Breath {part 3}

Breath

Title :Breath

Genre :Romance,Revenge,Suspense

Rating : PG-15

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Changmin
  • Victoria

Other Cast :

  • Im Yoona
  • Tiffany Hwang
  • Yunho

Part 3

~Kyuhyun POV~
“Anak kembar itu…mereka bersekongkol untuk membunuhnya.”
Aku mundur dua langkah. Ani.
“Maldo andwae. Hanya satu orang di antara mereka yang menusuk korban. Yang satunya mencoba menghentikan.”
“Itu yang mereka harapkan. mereka ingin semua orang berpikir seperti itu dan mereka hanya mendapat hukuman yang lebih ringan karena hakim tidak dapat membedakannya dan tidak bisa mengambil resiko untuk menyalahi orang yang innocent.”
Kakiku terasa lemas.
“Jadi..”
“Jaksa benar. Kau yang salah.”
Aku mengepalkan tanganku. Aku meninggalkan ruangan itu
“Orang yang salah, bukankah mereka harus dihukum?”
Aku tidak memedulikannya

—————————

~Victoria POV~
Sudah jam delapan malam. Aku masih mengetik dokumen untuk sidang berikutnya
“Vict.”
“Hm?”
Dia tidak bicara
Aku menoleh ke samping. “Ada apa?”
“Bagaimana jika seandainya..kedua anak kembar itu memang bekerja sama untuk–”
“Itu bukan urusanku. Urusanku adalah memenangkan clientku.”
“Bagaimana kalau mereka hanya memanfaatkan kita untuk..”
“Aku tidak dengar!! Aku tidak dengar!!” Aku menutup telingaku
“YAA! Kubilang mereka memanfaatkan kita!!”
Aku cepat-cepat mematikan laptopku dan mengambil tasku. Dia mengikutiku dari belakang
“Mereka berkomplot! bagaimana kalau itu benar?”
“Aku tidak dengar! Aku tidak dengar!”
Aku cepat-cepat belari.
“Yaaa!”
Setelah memastikan dia tidak mengikuti, aku sendiri berpikir.
“Bagaimana kalau dia benar? Bagaimana kalau dua orang itu memanfaatkan kami? Aish…aku bisa gila jika membiarkan orang jahat bebas!”

~Kyuhyun POV~
“Haish..”
Aku menghentakkan kakiku. Perkataannya benar-benar membuatku pusing. Saat aku menoleh ke kanan, kudapati gadis itu di sana. Duduk dan menunduk ke bawah. Aku berjalan ke arahnya
“Kau masih disini?”
“Ani. Aku tadi ke sekolah. Setelah itu…menunggumu pulang.”
“Kaja.”
Aku melangkah ke halte bus. Dia mengikutiku dari belakang.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Kau sendiri kan yang bilang. Kau harus memastikan kalau aku tidak membuat onar karena kau adalah wali ku.”
“Ah..ya.”

~Sooyoung POV~
Kami tidak bicara sepatah kata pun di dalam bus. Aku mencoba memandang matanya. Dia tidak memikirkan apapun.
“Tadi..aku mendengar jaksa memikirkan sesuatu saat ada di depanmu.”
“Dia mengumpat? Mengataiku?”
“Ani. Dia bilang, dia punya cara untuk menjebak dua orang itu.”
“Jinjja?”
Aku mengangguk. Dia hanya diam
“Aku tidak tertarik untuk bekerja sama dengannya.”
“Kau akan menyelamatkan orang yang bersalah? Begitu?”
“Jika itu memang pekerjaanku. Wae?”
‘Haish..sejujurnya aku tidak mau melakukannya’
Aku memandang ke arah jendela. Aku tahu dia akan melakukannya.

