Breath {Part 1}

Breath

Title :Breath

Genre :Romance,Revenge,Suspense

Rating : PG-15

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Changmin
  • Victoria

Other Cast :

  • Im Yoona
  • Tiffany Hwang

Cameo :

  • Sunny
  • Jessica

Sebelumnya author mau mengucapkan
Jeongmal mianhaeyo, mian mian mian mian :(((((
Karena lamaaaaaa ga update

Jadi dua bulan ini author menghilang karena..
editing naskah
Ternyata. Sangat. Lama.
Super.
Pusing.
Super.
Capek.
Super.
Tambah tugas
Tambah ulangan
Tambah lomba
Tambah..
*Pingsan*

:”’) doakan author reader. semoga ga banyak editing lagi <3
Sebelumnya author mau minta maaf dengan sangat.
Jadi setelah editing selesai, author baru bisa buka blog.
Dan datanya. Hilang.
Astaga.

:””””””””’ jadi author benar-benar minta maaf karena Unpredictable mungkin bisa ga dilanjutin, atau kalau lanjut bakal lamaaa banget karena author harus baca ceritanya dari awal #pelupaakut

Oleh karena itu untuk menebus dosa(?) menghilang dua bulan entah kemana
Buat banyak reader bingung
author menghadirkan FF bergenre baru : Suspense

Enjoy <3

————————————————————–

Part 1Seandainya aku bisa kembali ke masa itu

~Author POV~
Semua orang di ruangan itu terlihat gugup. Beberapa di antara mereka membuka contekan pertanyaan. Beberapa di antara mereka mengetuk-ngetuk tangannya. Hanya satu orang saja yang duduk diam. Matanya sayup. Tidak terlihat ketakutan atau apapun di wajahnya. Tatapannya kosong.
“Cho Kyuhyun.”
Namja itu berdiri dari kursinya. Ia memasuki ruangan dan membungkuk pada hakim yang berada di sana.
“Kyuhyunssi… nilaimu sangat cemerlang.”
“Gamsahamnida,” ujarnya. Datar.
“Lulusan terbaik. Mengapa kau ingin menjadi pengacara publik?”
“Saya punya sebuah cerita.”
“Cerita?”

————————————–

~Kyuhyun POV~
Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Semuanya. Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu, appa menyuruhku mencuci mobil Tuan Cho, majikannya. Appa adalah seorang supir. Tapi berkat bantuan Tuan Cho, aku bisa bersekolah di sekolah unggulan. Sekolah yang sama dengan putranya, Cho Changmin. Ya, marga kami sama. Tapi nasib kami jauh berbeda.
“Aigoo..kau benar-benar rajin,” ujar Tuan Cho
“Aniyo, ajjeosi.”
“Kurasa istriku akan sangat bangga jika dia memiliki putra sepertimu.”
“Anda terlalu memuji.”
Satu hal yang kuingat, Changmin yang berada di balkon langsung membanting pintunya.

Dua hari setelah hari itu. Aku menjalani ujian semester. Saat aku menoleh ke kiri, kudapati Changmin menyontek. Dia langsung memalingkan wajahnya begitu melihatku. Setelah ujian selesai, dia mengancamku. “Jika kau berani mengatakannya pada appaku, kupastikan kau akan menyesal.” Ya, dia selalu mengancamku seperti itu.

Saat hari kelulusan, appanya mengadakan sebuah pesta karena dia menjadi juara satu. Dia memerintahkanku untuk memanggang dagingnya.
“Yaa! Ppali! Kami semua lapar.”
Aku hanya menahan kesabaranku. Bahkan dia menjadi juara satu berkat hasil menyontek. Posisiku tergeser. Sepatutnya dia bersyukur karena aku tidak membuka mulut. Tapi..

“Kyuhyun ah! Tinggalkan saja panggangannya. Kita bermain kembang api saja.”
“Ani aku–”
“Ppali!”

—————————-

~Author POV~
“Lalu apa yang terjadi?” tanya hakim itu, penasaran.
Sang namja hanya tersenyum tipis. “Matanya terkena kembang api karena seorang temannya. Tapi dia menuduhku yang melakukannya.”
“Aigoo…benar-benar parah.”
“Setelah itu, appaku dipecat karena aku menyangkal.”
“Sangat disayangkan.”
“Tapi ceritanya belum selesai di sana.”

