Unpredictable {Part 1}

Unpredictable

Title :Unpredictable

Genre :Romance,Revenge,Angst

Rating : PG-17

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Choi Siwon
  • Seo Joohyun

Other Cast :

  • Im Yoona
  • Kris Wu
  • Kwon Yuri
  • Tiffany Hwang
  • Kim TaeyeonCameo
  • Hyuna
  • Hyoyeon

Aku memegang apa yang kukatakan-Seo Joohyun
Aku seperti batang yang kokoh namun lapuk di dalamnya-Choi Siwon

Chapter 1

~Kyuhyun POV~
This plane is going to land at 10 a.m KST. Please fasten your sitbelt.
Suara itu membangunkanku. Dua belas jam berada di pesawat. Rasanya penat. Dan akhirnya, pesawat ini akan mendarat. Aku menoleh ke arah jendela. Kota Seoul terlihat indah dari kaca ini. Sungai Han terpampang jelas di depanku. Aku merindukan Seoul. Tiga tahun berkuliah di Amerika membuatku merindukan kota ini, terutama makanannya. Seketika kenangan masa SMA ku kembali berputar. Aku tersenyum pahit.

———————-

~Sooyoung POV~
Drrt..Aku menyeret koper kecilku perlahan. Menarik nafas dalam. Busan. Sudah lima tahun aku tidak menginjakkan kaki di tempat kelahiranku. Belum banyak berubah. Tempat tujuan pertamaku adalah rumah Yoona. Satu-satunya tempat terhangat disini. Aku tersenyum kecut melihat sebuah toko kini berdiri di tanah yang dulunya adalah rumahku. Aku melangkah dengan cepat ke rumah Yoona. Kudapati Im ahjumma berdiri di sana
“Annyeonghaseyo, ahjumma.”
“Annyeonghaseyo. Nuguseyo?”
Aku tersenyum tipis. “Ini aku, ahjumma. Choi Sooyoung.”
“SOOYOUNG AH? Ini kau?”
Aku mengangguk
“Aigoo.. neomu yeppo! Aku sampai tidak mengenalimu.”
“Bagaimana kabar ahjumma dan ahjeossi?”
“Baik. Kau sendiri?”
Buruk. Sebenarnya aku sangat ingin menjawab kata itu. Sayangnya bibirku terlalu kelu untuk mengucapkannya. “Aku baik-baik saja.”
“Langsuk masuk ke kamar Yoona saja. Dia sudah menunggumu di sana.”
“Gomawo ahjumma.”
Aku membawa koperku ke lantai atas. Menghembuskan nafas dalam sebelum memasuki kamar Yoona. Aku memasang senyuman terbaik yang bisa kuberikan
“Annyeong Nona Im!” ujarku sambil membuka pintunya
“Kyaaa!! Neomu neomu neomu bogoshiposeo!!!” Dia langsung berlari memelukku
“Nado.”
“Kau sendirian?”
Aku mengangguk
“Aku..ingin berlibur disini. Sudah lama kan kita tidak bertemu?”
Yoona hanya diam. Matanya mencoba menatap mataku. Menerawang apa yang kusembunyikan.
“Kau ada masalah?”
Aku menaruh koperku. “Apa aku harus punya masalah untuk datang kesini?”
“Kau datang sendirian. Kalau kau tidak punya masalah, kau akan datang ke sini bersama mereka.”
“Mereka..sedang sibuk.”
Yoona menahan tanganku
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
“Aku tidak menyembunyikan apapun.”
“Choi Sooyoung. Aku mengenalmu dari kita belum bisa membaca.”
Seketika aku terdiam. Menitikkan air mataku di depannya
“Yoong…eottokhe..”
Yoona memelukku. Mengusap kepalaku perlahan seperti bagaimana dia biasa menenangkanku
“Ada apa?”

~Siwon POV~
The number you’re calling it’s not active.
Aku melempar cellphoneku ke sofa. Menghempaskan tubuhku di sebelahnya. Memejamkan mata. Ini benar-benar memusingkan. Youngie..kau dimana?
“Dia..belum mengangkat teleponnya juga?”
Aku mengangguk
“Ne, eomma.”
“Aigoo.. kemana yeodongsaengmu sebenarnya..”
Aku tersenyum kecut. Ya, eomma tidak pernah tahu kalau kami menjalin hubungan spesial. Yang dia tahu, kami hanya akrab seperti kakak-adik. Tanpa dia ketahui..aku mencintai adik angkatku itu. Yang bertemu denganku lima tahun lalu. Dan aku baru memahami bagaimana perasaannya saat kehilangan orang tuanya.
Berat.
Sama seperti yang kurasakan sekarang.Appa meninggal sebulan yang lalu. Sejak itu, suasana di rumah menjadi kacau. Eomma sering menangis dan perusahaan berantakkan. Aku yang merupakan fresh-graduate belum bisa melakukan sesuatu yang berarti. Aku tidak memiliki pengalaman apapun dalam memimpin perusahaan. Dan parahnya, perusahaan kami kala tender. Keuangan menjadi kacau.
Di saat itu, Seo ahjeossi menawarkan sebuah bantuan. Namun ada imbalan yang harus kuberi untuk mereka : menikah dengan Seo Joohyun, teman masa kecilku sendiri. Sooyoung mengetahui hal itu. Dan dia langsung meninggalkanku tanpa mengucapkan kata putus atau apapun. Membiarkanku dalam kebingungan.

~Kyuhyun POV~
Aku sudah berada di mobil. Dalam perjalanan ke rumah. Sekretaris Shim masih menyetir. Sesekali melihat ke arah spion. Aku belum mengajaknya bicara. Seoul tidak banyak berubah. Sama seperti perasaanku. Tiga tahun aku pergi ke Amerika untuk melupakannya. Tidak berhasil. Kau bodoh, Kyuhyun. Padahal dia jelas-jelas sudah menolakmu. Dan tak lama setelah itu kau tahu kalau dia adalah yeojachingu Choi Siwon. Kau tahu semua sandiwara mereka yang pura-pura menjadi saudara sepupu. Tapi kau masih saja menunggu.
“Tuan Muda..banyak berubah,” ujar Sekretaris Shim.
Aku tersenyum tipis. Ya. Aku memang berubah sejak pergi ke Amerika. Aku meninggalkan kacamataku karena semua itu tidak ada artinya lagi. Mendapatkan yeoja yang menerimamu apa adanya hanyalah mimpi.
“Bagaimana kehidupan di New York?”
“Biasa saja.”
“Anda menemukan yeojachingu di sana?”
Aku hanya tersenyum sambil memandang ke arah jendela
“Apa pendapatmu, Sekretaris Shim?”
“Entahlah.”
“Aku tidak menemukan yeoja yang menarik.”