~Kyuhyun POV~
Aku duduk di depannya sekarang. Dia hanya diam dan memainkan tangannya
“Kita tinggal membuktikan kalau aku tidak bersalah. Itu mudah bukan?”
Aku berpikir keras.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”
“Ne?”
“Apa kau yakin kalau kau tidak bekerja sama dengan hyung mu?”
“Ani. Aku–”
“Bagaimana jika hyungmu mengatakannya? Kau masih menyangkal?”
“Hyung…mengatakannya pada pengacara Song?”
“Bagaimana jika ya?”
Dia hanya mengeluarkan smirk nya
“Dengar ini baik-baik. Aku dan hyung ku tidak bodoh.”
“Maksudmu?”
“Sekalipun dia mengatakannya pada pengacara song, ada sebuah aturan tertulis bahwa seorang pengacara tidak boleh membuka rahasia client yang akan merugikan di pengadilan. maja?”
Aku hanya diam. Sial. Dia benar-benar licik
“Hukum ada untuk dimanfaatkan. Kau pengacaraku. Kau harus membelaku. Arrachi?”

————————————

~Changmin POV~
Aku berdiri di tempat itu. Kyuhyun berdiri di sebelahku. Sejujurnya aku tidak menyangka kalau dia akan datang ke sini.
“Itu adalah keluarga korban. Istrinya seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang masih kecil.”
“Kau mencoba membuatku prihatin?” tanyanya
“Ani. Aku hanya ingin memberitahu kalau clientmu tidak innocent.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bagaimana cara untuk melawan si kembar hah?”
“Jika kuberi tahu, apa kau akan membantuku?”
Dia hanya diam
“Akan kupikirkan.”
“Aku tidak punya bukti. Tapi aku punya rencana.”
“Apa rencanamu?”

——————————-

~Kyuhyun POV~
Aku duduk di depannya sekarang bersama dua buah map.
“Sekarang, pilih. Mengaku atau tidak mengaku.”
“Kau gila hah? Tentu aku pilih tidak menga-”
Aku menahan mapnya
“Kau yakin? Kau akan mendekam di penjara sekitar  2 tahun dengan tetap diam. Sedangkan dengan mengaku, kau bebas.”
“M..mwoya?”
Aku mengeluarkan smirk ku.
“Jika satu-satunya bukti adalah pengakuan maka tersangka yang mengaku akan dibebaskan tanpa syarat.”
Dia hanya diam
“Aku sudah mengecek bukti yang akan diajukan oleh jaksa. Ada dua CCTV, tapi hanya satu yang dimasukkan. Kau tahu apa artinya?”
“N..ne?”
“Jaksa memberi pintu keluar bagi satu orang dan ingin menangkap seorang yang lainnya. Bukankah ini menarik? Dengan pengakuanmu, kau bebas dan hyung mu ditangkap.”
“Tapi apa yang akan menjadi bukti kalau hyung yang salah?”
“Kau. Kau akan menjadi bukti untuk memenjarakan hyung mu.”Dia menatap map itu. Aku mengambil keduanya dan berdiri
“Hukum ada untuk dimanfaatkan bukan? Maka ketika kau punya jalan keluar, keluarlah.”

———————————

~Sooyoung POV~
“Apa menurutmu ini akan berhasil?” tanyanya di tengah makan malam
Aku menaruh sendokku dan mengangguk
“Haish..jinjja ini benar-benar membuatku gila. Bagaimana bisa aku bersekongkol dengan musuhku sendiri?”
“Kalau itu baik, mengapa tidak?”
Aku melanjutkan makan malamku
“Aku ingin kau hadir di persidangan.”
“N..ne?”
“Kalau tidak bisa, ya sudah.”

——————————–

~Author POV~
“Jaksa tetap dalam dakwaan kejahatan korporat.”
Sejak kalimat itu diucapkan, sidang berlangsung dengan tegang. Satu per satu bukti keluar dan digagalkan. Seorang yeoja yang duduk di sana hanya diam dan menatap ke arah dua anak kembar itu. Mencoba membaca pikiran mereka
“Jaksa benar-benar mudah menyerah.”
Yeoja itu hanya diam. Tunggu sampai mereka melihat permainannya

~Kyuhyun POV~
Aku mencoret bukti terakhir. Hakim memegang kepalanya karena pusing.
“hanya ada rekaman ini?”
“Ne.”
Aku menatap ke arah Kwangmin.

