My Oh My {Part 1}

my oh my

Title : My Oh My

Genre : Comedy, Romance,Angst

Rating : PG-15

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung

Other Cast :

  • Kwon Yuri
  • Kris Wu
  • Park Jungso
  • Kim Taeyeon
  • Im Yoona

1 장

~Author POV~
Klinting.
Suara sepeda itu terdengar dari lapangan sekolah. Seorang yeoja berusia 18 tahun tengah menaruh sepedanya disana, kemudian memasuki gerbang sekolahnya. Menuju ke kelas 2-5. Sesampainya di sana, ia langsung menaruh tasnya di lantai kemudian menaikkan kakinya ke kursi yang berada di depannya dengan santai.
“Sooyoung ah! Apa kau membuat PR?” tanya seorang yeoja di sampingnya
Yeoja itu hanya menggeleng sambil memasang handsetnya. Mengambil sebuah permen karet dan memakannya. Begitulah kehidupannya sebagai siswi SMA kelas 2. Termasuk yang ini…

~Sooyoung POV~
PRANGG!
Aku meringis kecil melihat panci itu dipukul oleh eomma
“Kau benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa ulanganmu… EMPAT PULUH? Apa yang kau lakukan di sekolah hah?!”
“Eomma! Itu sudah menjadi nilai yang paling tinggi di kelasku!” belaku
“Jangan membantah perkataan orang tua, choi sooyoung! Kau ini..benar-benar. Apa kau tidak sadar hah?! Satu tahun lagi kau akan kuliah!”
“Masih dua tahun lagi.”
“YAA! Itu bukan waktu yang singkat! Jika kau memang mau kuliah, cepat perbaiki nilaimu dan dapatkan beasiswa! Kau kan tahu, eomma tidak mampu membayar biaya kuliah!”
“Kalau begitu..ya tidak usah kuliah. Aku kan bisa meneruskan warung eomma.”
“MWOYAA! Kau benar-benar menguras emosiku. Kau harus memperbaiki nasibmu sendiri, choi sooyoung!”
Aku mendecak kesal. Hidup untuk dinikmati. Bukan begitu kata mereka? Apa masuk kuliah menjamin keberhasilanmu? Kurasa tidak.
“Memangnya apa cita-citamu hah?”
Cita-citaku : menjadi orang bahagia tanpa perlu stress.
“Aku capek.”
“Capek katamu? Kau bermalas-malasan seharian. Apa yang kau maksud dengan kata ‘capek’ hah?”
“Aku capek berdebat dengan eomma! Eomma menuntutku tentang banyak hal yang tidak bisa kulakukan. Eomma menuntutku untuk menjadi yang terbaik, padahal eomma sendiri tahu kalau itu tidak mungkin!”
“Benar-benar keterlaluan! Apa gunanya kau disekolahkan hah?”
“Kenapa eomma menyekolahkanku?”
“Jangan membalik pertanyaanku!”
“Yaa! Kenapa kalian berdua bertengkar?” tanya appa yang baru pulang bekerja
“Lihat anakmu! Dia berani melawanku!”
“Aku tidak melawan eomma. Tapi aku hanya lelah. Aku lelah mengikuti pelajaran yang membosankan. Aku lelah dituntut menjadi yang sempurna padahal aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa. Setidaknya hargailah usahaku. Meski aku tahu nilai itu jelek, aku sudah berusaha. Semua orang yang bisa masuk ke kelas pertama ialah anak orang kaya yang bisa mengambil bimbel. Bisa masuk ke kelas pertama hanya mimpi bagiku!”
“Kau menyesal memiliki orang tua yang tidak kaya hah?”
“Bukan begitu maksudku. Tapi aku tidak ingin disudutkan seperti ini!”
“Cepat masuk kamarmu,” ujar appa
Aku menggigit bibir bawahku. Eomma menatapku dengan tajam
“Aku ingin menginap di rumah yoona hari ini.”
“Ya sudah. Sana menginaplah. Kalau perlu jangan kembali lagi!” ujar eomma
“Yeobo..”
Aku menghela nafas panjang.
“Tenang saja. Besok eommamu juga akan membaik,” ujar appa
Aku membungkuk. Berusaha menahan emosi sebisaku. “Annyeonghaseyo.”