~Seohyun POV~
“Cheers!”
Aku meminum wine bersama Yuri dan Tiffany. Merayakan pernikahanku yang akan dilaksanakan sebulan lagi.
“Kau benar-benar hebat,” ujar Yuri.
“Aku sudah bilang kalau aku akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan ini menjadi pembelajaran bergharga bagi Choi Sooyoung untuk tidak menipuku.”
Aku menuang wine ke gelasku lagi. Mengingat kejadian dimana aku tahu kalau Choi Sooyoung bukan sepupunya. Dia adalah anak dari sahabat Choi ahjeossi. Dan aku tidak akan membiarkan yeoja biasa itu menang.
“Kudengar dia pergi dari rumah,” ujar Yuri
“Itu kabar baik untukku.”
“Tapi..apa kau puas bisa mendapatkan Choi Siwon dengan cara seperti ini? Maksudku..dia hanya ingin memanfaatkan kekayaanmu,” Tiffany berpendapat
Aku tersenyum tipis
“Dia teman masa kecilku. Aku tahu persis bagaimana Choi Siwon. Meski kamu menikah karena itu, dia akan belajar untuk mencintaiku.”
“Kau hebat, Seohyun ah,” puji Yuri
“Dan ini pun merupakan pembalasan dendam untuk Cho Kyuhyun.”
“Apa hubungannya dengan namja itu?” tanya Fany
“Kau tahu, cara menyakiti seseorang..yang terbaik adalah dengan menyakiti seseorang yang paling dicintainya.”
“You’re so mean,” ujar Yuri
“Aku tidak akan bisa melupakan hari dimana dia mempermalukanku di atas panggung.”
“Tapi kurasa..Kyuhyun tidak menyukainya lagi. He went away to America. There’re a lot of flawless girls,” Tiffany menambahkan
Well. Tapi kurasa..dia bukan tipikal namja yang mudah berpaling.”

~Kyuhyun POV~
Welcome home, boy,” appa memelukku
Aku tersenyum tipis dan membalas pelukannya
“Gomawo appa.”
“Kau pasti kelelahan. Biar para pelayan yang membawa tasmu. Kau beristirahat saja di kamar.”
“Ne, appa.”
“Kapan kau bisa masuk kantor?”
“Secepatnya. Besok juga boleh.”
“Ani. Aku melarangmu. Bagaimana kalau minggu depan?”
“Itu terlalu lama.”
“Ayolah, Kyu. Kau tidak merindukan Korea? Tidak ingin ke Nami atau Jeju?”
“Kurasa aku akan mempertimbangkan soal hal itu.”
“Baik. Minggu depan, kau akan menjadi wakil presdir.”
“Appa, apa tidak sebaiknya aku menjadi manager dahulu?”
“Andwae. Aku tahu kalau putraku genius, Kyu. Dan otak itu sangat disayangkan jika hanya menjadi manager.”
I’m a fresh graduate.Cho corp sangat besar. Bagaimana mungkin aku yang belum berpengalaman langsung ditaruh di posisi sepenting itu?”
“I’ll hire a secretary to help you. Is that okay?”
I will have a try.
“Aku menunggumu minggu depan, wakil presdir Cho.”
“Nado.”
Aku melangkahkan kaki ke kamarku. Memasukinya. Kamar ini memang tempat yang paling nyaman. Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang. Sudah lama sekali aku merindukan kasur ini. Seketika pandanganku tertuju pada dua frame foto di nakas. Foto eomma dan..foto yeoja itu. Padahal aku sudah menaruhnya di lemari. Entah siapa yang mengeluarkannya kembali. Aku tersenyum tipis. Mengingat kenangan masa SMA. Aku merindukan yeoja berisik itu. Yeoja yang berhasil membuatku dikeluarkan dari kelas. Yeoja yang kubela saat dibully. Dan yeoja yang kucium diam-diam saat dia pingsan di gudang..

Flashback
BRUK!
Baik. Kurasa sekolah akan meminta ganti rugi karena pintu gudangnya kurusak. Tapi aku tidak peduli. Saat aku menoleh, kudapati yeoja itu terbaring di matras. Aku menghela nafas lega. Yang jelas..seseorang menguncinya disini. Akan kubuat orang itu menyesal. Aku berjalan mendekatinya.
“Kau selalu membuatku khawatir.”
Aku mengusap wajahnya perlahan. Matanya terpejam sempurna. Perlahan aku mendekatkan wajahku padanya. Menciumnya diam-diam. Aku tersenyum tipis
“Kau mencuri first kissku, gongjunim.”
Flashback End

Dan kurasa..saat itu aku juga mencuri first kiss mu tanpa kau ketahui. Aku tersenyum tipis. Aku tahu ini bodoh. Tapi aku terkesan seperti menunggunya.Padahal, aku saja tidak tahu dimana dia sekarang. Apa dia masih menjadi yeojachingu Choi Siwon? Entahlah.
“Bogoshipo.”

~Yoona POV~
“MWO? MENIKAH DENGAN SI SEOHYUN ITU?”
Dia mengangguk.
“YAA! APA KAU GILA HAH MEMBIARKAN MEREKA MENIKAH?”
“Aku terpaksa, Yoong. Appanya sudah meninggal dan perusahaannya bangkrut. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya hanya dengan menikahi Seohyun. Aku tidak mungkin mempertahankan egoku. Mereka sudah sangat baik padaku. Mereka menampungku di rumahnya, menyediakan semua kebutuhanku, menyekolahkanku.. dan aku tidak mungkin membalasnya dengan menjadi egois. Lagipula eommanya tidak mengetahui hubungan kami.”
“KALIAN BACKSTREET SELAMA ITU? LIMA TAHUN?”
Dia mengangguk
“Ini benar-benar gila.”
“Oleh karena itu..aku memutuskan untuk keluar dari rumahnya.”
“Tanpa mengucapkan apapun?”
“Aku benci mengucapkan perpisahan. Lebih baik aku hilang seperti asap.”
“Haish..kau ini benar-benar..”
“Aku hanya ingin menenangkan diriku sekitar tiga hari disini.”
“Ini juga rumahmu, soo. Kau bisa kesini kapanpun kau mau.”
“Gomawo..yoong.”