——————————–

~Kyuhyun POV~
Sebulan setelah kejadian itu, aku bertemu dengannya. Hari itu sudah malam. Aku memegang kembang api dan menyalakannya
“Yaa! Kyuhyun ah! Kau gila hah!”
Changmin menangkis tanganku. Aku menembakkannya ke atas
“Jika kau memang melihatku yang melakukannya, kenapa kau tidak menangkisnya seperti tadi?”
Changmin hanya diam. Aku mencengkram kerahnya. “Kau benar-benar pecundang.”
“NE! Aku mengakuinya. Tapi aku punya alasan.”
“Kau masih mau beralasan?”
“Karena appaku selalu memujimu. Apapun yang kulakukan salah di matanya! Kau puas?! Bagaimana bisa aku kalah dari anak seorang supir. Itu yang selalu dikatakannya!”
“Kau–”
BRUK!
Kudengar sebuah hantaman keras dari arah jalan raya. Kami berdua langsung berlari ke sana. Kulihat seorang pria membawa martil. Dia memecahkan kaca mobil itu dan memukul kepala pengemudinya.
“Appa!!!!” teriak seorang anak perempuan di sebelahnya. Usianya sekitar 8 tahun.
“Cepat keluarkan cellphonemu!” ujar Changmin
Aku mengeluarkannya. Saat aku memotretnya, tiba-itba cellphoneku berbunyi. Pria itu berbalik ke arahku.
“LARI!”
“BERHENTI!”
Aku dan changmin berlari dan bersembunyi di balik rumput. Kudengar suara ketukan martil.
“Kalian bersembunyi?”
Wajahku mengeluarkan keringat dingin.
“Tenang, anak-anak. Aku tidak akan mencelakakan kalian asal kalian menutup mulut. Dengar baik-baik. Jangan sekali-kali mencari masalah denganku atau kalian akan berakhir seperti itu. Bersembunyilah seperti ini seumur hidup atau kalian akan menyesal. Arra?”
Kudengar langkah kaki itu menjauh.

————————————-

~Author POV~
“Akhirnya? Apa yang kau lakukan? Kau menjadi saksi atau tidak?”
“Itu bagian menariknya.”

————————————-

~Kyuhyun POV~
Setelah itu, aku bepergian dengan topi karena takut menemuinya. Kulihat dari siaran televisi, pria itu diadili besok. Aku mengalami pergolakan batin yang tak dapat kuatasi. Entah mengaku, atau tidak.
Bruk! Aku menabrak seseorang
“Joesonghamni…changmin?”
Dia langsung mengangkat dagunya.
“kau akan menjadi saksi?”
Aku hanya diam. Aku masih memikirkan ancamannya. Bagaimana kalau dia serius? Apa aku akan mati karena mengikutcampuri urusan seseorang yang tidak kukenal?
“Aku akan menjadi saksi,” ujarnya
“Jinjja?”
“Karena aku bukan pecundang.”
“Oh.”
“Kau?”
Aku masih diam. Memikirkan bagaimana baiknya
“Kurasa, sekarang kau yang pecundang.”
“Ani. Aku juga akan mengaku.””Sampai bertemu di pengadilan.”

Keesokan harinya, aku benar-benar datang ke sana dengan segenap keberanianku. Ternyata changmin juga berada di sana.
“Kau siap?”
Kami berdua memegang pintu. Tak seorangpun membukanya.
“Di hitungan ketiga kita buka bersama.”
“Baik.”
“Hana.”
“Dul.”
“Set.”

—————————

~Author POV~
“Lalu siapa yang membuka pintu? Kau atau dia?” tanya hakim itu
Namja itu hanya tersenyum kecut. “Itu tidak penting. Yang jelas, aku menyesali keputusanku sampai hari ini. Oleh karena itu aku ingin menjadi seorang pengacara publik.”
“Tapi–”
“Apa ada pertanyaan lain?”
Ketiga hakim itu menggeleng pelan. Namja itu berdiri dari kursinya dan membungkuk
“Gamsahamnida.Annyeonghigyeseyo.”
Ia melangkahkan kakinya keluar pintu.
“Haish..Jinjja! Ini benar-benar membuatku penasaran sampai mati.”
“Menurutmu siapa yang membukanya?”
“MOLLA!”

————————-

~Kyuhyun POV~
Aku duduk di taman. Melihat ke sekitar. Aku tersenyum tipis begitu mengingat kejadian itu lagi. Bagaimana akhirnya aku masuk sendirian ke ruang persidangan.

Flashback
Semua mata memandangku, termasuk pria yang menyeramkan itu. Yang menjadi hakimnya..Tuan Cho, appa changmin
“Apa yang kau lakukan disini, haksaeng?” tanya seseorang padaku
Gadis kecil itu berbalik menatapku. tatapannya polos dan lugu. Berkaca-kaca, seperti habis menangis. Aku mengumpulkan segenap tenagaku. Hatiku merasa prihatin dengannya
“Saya adalah saksi atas kejadian ini.”
“Apa kau pernah melihatnya, gadis kecil?” tanya seseorang padanya
Dia mengangguk
“Bisa saja dia berbohong. Kau tak lihat, tadi saja dia berbohong. Dia bilang, dia bisa membaca pikiran terdakwa. Terdakwa berpikir, semua orang bodoh ini mempercayaiku. Mana mungkin ada seseorang yang seperti itu?”
“Hahahahahahahaha.”
Anak kecil itu memegang tanganku. Seolah mengharapkan bantuanku. Aku menghembuskan nafas dalam
“Saya memiliki bukti. Disini.”
Jaksa mengambil cellphone itu dan menyerahkannya ke hakim
“Kau bisa duduk di kursi saksi.”
Saat aku masuk ke dalam, tiba-tiba pria itu menyerangku. Dia mencekik leherku
“KAU TAK DENGAR HAH? JANGAN COBA-COBA MUNCUL DI HADAPANKU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!”
“Se…sak..”
Para polisi menahan dan menyeretnya keluar
“KUPASTIKAN KAU MATI BEGITU AKU KELUAR DARI PENJARA! KUPASTIKAN KELUARGAMU MENDERITA”
Nafasku terengah-engah. Jantungku berdetak keras. Takut. Jujur, itulah yang kurasakan sekarang.
“Apa kau bisa bersaksi sekarang, atau kau ingin menundanya?”
“Ani. Aku harus mengucapkannya sekarang.”
Flashback End