Flashback
“Rencanaku…adalah Prisoner’s dilemma.”
“Mwo?”
“Di saat seorang dari mereka bisa bebas dan seorang yang lain harus mendekam di penjara 10 tahun. Apa kau tidak berpikir kalau mereka akan saling mengkhianati?”
“Jadi..”
“Kita membuat pengakuan mereka menjadi bumerang satu sama lain.”
Flashback End

~Victoria POV~
“Jogiyo!”
Kulihat clientnya berdiri. “Saya ingin membuat pengakuan. Saya melakukan pencurian sedangkan saudara kembar saya membunuhnya.”
“YAA! KAU GILA HAH?”
“Apa kau yakin dengan perkataanmu? Kau bisa menariknya.”
“Ne. Saya yakin.”
“ANIYO! SAYA TIDAK MELAKUKANNYA! Kau yang menusuknya!” ujar clientku
“Sesuai dengan undang-undang. Jika semua bukti tidak ada dan pengakuan adalah satu-satunya maka terdakwa dibebaskan dari hukuman.”
“Apa bukti kalau aku bersalah?”
“Pengakuan saudara kembarmu menjadi buktinya.”
“M…mwo?”
Aku mengumpat dalam hati.
“Apa maksudnya?” tanyanya padaku
Aku hanya diam
“Jadi dia mengkhianatiku dan tidak mendapat hukuman sedangkan aku mendekam di penjara?”
“Kurang lebih begitu maksudnya.”
“Andwae..”

~Kyuhyun POV~
Changmin menatapnya dengan tajam. Aku hanya menunggu.
“Bagaimana jika aku membuat pengakuan?”
“N…ne?”
“Kami merencanakannya berdua dengan sempurna! Aku yang menusuknya, dia yang memegangnya. Bukan begitu, Kwangmin?”
Aku menghela nafas
“HYUNG!”
“Kita merencanakannya. Kau otaknya. Aku pelaksananya. Benar?”
“DIAM!”
BUK!
Aku mencoba menahannya
“Yaa! Ini di persidangan!”

——————————–

~Sooyoung POV~
Aku menuruni anak tangga untuk menemuinya. Tiba-tiba kulihat seorang namsong berdiri di depannya sambil menggelengkan kepala
“Cho Kyuhyun. Sidang yang benar-benar hebat.”
Aku mencoba mendengarnya dari dekat
“Hari ini, kau seperti jaksa Cho yang menangkap kriminal dengan hebat.”
“Sunbaenim..”
“Jika kau melakukan hal ini lagi, aku tidak segan-segan menuliskan surat bahwa pengacara cho tidak memenuhi standart sebagai pengacara publik. ARRASEO?”
Aku bergidik ngeri.
“Algesseumnida.”
Setelah namsong itu pergi, aku mendatanginya
“Gwaenchanha?”
Dia tersenyum. Untuk pertama kalinya
“Ne. Meskipun dia memarahiku, setidaknya aku tidak membela seseorang yang salah. Gomawo.”
“N…ne?”
“Jika bukan karenamu, mungkin aku sudah membuat namja itu keluar dari sana. Gomawo.”
“Ne.”
Dia menarik tanganku
“Kaja.”

~Victoria POV~
“Benar-benar mencurigakan.”
Aku mengamati dua orang itu dengan penasaran. Setahuku, Kyuhyun tidak memiliki adik. Apa hubungan mereka?

—————————-

~Sooyoung POV~
“haish..benar-benar lama,” ujarnya lalu masuk ke kamar mandi. Aku hanya menyungging sudut bibirku.
Tininininit.Cellphonenya berbunyi. Tunggu. Kalau aku mengangkatnya, orang yang menelponnya pasti bingung. Kurasa aku harus meniru suaranya
“Yeobose–”
“Cho Kyuhyun. Maja?”
Aku hanya diam. Aku mengenal suara ini
“Kau..mungkin masih mengenal suaraku?”
“Jung Yunho..”
“Ah..benar-benar pintar.”
Aku menekan tombol untuk merekam pembicaraan
“Apa maumu?”
“Mauku? Seharusnya kau menanyakannya sepuluh tahun lalu. Mauku kau menutup mulut!”
Aku hanya diam dan mengepalkan tanganku
“Kau menerima pesan itu. Kidariseyo. Hahahahaha.”
“Kau..tahu dimana aku tinggal?”
“Aa yang tidak kuketahui hah? Maka bersiaplah untuk permainan selanjutnya, cho kyuhyun.”
Dia mematikan sambungannya
“Yaa! Kenapa kau mengangkan telponku tanpa izin?”
Aku memegang tangannya
“Kita harus pergi dari sini sekarang.”
“N…ne?”