————————————–

~Sooyoung POV~
Drrt..
Cellphoneku berbunyi lagi. Aku terdiam sejenak. Bingung antara mengangkatnya atau tidak. Aku menarik nafas dalam. Aku tidak bisa terus-menerus menghindar
“Yeoboseyo..”
“YOUNGIE? EODIGA? Apa kau tidak tahu, semua orang mengkhawatirkanmu!”
Aku hanya diam
“Youngie, jebal. Beritahu padaku. Kau dimana?”
“Oppa..”
Aku menarik nafas dalam
“Aku ingin kita putus.”
Dia hanya diam. Bukan. Bukan aku yang menginginkannya oppa. Tapi keadaan memaksaku mengatakannya
Youngie..”
Mianhae oppa. Tapi aku harus mengatakan hal yang kejam..agar kau bisa melupakanku
“Aku sudah bosan dengan hubungan kita.”
“N…ne?”
“Lima tahun kita backstreet dari bumonim. Hubungan kita yang hanya main-main hanya akan menyakitkan semua orang jika dipertahankan. Lebih baik kita akhiri sekarang.”
Main-main?”
“Ne. Bukankah dari awal kita tahu kalau kita tidak akan bisa bersama? Tapi kita tetap saja masih bersama. Itu main-main kan?”
Youngie–“
“Chukkhae atas pernikahanmu.”
Kau sama sekali tidak sakit? Kau tidak pernah menganggap kalau aku memang serius padamu?”
Aku sangat. Sakit. Oppa. Dan aku tahu kau serius. Tapi kita tidak akan bisa menyatu.
“Kenapa aku harus merasa sakit? Memangnya hanya ada satu namja di dunia ini?”
Youngie.. kau serius dengan perkataanmu?”
“Kau terlalu naif, oppa.”
Kau–“
“Jika kita bertemu lagi, anggaplah kita tidak pernah saling mengenal. Annyeonghigyeseyo.”
Aku mematikan sambungannya. Menitikkan air mata. Mianhae oppa. Tapi ini jalan terbaik bagi kita. Berpisah. Daripada saling menyakiti pada akhirnya.

———————————-

~Siwon POV~
Aku menatap cellphoneku tak percaya. Tidak. Dia pasti bohong. Mana mungkin lima tahun ini semuanya palsu?
“Siwon ah.”
“Ne eomma?”
“Apa youngie sudah mengangkat teleponmu?”
Aku hanya diam. Tidak bisa menjawab apapun.

~Seohyun POV~
Aku tersenyum puas melihat undangan pernikahanku. benar-benar cantik. Dan tiga minggu lagi. Pesta mewah akan digelar. Dan Seo Joohyun akan menjadi ratunya.

~Kyuhyun POV~
Aku berada di Nami sekarang. Berlibur. Appa benar. Aku butuh udara sejuk. Aku menyandarkan punggungku sambil memejamkan mata. Akhirnya aku terbebas dari bunyi sirene dan keberisikan kota.

~Sooyoung POV~
“Selesai.”
Aku tersenyum tipis melihat apartemen baruku. Meski kecil, apartemen ini cukup nyaman. Aku langsung membuka koran. mencari lowongan pekerjaan. Dua hari sudah cukup bagiku untuk menenangkan diri. Uang di tabunganku tinggal tersisa 20.000 won. 80.000 nya terpakai untuk membayar kontrakan ini. Aku harus bisa menemukan pekerjaan secepatnya sebelum aku kehabisan uang dan kelaparan. Lowongan menjadi sekretaris…ada tiga perusahaan. Aku mencari yang jaraknya paling dekat dari sini. Aku melingkarinya. Besok, aku akan melamar kerja disini.

—————————

~Siwon POV~
Aku menatap undangan itu. Pernikahan. Mimpi tiap orang. Tapi tidak bagiku kali ini. Seohyun memang yeoja yang cukup baik. Teman masa kecilku. Tapi perasaanku hanyalah sebatas kakak-adik. Tidak lebih. Aku melihat ke kalender. Tiga minggu lagi.

~Sooyoung POV~
Tanganku gemetaran. Banyak sekali yang mendaftar. Ada sekitar 30 orang. Aku menggigit bibir bawahku. Kumohon.. aku harus diterima disini, Tuhan.
“Choi Sooyoung?”
“Ne.”
Aku berdiri dari kursiku. Masuk ke dalam. Kulihat ada tiga orang namsong yang duduk di depanku.
“Perkenalkan dirimu.”
“Annyeonghasimnikka, je ireumeun Choi Sooyoung imnida. Je naeuineun seumul sal imnida. Mannaseo panggapseumnida.”
“Kau..lulusan Seoul Business University?”
“Ne.”
“Bukankah itu sekolah elite? Kenapa kau mendaftar menjadi sekretaris disini? Biasanya, mahasiswa SBU adalah anak pengusaha kelas atas.”
“Saya dapat mengenyam pendidikan di sana karena bantuan kerabat bumonim saya.”
“Arraseo..”
“Ceritakan singkat mengenai kelebihan dan kekuranganmu.”
“Baik. Kelebihan saya adalah mampu bersosialisasi, mau belajar, dan berusaha keras. Saya tidak mengeluh atas pekerjaan yang menumpuk. Kekurangan saya ialah saya tidak pandai berlari.”
“Hahahahahahahahahaa…jawaban yang cerdas.”

—————————-

~Kyuhyun POV~
“Bagaimana hasil wawancaranya?”
“Ada 30 orang yang mendaftar.”
“Apa kau menemukan orang yang sesuai kriteriaku?”
“Ne. Ada seorang yeoja tinggi yang cukup lucu. Dia berkata kekurangannya ialah tidak pandai berlari.”
“Jawaban yang menarik. Bagaimana dengan prestasinya?”
“Dia lulusan Seoul Business University.”
“SBU? Kenapa menjadi sekretaris?”
“Dia bilang, dia bisa masuk ke sana karena bantuan kerabat bumonimnya. Kedua bumonimnya sudah meninggal.”
“Yeoja yang hebat. Baik, terima dia.”
“Anda tidak mau melihat profilnya.”
“Tidak perlu. Kita lihat dulu masa trialnya selama sebulan. Kalau dia berhasil, jadikan pegawai tetap.””
Algesseumnida.”

~Sooyoung POV~
Kringg..panggilan itu membangunkanku. Aku cepat-cepat mengambil cellphoneku
“OMONA!”
Itu adalah panggilan dari Cho corp.Aku meminum air hangat dan memastikan suaraku tidak parau
“Yeoboseyo?”“Annyeonghaseyo, Nona Choi. Kami dari Cho corp ingin memberi kabar soal lamaran kerja Anda.”
Deg..deg..
“Anda diterima bekerja di perusahaan kami.”
Aku melompat di ranjang. Menahan suara. Padahal sebenarnya aku sangat ingin berteriak
“Anda bisa mulai bekerja besok.”
“Algesseumnida. Gamsahamnida.”
Aku mematikan sambungannya
“YES!!!”