Aku tersenyum kecut begitu mengingatnya. Di taman inilah aku bertemu dengan gadis kecil itu setelah persidangan

Flashback
“Haish…jinjja! benar-benar bodoh!” Aku mengacak rambutku sendiri. Bagaimana bisa aku terjebak dengan perkataan changmin dan memposisikan diriku sendiri dalam bahaya? Benar-benar bodoh. lebih baik menjadi pecundang daripada akan dibunuh nantinya.
Krek…krek..
Aku menoleh ke bawah. Kulihat anak kecil itu menuliskan sesuatu di tanah”Gomawo.”
“Haish..Ya! Gadis kecil! Apa kau tahu, karenamu aku dalam bahaya sekarang!”
Gadis kecil itu hanya diam dan menghela nafasnya. Segurat rasa dalam benakku merasa kasihan melihatnya. Dia kehilangan orang tuanya dalam sekejap. Tapi dia juga membuatku dalam bahaya karena rasa kasihan itu
“Mi..an..hamnida.”
“Ka..kau bisa bicara?”
Dia mengangguk. Kukira dia bisu, makanya dia menulis segala sesuatu.
“Aku benar-benar bodoh. Bisa-bisanya aku terjebak. Aku benar-benar bisa gila. “
Gadis kecil itu memegang tanganku
“Aku…akan melindungi..oppa.”
Aku menggeleng tak percaya. “Ya! Gadis kecil. Kau bahkan seorang yeoja, mana mungkin kau yang melindungiku?”
Aku berjongkok di depannya. Kulihat matanya berkaca-kaca. “Haish…bagaimana kalau dia membunuh appa ku juga?”
Gadis kecil itu memelukku secara tiba-tiba. Dia menepuk pundakku. Setidaknya itu membuatku sedikit tenang
Flashback End

Aku sendiri tidak tahu dimana gadis itu sekarang. Benar-benar konyol. Aku mengorbankan keamananku demi seseorang yang bahkan tak kukenal

————————————-

~Author POV~
Seorang yeoja melangkahkan kakinya. Kedua telinganya dipasangi earphone berwarna putih. Tubuhnya tinggi, rambutnya wavy dan panjang. Matanya bulat dan bersinar. Penampilannya terlihat feminim dari luar. Tapi nampaknya, tidak dengan kepribadiannya
“Yaa! CHOI SOOYOUNG!”
Gadis itu berbalik begitu mendengarnya. Dilihatnya beberapa orang namja mengerumuninya. Ia hanya mencibir dan memandangi ketuanya
“Apa maumu?”
“Apa mauku? Dengar baik-baik. Sekalipun kau yeoja, aku tak segan-segan memukulmu.”
“Apa ini kelakuan namja? Mengeroyok seorang yeoja dengan lima orang temannya? Haish jinjja. Dunia sudah terbalik.”
“Kau banyak bicara rupanya!” Seorang namja berniat menyerangnya. Yeoja itu berhasil menghindarinya dan memukul wajahnya dengan tas
“Benar-benar keterlaluan!”
BUK!

~Sooyoung POV~
Aku melipat kedua tanganku sambil tersenyum penuh kemenangan. Enam namja itu terkapar sekarang. Aku mengambil tongkat baseballnya.
“Jika kalian berani menyerangku lagi. Kalian tamat. Arrachi?”
“A…arra.”
“Ka (pergi).”
“Ne.”
Keenam namja itu berlari terlunta-lunta.
“Cih benar-benar payah.”

~Yoona POV~
“YAA! Sooyoung ah! Bagaimana bisa kau menghabisi Eunhyuk dan kawan-kawannya. Haish..yeoja ini benar-benar. Kau tak takut hah?” tanyaku
“Mereka semua payah.”
“Yaa! Kami tahu kalau kau memegang sabuk hitam taekwondo. Tapi kalau yang menyerangmu menjadi sepuluh orang bagaimana?” tanya tiff
“Mereka pasti kalah.”
“Haish..aku benar-benar bisa gila,”ujarnya sambil memakaikan kutek di jari soo.
“Sooyoung ah. Kurasa semua orang yang melihatmu akan mengira kau feminim dan manis. Tidak akan yang tahu seberapa brutalnya gadis ini saat bertengkar.”

