Breath {Part 2}

Breath

Title :Breath

Genre :Romance,Revenge,Suspense

Rating : PG-15

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Changmin
  • Victoria

Other Cast :

  • Im Yoona
  • Tiffany Hwang
  • Yunho

Cameo :

Part 2

~Kyuhyun POV~
“Choi Sooyoung.”
Aku masih mencoba mengingat-ingatnya. Entah kenapa namanya tidak asing. Sepertinya aku pernah mendengarnya. Nama penyanyi? idol? atlet? Haish..
Aku menggosok gigiku dengan cepat. Apa itu penting? Mengapa aku harus tahu dia siapa?
Tapi setidaknya, hari ini aku menang dari changmin karena mengikuti permintaannya.

Ani.

Aku akan meralatnya. Aku menang karena aku memang pandai membuat asumsi Bukan karena yeoja itu. Bukan. Benar-benar bukan.

Drrrtt..

Panggilan masuk dari abeoji. Aku tersenyum kecut dan mengangkatnya.

“Yeobose..””YA! KYUHYUN AH! KAPAN KAU MENTRANSFER UANGNYA EOH?”
Aku menjauhkannya dari telingamu. “Abeoji, aku bahkan baru bekerja tiga hari!”
“Haish..bagaimana sidangmu?”
“Abeoji! Ini adalah berita menariknya.”
“Mworagu?”
“Aku memenangkan sidang. Kau tahu siapa hakimnya? Changmin.”
“CHANGMIN?!”
“Ne. Hahahaha. Seharusnya abeoji ada di sini dan menonton–”
“Yaa! Kau tidak boleh seperti itu kyu ah!”
Aku mematikan kran. “Abeoji. Kenapa terus-terusan membela dia eoh?”
“Haish..kau tidak boleh membencinya. Biar bagaimanapun–”
Klik. Aku mematikan sambungannya. Selalu saja membela namja itu

———————————

~Changmin POV~
Tuk. Tuk. Hanya suara sumpit yang mengisi keheningan. Selalu. Seperti ini
“Kudengar sidangmu kacau hari ini.”
Aku tidak menjawabnya. Hanay menghela nafas
“Bahkan kau dikalahkan oleh seorang pengacara publik.”
“Yeobo..”
“Kau tahu, seberapa malunya aku hari ini?”
“Itu tidak akan terjadi lagi.”
Aku menaruh sumpitku
“Semua orang membicarakannya. Putra seorang hakim besar dikalahkan oleh seorang pengacara publik yang baru lulus.”
“Aku tidak akan mempermalukan appa lagi.”
“Siapa nama pengacara itu?”
Aku menarik nafas dalam. “Cho Kyuhyun.”
“Cho Kyuhyun? Kau dikalahkan putra seorang supir?”
Aku berdiri dari kursiku dan melangkah ke kamar
“Apa itu benar-benar putraku?”
Aku membanting pintu kamar

——————————

~Sooyoung POV~
“Heuh.”
Aku menyandarkan punggungku di sofa. Sepi. Ya, tidak ada seorang pun yang tinggal disini kecuali aku. Aku memeluk bantal kecil dan merebahkan diri di sana. Aku memainkan kukuku. Bisa-bisanya namja itu melupakan namaku. Memang sudah sepuluh tahun. Tapi aku masih mengingat nama dan suaranya. Aku masih bisa mengenali wajahnya. Cho Kyuhyun. Dia cukup berbeda dengan saat pertama kali aku melihatnya. Dulu dia terlihat tampan dan berani. Sekarang, tidak terlalu. Kacamatanya sangat mengganggu, apalagi ucapannya. Aku menatap ke sekeliling apartemenku.Terlalu besar untuk ditinggali seorang diri.

Flashback
“Appa….”
Aku terisak di depan kaca itu. Foto appa di sana, bersama dengan abunya. Imo menepuk pundakku perlahan.
“Ikhlaskan dia sooyoung ah.”
Aku berbalik menatapnya. Tiba-tiba kudengar suara hatinya
‘Seharusnya dia pergi dan membawa anak ini bersamanya.’
Aku melangkah mundur dan menutup telingaku.
“Waeyo sooyoung ah?”
‘Aigoo..hartanya bahkan sangat banyak. Sayang sekali harus menjadi milik anak aneh ini. Bagaimana bisa sebuah apartemen mewah, Choi corp, dan semuanya menjadi milik anak ini? Atau..kualihnamakan saja?’
Aku mengepalkan tanganku. Dia akan tambah menghinaku aneh seperti orang-orang di pengadilan itu. “Imo, Sekretaris Park bilang, appa meninggalkan sebuah apartemen dan perusahaan untukku. Apa itu benar?”
‘Bagaimana dia bisa tahu? Atau jangan-jangan..dia memang bisa membaca pikiranku?’
“Aku–”
“Mundur!”

Flashback End

Sejak saat itu, dia tidak pernah menemuiku lagi. Akhirnya aku tinggal disini bersama seorang pengasuh sampai SMP. Setelah itu, aku tinggal sendiri. Semuanya begitu membosankan. Aku mengambil buku catatan berwarna biru itu. Kutuliskan satu kalimat di sana. “Akhirnya aku bertemu dengan pemilikmu.”