~Kyuhyun POV~
Tes. Setetes air matanya jatuh
“Yaa! Uljima.”
“Jung Yunho…”
“N..ne?”
“PPALI!”

—————————-

~Yunho POV~
Aku mematikan sambungannya
“Anak itu takut setengah mati.”
Dia hanya diam. Ah ya, aku lupa. Aku menutup mulutnya dengan selotip hitam.
“Ini menarik bukan?”
“Kumohon. Ini kejam bagi–”
“Ah..kurasa kau lupa dengan resikonya.”
Aku mengusap pisau itu. Dia hanya membelalakkan matanya dan menggigit bibir bawahnya
“Jika kau mau semuanya aman, sebaiknya diam dan tonton. Arraseo?”

~Kyuhyun POV~
Aku memandang ke sekitar apartemennya. Besar dan rapi. Sangat nyaman untuk ditinggali
“Kau tinggal disini sendirian?”
“Ne.”
Dia menaruh cangkir kopi itu di meja
“Kau bisa tidur di kamar itu,” ujarnya sambil menunjuk kamar yang ada di sebelah kiri
“Hei.”
“Hm?”
“Sebelumnya, kau pernah membawa namja ke sini?” tanyaku
“ANIYO! MALDO ANDWAE!”
Berarti aku orang pertama yang tinggal disini. Benar-benar gadis yang ceroboh. Apa dia tidak merasa takut dan sejenisnya hah?
“Aku mempercayaimu,” ujarnya tiba-tiba. Lihat. Dia membaca pikiranku lagi
“Eottokhe?”
“Kau menjadi satu-satunya orang yang berada di pihakku saat kejadian itu.”
Aku hanya diam dan menyesap kopiku
“Lagipula aku tidak berani tinggal sendirian. Kau tahu, Jung Yunho ada di sekitar kita. Mungkin.”
Aku mengusap tengkukku. Suasana ini benar-benar awkward
“Hei. Dari awal kita bertemu, kau selalu berbicara tidak formal padaku.”
“Itu karena aku merasa sudah mengenalmu.”
“Tapi biar bagaimana pun, usia kita berbeda delapan tahun. Kau harus memanggilku dengan lebih hormat.”
“Arra oppa.”
“Oppa?”
“Wae? Kau mau dipanggil ajjeosi?”
“Aniyo! Arra. Mulai hari ini panggil aku oppa.”
Aku melangkah masuk ke kamar

~Sooyoung POV~
“Apa-apaan itu.”
Aku tersenyum melihat pintu itu. Dia orang yang baik. Bahkan pikirannya pun tak pernah buruk. Itulah mengapa dia menjadi cinta pertamaku. Dan itulah mengapa aku mempercayainya.

————————

~Yunho POV~
“Tidak diangkat. Kurasa..putramu tercinta itu kabur.”
Aku duduk di depannya. Tubuhnya gemetaran. Mulutnya sudah kututup dengan plester hitam. Aku mendekatkan pisau itu padanya
“Kau tidak perlu takut. Aku masih membutuhkanmu untuk endingnya. Jadi kau tidak mungkin mati sekarang. Arrachi?”
Aku duduk di depannya dan berpikir
“Menurutmu, mana yang lebih bagus. Aku membunuh putramu yang sangat berharga itu diam-diam, atau aku membunuhnya secara terang-terangan?”
Dia hanya menggeleng dan menitikkan air mata. Aku menaruh pisau itu di meja
“Kurasa membunuhnya secara terang-terangan lebih menarik. Bukan begitu? Tapi..ah. Aku punya rencana lain.”
Aku membuka plesternya
“Aku akan memberimu dua pilihan.”