~Sooyoung POV~
“Haish..kalau begini terus, kapan kau punya namjachingu eoh?” tanya Tiff
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Namjachingu. Satu-satunya namja yang terlintas di kepalaku hanya namja itu
“Haish…jangankan memikirkan namjachingu. Kurasa dia belum pernah menyukai siapapun.”
“Ani.”
Mereka berdua menoleh ke arahku. “Maksudnya…ka..kau..”
“Kau sedang menyukai seseorang?” tanya yoona
Aku mengangguk. “Ne.”
“OMONA! Nugu? Sudah berapa lama?”
“Hm…sepuluh tahun.”
“MWOYAAA! SEPULUH?”

~Sooyoung POV~
“Ne,” ujarku sambil menopang dagu, membayangkan bagaimana dia masuk ke ruang sidang dan menjadi saksi.
“Seperti apa?”
“Dia..orang yang benar-benar keren dan berani. Dia orang yang hangat dan baik.”
“Omo…dia teman masa kecilmu?”
“Ani.”
“Di kelas ini?”
“Ani.”
“Di sekolah ini.”
“Ani.”
“Lalu dia dimana sekarang?”
“Entahlah.”
“YAA! Bagaimana bisa kau menyukainya sampai sekarang kalau kau sendiri tidak tahu dia dimana?!”
Aku menjawabnya dengan senyuman dan helaan nafas.

——————————-

~Yoona POV~
“Kau tidak pulang?” tanya soo
“Ani. aku masih ingin belajar. kalian pulang duluan saja.”
“kau yakin?”
“ne.”
“baik. annyeong.”
“Ne. annyeong.”
Aku mempelajari buku itu kembali. Kelas sudah sepi. Satu jam berlalu. Seketika aku merasa merinding. Padahal AC tidak dinyalakan. Aku cepat-cepat berdiri dari kursiku dan keluar kelas. Saat aku berjalan melewati lorong, kulihat ada cairan merah yang mengalir dari pintu kelas 3-5. Aku berjalan ke sana perlahan. Saat aku membuka pintunya seorang yeoja terjatuh. Sebuah pisau tertancap di perutnya
“KYAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!”
Aku cepat-cepat mengambil pisau itu dari perutnya. “Tolonggg!!”

————————————-

~Sooyoung POV~
Duniaku terasa lebih bising daripada siapapun. Bahkan saat malam. Aku cepat-cepat berlari ke halte agar tidak ketinggalan bus. Aku tidak sengaja menabrak seorang namja karena terburu-buru
“Joesonghamnida.”
Aku cepat-cepat berlari
“YA!”‘Haish….gadis itu.’
Seketika aku menghentikan langkahku. Suara itu… sama seperti suara yang kudengar. Suara…
Aku cepat-cepat berbalik dan mengejarnya
“Jogiyo!!!”
Dia tidak menoleh dan berlari ke arah stasiun kereta
“BERHENTI!”
Aku ikut masuk ke stasiun itu. Aku berlari melewati penjaga
“YAA! HAGSAENG! Kau harus membawa kartu untuk masuk!”
“Haish…Aku akan membayarnya nanti, ajjeosi!”
“Ani.”
Aku mengeluarkan kartuku dan menekan tombolnya. Aku cepat-cepat mengejar namja itu. Kulihat pintu keretanya tertutup
“CHANKANMAN…!”
Pintunya tertutup. “HAISH!!” Aku menghentak-hentakkan kakiku. Ini benar-benar menyebalkan. Tiba-tiba cellphoneku berbunyi. Dari tiffany
“Yeoboseyo?”
“Soo ah…”
“Fany ah? Kau..menangis?”
“Yoona….”

————————————-

~Yoona POV~
“Tapi aku memang bukan pelakunya! Aku memegang pisau itu untuk melepaskannya!” Aku menitikkan air mata. Bagaimana bisa para polisi ini mengira aku pembunuhnya?
“Haish..anak zaman sekarang sangat pintar membela diri.”
“Tapi aku memang bukan pelakunya! Aku bahkan yang menolongnya! Saat itu aku melihat darah dari kelasnya, saat kubuka pintunya,dia sudah seperti itu!”
“Katakan itu di pengadilan.”
“M..mwo?”