——————————–

~Kyuhyun POV~
Krek..aku membuka pintu ruangan itu. Tiba-tiba wangi kopi dan daging tercium di hidungku. Saat aku melangkah masuk, kudapati Ryeowook dan Pengacara Park di sana.
“Kyuhyun ah! Duduklah dan makan bersam kami!”
Aku duduk di sebelahnya. Tidak biasanya mereka membawa makanan. “Apa ada yang berulang tahun?”
“Ani. Waeyo?”
“Siapa yang memasaknya?”
“Seorang pengacara publik baru.”
“Yeoja?”
“Ne. Haish..aku benar-benar iri padamu, kyu ah. Mejanya akan ditempatkan di sana, di sebelahmu.”
Krek..kudengar pintu terbuka
“Ah! Itu dia.”
Saat aku menoleh, kudapati seseorang yang kukenal berdiri di sana.
“Vi…ct?”
“Kyu..?”
“Kalian sudah saling mengenal?”

~Victoria POV~
Tidak ada suara lain kecuali suara kertas atau ketikan. Aku menoleh ke arah namja yang duduk di sebelahku. Kyuhyun. Siapa yang akan menyangkanya? Bagaimana bisa aku bertemu dengan dia disini? Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku. Tidak. Semuanya sudah berlalu sejak hari itu

Flashback
“Katanya kau akan dikeluarkan dari sekolah ini. Itu rumor kan? Itu tidak benar.”
Dia hanya tersenyum tipis
“Kyu.”
“Ne, itu benar.”
“Bagaimana bisa? Apa yang kau perbuat?”
“Vict, ada satu hal yang belum pernah kuceritakan.”
“Mwo?”
“Appaku adalah supir keluarga Changmin.”
Aku berdiri dari kursiku
“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya?”
“Ani. Aku hanya takut kau..”
Aku melangkah pergi. Dia menahan tanganku
“Apa lagi?”
“Johahae.”
“N…ne?”
“Aku hanya ingin mengungkapkannya sebelum pergi.Tidak perlu dijawab.”
“Ani. Aku akan menjawabnya.”
Aku melipat tanganku
“Dengar baik-baik kyu ah. Pertama, aku tidak menyukai orang yang menyembunyikan rahasia dariku. Kedua, aku tidak akan menyukai seseorang yang tidak akan disukai bumonimku. Ketiga, aku benci LDR. Kau memenuhi ketiganya. Arrachi?”
Aku melangkah pergi
Flashback End

Bahkan akulah yang mengucapkannya. Di hari dimana dia dikeluarkan dari sekolah. Jujur, setelah itu aku sedikit merasa bersalah. Tapi semuanya sudah berlalu. Lupakan, vict.

—————————

~Sooyoung POV~
Karena penasaran, aku menunggunya di depan tempat kerjanya setelah pulang sekolah. Aku duduk di bangku taman sambil memandangi pintu itu. beberapa orang sudah keluar dari sana. Apa dia juga sudah keluar?
Tes. Tes. Tetesan hujan membasahi tanganku. Aku cepat-cepat berlari ke gedung itu dan berteduh. Tiba-tiba, kulihat sosok yang kutunggu keluar dari lift.

~Kyuhyun POV~
Aku menghela nafas panjang begitu melihat yeoja itu berdiri di sana. Dia melambaikan tangan padaku. Aku pura-pura tidak melihatnya.
“Kau mengenalnya?”
Aku menoleh ke samping. Vict berjalan di sebelahku, entah sejak kapan.
“Ani.”
Tiba-tiba yeoja itu memegang tanganku
“Apa kau sudah mengingatnya?”
Aku tidak mengerti maksud perkataannya. Mengingat apa?
“Mengingat siapa namaku.” Dia mulai membaca pikiranku.
“Ani. Dan aku tidak mau mengingatnya.” Aku membuka payungku. Tiba-tiba dia berdiri di sebelahku
“Apa lagi?”
“Aku lupa membawa payung. Bisakah aku ikut denganmu ke stasiun?”
“Aku naik bus. Bukan kereta.”
“Kalau begitu, sampai sana saja.”
Aku menoleh ke arah vict yang berdiri di sana sambil mengusap tangannya
“Kau tidak membawa payung?”
“Ne.”
“Kau akan kemana?”
“Ke halte bus.”
“Mau pergi bersama?”
Dia hanya diam
“Kita searah.”
“Ah..gomawo.”
Aku mendorong pelan yeoja menyebalkan itu

~Sooyoung POV~
“Chankanman..Haishh..”
Aku mengetuk-ngetukkan sepatuku. Menyebalkan. Bagaimana bisa dia meninggalkanku dan pergi bersama ahjumma itu?! Aku duduk di tangga dan menunggu hujan reda. Ini benar-benar menyebalkan. Seharusnya aku tidak pergi kesini.
“Haksaeng, apa yang kau lakukan disini?”
Aku menoleh ke sumber suara itu. Kudapati seorang namja tinggi di sana. Si jaksa. Aku memalingkan wajahku.
“Kau tersesat atau menunggu seseorang?”
“Aku…”
Kulihat dia membawa payung di tangannya. Tunggu sebentar. Mungkin aku bisa memintanya mengantarku ke stasiun. Dia cukup terpercaya jika hanya untuk itu. Setidaknya aku membutuhkan bantuannya hari ini
“Aku tadi datang untuk berterima kasih pada pengacara publik yang membantu chinguku.”
“Ah..begitu rupanya.”
Aku berdiri dan mencoba membaca pikirannya. Tapi dia tidak memikirkan hal yang macam-macam
“Kau tidak membawa payung?”
Aku menggeleng
“Dimana rumahmu?”
“Apartemen English Village.”

