mendengarnya dari eomma Nickhun.”
“Bagaimana bisa?”
“Molla. Katanya dokter pun tidak tahu bagaimana putranya bisa meninggal.”
Aku terdiam mendengarnya.
“Bukankah ini berita baik bagimu?”
“Aku tidak sekejam itu tiff.”
“Haish..setidaknya kau tidak perlu takut kalau anak itu akan menyulitkanmu dan kyuhyun.”
Aku menggeleng pelan
“Aku jadi takut.”
“Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padamu. Percayalah.”

~Tiffany POV~
Reaksinya di luar dugaanku. Apa aku kejam? Ani. Aku menepuk pipiku. Ini yang terbaik. Aku justru berbaik hati pada anak dan yeoja yang baru memiliki putra itu. Ne, aku baik pada keluarga mereka. Lagipula mereka akan menyayangi anak itu.. pasti. Lagipula aku hanya memberi vict pelajaran. Bahwa ia tidak bisa merampas satu pun dari mereka. Baik Kyuhyun maupun Nickhun. Dia harus merasakan apa yang aku dan youngie rasakan. Itu pantas untuk ia bayar

———————

~Kyuhyun POV~
Aku membuka pintu kamarku perlahan. Kulihat dia sudah tertidur pulas. Aku merapikan rambut yang menutupi wajahnya perlahan. Setelah memastikan dia benar-benar tertidur, aku memegang perutnya perlahan. Rasanya hangat. Seolah anak itu adalah putra kandungku sendiri. Aku bisa merasakan tendangannya. Youngie..apakah kau percaya ini? Aku menganggapnya putra kandungku sendiri dan antusias menyambut kelahirannya. Seketika sebuah bayangan kejadian muncul di kepalaku. Bayangan aku mencium seorang yeoja di sebuah tempat mirip Lounge
“A…h..”
Aku memegang kepalaku. Rasanya sakit. Aku cepat-cepat mengambil air. Bayangan apa barusan?

~Nickhun POV~
Tiffany duduk di depanku sekarang.  Aku tidak memedulikannya dan bekerja
“Aku turut berduka cita.”
“Aku tidak terlalu peduli. Lagipula itu bukan anakku.”
“Jinjja?”
“Hm.”
“Kau sudah sadar bahwa dia victoria, bukan Qian.”
Seketika aku terdiam. Dia berdiri dari kursinya
“Aku akan menunggumu.”
“Ne?”
“Apalagi yang kau cari darinya Nickhun?”

———————–

~Siwon POV~
“Apa dia benar-benar menyiapkan ini?”tanyanya
“Ne.”
Dia tersenyum memandang ke sekitar kamar bayinya
“Kau suka?”
“Ne.”
“Setelah ini, appa harap kau belajar mencintainya.”
“Ne?”
“Kau tidak perlu berbohong. Appa tahu kalau kau masih belum bisa melupakan namja itu. Tapi kau harus sadar, pengorbanan apa yang sudah dia berikan padamu.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak bisa bersikap kekanak-kanakkan lagi setelah anakmu lahir.”
“Ne.”
“Dan appa harap dia memiliki adik secepatnya.”
“Appa!!”

———————

~Kyuhyun POV~
Hari ini adalah hari ulang tahun appa. Aku dan youngie pergi ke restoran untuk makan bersama bersama appa dan eomma. Dan daritadi..suasananya sangat hening
“Kau harus berhati-hati youngie. Jangan bepergian jauh sendirian.”
“Ne, abeonim.”
“Setelah bayinya lahir, kau harus meminum yaggug. itu bagus untuk kesehatanmu. Eomoni akan membuatkannya.”
“Mwo?”
“Yeobo..”
Aku menghela nafas. Eomma mulai lagi
“Tidak perlu abeonim. merepotkan.”
“Ne. Kau dengar sendiri kan?” ujar eomma
“Eomma, bisakah kau berhenti?”
“Haish..jinjja. Ada apa dengan kalian berdua hah? Kalian bermaksud menyerangku?”
“Yeobo jaga sikapmu,” ujar appa
“Mwoya? Kenapa aku harus menjaga sikap? Karena dia putri choi corp? Dia menantuku dan itu tidak lebih.”
“Eomma!”
“Kau membentakku sekarang?”
“Hentikan,” ujar youngie
“Mwoya. Kau yang memulainya dan kau memakiku?” tanya eomma
“Yeobo..”
“Jika eommamu masih hidup dan melihat kelakuanmu, dia pasti sangat kecewa. Beruntung eommamu sudah meninggal dan tidak bisa melihat seberapa buruk putrinya yang hanya bisa menjadi parasit putra orang lain.”
“EOMMA!”
“A…h..”
“Youngie gwaenchanha?”