~Kyuhyun POV~
Aku menghela nafas. Kasus pertama yang harus kutangani. Mengapa harus pembunuhan anak sekolah eoh?
“Im Yoona ssi. Jadi kau adalah tersangka pembunuhan Jessica Jung.”
“Aku bukan pembunuhnya! Aku benar-benar bukan pembunuhnya!”
Aku menahan kesabaranku. Inilah yang tidak kusukai. kekanak-kanakkan. “Ne. Aku tahu kau pasti menyangkal.”
“Aniyo! Aku bukan menyangkalnya! Aku memang bukan pembunuhnya!”
“Tapi itu sidik jarimu.”
“Aku mencoba menolongnya!”
“Tapi CCTV di kelasmu juga mati.”
“Tapi aku bukan pembunuhnya!”
“Katanya kau pernah bertengkar dengannya.”
“Itu sudah sangat lama. Saat SMP.”
“Apa yang kau lakukan di sekolah sampai malam?”
“Aku belajar.”
“Mengapa harus di sekolah? Kau kan bisa belajar di rumah, di bis, di kereta.”
“Karena rumahku tidak tenang.”
“Haish..” Aku mengusap keningku.
“Im Yoona ssi. Dengarkan aku. Jika kau menyangkal dan bukti yang kuat ada di tangan jaksa, kau dinyatakan bersalah tapi kau tidak mau mengakuinya, hukumanmu akan lebih berat. Lebih baik kau mengaku dan kita bisa memohon bantuan agar hukumanmu dikurangi. Kemudian–”
“Tapi aku bukan pembunuhnya!!”
“KAU TIDAK MENGERTI HAH! JELAS-JELAS ITU SIDIK JARIMU!”
“Huweeeeeeee!!!” Dia malah menangis di depanku sekarang
“Yaa! Apa menangis akan menyelesaikan masalahmu hah? Sudah. Mengaku dan nyatakan saja kalau dirimu bersalah. Itu lebih mudah. Kalau chingumu sampai meninggal dan kau tidak mengaku, kau akan dikenakan pasal berganda dan–”
“NE! AKU AKAN MENGAKUI KESALAHAN YANG TIDAK KUPERBUAT! KAU PUAS HAH? HUWEEEEEE..”
“Haish..anak ini. YA! Bicaralah dengan bahasa yang sopan padaku!”

————————————-

~Sooyoung POV~
Aku tidak bisa berkonsentrasi hari ini. Aku memikirkan yoona. bagaimana kalau dia ditahan? bagaimana kalau dia dipenjara? haish..eottokhe..
“eo..”
Kulihat yoona berlari ke stasiun kereta
“Yoong!”
Aku cepat-cepat mengejarnya. Tapi aku kehilangan sosoknya. haish..dia pergi ke mana?

~Yoona POV~
“Hiks.”
Aku mengusap air mataku. Beberapa orang memperhatikanku. Aku tidak peduli. Ini benar-benar membuatku frustasi. Apa tanggapan bumonimku kalau aku dipenjara? Apa aku bisa bertahan? Kapan aku bebas? Bagaimana bisa aku menjadi seorang idol kalau aku sampai masuk penjara? Kontrakku dengan management akan dibatalkan. Bumonim harus membayar lebih untuk itu. Masa depanku hancur. Aku melihat ke arah kereta yang melintas. Bagaimana kalau aku mati saja? Semuanya akan menjadi lebih mudah. Aku tidak perlu kecewa. Tidak perlu memalukan kedua orang tuaku. Tidak perlu dipenjara. Tidak perlu menanggung malu. Aku benar-benar bodoh. Kenapa aku menyelamatkannya dan memegang pisau itu? Kalau dia mati, aku akan terkena sanksi besar. Aku melangkahkan kakiku ke arah rel. Aku memejamkan mata. Badanku gemetaran. Tapi ini jalan terbaik. appa, eomma. mianhae.
“AWAS!”
BRUK!
Tiba-tiba seseorang menarikku hingga terjatuh di atasnya
“A..h..”
“You…ngie?”
“KAU GILA HAH! KAU MAU MATI?”
Aku hanya diam. Kalau itu adalah yang terbaik..mengapa aku harus takut?
“Yaa! Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalahmu.”
“Ani. Aku hanya tidak melihat keretanya dan..”
“Geotjimal.”
Seketika air mataku mengucur. Aku memeluknya “Youngie…eottokhe..”

~Sooyoung POV~
“Ini.” Aku memberikan kopi untuknya
“Gomawo.”
Aku duduk di ayunan sebelahnya dan meminum kopiku
“Kau bertemu pengacara hari ini?”
“Ne. Tapi dia tidak membantu.”
“Waeyo?”
“Dia bilang, sebaiknya aku mengaku. Dia tidak mempercayaiku. Dia lebih mempercayai bukti sidik jari dan alibi lainnya.”
“Haish..bagaimana bisa seorang pengacara seperti itu.”
‘Benar-benar bukan aku. Tapi semua orang pasti lebih mempercayai bukti. Mungkin youngie juga’. Aku mendengar suara itu. Suara hatinya
“Aku mempercayaimu,” ujarku
‘Dia hanya mengatakannya untuk menghiburku.’
“Aku bukan menghiburmu. Aku hanya mengatakan faktanya.”
Yoona tersenyum tipis. “Gomawo. kuharap pengacaraku sepertimu. Tapi dia malah menyuruhku mengaku. Katanya, hukumanku akan lebih ringan kalau…”
“Ani. Jangan pernah mengakui kesalahan yang tidak kau perbuat.”
“Tapi–”
“Aku akan menemui pengacaramu dan meyakinkannya. Siapa namanya?”
“Cho Kyuhyun.”
Seketika aku terdiam mendengar nama itu. “Cho..Kyuhyun?”
“Ne. Waeyo?”
“Ani. Namanya..sepertinya pernah kudengar.”