~Victoria POV~
“Apa tidak apa meninggalkan anak itu disana?” tanyaku
“Aku tidak mengenalnya.”
“Jinjja? Tapi sepertinya dia mengenalmu.”
“Dia adalah teman client ku.”
“Ah..kasus anak SMA itu?”
“Ne.”
“Aku sudah mendengarnya dari Pengacara Park. Kau hebat, bisa membelanya padahal buktinya kuat.”
Dia hanya tersenyum tipis
“Sudah lama.”
“Ne?”
“Sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini.”
Aku mengusap tengkukku. “Ne.”
“Terakhir kali, pertemuan kita berakhir dingin.”
“Mianhamnida. Saat itu aku masih kekanak-kanakkan.”
“Gwaenchanhayo. Aku bahkan sudah melupakannya.”
Aku menghela nafas lega. “Tadinya kupikir kau akan membenciku.”
“Ani. Kita teman kan?”
Aku terdiam sejenak mendengarnya. “Ne. Kita teman.”

~Changmin POV~
“Jadi kau sudah kelas 3?”
“Ne.”
“Ingin masuk universitas apa?”
“Seoul University.”
“Jurusan?”
“Hubungan internasional.”
“Kau ingin menjadi diplomat?”
“Ne.”
“Cita-cita yang hebat.”
“Mengapa oppa menjadi jaksa?”
Aku menoleh ke arahnya. “Oppa?”
“Aku tidak tahu harus memanggilmu apa. Ajjeosi terlalu tua. Jika aku memanggilmu dengan ‘kau’ tidak sopan. ‘Anda’ terlalu formal.”
“Ah..benar juga. Kalau begitu panggil saja aku dengan sebutan yang kau inginkan.”
“Ne, oppa.”
“Ah ya. Aku belum menjawab pertanyaannya. Aku menjadi jaksa karena itu memang cita-citaku sejak kecil. Appaku adalah seorang hakim.”
“Johda.”
“Ne. Aku masih harus banyak belajar untuk bisa mengimbanginya. Kau sendiri? Kenapa ingin menjadi diplomat?”
“Karena dulu, eommaku bercita-cita menjadi diplomat.”
“Memangnya, apa pekerjaan eommamu?”
“Eomma sudah meninggal. Appa juga.”
“Jadi..kau tinggal bersama kerabatmu di sana?”
“Ani. Aku tinggal sendiri.”

~Sooyoung POV~
“Sangat berani.”
Aku tersenyum tipis. Aku pernah memikirkan hal yang sama. Setelah kupikir-pikir, kyuhyun yang menjadi pedomanku. Tapi dia malah melupakanku.
“Meski apartemen dijaga 24 jam, kau tetap harus berhati-hati.”
“Ne.”
Aku melepas seatbeltku begitu sampai di depan apartemen
“Jeongmal gamsahamnida oppa.”
“Ne.”
Aku membuka pintunya.
“Ah ya! Ireumi mwoyeyo?”
“Sooyoung imnida. Choi Sooyoung.”
“Cho Changmin imnida.”

————————-

~Kyuhyun POV~
Tinininit. Suara itu membangunkanku di pagi hari. Aku meraih cellphoneku dan membacanya. “Kidariseyo (tunggu aku).”
Haish..hoax macam apa ini hah? Membangunkan orang di pagi buta. Jam tiga pagi. Aku mematikan cellphoneku dan kembali tidur.

~Sooyoung POV~
“Jadi ini rumahnya..”
Aku memasuki gerbang dan menaiki tangga itu. Aku mencocokkan nomor itu dengan nomor rumahnya. Benar. Aku mengetuk pintunya perlahan. Tak lama kemudian dia membuka pintunya. Dia tidak memakai kacamata. Rambutnya masih basah. Di saat seperti ini, barulah dia terlihat seperti kyuhyun yang pertama kali kulihat
“Haish…kau benar-benar stalker rupanya. Jadi yang mengirimiku pesan di pagi hari adalah kau hah?”
“Aniyo.”
Aku mengedarkan pandanganku ke dalam rumahnya. Sangat berantakkan
“Yaa! Bisakah kau berhenti menggangguku?”
“Ani. Sampai kau mengingatnya.”
“Haish..dengarkan aku baik-baik, agassi.”
“Choi Sooyoung!”
“Terserah. Berhentilah bermain-main seperti ini.”
“Bermain-main?”
Dia menutup pintunya
“Yaa! Aku belum selesai bicara!”