~Kyuhyun POV~
Tininininit..
Cellphoneku berbunyi saat tengah bekerja. Dari appa
“Yeoboseyo?”
“Kyuhyun ah–”
“Appa, ini belum akhir bulan. Aku belum mendapat–”
“Aniya! Apa aku orang seperti itu eoh? Yang meminta uangmu terus?”
Aku menghela nafas
“Appa selalu menelpon di saat memiliki kebutuhan.”
“Yaa! Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu pada orang tuamu!”
“Memang begitu kenyataannya.”
“Haish.. pulanglah ke rumah nanti malam.”
“Pulang?”
“Kau lupa hah? Hari ini adalah hari ulang tahunku!”
“Ah ya. Saengil chukkhae.”
“Haish..yaa! Kau tidak merasa senang atau memberi ekspresi lain hah?”
“Appa sendiri yang bilang. Ulang tahun itu menandakan umur seseorang bertambah singkat. Bukan begitu?”
“Aku berubah pikiran! Pulanglah ke rumah setelah selesai bekerja! Aku memasak bulgogi.”
Aku hanya diam. Ini aneh. Tidak biasanya appa merayakan hari ulang tahunnya
“Akan kuusahakan.”
“Yaa! Kau harus berjanji untuk datang!”
“Ne. Aku akan datang. Appa puas?”
“Itu baru putraku.”
Aku mematikan cellphoneku.

~Sooyoung POV~
Mr. Mr~
Aku mengambil cellphoneku. Panggilan masuk dari kyuhyun. Tidak biasanya
“Yeoboseyo?” aku menyapanya
“Malam ini aku harus pergi ke nowon gu. Aku akan kembali besok pagi.”
“Nowon..gu?”
“Appaku berulang tahun hari ini. Dia memintaku pulang.”
“Ta–”
Nit. Dia mematikan cellphonenya
“Haish..apa ini kelakuan seorang namja?!”

~Yunho POV~
“Pekerjaan yang bagus.”
Dia hanya diam. Tangannya gemetaran
“Dengarkan aku baik-baik. Kita akan mengakhirinya disini. Setelah itu, nama kita aman. Kita buat semuanya seperti sebuah kecelakaan. Arra?”
Aku mendekatkan pisau itu padanya
“Jika kau berani mengkhianatiku dan tidak melakukan perintahku. Kau tahu resikonya kan?”
Dia mengangguk pelan

—————————-

~Kyuhyun POV~
“Aku pulang.”
Aku masuk ke dalam rumah itu. Kulihat appa sudah duduk di sana dengan sepiring bulgogi di atas meja.
“Ini.” Aku menyerahkan sebuah bingkisan padanya
“Mianhamnida aku tidak bisa memberi banyak. Saengil chukkhamnida.”
Dia hanya diam. “Makanlah.”
Aku mengambil sumpitku dan mulai menyantap bulgoginya. Tiba-tiba appa berdiri
“Aku akan mengambil soju.”
“Mau kuambilkan?”
“Tidak perlu. Duduk dan makan saja.”
Aku melanjutkan makanku. Appa tidak kunjung kembali. Tiba-tiba aku mencium bau gosong. Kulihat asap mengepul dari arah dapur
“Appa!”
Aku berlari ke sana. Kulihat appa hanya diam dan memegang sebuah pisau. Seisi dapur sudah terbakar
“Apa yang appa lakukan! Cepat pergi dari–”
“Mianhamnida kyuhyun ah.”
“N….ne?”
Appa melayangkan pisaunya dan tiba-tiba..
Sret.
Seorang yeoja berdiri di depanku. kedua tangannya memegang bahuku
“A…h..”
Appa menjatuhkan pisaunya dan berlari ke kamarnya. Sedangkan kakiku terasa kaku. Aku menoleh ke bawah. nafas yeoja itu terengah-engah
“Syukurlah..”
Tangannya melemas. Setelah itu dia tidak sadarkan diri
“Sooyoung ah! Yaa! Irreona!”