————————————-

~Kyuhyun POV~
Hari persidangan. Aku berdiri di depan lift. Menghembuskan nafas kesal. Semoga saja anak itu sudah datang. Aku benar-benar membenci adegan drama dan sejenisnya.
Ting.
Lift itu terbuka. Aku masuk ke dalam, aku menekan tombol close. Tapi tiba-tiba pintunya terbuka. Saat aku menoleh, kudapati seseorang yang kukenal berdiri di sana.
“Kyu..hyun?”
“Chang..min?”

~Sooyoung POV~
“Apa tak masalah…bolos?” tanya yoona
“Tentu. Kami akan membuat surat keterangan sakit. Kami harus disini untuk menemanimu.”
“Gomawo youngie, fany.”
“Ne.”
Aku mencoba memandang ke sekitar. Mencari sosok pengacara menyebalkan itu. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seseorang. Seorang namja tinggi berkacamata. Dia berjalan dengan cepat ke arah kami. Aku tidak akan pernah melupakan wajah itu. Dia..
“Kukira kau telat,” ujarnya pada yoona
“Kau…pengacaranya?” tanyaku
“Haish..kau dan teman-temanmu sama saja. Tidak sopan. Hagsaengi, kalian harus berbicara dalam bahasa formal pada seseorang yang lebih tua, arra? Dan kalian..bolos?”
Geuronika eobso. Aku menggeleng tak percaya. Tidak mungkin. Aku mengepalkan tanganku dan langsung menarik namja itu
“Yaa! yaa! Yaa! Apa yang kau lakukan!”
Aku melepaskan tangannya. “Aku benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa kau menjadi orang sekejam ini eoh?”
“Kejam. Haksaeng, dengarkan a–”
“Namaku bukan haksaeng!”
“Baik, agassi. Temanmu mencoba membunuh Jessica Jung dan–”
“Dia tidak mungkin mencoba membunuhnya!”
“Darimana kau yakin hah?”
Aku mencoba memikirkan cara mengucapkannya.
“Terlepas dia membunuhnya atau tidak, ada sidik jarinya di pisau itu,” ujarku bersamaan dengannya. Dia membulatkan matanya.
“Bagaimana bisa ucapan kita sama?” dia melangkah mundur
“Apa kau berpikir keajaiban akan turun dari langit dan bukti itu hilang?”aku mengucapkan isi pikirannya
“Bagaimana kau…bisa mengatakan hal yang ingin kukatakan?”
“Karena aku bisa membaca pikiranmu.”
“N….ne?”
“Dan aku membaca pikiran yoona. Jadi aku yakin 1000000% kalau dia bukan pembunuhnya. Dia hanya mencoba menolong jessica.”
“Maldo andwae.”

~Kyuhyun POV~
“Apa itu bisa menjadi bukti?”
Aku berpikir keras. “Dengarkan aku, agassi. Kemampuanmu memang luar biasa tapi–”
“Apa kau mau Yoona mengakui kesalahan yang tidak dia perbuat? Lalu mengapa kau sendiri tidak melakukan hal yang sama saat temanmu menuduhmu?”
“M…mwo?”
“Kejadian kembang api. Kau tidak mau mengakui kesalahan yang kau perbuat. Lalu mengapa Yoona harus mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat?”
Aku hanya bisa berdiri mematung.
“Jaksa yang akan menangani kasus yoona adalah namja itu kan?”
“Berhenti membaca pikiranku!”
“Aku tidak akan berhenti sebelum kau berjanji untuk membela yoona!”
“Aku tidak bisa melakukannya karena–”
“Kau takut kalau kau tidak bisa memenangkan yoona dan jaksa itu menertawakanmu? Kau salah. Dia akan menertawakanmu kalau kau menyuruh yoona menjadi pecundang di depannya.”
Pecundang. Aku duduk di kursi sambil berpikir keras.
“Jika kau memang ingin menjadi pengacara yang hebat di depan lawanmu, kau harus memenangkan yoona. Buktikan kalau dia tidak bersalah. Jebal.”

————————————-

~Sooyoung POV~
“Im Yoona terlihat telah merencanakan semuanya dengan baik. CCTV di kelas itu dihancurkan olehnya dan ia berpura-pura menjadi penolong jessica agar tidak dicurigai. Namun buktinya sudah ada di depan mata. Pisau itu memperlihatkan sidik jarinya. Hanya ia yang berada di sekolah saat itu.”
“Haish…bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu,” ujar fany
“Dia jaksa. Tentu saja dia akan menjadi kontra. Dia akan mencari alasan yang logis.”
Aku menatap yoona yang hanya menitikkan air mata. Kyuhyun yang berada di sebelahnya sudah berdiri dan memegang mapnya. Kulihat dia menoleh ke arahku. Aku menggeleng. Kumohon. Yoona tak bersalah. Dia menutup mapnya. “Terdakwa menolak gugatan tersebut.”