———————–

~Kyuhyun POV~
Tinininit.Aku mengambil cellphoneku. Nomor itu mengirimiku pesan sepuluh kali.
“Kidariseyo.”
Haish..apa anak ini maniak atau apa hah? Bisa-bisanya mengirimiku pesan sebanyak ini. Aku menelpon nomor itu. Tidak aktif. Aku melangkah ke luar rumahku. Kudapati anak itu masih duduk di kursiku
“Yaaa! Kau belum mau pulang juga hah?!”
“Memangnya itu mengganggumu?”
Aku mengusap wajahku. Aku bisa gila.
“Jelas itu menggangguku! Kau mengirimi pesan sepuluh kali! Kidariseyo.”
“Pesan? Aku bahkan tidak tahu nomormu.”
“Haish..sekarang kau mencoba berbohong atau apa? Aku benar-benar lelah. Ini hari minggu, aku ingin beristirahat.”
Dia mengambil cellphoneku dan menekan nomornya
“Yaa! Yaa!”
“Lihat. Itu nomorku. Berbeda bukan?”
Aku mengambil tasnya. Tidak ada cellphone lain. Dia benar. Ini bukan nomornya. Lalu nomor siapa?
“Mungkin itu nomor yeoja yang berpayungan bersamamu kemarin.”
“Aniya! Vict tidak mungkin mengirimiku pesan seaneh itu.”
“Coba telpon nomor itu.”
“Aku sudah mencobanya tapi tidak diangkat.”
“Mungkin hoax.”
Aku mendecak kesal
“Sudah jam delapan malam. Cepat pulang. Orang tuamu bisa khawatir.”
“Aku sudah tidak punya orang tua. Tidak akan ada yang khawatir.”
Aku menghentikan langkahku
“N..ne?”
“Tidak ada yang mengkhawatirkanku di rumah. Jadi tenang saja.”
Aku melipat tanganku
“Dengar. Meskipun tidak ada yang mengkhawatirkanmu, kau harus belajar dan bersekolah besok. Jadi berhentilah merepotkanku disini. Arra?”
Aku menutup pintuku.

~Sooyoung POV~
“Benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya dia mengusirku.”
Aku duduk di halte bus sambil berpikir. Siapa yang mengirimnya? Yang jelas bukan aku. Dan dia yakin kalau pengirimnya bukan ahjumma itu. Apa itu hoax? Aku mencoba berpikir sejenak. Tiba-tiba satu nama terlintas di kepalaku. Jangan-jangan…

~Kyuhyun POV~
Aku mencoba menelpon nomor itu lagi karena penasaran. Tiba-tiba kudengar suara dari gudang. Apa jangan-jangan…ada perampok? Aku mengambil tongkat baseballku dan berjalan perlahan ke sana. Tiba-tiba pintu rumahku digedor dengan keras. Aku mengabaikannya dan melangkah ke arah pintu gudang.

~Sooyoung POV~
“Buka pintunya! Ppali!”
Aku menggedornya dengan keras. Tidak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintu rumahnya. Terkunci. Tidak ada pilihan lain selain mendobraknya. Hana..dul…set

~Kyuhyun POV~
BRUK!
Yang kudengar malah suara yang keras dari balik pintu
“A..h..”
Saat aku menoleh, kudapati yeoja itu di sana. Pintuku hancur
“Yaa! Apa yang kau lakukan!”
Dia langsung merebut tongkat baseballku dan membuka pintu gudangnya
“Ja–”
“Kosong,” ujarnya yang membuatku tercengang
“N..ne?”
Dia mengambil cellphone yang menjadi sumber suara itu
“Ini cellphonemu?”
“Ani. Ini–”
Kudengar suara mobil polisi. Tak lama kemudian, dua orang muncul dari balik pintu. Aku menepuk wajahku. Masalah lagi

~Sooyoung POV~
“Jeongmal joesonghamnida,” ujarnya sambil membungkuk.
“Yaa! Kenapa kau membungkuk?! Ini bukan cellphonemu! Pasti seseorang menaruhnya di sana!”
Dia malah memegang kepalaku dan membuatku ikut menunduk
“Dia masih SMA. Masih belum dewasa dan suka membuat onar.”
“M..mwo?”
“Haish..agassi. Jangan membuat onar seperti ini lagi. Polisi bukan mainan.”
“Tapi..”
‘Sudah menurut saja daripada kau ditahan’
“Ah..ne. Joesonghamnida.”
Polisi itu melangkah ke luar rumah. Aku mengejarnya
“Yaa! Kau mau kemana lagi hah?”
Aku tidak memedulikan perkataannya dan menahan tangan polisi itu
“Ada apa lagi?”
“Tolong lakukan penyelidikan. Apa cellphone itu ada hubungannya dengan Jung Yunho. Jebal.”

—————————–

~Kyuhyun POV~
Aku duduk di depannya sekarang. Dia hanya menunduk dan melipat tangannya. Aku tidak habis pikir dengan anak ini
“Aku akan mengganti rugi pintu itu.”
“Haish..sebenarnya apa yang kau cari dariku hah? Hidupku tidak tenang karenamu.”
“Aku tahu.”
Aku menghela nafas dan melihat ke arah jam
“Sudah tengah malam. Biar bagaimanapun, aku tidak bisa membiarkanmu pulang.”
“Jadi aku boleh menginap disini?”
“Tidur di sofa.”
“Mwo?”
“Yaa! Aku sudah berbaik hati untuk mengizinkanmu tinggal! Jangan meminta yang macam-macam.”
“Arra.”