~Siwon POV~
Aku cepat-cepat pergi ke rumah sakit begitu mendapat telepon dari Kyuhyun. Setibanya disana, kudapati mereka semua duduk di luar
“Appa..”
“Kyu ah! Kenapa kau disini hah? Seharusnya kau berada di dalam dan–”
“Putrimu yang tidak mengizinkannya masuk!” ujar nyonya cho
“Haish..apa yang dia pikirkan?!”
Aku masuk ke dalam ruangan itu. Kulihat dia menitikkan air mata dan merintih kesakitan
“Youngie!”
Aku memegang tangannya. Dia terlihat sangat lemah. Jantungku berdetak kencang, seperti saat aku melihat eommanya berjuang
“Appa akan memanggilkan kyu–”
Dia menahan tanganku
“Jangan. Aku bisa berjuang sendiri. Tidak perlu ada dia disini.”
“Kalau begitu, sebaiknya operasi caesar. Appa tidak bisa melihatmu seperti ini. Terlalu riskan.”
“Tidak. Aku pasti bisa melahirkannya tanpa operasi. Akan kubuktikan pada mereka.”
“Mereka?”
“Heeungg!!”

~Kyuhyun POV~
“Ini semua karenamu,” ujar appa
“Lihat kau menyalahkanku lagi.”
Aku mengusap wajahku. Jujur aku merasa sangat khawatir. Jantungku terus berdetak kencang. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?
Krek..
Kulihat ruangan itu akhirnya terbuka. Appanya keluar dari ruangan
“Bagaimana appa?” tanyaku
Dia tidak berkata apapun dan menarik tanganku ke taman rumah sakit. Wajahnya terlihat marah. Jantungku berdetak semakin kencang. Dia berhenti di dekat bangku taman
“Bagaimana kondisinya dan anak kami appa?”
“Aku cukup senang kau menanyakannya. Dia baik-baik saja. Putranya sehat.”
Aku menghela nafas lega
“Tapi aku cukup kecewa dengan satu hal. Kyu ah, sekalipun itu bukan putra kandungmu, dia adalah istrimu. Kau berjanji di hadapan Tuhan dan di depanku kalau kau akan menjaganya. Tapi yang kulihat sepertinya tidak.”
“Mianhamnida appa.”
“Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Tapi padanya. Aku mengenal kepribadian putriku, kyu ah. Aku memang salah karena terlalu mengekang dan memanjakannya. Dia pun menjadi lemah seperti itu. Tapi yang tadi kulihat di dalam bukanlah putri manja yang biasanya kulihatdi rumah. Dia berbeda. Dia seperti seorang wanita yang sangat dewasa dan rela mengorbankan nyawa demi bayi dan kehormatannya. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuatnya seperti itu. Aku tidak mau tahu peristiwa apa yang terjadi. Yang jelas, kau berada dalam masalah bila dia tersakiti. Kau mengerti maksudku kan, kyuhyun?”
“Ne.”

~Kyuhyun appa POV~
Aku pergi ke ruang bayi untuk melihatnya. Istriku pulang ke rumah. Aku yang menyuruhnya karena dia hanya akan memperkeruh suasana. Aku mencari sosok bayi itu. Kudapati dia tengah tertidur. Aku mengerutkan dahiku. Entah kenapa..aku merasa wajahnya mirip kyuhyun saat masih bayi. Jika orang-orang tidak tahu faktanya..mungkin mereka akan mengira bayi itu adalah bayi kyuhyun. Saat aku menoleh ke samping, kudapati dia tengah menggerakkan kursi rodanya. Aku cepat-cepat pergi. Aku ingin dia beristirahat dengan tenang untuk sementara

~Sooyoung POV~
Sekalipun dokter melarangku, aku ingin melihatnya sekali lagi. Aku memakai kursi roda rumah sakit sehingga bisa melihatnya lebih lama. Dia terlihat manis dan menggemaskan. Seketika aku menitikkan air mata.
“Gomawo telah menjadikanku seorang eomma.”
Aku tersenyum dan mengusap kaca jendela itu. Entah kenapa wajahnya mengingatkanku pada kyuhyun. Ani..aku membuyarkan lamunanku.
“Selamat datang ke dunia ini. Kyungsoo ya.”

~Kyuhyun POV~
Aku tersenyum tipis begitu tulisan nama itu. Appa : Cho Kyuhyun. Entah kenapa aku merasa hangat dan terharu melihatnya telah lahir ke dunia ini. Seketika aku melihat namanya. Cho Kyungsoo. Apa dia masih belum bisa melupakan namja itu hingga menaruh nama depannya? Aku menghela nafas.

TBC

59 thoughts on “Wait A Minute {Part 2}

  1. Kasihan soo…
    Jadi soo gk tau klo anak tu benar2 anak kyuppa…
    Kyuppa hilang ingatan… dia gk ingat apapun yg di lakukan nya ke soo..
    Penasaran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s