————————————-

~Kyuhyun POV~
Kulihat yeoja itu tersenyum padaku. Aku memejamkan mata dan menarik nafas dalam. “Saat itu, terdakwa sedang belajar. Saat ia pulang, ia melihat darah yang mengucur dari arah kelas 3-5. Ia bermaksud menolong korban, oleh karena itulah pisau itu memberi sidik jarinya. CCTV dimatikan sejak pagi hari. Sedangkan terdakwa selalu datang ke sekolah saat siang hari. Hal ini jelas tidak memungkinkan.”

~Changmin POV~
Saksi pertama memasuki ruangan. Aku memegang mic ku
“Lee Soonkyu. Apa kau pernah melihat Im Yoona bertengkar dengan Jessica Jung?”
“Ne.”
“M..mwoya? Itu sudah lama sekali.”
Aku tidak menghiraukan terdakwa itu
“Apa menurutmu Im Yoona mungkin membunuhnya?”
“Kurasa ada kemungkinan.”
“YAA! Lee Soonkyu! Bagaimana bisa kau..”
“Tenang,” ujar kyuhyun padanya
Aku menyungging sudut bibirku. “Waeyo?”
“Karena mereka saling bermusuhan. Bukan tidak mungkin yoona mencoba membunuhnya.”
“Kenapa mereka bertengkar?”
“Karena namja yang Yoona sukai memilih Sica.”
“Lee Soonkyu! Itu sudah sangat lama! Aku bahkan sudah melupakannya!”
Aku menaruh mic ku. Sudah cukup

~Sooyoung POV~
“Haish…menyebalkan,” ujar fany
Aku benar-benar takut sekarang. Hakim sekarang berpihak pada jaksa.
“Lee Soonkyu, kapan kejadian itu terjadi?”
“Saat kami kelas 1.”
“Berarti sudah dua tahun. Tidakkah kau berpikir, hal tersebut mustahil untuk terjadi. Jika Yoona ingin membunuhnya karena kejadian namjachingu dan sebagainya, mengapa tidak ia lakukan sejak dulu saja?”
“Mungkin saja dia merencanakan semuanya dengan baik dan–”
“Menurutmu, Im Yoona adalah orang yang pintar atau bodoh?”
“Dia…pintar?”
“Jika dia pintar, dia tidak akan memegang pisau itu dan meninggalkan sidik jarinya. ”
“Kalau begitu, dia bodoh?”
“Jika dia bodoh, dia tidak akan merencanakan pembunuhan ini dengan baik.”
Hakim mulai mempertimbangkannya. Syukurlah.
“Itu…”
“Apa Jessica Jung datang pagi ke sekolah?”
“Ne. Dia datang pertama.”
“Tidakkah kau berpikir. Mengapa Jessica Jung menjadi orang yang datang pertama dan orang yang pulang terakhir?”
“N..ne?”
“Ini adalah percobaan bunuh diri.”
Aku membulatkan mataku. Sica? Bunuh diri?
“Dia datang di pagi hari dan mematikan CCTV agar tidak ada yang melihat rekaman bahwa ia bunuh diri. Dia pulang terlambat agar tidak ada yang melihatnya. Dia memilih sekolah sebagai tempat bunuh dirinya agar tidak ada yang menolongnya.”
“Tapi–”
“Sekarang, menurutmu jessica bodoh atau pintar?”
“Jessica. Tentu dia pintar.”
“Lihat. Alasan itu memungkinkan bukan? Dia pintar, maka dia mengatur semuanya dengan baik agar bunuh dirinya berhasil. Kalau sekarang kau menuduh Im Yoona, rasanya mustahil. Jika Jessica pintar dan dia tahu bahwa Yoona adalah musuhnya, mana mungkin dia bersedia tetap tinggal di sekolah hanya bersama Yoona? Tidakkah kau berpikir demikian?”
“Ah…itu..ne”
Krek…pintu ruang sidang terbuka. Dua orang polisi memasuki ruangan dan pergi ke arah hakim. Aku mencoba mendengar apa yang mereka katakan
“Ada apa?” ujar fany
“Jessica memang mencoba bunuh diri.”
“N….ne?”