————————

~Sooyoung POV~
Pandanganku kabur. Samar-samar, kulihat cahaya putih menusuk mataku.
“Sooyoung ah! Sooyoung ah!”
Kudapati namja itu di sana. Dia..Kyuhyun.
“Syukurlah.”
Dia langsung memelukku. Punggungku terasa perih dan sakit
“A…pha.”
Dia melepaskan pelukannya
“Mianhae.”
“Gwaenchana.”
Aku masih mencoba mengingat kejadian apa yang bisa membuatku disini
“Ini..rumah sakit?”
“Yaa! Bisa-bisanya kau datang dan menjadi penyelamat di saat kau tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri! Kau bodoh atau gila hah?!””Aku gila. Wae?”
“Yaa! Jika terjadi sesuatu padamu apa aku bisa memaafkan diriku sendiri hah?”
“Kau..mengkhawatirkanku?”
“Jelas aku mengkhawatirkanmu babo! Aku adalah wali mu. Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan menjadi orang yang harus bertanggung jawab.”
Aku melihat tangannya yang diperban
“Kau baik-baik saja?”
“Tidak terlalu. Tapi kurasa kau lebih parah.”
Aku merebahkan diriku dan mencoba mengingat kejadiannya
“Darimana..kau tahu kalau aku ada di sana?”

Flashback
“Haish..apa ini kelakuan seorang namja?!”
Aku mencoba menelponnya lagi. Tidak diangkat. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari pelacak
“Aku sudah menemukan lokasinya. Dia di nowon gu.”
“NOWON GU?!”
Flashback End

“Seorang pelacak memberi tahuku kalau Jung Yunho ada di Nowon gu.”
“Jung Yunho..?”
“Ne. Jadi aku mengikutimu dari belakang.”
“MWOYA?!”
“Tapi rasanya, dia bukan orang yang menusukku.”
Kyuhyun hanya diam
“Oppa. Apa dia..anak buah Jung Yunho?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau mengenali wajahnya?”
Kyuhyun mengangguk
“Kita harus mencarinya. Kita tangkap dia dan masukkan ke penjara. Setelah itu kita introgasi dan–”
“Dia sudah meninggal.”
“A…pa?”
“Dia meninggal di kamarnya dalam kebakaran itu.”
“Kalau dia meninggal, bagaimana kita bisa selamat? Itu tidak masuk akal dan–”
“Setelah dia menusukmu, dia mengurung dirinya di kamar dan ditemukan sudah terbakar. Begitulah yang dikatakan polisi.”
“M..wo?”
Aku berlutut di depannya
“Sooyoung ah. Aku tidak pernah berlutut seumur hidupku. Sekarang, aku hanya ingin memohon satu hal. Tolong maafkan dia. Karena biar bagaimanapun, aku tidak ingin appaku mengalami ganjaran yang berat karena kesalahannya tak termaafkan.”
Kumohon jangan menambah bebanku, sooyoung ah. Aku sudah cukup kecewa dan tidak mengerti dengan perbuatannya. Tapi semakin dipertanyakan,semuanya hanya menambah luka. Ini salahku. Tidak seharusnya aku membiarkan dia mengunci dirinya sendiri. Tapi aku terlalu khawatir padamu dan tidak memikirkan yang lain selain keselamatanmu. Dan kekecewaanku terlalu besar hingga aku tidak memikirkan dampaknya.’
Aku hanya diam. Kulihat dia menitikkan air mata. Jujur dalam benakku, aku bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang ayah mencoba membunuh putranya?  Bagaimana mungkin dia mengunci dirinya setelah mencoba membunuh seseorang? Ini sangat tidak masuk akal. Tapi sebaiknya..aku mengamininya
“Arra.”