—————————–

~Siwon POV~
Aku duduk di sofa dalam sambil memejamkan mata. Choi Sooyoung. Yeoja itu tak kunjung kembali. Tanpa kabar. Menghilang seperti asap. Kurasakan eomma menepuk pundakku
“Siwon ah..”
“Ne?”
“Apa kau..keberatan dengan pernikahan ini.”
Aku hanya diam
“Kau..punya yeojachingu?”
“Aniyo.”
“Kau terlihat terbebani dengan pernikahan ini. Jika memang terbebani sebaiknya..”
“Eomma, aku memang tidak mencintai Seohyun. Tapi..mencintai bisa belajar kan?”
Dusta.
“Tapi..kau terlihat tersiksa. Eomma tidak–”
“Perusahan itu sangat berharga bagi appa. Aku harus menjaganya. Bukan begitu eomma?”
“Tapi dia tidak akan senang jika kau mengorbankan perasaanmu.”
“Aku hanya belum mencintainya. Tapi lambat laun…aku pasti bisa. Seohyun gadis yang baik.”
“Jika memang benar begitu..eomma mendukungmu.”
“Gomawo eomma.”
“ne..”
Aku memeluknya
“Seandainya..sooyoung ada disini.”
Aku menarik nafas dalam
“Sepertinya..dia pergi karena tidak ingin membebani kita.”
Aku hanya diam.
“Eomma merindukannya.”
“Nado.”
“Kau tahu. Dulu eomma sempat berpikir. Seandainya..kau menyukainya.”
“Itu..hanya angan-angan. mana mungkin.”
Padahal eomma benar.

——————–

~Kyuhyun POV~
Aku melangkahkan kaki memasuki tempat kerja baruku. Ramai. Terlihat sibuk
“Annyeonghaseyo, sajangnim.”
“Ne. Annyeonghaseyo.”
Aku melangkah memasuki ruang kerjaku. Saat aku membuka pintu, kulihat sosok yeoja yang kukenal ada di sana. Sosok yeoja itu. Yang kuhindari selama lima tahun. Kini malah muncul di depanku. Dia memperhatikanku. Seperti familiar dengan wajahku
“Annyeonghaseyo, sajangnim,” ujarnya sambil membungkuk. Dia terlihat bingung. Masih berusaha mengenali wajahku. Aku tersenyum tipis. Apa kau tahu, aku merindukanmu. Sangat.
“Choi Sooyoung, lama tidak bertemu,”ujarku pelan
“Kyu…hyun..?”
“Kukira kau tidak bisa mengenaliku.”
“Ini…benar-benar kau?”
“Ne.”
Dia tersenyum. Berjalan mendekat ke arahku. Tak lama kemudian memukul bahuku
“Hei, aku atasanmu disini.”
“Bodoh. Kemana saja kau tiga tahun ini? Pergi ke Amerika tanpa pemberitahuan sama sekali!”
“Kau merindukanku?”
“Jelas. Kau kan sahabat terbaikku disini.”
Sahabat. Sahabat. Sahabat.
“Kau terlihat berbeda,” ujarnya
“Tapi kau tetap terlihat sama.”
Maksudku, aku tetap mencintai yeoja ini, sooyoung ah. Dan mataku tetap memandangnya dengan sama. Tanpa perubahan
“Baik. Mulai ke pekerjaan. Tugas pertamamu adalah merapikan berkas-berkas itu.”
“MWO? Satu lemari itu?”
“Katamu..kelebihanmu tidak akan mengeluh–”
“Arra. Sajangnim.”
Aku tersenyum penuh kemenangan melihatnya merapikan berkas. Dia tidak berubah.

~Sooyoung POV~
Jam makan siang. Akhirnya aku bisa beristirahat.
“Hei, mau makan siang bersama?” tanya kyuhyun yang entah kapan berdiri di sampingku
“Ani aku–”
Dia menarik tanganku
“Kyu–”
“Aku atasanmu. Dan ini perintah. Aku tidak suka makan sendirian.”
“Algesseumnida, sajangnim,” ujarku penuh penekanan

~Hyuna POV~
“Lihat anak baru itu. Bisa-bisanya bergandengan tangan dengan sajangnim di hari pertama bekerja,”ujar Hyoyeon
Aku menatap yeoja itu dengan sinis. Apa-apaan itu? Aku saja yang merupakan karyawan lama disini tidak pernah diperlakukan seperti itu
“Tidakkah kau iri? Kyuhyun sajangnim sangat tampan, pintar, mapan pula.”
“Kurasa..yeoja itu menggodanya,” ujarku
“Padahal tampangnya polos.”
“Tampang bisa menipu kan?”

———————————

~Kyuhyun POV~
“Kukira kau akan memilih restoran western,” ujarnya sambil memakan ramen
“Ani. Aku bosan memakannya selama tiga tahun. Aku merindukan ramen instan, nasi, dan lainnya.”
“Did you meet ‘that one’ ?” tanyanya
Aku tersenyum tipis “Semua orang menanyakan itu.”
“Jadi kau menemukan yeojamu di sana?”
Aku menggeleng
“Waeyo?”
“Tidak ada yang menarik.”
“Jinjja?”
“Ne.”
Tidak ada yang sepertimu.
“Kau masih bersama siwon?”
Dia menggeleng.
“Kami sudah putus.”
Ini jahat. Tapi sebagian dari diriku sangat senang mendengarnya.
“Oh.”

————————-

~Sooyoung POV~
Aku berada di toilet. Mencuci tangan. Tiba-tiba beberapa yeoja berdiri di sebelahku sambil memakai lipstik
“Kau tahu, hyoyeon. Ternyata ada yang mencoba menggoda kyuhyun sajangnim.”
“Jinjja? Apa dia merasa dirinya secantik itu?”
“Kurasa. bahkan, mereka makan siang bersama dan dia diantar pulang.”
Aku menutup kran ku dan berjalan menjauh. Salah seorang dari mereka menahan tanganku
“Kalau kau berani menggodanya lagi, kupastikan kau menyesal.”
Aku melepaskan tangannya
“Aku tidak menggodanya. Jaga perkataanmu.”
“Wah, dia mengancam seniornya,” ujar yeoja itu
Baik. Aku muak dengan perlakuannya.
“Apa menurutmu kau pantas bersanding dengan pewaris tunggal perusahaan ini?”
“Pewaris…tunggal?”
“Wah, wah. Dia pura-pura tidak tahu.”
Aku masih terdiam. Pewaris tunggal? Kyuhyun?
“Kau mengincar hartanya kan?”
Plak! Aku menampar yeoja itu
“Jaga perkataanmu! Kau tidak tahu apa-apa tentangku!”
Aku meninggalkan toilet. Darimana aku mendapat kekuatan seperti itu?

~Hyoyeon POV~
“Keterlaluan. Beraninya dia menamparku!” gerutu Hyuna sambil mengompres pipinya yang memerah
“Aku tidak menyangka. Ternyata dia berani juga.”
“Lihat saja. Aku akan memberinya pelajaran. Secepatnya.”