————————————–

~Sooyoung POV~
“Appa! Aku ingin pergi ke Aquarium! Semua temanku pergi ke sana.”
“Aquarium?”
“Ne. Banyak binatang laut di sana. Aku ingin melihatnya.”
“Arra. Kalau begitu, minggu ini kita pergi ke sana.”
“Gomawo a…KYAAAAA!”
BRUK!
Sebuah truk menghantam mobil kami. Aku menoleh ke arah appa. Pecahan kaca mengenai wajahnya dan wajahku
“Appa…”
“Uljima.”
“Manhi apha..”
Seorang namsong keluar dari truk itu. Dia membawa sebuah martil.
“Jogiyo. Tolong..selamatkan putriku. Dia terluka.”
‘Justru aku akan menghabisi kalian disini’
Itulah pertama kalinya aku mendengar suara hati seseorang
Namsong itu melayangkan martilnya

“APPAAAA!!!”
Hosh..Hosh.. Aku terbangun dari tidurku. Aku memandang ke sekitar. Masih jam lima pagi. Krek…pintu kamar itu terbuka
“yaa! Bahkan kau juga mengganggu orang lain saat tidur.”
“Mianhae.”
“Haish..”
Dia kembali masuk ke kamarnya. Sedangkan aku tidak bisa tenang. Bagaimana kalau semuanya adalah perbuatan ajjeosi itu? Bagaimana kalau dia bisa menyusup ke sini dan membunuh kami? Maldo andwae. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi

~Kyuhyun POV~
Aku mengaduk kecap, jagung, dan kacang kalengan itu. Dia menatapku dengan tatapan nista. Aku menaruh mangkuk itu di depannya beserta sebuah sendok nasi
“Makanlah.”
“Kau…setiap hari…sarapanmu seperti ini?”
“yaa! Kau sudah kuperbolehkan menginap dan kuberi makan. Kenapa masih protes?”
Dia hanya mengamatiku dan menutup mulut.
“Kau..tidak punya sendok lain?”
“Aku tinggal sendiri disini. hanya ada sendok ini dan sendok nasi.”
“arra.”

———————————-

~Kyuhyun POV~
Aku dan vict duduk di depan pengacara park. Di depan kami terdapat dua buah map. Entah apa maksudnya.
“Pilihlah salah satu di antara dua map ini.”
“N…ne?”
Pengacara Park hanya diam dan menatap kami dengan tajam. Aku langsung mengambil map di depanku. Begitu pula vict
“kasus ini sangat rumit.”
Aku membuka mapnya. Kulihat ada sebuah foto saudara kembar di sana
“I…ini..”

~Changmin POV~
Aku berpikir keras di ruanganku. Aku tidak boleh gagal untuk kasus yang satu ini. Kupandangi foto itu. Saudara kembar. Tidak bisa dibedakan. Di rekaman CCTV, hanya satu di antaranya yang menusuk korban. Yang lainnya mencoba menghentikan. Satu orang akan terkena pasal pembunuhan, yang seorang lagi pencurian. Tapi…entah kenapa semuanya terlalu aneh. Aku menulis dakwaanku dengan yakin. Kejahatan korporat.

~Kyuhyun POV~
“Kejahatan korporat.”
Aku menggumamkan kata itu.
“Apa itu benar?”
“Aniyo. Hyung yang menusuknya.”
“Bagaimana aku bisa yakin?”
“Kau bisa melihat data diriku. Tidak ada tindak kriminal satu pun.”
“Lalu kenapa kau mengikuti hyung mu?”
“Karena..aku tidak punya pilihan lain.”

~Victoria POV~
“Aniyo! Namdongsaengku yang menusuknya! Meski aku memiliki data kriminal, aku tidak akan membunuh seseorang.”
“Heuh..kita dalam masalah berat.”
“Waeyo?”
“Karena dongsaengmu tidak memiliki riwayat kejahatan apapun.”
Aku mencoba memandang matanya
“Kau yakin. Kau tidak bekerjasama dengannya?”
“Haish..mana mungkin!”

———————————-

~Sooyoung POV~
Tok..tok..tok..
Aku mengetuk palu dan memperbaiki pintu itu. Kerusakannya tidak terlalu fatal
“YAA! Apa yang kau lakukan di sana!”
TOK. Aku mengetuk jariku sendiri
“A…h..”
Dia melangkah ke arahku
“Aphayo.”
Dia berjongkok di depanku. Menatapku dengan sinis
“Gadis kecil. Hentikan permainan ini dan pulanglah ke rumah. Aku tidak akan menuntutmu karena pintu. Arrachi?”
Aku hanya diam. Setetes demi setetes darah jatuh dari jariku
“Biarpun kau tidak mengingatnya, aku tidak bisa berhutang budi pada seseorang.”
“Ne?”
Aku berdiri dan membungkuk padanya. “Permisi.”

~Kyuhyun POV~
Aku terus melihatnya dari balkon, sampai akhirnya bayangannya tak terlihat. Haish..kenapa dia membuatku menjadi bersalah sekarang? Aku tidak mengerti. Balas budi apa? Ingat apa? Aku mengacak rambutku sendiri dan masuk ke rumah. Ini benar-benar memusingkan. Kulihat setetes darah ada di dekat pintu. Apa jarinya tidak apa-apa?