————————————-

~Kyuhyun POV~
“Heuh….”
Aku menghela nafas begitu persidangan selesai. Syukurlah. Aku tidak percaya ini akan berhasil
“Jeongmal gamsahamnida,” ujar yoona sambil membungkuk
“Ne. Mianhamnida aku tidak–”
“Aniyo. Lupakan saja. Aku sudah memaafkanmu karena menyelamatkanku.”
“Ne.”
“Kalau begitu aku permisi. Annyeonghigyeseyo.”
“Ne.”
Aku menyandarkan punggungku ke kursi. Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku
“Aku tidak percaya kau membelanya.”
Aku menoleh ke samping. Gadis itu ada di sana
“Kau lagi.”
“Kau tidak penasaran, kenapa kau bisa mengalahkan musuhmu hari ini?”
“Karena argumenku tepat mengenai sasaran.”
“Ne. Karena dugaanmu tepat.”
“Maksudmu?”
“Jessica mencoba bunuh diri.”
“W…..wae?”
“Dia adalah ranking satu sejak dulu. Tapi sejak berpacaran, rankingnya menurun drastis. Dari kelas pertama ke kelas terakhir. Dia frustasi dan diputuskan. Itulah sebabnya, dia mencoba bunuh diri.”
“Aigoo.. ternyata kemampuanmu benar-benar hebat, agassi.”
“Sooyoung iyeyo.”
“Ne?”
“Namaku bukan agassi. Namaku Sooyoung. Choi Sooyoung.”

~Sooyoung POV~
‘Sepertinya nama itu tidak asing.’
Aku hanya bisa tersenyum begitu mendengarnya. Tentu saja dia tidak mengingatku. Sudah sepuluh tahun.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Annyeong!”
“Y..ya!”
Dia langsung meninggalkan ruangan. Haish..gadis itu tidak berbicara formal padaku. annyeong. Aku menggelengkan kepala dan mengambil tasku. Saat aku akan keluar, kulihat Changmin berada di depanku
“Sidang hari ini benar-benar menarik,” ujarku
“Hanya hari ini.”
“Ne?”
“Hanya hari ini aku membiarkanmu menang.”
Aku hanya tersenyum sinis. “Kau cocok menjadi jaksa. Mencari kesalahan orang yang tak bersalah sekalipun.”
“Tutup mulutmu, kyuhyunssi.”
“Sama sepertiku. Aku tidak akan membuatnya mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat.”
“Sangat disayangkan.”
“Mwo?”
“Orang sepintar dirimu hanya menjadi seorang pengacara publik.”
“Jika hanya itu yang ingin kau katakan, sebaiknya simpan kata-kata itu dalam hati.”

————————————-

~Author POV~
Seorang pria tengah menyilang hari itu. Tanggal 10. Akhirnya ia bebas setelah 10 tahun mendekam di penjara.
“Yunho. Kau akan keluar besok eoh?”
Ia mengambil koran itu. Menatap foto seseorang yang ada di sana. Seseorang yang harus membayar mahal. “Ne.”
“Kau tahu, tadi ada sebuah sidang yang hebat. Para penjaga membicarakannya. Seorang pengacara publik mengalahkan jaksa yang hebat.”
“Aku mengenal pengacara itu.”
“Jinjja?”
“Ne. Cho Kyuhyun.”
“Tidak kusangka.”
“Dan dia harus membayar mahal atas semua hutangnya.”

——————-TBC——————

104 thoughts on “Breath {Part 1}

  1. Waah untung kyu tetep bela yoona di persidangan. Kalo nggak yoona bisa ditahan padahal bukan dia yg melakukan
    Soo bisa baca pikiran? Daebak!

  2. anyyeong chingu… hehehehe
    maaf sebelumnya aku agak kurang ngerti dgn cerita pertamanya, ini udah aku ulang tiga kali baca ini ff.
    dan alhamdulillah ngerti… demi apapun emang keren bgt.
    g nyangka klo soo punya kemampuan kyak gitu. penasaran baca part selanjutnya.
    pengen tau, skrg soo tggal dimana, kan tau sendiri appanya udah ninggal.

    okeeeee next part

  3. kyyaaaaa seru ini kayak drama korea…..pemainnya siapa yh pokoknya yg jadi pengacara itu cwe sedangkan peran sooyoung itu cwo
    aduh beneran lupa siapa dan apa judulnya yg pasti itu keren bnget
    apalagi chingu bkinin kyuyoung versionnya
    keep write yh chingu tulisanmu paling kusuka deh

  4. Woah welcome back. Tp mian banget. Ceritanya sama persis kaya i hear your voice. Cuman beda pemainnya aja. Kalo di i hear your voice pengacara publiknya lee bo young kalo dicerita ini kyuhyun. Tp semangat terus tor bikin part selanjutnya

  5. Kyuppa musuhan ma changmin?
    Jadi yunho oppa tu penjahat?
    Dan dia mau balas dendam ke kyuppa?
    Soo bisa baca pikiran org?
    Daebak…

  6. annyeong author aku baru buka blog ini lagi hehehe :) jadi gadis kecil yg dulu ditolong kyu itu sooyoungkah? dan soo punya kemampuan baca pikiran orang? wih daebak~~ changmin ngeselin!

  7. jadi soo itu bisa baca pikiran orang gituu yaa..
    yaak haissssh buat apa balas dendam sama kyu ,kan udah jelas salah paboo !!

  8. waduh.. penjahatnya udah bebas.. kyu gmb tuh??
    trus soo kok gk lbgsung bobgkar identitas?? :/

    daebakk chingu.. seru..
    lanjuuuttt..

    unpredictable ditunggu2 lho.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s