~Siwon POV~
“Wah..kau terlihat gagah,” ujar eomma saat melihat tuxedoku
Aku tersenyum tipis. Seandainya..yang menjadi pengantinku adalah youngie..
Aku membuyarkan lamunanku
Berhenti siwon. Lupakan yeoja itu. Kau akan menikah tak lama lagi

———————–

~Kyuhyun POV~
Pesta perusahaan. Perusahaan kami memenangkan sebuah tender besar. Daritadi aku harus mengobrol dengan banyak orang. Membosankan. Aku tidak menemukan sosok yeoja itu. Entah dimana dia..
“Saya..permisi.”
Aku berjalan mengelilingi tempat ini. Belum menemukan dia.

~Sooyoung POV~
Aku berdiri sendirian sambil memegang segelas wine. Pesta ini membosankan. Aku tidak memiliki teman untuk bicara. Aku meminum wine itu perlahan. Melihat ke sekitar. Aku melamun. Aku seperti seorang anak kecil yang kesepian di tengah pesta orang dewasa. Aku mengambil gelas kedua. Meminumnya. Seketika aku berhenti.
“A..h..”
Aku memegang perutku. Sedikit sakit. Sepertinya aku tidak kuat untuk minum hari ini.
“Wah..sepertinya ada yang ditinggal sendirian disini.”
“Apa dia gila hah? Berharap sajangnim akan menemaninya?”
Aku menoleh ke samping. Dua yeoja itu lagi. Yeoja bermulut murah. Aku mencoba mengabaikannya. Tetap berdiri dan pura-pura sibuk dengan cellphoneku
“Kurasa..dia saja yang terlalu besar kepala. Apa menurutnya dia pantas disandingkan dengan seorang Cho Kyuhyun yang tinggi, pintar, kaya, tampan, dan baik?”
“Aku kasihan pada sajangnim. Yeoja itu benar-benar mengganggu–”
“Apa maksudmu?” tanyaku berterus terang.
“Akhirnya dia sadar juga.”
“Apa hanya ini yang bisa kalian lakukan. Bergossip? Mulut kalian benar-benar murahan.”
“Kau… beraninya berkata itu pada seniormu.”
“Apa ini yang disebut senior? Menekan anak baru? Kurasa perusahaan ini telah membuat sebuah kesalahan besar dengan mempekerjakan orang-orang seperti kalian.”
“Beraninya–”
Dia mengambil segelas air. Aku menutup mataku. Tidak terasa apapun.
“Sajangnim..”
Aku membuka mataku. Kudapati Kyuhyun berdiri di depanku. Entah kapan. Jasnya basah. Terkena siraman air
“Hyuna ssi,”kyuhyun melafalkan namanya dengan tegas.
“Jeongmal joesonghamnida!” ujar yeoja itu sambil membungkuk
Seisi ruangan memperhatikan kami.
“Sudah berapa lama kau bekerja disini?”
“Satu tahun, sajangnim.”
Kyuhyun bertepuk tangan. Aku tahu. Itu sindiran
“Satu tahun dan kau merasa sudah menjadi senior sampai bisa menyiram atasanmu?”
“Jeongmal joesonghamnida. Saya tidak berniat menyiram Anda tapi–”
“Kau mau menyiram yeojachinguku? Begitu?”
Seketika aku tercengang. yeojachingu?
“Kau dipecat. Aku tidak butuh karyawan yang pintar tetapi tidak bisa berperilaku sopan.”
“Tapi–”
Kyuhyun langsung menarik tanganku. Menjauhi kerumunan. Aku hanya diam. mengikutinya
“Kenapa kau membelaku?”
Kyuhyun menghentikan langkahnya. menatapku
“Kenapa aku membelamu? Seharusnya kau bertanya : kenapa kau tidak membela dirimu sendiri saat akan disiram?”
“Kurasa..memecatnya terlalu–”
“Aku paling benci pada orang-orang seperti dia. Memangnya dia pikir dia siapa hah sampai bisa menentukan mana yang pantas untukku dan yang tidak.”
“Kau–”
“Aku menguping pembicaraanmu dengannya. Kenapa kau tidak bercerita hah kalau kau ditindas?”
Aku mengeluarkan sapu tangan dari kantong jasku. Membersihkan jasnya
“Mianhae, karenaku pestanya jadi kacau dan jasmu basah.”
“Gwaen..gwaenchanha..”
“Ini sudah kedua kalinya.”
“Ne?”
“Sudah kedua kalinya aku membuat jasmu kotor karena membelaku. Pertama, saat baru masuk sekolah. Jasmu terkena telur dan tepung. Kedua, sekarang.”
Dia menahan tanganku. Hangat.
Deg. Degupan kecil itu membuatku salah tingkah. Aku melepaskan tanganku
“Kenapa…kau mengaku sebagai namjachinguku?”
“Kalau tidak begitu, mereka akan terus menindasmu.”
“Tapi kau berbohong. Bisa saja hal ini malah menyulitkanmu dan–”
“Bagaimana kalau itu memang keinginanku?”
“N..ne?”
“Bagaimana kalau nyatanya, aku memang ingin kau menjadi yeojachinguku?”
“Kyu–”
“Dari SMA. Apa kau tidak sadar? Siapa yeoja yang bisa membuatku tersenyum, tertawa, dihukum di depan kelas, dan dilempari tepung? Siapa yeoja yang selalu membuatku khawatir, terutama saat dia hilang di hari pertunjukkanku?”
Aku masih diam. Matanya teduh tapi tegas. Aku tahu dia tidak sedang bercanda
“Apa kau tidak tahu seberapa paniknya aku saat kau hilang?  Apa kau tahu perasaanku saat mengetahui kau dan siwon menjalin hubungan? Apa kau tahu alasanku ke New York? Aku sakit melihat semua itu, sooyoung ah. Tetapi aku hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menunggu seperti orang bodoh tanpa sebuah kejelasan.”
Dia meraih satu tanganku
“Dan apa kau tahu seberapa senangnya aku saat kembali bertemu denganmu disini? Apa kau tahu untuk siapa aku berubah sejauh ini? Semuanya untukmu, sooyoung ah. Karena dari dulu sampai sekarang, perasaanku tidak berubah. Aku–”
Aku melepaskan tanganku perlahan
“Mianhae, kyu ah. Aku..selama ini tidak tahu apa-apa. Dan aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Tidak lebih.”
Aku melangkah menjauh. Pilu. Entah mengapa.
“Kau masih belum bisa melupakan siwon?”
Langkahku terhenti
“Dia akan menikah tiga hari lagi.”
Sarafku terasa mati. Siwon..menikah tiga hari lagi? Secepat itu? Tinggal menghitung hari? Aku berbalik menghadapnya. Dia masih berdiri di tempatnya. Tegap dan tegas.
“Aku tidak ingin menjadikanmu pelarian, Kyu,” aku tersenyum tipis
Kyuhyun melangkah ke arahku. Memelukku. Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan.
“Itu bukan masalah bagiku. Aku tidak peduli kau menjadikanku apa; pelarian, pelampiasan, dan sebagainya jika itu memang jalan untuk melupakan dia.”
Aku melepaskan pelukannya.
“Kyu. Dengar ini baik-baik. Kau tidak semudah itu untuk melupakan seseorang yang melalui banyak hal pertama bersamamu.”
“Kau mencintainya karena itu? karena kau melalui banyak hal pertama dalam hidupmu bersamanya?”
Aku tersenyum tipis. “Kau pantas mendapat yeoja yang lebih baik .”
“Bagaimana dengan first kiss?”
Aku terdiam. mencoba mencerna kata-katanya
“Maksudmu..?”
“Aku menciummu hari itu. Saat kau pingsan di gudang.”
Gudang? Aku kembali mengingatnya. Saat itu..bukankah siwon yang menolongku? Bukankah siwon yang menemukanku?
“Geotjimal,” ujarku
“Aku yang menemukanmu di sana. Aku yang merusak pintu gudang, melihatmu pingsan di gudang. Aku pula yang menciummu diam-diam saat itu. Menggendongmu keluar dari sana. Tapi siwon merebutmu.”
Kakiku terasa kaku. Aku melangkah menjauh. Kyuhyun hanya diam. Tidak mencegatku dan sebagainya. Aku masuk ke lift. Sendirian. Setetes air mataku terjatuh. Kalau sejak awal kau bilang, mungkin aku tidak akan jatuh cinta pada siwon, kyu. Dan aku tidak perlu terluka seperti ini. Karena aku jatuh cinta..pada seorang pangeran yang menolongku hari itu. Pada pangeran yang merebut first kiss ku. Aku tahu karena aku tidak pingsan, kyu. Aku enggan terbangun dari tidurku. Dan aku mengira dia siwon.