~Sooyoung POV~
Aku mengamati jariku yang diperban. Benar-benar ceroboh. Aku memeluk bantal dan mencoba berpikir. Dia bahkan tidak mengingatnya. Apalagi mengingat Jung Yunho? Aku memejamkan mataku dan mencoba menghitung harinya. Dia sudah keluar dari penjara. Tapi..dimana dia? Aku mengambil cellphoneku dan menghubungi nomor itu
“Yeoboseyo. Aku butuh bantuanmu untuk mencari lokasi Jung Yunho. Aku akan mengirimkan nomornya padamu setelah ini.”

————————————–

~Kyuhyun POV~
Tok..tok..tok!
Aku mengusap mataku dan berjalan ke arah pintu. Benar-benar berisik. Padahal ini baru jam lima pagi. Apa gadis itu datang lagi? Aku membuka pintunya. Tidak ada siapa-siapa. hanya sebuah kotak kecil yang ditaruh di depan pintu. Aku menoleh ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa. Aku membuka kotaknya. Sebuah surat berdarah dan pisau ada di sana
“Tunggu permainannya. Cho Kyuhyun.”
Aku menjatuhkannya dan memandang ke sekitar. “Dangsin eodiya?!!!”
Tidak ada yang menjawab. Aku cepat-cepat masuk ke rumah dan mengunci pintunya. Aku mengambil tongkat baseball dan membuka gudang. Kosong. Begitu pula kamar mandi. maldo andwae.

~Sooyoung POV~
Aku berdiri di depan pagar itu. Menunggunya keluar dari rumah. Dari bawah, kulihat dia memandang ke sekitar.
Bagaimana kalau itu Jung Yunho’
Seketika aku melangkah mundur begitu mendengar suara itu. Aku cepat-cepat melangkah pergi sebelum dia melihatku.

————————————–

~Kyuhyun POV~
Aku hanya diam di lift. Changmin pun begitu. Haish..bagaimana bisa dia masuk ke lift yang sama denganku? Ini benar-benar menyebalkan
“Kudengar kau akan menjadi pengacara si kembar itu.”
“Ne. Dengan vict.”
“Victoria? Dunia ini sangat sempit.”
“Kau mengajukan dakwaan kejahatan korporat.”
“Memang begitu kan?”
Aku pun tidak tahu jawabannya. “Bagaimana bisa kau seyakin itu?”
“Kau sendiri?”
“Hanya satu orang yang menusuk namsong itu. Yang satu menahannya.”
“Itulah harapan mereka. Agar kita percaya, hanya satu yang salah. Yang lain innocent.”
Ting. Lift itu terbuka
“Aku tidak akan membiarkanmu menang kali ini.”
Changmin melangkah pergi. “Apa-apaan itu? Bagaimana bisa dia seyakin itu? Haish..”

~Sooyoung POV~
Jam enam malam. Aku baru pulang dari sekolah. Aku masih memikirkannya. Jung Yunho. Jika dia bisa menaruh cellphone itu di sana, itu artinya dia bisa membunuh kyuhyun kapanpun dia mau. Andwae. Aku membuyarkan lamunanku. Ada polisi. Dia tidak mungkin membunuhnya semudah itu di rumah. Tapi…
Kulihat bayangan seseorang ada di depanku. Saat aku menengadah, kudapati Eunhyuk dan teman-temannya di sana. Sepuluh orang.
“Apa lagi?” tanyaku

~Kyuhyun POV~
Jam delapan malam. Aku masih berada di kantor karena mengurus berkas-berkasnya. Lusa adalah sidang pertamanya. Aku harus memenangkan kasus ini. Apapun yang terjadi
“Apa menurutmu jaksa salah lagi?” tanya vict yang juga bekerja di sebelahku
“ne.”
“Kyu. Kurasa kita harus bekerjasama.”
“MWO?”
“Kita harus bekerjasama untuk sidang pertama. Membuktikan kalau hanya ada satu orang yang bersalah. Ini bukan kejahatan korporat.”
Victoria benar. Tidak ada salahnya bekerjasama untuk itu..
Tininininit. Aku mengambil cellphoneku. Ini..kantor polisi?
“Yeoboseyo?”

~Victoria POV~
“Yeoboseyo?”
Aku mencoba mendengar pembicaraannya
“M…mwo?”
“Tapi–”
“Arra. Aku akan segera ke sana.”
Dia mengambil jas dan tasnya. “Mianhae vict. Aku harus pergi. Ada masalah.”
“Ah..arra.”
Dia cepat-cepat berlari. Sedangkan aku tinggal disini sendirian. Apa yang terjadi? Haish..kenapa aku jadi penasaran? memangnya apa peduliku padanya?