——————————-

~Author POV~
“Apa kau yakin..semuanya baik-baik saja?”
“Jika kau bisa memastikan Cho Kyuhyun mati, semuanya akan baik-baik saja.”
Namsong itu hanya diam. Ia tahu bahwa ia tidak membunuhnya. Ia tidak mungkin membunuh seorang anak yang ia besarkan sejak masih bayi hingga dewasa. Ia pun tidak berani mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada seorang namja yang duduk di sampingnya. Karena resikonya akan lebih besar.
“Bersembunyilah mulai saat ini.”
“Arra.”

~Yoona POV~
“Kau benar-benar gila! Kau menjadi headline news di TV!” ujar fany
Soo hanya diam. Sedangkan aku menatapnya dengan curiga
“Apa yang kau lakukan di Nowon gu? Itu rumah siapa?”
“Itu..”
Krek..
Pintunya terbuka. Kulihat pengacara Cho berdiri di sana. Dia memakai pakaian rumah sakit dan tanpa kacamata
“Pengacara Cho..annyeonghaseyo.”
“Kalian ke sini untuk menjenguk?”
“Ne.”
Dia menaruh sebuah kotak di dekat youngie
“Ini apa?”
“Chocolate cake. Kurasa itu cukup baik untuk mengalihkan sakitmu.”
“Gomawo.”
“Bisakah kalian membantunya untuk makan?”
“Ne.”
“Annyeong.”
Setelah pintu itu tertutup, aku dan tiffany mendekat ke arahnya
“Kau..punya hubungan apa dengan pengacara cho?”
“Dia waliku.”
“WALI?”
“Ne.”
“Aku baru tahu,” ujar fany
“Nado. memang dia siapamu?”
“Dia adalah seseorang yang menyelamatkanku. Sepuluh tahun lalu.”
“Maksudmu…namja itu…. dia?”
Youngie hanya diam dan membuka kotak chocolate cake nya
“OMONA! KAU MENYUKAI NAMJA ITU?”
“Memangnya kenapa?”
“YAA! KAU GILA HAH! USIANYA 26 TAHUN, BERBEDA 8 TAHUN DARI KITA!”
“Lalu kenapa? Ada pasangan yang berbeda 10 tahun, bahkan 20 tahun.”
“IGE MWOYAA! APA TIDAK ADA NAMJA LAIN HAH?!”
“Eobso.”
“Aku benar-benar bisa gila.”

———————————-

~Kyuhyun POV~
Kakiku terasa lemas. Aku memandang ke arah jendela. Langit sudah gelap. Appa. Aku sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan. Bagaimana bisa dia mencoba membunuhku? Apa yang membuatnya marah? Apa karena kata-kataku? Rasanya tidak masuk akal. Aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang appa menjadi sekejam itu.

Flashback
“Dia pelakunya! Aku melihatnya sendiri.”
“Aniya! Bukan aku yang–“
PLAK! Pipiku terasa memanas
“Kau benar-benar keterlaluan kyu ah. Appa tidak pernah mengajarimu hal seperti ini.”
“Appa jebal! Appa harus mempercayaiku kalau aku tidak melukai matanya. Meski aku membencinya sekalipun, aku tidak mungkin mencelakakannya.”
“Kyuhyun ah..”
“Ajjeosi, percayalah. Aku tidak mungkin menyakiti changmin.”
“Cepat minta maaf,” ujar appa tiba-tiba
“Andwae! Aku tidak akan meminta maaf jika aku tidak bersalah!”
“CHO KYUHYUN!”
“Aku tidak bersalah! Kenapa semua orang tidak mempercayaiku?!”
Flashback End

Setelah itu appa dipecat. Karena aku tidak mau meminta maaf.

Entah seberapa besar dia membenciku.

Setelah peristiwa itu, hidup kami sangat sulit.

Mungkin ini caranya membalasku.

Hanya satu pertanyaan yang ingin kutanyakan appa, apa kau sebegitu membenciku sampai tega membunuhku?

TBC

63 thoughts on “Breath {part 3}

  1. itu appanya kyu masih hidup? trus yang ngurung diri dikamar dan meninggal karna kebakaran siapa?
    ditunggu next partnya :D

  2. oalah jadi appanya kyu dipaksa yunho toh? hhmm romance romance antara kyuyoung belom terlihat banget yaa hihihi :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s