————————-

~Kyuhyun POV~
Aku duduk di mobil. Memegang saputangan itu. Aku meremasnya perlahan. Aku sudah mengutarakan semuanya pada yeoja itu. Dan hasilnya..terserah pada choi sooyoung. Aku memejamkan mataku. Menarik nafas dalam
“Ada apa, Tuan Muda?”
“Ajjeosi. Apa Anda pernah menyesal karena sudah mengatakan sesuatu hal yang tidak seharusnya Anda katakan?”
“Maksud Tuan.. tentang perasaan Anda pada seorang yeoja?”
Aku hanya diam. Bagaimana bisa perkataannya tepat sasaran?
“Saya pernah muda, Tuan,”ujarnya sambil tersenyum
“Saya..tidak menyesal,” ujarnya
“Waeyo?”
“Yang namanya kejujuran terkadang berakhir menyakitkan. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada memendam selamanya.”
“Begitu..”

~Sooyoung POV~
“MWO? JADI SELAMA INI DIA MENYUKAIMU? LIMA TAHUN?!”
“Ne.. Dan itu membuatku bingung sekarang.”
BABO! Apa lagi yang kau tunggu? Kalau aku adalah kau, aku sudah menerimanya dengan senang hati!
“A
ku tidak ingin menjadikannya pelarian. Dia terlalu baik.”
“Dia sudah membelamu dan banyak berkorban. Apa lagi yang kau tunggu? Pelarian apanya?”
“Bicara itu mudah, yoong. Praktiknya?”
“Haish..kau ini benar-benar menyebalkan! Apa lagi yang kau harap dari seorang Choi Siwon? Apalagi dia menikah tiga hari lagi”
“Yoong!! Jangan ingatkan aku pada masalah itu lagi. Aku…a..rgh..”
“Kau kenapa?”
“Perutku sakit. Mungkin karena aku kebanyakan minum wine.”
YAAK!! KAU TIDAK BOLEH MINUM! SUDAH KUBILANG BERAPA KALI HAH? KAU BUKAN PEMINUM YANG BAIK! CEPAT SANA TIDUR”
Aku tersenyum tipis. Ini aneh. Padahal dia memarahiku. Tapi aku merasa diperhatikan dengan cara seperti ini
“Ne.”

—————————-

~Kyuhyun POV~
Aku berdiri di depan rumahnya sekarang. Membawa buah dan kue kecil yang disukainya. Dia tidak masuk ke kantor kemarin. Katanya sakit. Aku khawatir akan sebuah hal. Jangan-jangan karena aku menyatakan perasaanku padanya. Awkward. Aku mengetuk pintu rumahnya. Sekali. Tidak ada jawaban. Aku mengurungkan niatku untuk mengetuk lagi. Apa..dia tidak ingin kuganggu? Apa sebaiknya aku pulang? Saat aku berniat pergi, pintunya terbuka
“Kyu..”
“Taraa.. Buah dan kue.”

~Sooyoung POV~
Aku menuangkan teh untuknya.
“Seharusnya tidak perlu repot-repot begini.”
“Aku sudah baik-baik saja. Perutku sudah tidak sakit.”
“Kau membuatku khawatir. Kantor sangat sepi.”
Aku tersenyum tipis dan meminum tehku
“Kukira..kau tidak masuk karena aku menyatakan perasaanku.”
“Uhuk..”
“Jadi benar karena itu?”
Aku hanya diam. Sejujurnya 50% karena itu
“Dengarkan ini. Aku adalah seorang profesional yang tidak akan menyangkutpautkan urusan kantor dan pribadi. Kalaupun kau menolakku, jangan menghindar seperti ini.”
“Aku..tidak berkata kalau aku menolakmu.”
“Kau menggantungkanku kalau begitu.”
“Aku tidak menggantungkanmu juga.”
“lalu kau menerimaku?”
“Belum saatnya.”
“Aku akan menunggu.”
“N..ne?”
“Aku akan menunggu sampai kau menerimaku.”
“Jangan menungguku, kyu. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik.”
“Bagaimana kalau menurutku, kau adalah yang terbaik?”
“Kau tidak mengenalku sedalam itu, kyu. Aku sudah memperingatkanmu.”
“Aku mungkin tidak mengenalmu sedalam kau mengenal dirimu sendiri. Tapi aku tidak takut pada peringatanmu karena aku tidak akan pernah menyesali perasaanku sendiri.”
Aku tersenyum pahit. Kau tidak tahu semuanya, kyu. Kalau kau tahu, apa perkataan itu akan berubah?

——————————-

~Siwon POV~
Aku melihat diriku di cermin. Mengenakan tuxedo. Pernikahan. Aku harus mencoba menerima Seo. Ingat kebaikannya, siwon. Ingat.. Dan cobalah untuk move on.
“Tuan, sudah saatnya berangkat.”
“Algesseumnida.”