~Kyuhyun POV~
“Akhirnya kau datang juga, Pengacara Cho.”
“Dimana dia? Apa dia terluka?”
“Ani. Justru sepuluh namja itu yang wajahnya babak belur. Hahahaha.”
“N…ne?”
“Maaf mengganggumu. Tapi dia butuh tanda tangan seorang wali yang menjamin kalau dia tidak akan membuat onar lagi. Saat kutanya, dia bilang kedua orang tuanya sudah meninggal dan tidak punya wali. Begitu kuingat, pengacara cho mengenalnya.”
Aku menghela nafas. Seharusnya aku tidak perlu kesini. Untuk apa aku mengkhawatirkannya
“Dia benar-benar cocok menjadi orang yang menginvestigasi.”
“Waeyo?”
“Daritadi dia terus menanyakan Jung Yunho.”
Seketika aku terdiam
“Jung…Yunho..?”
“Ne. Katanya dia harus tahu, apa Jung Yunho sudah keluar dari penjara atau belum. Katanya, Jung Yunho adalah orang yang membunuh appanya.”
“N..ne?”
Seketika aku terdiam. Tanganku gemetaran. Mustahil..dia..
“Gadis kecil. Siapa namamu?”
“Sooyoungie iyeyo. Choi Sooyoung.”
Kata-kata itu kembali terlintas di pikiranku. Jadi maksudnya dengan balas budi, apa aku masih mengingatnya, dan semua itu…
“Bisakah aku bertemu dengannya?”
“Ne.”

~Sooyoung POV~
Aku hanya duduk diam disana bersama seorang polisi yang sibuk mengurus berkas. Aku menunduk ke bawah. Aku mencoba menggerakkan kakiku
“A..h..”
Sepertinya terkilir. Ini mengingatkanku pada kejadian dimana aku mengejar imo..

Flashback
“Imo!! Kajima.”
BRUK!
Aku jatuh. Seketika air mataku menetes. Kulihat jariku terluka. Kakiku terkilir. Dan semuanya pergi
Flashback End

“Benar-benar hebat.”
Aku menoleh ke sumber suara itu. Kyuhyun di sana.
“Kau..”
“Polisi menelponku karena kau membuat masalah. Bagaimana bisa kau menghabisi sepuluh namja yang menyerangmu tanpa terluka hah?”
“Kakiku terkilir.”
“Benar-benar sulit dipercaya. Kau tidak takut hah?”
“Kenapa harus takut?”
“Kau yeoja dan diserang sepuluh orang namja.”
“Mereka payah.”
Dia mengusap wajahnya. Wajahnya terlihat lelah
“Kau..berlari ke sini?”
‘Kalau kubilang iya, dia pasti salah paham’
“Ani! Tempat ini sangat panas.”
“Jinjja?”
“Ya sudah. Aku akan menandatangani suratnya dulu.”

~Kyuhyun POV~
“Haish..sepertinya hari ini aku benar-benar sial.”
“Habis mau bagaimana lagi? Aku juga tidak mau digendong di punggungmu seperti ini.”
Aku terus berjalan ke rumahku. Tinggal sedikit lagi
“Mian,” ujarnya tiba-tiba
“Ne?”
“Aku selalu melibatkanmu dalam masalah. mianhae.”
Dia menaruh wajahnya di pundakku. Seketika jantungku berdetak keras. Deru nafasnya yang tenang bisa kurasakan
“Sepuluh tahun,” ujarku
“N..ne?”
“Sepuluh tahun. Bagaimana bisa kau tetap mengingatku?”
Dia hanya diam‘Apa..aku cinta pertamanya?’
“Ani. Bukan seperti itu.”
“Haish..berhenti membaca pikiranku.”
“Aku juga ingin begitu. Tapi tidak bisa.”
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?”
“Aku sudah menyebutkan namaku. Bahkan memberimu tanda-tanda.”
“Haish..sudah sepuluh tahun. Siapa yang akan mengingat nama dan–”
“Aku masih mengingat namamu dan bisa mengenali wajahmu. Meski sudah sepuluh tahun.”
Aku menoleh ke samping. Wajahnya terlihat sangat dekat
“Aku tidak suka berhutang budi. Kau menyelamatkan keadilan untuk appaku. Jeongmal gomawoyo.”
Aku tidak menjawab.

~Sooyoung POV~
“A..h.. aphayo.”
“Makanya jangan berkelahi lagi. Kau yeoja. Arrachi?”
Dia membalutkan perban di kakiku. Aku mendecak kesal
“Memang kenapa kalau yeoja?”
“Kau tidak boleh berkelahi seperti itu. Bisa membahayakan keselamatanmu juga. Arra?”
“Kalau dengan mereka saja aku takut, bagaimana dengan Jung Yunho?”
Seketika tangannya terhenti
“Kau..”
“Aku pernah berjanji padamu. Kau ingat?”
Dia menggeleng.
“Pelupa.”
“Mwo?”
“Pikun. Seperti harabeoji.”
“MWO?!”
Tininininit.
“Kenapa tidak diangkat?”
“Dari appaku.”
“Mungkin penting.”
“Ani. Dia hanya menelpon untuk memarahiku biasanya.”
Dia menutup kotak obatnya. Kau harus tinggal disini. Setidaknya selama seminggu.”
“Waeyo?”
“Untuk memastikan kalau kau tidak akan berbuat macam-macam. Sebagai wali, jika kau berbuat onar lagi akulah yang akan menanggungnya. Arrachi?”
“Ne. arra.”