~Sooyoung POV~
Aku melangkahkan kakiku ke halte. Menarik nafas dalam. Kakiku terasa lunglai. Tubuhku lemas. Aku tidak bodoh. Aku tahu hari ini adalah hari pernikahan siwon dan seohyun. Aku menjadi setitik hitam di atas putih. Aku menarik nafas dalam. Membayangkan bagaimana mereka akan mengucap janji. Sebentar lagi. Rintik hujan turun membasahi kota Seoul di pagi hari. Aku tidak akan berdoa kalau ini akan menjadi pertanda buruk bagi pernikahan mereka. Aku sudah merelakannya..untuk bahagia. Aku melangkahkan kakiku menyebrangi jalan dengan gusar. Sebelum akhirnya kudengar seseorang berteriak
“AWAS AGASSI!!!”

~Kyuhyun POV~
Aku berada di perjalanan ke pemberkatan pernikahan itu. Hujan. Entah kenapa perasaanku gelisah sejak tadi. Pikiranku kemana-mana. Terutama ke yeoja bernama Choi Sooyoung itu. Apa dia baik-baik saja? Atau dia menangis sekarang? Aku mengusap wajahku. Aku tahu ini hari paling menyakitkan bagimu. Meski aku tahu kalau secercah dalam diriku berharap

~Siwon POV~
Drrt..
Cellphoneku bergetar. aku berada di mobil. perjalanan ke gereja. Bersama eomma. Aku berniat mengangkat cellphoneku. Sebelum akhirnya eomma menahanku
“Kalau di saat seperti ini saja kau masih mengangkat telepon dari rekan bisnismu, bagaimana dengan seohyun setelah kalian menikah nanti? Kau mau mengorbankan waktu keluarga untuk bisnis?”
Aku tersenyum tipis
“Arraseo eomma.
Aku tidak mengangkatnya dan melepas baterai cellphoneku.

~Author POV~
Suara sirene ambulans berkumandang. Seorang yeoja terbaring lemah dengan banyak darah dari kepala dan kakinya. Seorang petugas sibuk memberi pertolongan. Sedangkan yang lain memegang cellphonenya.
“Bagaimana?”
“Tidak bisa dihubungi.”
“Coba cari nomor lain! Kita butuh keluarganya untuk dihubungi!”
“Tapi semuanya tidak diangkat!”
“Haish..benar-benar gila!”

~Kyuhyun POV~
Aku tidak bisa menahan kekhawatiran ini. Akhirnya kuputuskan untuk menghubunginya.
“Yeoboseyo?” suara namja
“Nuguseyo? bukankah cellphone ini milik choi sooyoung?”
“Ah! Kau mengenal pemilik cellphone ini?”
“Ne. Dimana dia?”
“Dia mengalami kecelakaan. Saat ini,kami sedang membawanya ke Rumah Sakit Seohan.”
“A..algesseumnida. Gamsahamnida.”
Aku mematikan sambungannya
“Ajjeosi, ke rumah sakit Seohan sekarang. Ppali!”
“Tapi.. jalanannya sangat macet, Tuan Muda.”
SIAL! Aku mengumpat dalam hati.
“Tapi kalau tidak salah..ada sepeda milik Tuan Cho di bagasi mobil. Lupa diturunkan pelayan kemarin.”
Aku langsung turun dari mobil. Mengambil sepeda itu dari bagasi
“Tuan Muda!!”

—————————–

~Siwon POV~
Lonceng gereja berkumandang. Aku berdiri di depan altar. Menunggu Seohyun. Pintu gerbang akhirnya terbuka. Seohyun melangkah ke arah altar. Aku tersenyum padanya. Dia membalasku. Siwon, ini adalah komitmen di hadapan Tuhan. Meski hatimu bukan miliknya..kau harus berjanji kalau kau akan belajar. Dan aku yakin..youngie pun sedang belajar menerima hati seseorang.Ini demi keluargamu, siwon.

~Kyuhyun POV~
Aku membanting sepedaku asal begitu sampai di rumah sakit. Tidak peduli pakaian dan rambutku basah ataupun resiko kalau aku akan sakit setelah hujan-hujanan. Pikiranku hanya tertuju pada yeojaku. Aku berlari ke UGD. Kudapati seorang perawat di sana
“Anda..keluarga Choi Sooyoung?”
“Dimana dia? Bagaimana keadaannya?”
“Anda suaminya?” tanya seorang euisa
“Aku–”
“Dia mengalami benturan yang keras di bagian kepala. Sepertinya terpental cukup jauh. Kami perlu melakukan operasi untuk–”
“Lakukan apapun untuk menyelamatkannya.”
Euisa itu menarik nafas dalam
“Dan kami memohon maaf karena..kami tidak dapat menyelamatkan bayinya.”
Aku tercengang. Bibirku terasa kelu. Sarafku terasa mati. bayi? Dia..
“Kami perlu tandatangan Anda untuk prosedur operasi.”

~Siwon POV~
“Apa Engkau, Choi Siwon bersedia menjadi suami bagi Seo Joohyun, menjadi appa yang baik bagi anak-anak Anda. Mendidiknya dalam iman akan Tuhan. Menerima Seo Joohyun dalam keadaan sakit maupun sehat, untung maupun malang, miskin maupun kaya hingga maut memisahkan kalian?”
Aku terdiam sesaat. menarik nafas dalam. Tuhan, ini komitmen. Aku bersumpah akan menjaganya meski hatiku belum mencintai yeoja ini. Dan lambat laun..aku yakin, suatu saat nanti aku bisa menerimanya. mencintainya seperti aku mencintai youngie
“Ne, saya bersedia.”

~Kyuhyun POV~
Aku duduk di kursi. Mengepalkan tanganku. Terkutuk kau Choi Siwon. Bisa-bisanya kau meninggalkannya di saat seperti ini. Bisa-bisanya kau menikah di saat dia harus kehilangan bayinya hari ini. Demi apapun, aku bersumpah. Kau akan merasakan apa yang dia rasakan hari ini. Dan jika terjadi sesuatu padanya, kau akan menyesal seumur hidupmu. Karena aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan.
Krek.
Ruang operasi terbuka.
“Operasinya berjalan lancar. Tinggal menunggu dia sadar.”
Aku menghela nafas lega
“Gamsahamnida.”
Aku berjalan menuju ruang inapnya. Kudapati dia terbaring lemah. Berbeda dengan choi sooyoung yang kukenal. Aku duduk di sampingnya. menghangatkan tangannya. Tanpa kusadari, aku menitikkan air mata untuknya. Karena aku merasakan..seberapa pedihnya perasaan yeojaku.
“Aku bersumpah akan membuatnya menyesal.”
“Kenapa kau sangat bodoh hah? Bisa-bisanya kau mencintai namja seburuk itu.”
Aku meraih tangannya. Mengusap tangannya perlahan
“Aku berjanji..setelah kau bangun, aku akan membuatmu menjadi orang paling bahagia. Karena aku memegang perkataanku, youngie. I will accept you, no matter how bad your past was. Saranghae.”

——————————-

~Seohyun POV~
“Kyaaa! Chukkhae!!” ujar Tiffany dan Yuri sambil memelukku
“Gomawo!!”
“Aku turut bahagia. Akhirnya kau menikah dengan siwon.”
“Aku sudah bilang, yul. Aku memegang perkataanku dan apa yang kuinginkan pasti menjadi milikku. Hahahahaha.”
“Kau paling cantik di pesta ini.”
“Itu harus.”

~Sooyoung POV~
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Terang..
Saat aku menoleh ke samping, kudapati Kyuhyun tertidur di sana. Memakai tuxedo. Wajahnya sedikit pucat. Aku memegang dahinya. Agak panas
“Hmph..”
Dia terbangun. Aku melihat ke arah tanganku. Dia memegang tanganku daritadi
“Bagaimana..aku bisa ada disini?”
“Kau… kecelakaan.”
Aku mencoba mengingatnya. Entah kenapa aku tidak mengingatnya
“Pakaianmu..seperti akan pergi ke sebuah pernikahan.”
“Aku..tidak akan pergi ke sana.”
“Waeyo?”
“Waeyo? Jelas saja karena kau membuatku panik!”
“Mianhae oppa..”

~Kyuhyun POV~
“Oppa?”aku memastikan kalau aku tidak salah dengar
“Bukankah..dari dulu aku memang memanggilmu dengan sebutan itu?”
Aku terdiam sejenak. Sejak kapan dia memanggilku ‘oppa’ ? Sudahlah. Aku malas mempermasalahkan.
“Badanmu panas oppa.”
“Gwaenchanha. Sebaiknya, kau beristirahat dulu. Kesehatanmu jauh lebih penting. Tidak perlu khawatirkan aku.”
“Tidak perlu khawatir bagaimana? Mana mungkin aku tidak mengkhawatirkan namjachinguku sendiri?”
Namja…chingu..?

~Seohyun POV~
Langit malam Seoul. Siwon duduk di sofa hotel sambil melihat jendela. Aku sedang menyeduh teh untuk menghangatkan badan. Aku tersenyum tipis melihatnya. Perlahan, aku menaburkan sesuatu ke dalam minumannya. Mianhae oppa. Tapi kau harus menjadi milikku.

~Kyuhyun POV~
“Mungkin hal ini disebabkan oleh benturan yang keras. Sehingga..dia mengingat beberapa hal saja.”
“Beberapa hal?”
“Mungkin juga..karena shock atau stress yang terlalu berat.”
Aku terdiam sejenak. Menoleh ke arah sooyoung. Dia menatapku dan dokter dengan rasa penasaran.
“Kurasa..kau harus mencoba bertanya sesuatu untuk memastikan.”
Aku berjalan ke arahnya bersama euisa. Duduk di sebelahnya. Aku memegang tangannya
“Sooyoung ah–”
“Cha-gi,” ejanya. Aku tersenyum mendengarnya. Sooyoung ah, apa kau tahu sudah sejak lama aku ingin memanggilmu dengan sebutan itu
“Chagi. Aku ingin bertanya. Apa saja yang kau ingat tentang kita?”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kita bertemu?”
“Kita.. awalnya, kau menolongku saat ditindas di SMA. Kita duduk bersebelahan. Dihukum guru, dikeluarkan dari kelas. Saat itu kau masih culun. Tapi sejak dulu, yang membuatku menyukaimu adalah kebaikanmu. Jadi aku tidak mempermasalahkan yang lainnya. Lalu, kita sering duduk di bawah pohon sambil mendengar musik. Suaramu sangat merdu dan permainan gitarmu bagus. Pertama kali aku jatuh cinta..adalah saat kau menolongku di gudang. Sayangnya setelah lulus, kau pergi ke Amerika tanpa kabar. Setelah kau kembali, ternyata kita berada di kantor yang sama. Kau membelaku dari karyawan lain sampai jasmu terkena siraman air. Kemudian..di saat itulah kau baru menyatakan perasaanmu.”
Aku mencernanya. Jadi yang dia ingat..adalah ceritaku. Bagaimana aku menyatakan perasaanku dan membuat pengakuan tentang peristiwa di gudang.
“Apa lagi yang kau ingat Nona? Keluargamu?” tanya euisa
“Keluargaku..meninggal dalam kebakaran. Setelah itu, aku tinggal di sebuah rumah.”
“Apa kau ingat..itu rumah sia–”
“Berhenti,” kataku pada euisa
Aku mencari foto di cellphoneku. Fotoku, kris, dan siwon.
“Apa kau masih bisa mengenali mereka?”
“Ini kau. Ini Kris. Yang ini…. siapa?”
Aku terdiam sejenak. Dia..tidak bisa mengenali siwon?
“Apa orang itu penting untuknya?” bisik euisa padaku
Aku berpikir dalam hati. Youngie, aku tahu kejujuran seharusnya dikemukakan, tak peduli seberapa pedihnya. Tapi mianhae, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membuka luka lama yang kau lupaka  secara tiba-tiba. Aku tidak bisa mengatakan tentang bayimu yang meninggal. Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa orang yang kau panggil ‘oppa’ adalah dia. Dan aku tidak bisa..kehilangan kesempatan untuk memilikimu, chagi. Mianhae, aku terpaksa menjadi pengecut. Karena aku takut, youngie. Aku takut kehilanganmu lagi. Aku takut kau terluka lebih dalam daripada sebelumnya lagi. Tapi Siwon.
Jangan kau pikir dengan dia melupakanmu dan kenangan buruk tentang kalian, aku akan memaafkanmu begitu saja. Aku tidak akan melupakan perbuatanmu. Tentang bagaimana kau mencampakkannya, menikah di saat dia kehilangan anaknya, dan bahagia di saat dia menderita. Aku sudah bersumpah akan membuatmu menyesal. Dan akan kubuktikan. Kau hanya tinggal menunggu bom waktu. Sampai dia meledak.. dan kau akan merasakan rasa sakit yang dirasakan olehnya.
“Tidak.”

TBC

 

104 thoughts on “Unpredictable {Part 1}

  1. Mwo ?? Siwon oppa nikah sma Seo eon ?? trus soonya gmna ??
    Untung bgd kyu oppa balik,,
    Miirriiss bgd ngeliat soo eon yg harus keguguran karena kecelakaan ,, :'(:'(
    Daebak thor(y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s