———————————–

~Yunho POV~
“Tidak diangkat.”
Aku mematikan cellphonenya. Aku berdiri di depan orang itu. Tak lama kemudian, dia membuka matanya.
“Kau sudah sadar?”
“Kau..siapa?”
Aku menyungging sudut bibirku
“Aku memiliki sebuah cerita menarik dengan putramu.”
“Cerita…menarik?”
“Ne. Sangat menarik.”
Aku mendekati wajahnya
“Dan kau harus menjadi orang pertama yang membayar mahal untuk kelakuannya. Tidak bisakah kau mendidik putramu dengan lebih baik? mengajarkannya untuk mementingkan keselamatan diri sendiri, misalnya?”
“A..pa maksudmu?”
“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada putra semata wayangmu itu?”
Tubuhnya gemetaran.  Aku berjalan di depannya
“Kurasa kita butuh dongeng sebelum kau tidur. Selamanya.”
“A..pa?”
“Sepuluh tahun lalu, aku hampir bebas dari sanksi hukuman penjara 10 tahun. Tapi tiba-tiba putramu muncul dan mengacaukan segalanya. Dia muncul sebagai pahlawan kesiangan, menjadi saksi dan akhirnya aku bisa bebas sekarang. Bahkan duduk disini untuk mengantar ayahnya ke peristirahatan terakhir”
“A…pa?”
“Kau menyesal memiliki putra sepertinya?”
Dia hanya diam
“Kurasa jawabannya iya. Ya, kau memang harus menyesal.”
Aku menaruh martil itu di atas kepalanya. Dia memejamkan mata
“Aku membunuh seseorang dengan benda itu, sepuluh tahun lalu.”
“Jebal..jangan membunuhku. Aku..akan melakukan apapun yang kau mau. Bahkan kau bisa mengambil uangku.”
“AKU TIDAK BUTUH UANG!”
Kesabaranku mulai habis.
“Kau..adalah orang yang sangat penting untuknya bukan? Kau appanya. Satu-satunya yang dia punya dan mendengarnya. Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan jika aku membunuh orang itu.”
“Maksudmu?”
“AKU INGIN DIA MENDERITA BABO!”
Bibirnya gemetaran. Aku mencoba melihat wajahnya
“Anak itu sudah cukup menderita. Bahkan tanpa kau tambahkan.”
“Ah. Kurasa aku ingin mendengar ceritanya terlebih dahulu.”

——————————–

~Sooyoung POV~
Aku berada di ruang sidang. Kulihat dia di sana bersama ahjumma itu. Mereka seperti mendiskusikan sesuatu. Sedangkan Changmin oppa menjadi jaksanya. Aku terus memandang dua anak kembar itu. Mencoba mendengar pikiran mereka

——————————–

~Kyuhyun POV~
“Aku tidak percaya. Kau melepaskan dua orang yang jelas-jelas besekongkol.”
“Kau tidak punya bukti,” ujarku
“Apa kau tidak tahu hah? Itu sama saja kau melepaskan penjahat!”
“Apa yang menang di pengadilan adalah kebenaran. Jadi aku tidak melepaskan penjahat.”
“Terserah. Aku tidak akan mengubah dakwaanku.”
“Kau tidak bisa melihat CCTV hah?”
“Aku meintrogasi mereka. Keduanya mengeluarkan smirk yang mencurigakan.”
“Hanya karena smirk kau percaya mereka bersekongkol? Haish jinjja. Aku bisa gila. Cho Changmin. Katakan saja kalau kau tidak bisa membedakan mana yang harus diberi pasal pembunuhan dan yang mana yang diberi pasal pencurian.”
“Kau benar-benar payah.”
Changmin pergi meninggalkan ruangan. Aku melipat tanganku
“payah? Padahal dia mendakwa kejahatan korporat karena dia tidak tahu mana yang benar dan salah. Haish..”
Aku berdiri dari kursiku. Tiba-tiba seorang yeoja berdiri di belakangku
“Omona.. YAA! Kau membuatku kaget! Dan…kau bolos?!”
Dia hanya diam.
“Yaa! Cepatlah kembali ke sekolah. Aku masih punya banyak pekerjaan.”
Aku melangkah menjauh. Kudengar dia berkata
“Kau senang karena menang?”
Aku berbalik menghadapnya
“Ani. Aku senang karena aku benar, dan changmin salah.”
“Bagaimana kalau kau yang salah?”
Aku menghentikan langkahku
“Maksudmu?”
Aku berjalan ke arahnya. Dia hanya diam
“Apa maksudmu?” Aku mengguncang pundaknya
“Bagaimana kalau jaksa yang benar, dan kau yang salah?”
“M…mwo?”
“Anak kembar itu…mereka bersekongkol untuk membunuhnya.”

TBC

65 thoughts on “Breath {Part 2}

  1. hadeuuuh ngapain lagi si itu penjahat jung yunho,appa cho kyknya mau crita kira” apa yah critanya
    langsung lanjut aja deh yaaaa

  2. wah.. kyknya ada rahasia yg mncurigakn.. kyknya kyu bkn anaknya ya.. tp anak majikanna ya.. heunnn

    seru nih …
    lanjuuuuttt ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s