——————————–

~Yoona POV~
“Bertengkar? Lagi?”
Dia mengangguk
“Aku benar-benar lelah. Kau tahu kan. Anak-anak seperti kita tidak mungkin masuk ke kelas pertama.”
Aku mengangguk dan merebahkan diri di sampingnya
“Ne. Memang tidak mungkin.”
“Setidaknya, aku ingin ada seseorang yang bisa menghargaiku.”
“Nado.”
“Kau tahu, aku ingin sekali pergi ke Seoul. Busan sangat membosankan,” ujarnya sambil menatap ke langit-langit kamarku
“Ne. Di Seoul banyak gedung tinggi dan rumah mewah.”
“Kau pernah ke sana?”
“Sekali.”
“Pasti menyenangkan.”
“Banyak shopping center di sana. Tapi harganya sangat mahal. Kita tidak akan mampu membayarnya.”
“Lalu apa yang kau beli di sana?”
“Makanan..dan minuman.”
“Haish..kalau itu, aku juga tahu.”
“Lalu, kau menginap disini lagi?”
“Ne.”
“Seperti biasa.”
“Itu pasti. Siapa lagi yang bisa mengertiku selain sahabatku sendiri?”
“Itu kalimat termanis yang pernah kudengar dari mulutmu.”

~Author POV~
Sementara itu..di tempat lain.
Seorang namja berusia 18 tahun tengah berdiri di hadapan seorang yeoja. Beberapa orang mengintip dari jendela
“Sunbae. Saranghaeyo.”
Namja itu hanya diam dan tersenyum kecil
“Mianhae. Bahkan aku tidak mengenalmu,” ujarnya lalu pergi. Meninggalkan yeoja itu terdiam dan ditertawakan beberapa orang.

—————————————–

~Sooyoung POV~
Pukul dua pagi. Suara teriakan dan sirene membangunkanku. Aku terjaga dari tidurku. Menengok ke arah jendela. Kulihat sebuah mobil pemadam kebakaran melintasi rumah yoona. Beberapa orang terlihat berlarian di depan rumahnya.
“Yoong, irreona!” aku membangunkannya
“Sebentar..”
“Yoong, sepertinya ada kebakaran!”
“MWO?!”
Kami berdua menuruni tangga. Kulihat im ahjumma sedang berdiri di ruang tamu dengan cemas
“Eomma, ada kebakaran dimana?” tanya yoona
“Ah..itu..sebaiknya kalian kembali tidur. Besok, baru eomma ceritakan.”
Ada yang aneh. Aku merasa ahjumma menutup-nutupi sesuatu. Aku mencoba keluar dari rumah. Dia menahanku
“Sudahlah. Biarkan para namja yang berusaha memadamkannya. Kalian tetaplah disini. Jangan kemana-mana.”
“Aku hanya ingin melihat dimana kebakarannya, ahjumma.”
“Ne, eomma.”
“Itu–”
Aku berlari keluar dari rumah. Yoona mengikuti
“Anak-anak! Berhenti! Berbahaya!”
Seketika aku terdiam saat melihat rumah itu. Itu..rumah yang terbakar itu adalah rumahku
“APPA! EOMMA!”
“Jangan mendekat. Ini berbahaya,” ujar seorang petugas pemadam kebakaran
Kulihat eomma berdiri di depan jendela. Dia menangis
“EOMMA!!”
“NYONYA! CEPATLAH MELOMPAT DARI SANA! KAMI AKAN MENANGKAPMU DI SINI!” ujar para petugas. Eomma hanya diam. Tangannya gemetaran. Aku tahu dia takut ketinggian
“EOMMA CEPAT LOMPAT!”
Dia mencoba melompat. Saat dia akan keluar dari jendela…
Sebuah kayu api jatuh. Setelah itu eomma menghilang. Kembali masuk ke dalam.
“YOUNGIE!!!”
Dan itulah yang terakhir kuingat..sebelum aku pingsan..

————————————

~Siwon POV~
Aku mengambil secangkir hot chocolate. Meminumnya perlahan. Appa dan eomma sedang duduk di ruang tengah. Menonton berita di pagi hari. Aku duduk di sampingnya. Mengambil sebuah koran dan membacanya.
“Terjadi sebuah kebakaran di daerah Busan pada pukul dua dini hari. Terdapat satu korban meninggal dan satu korban yang luka parah bernama…”
Aku tetap memfokuskan pandanganku pada koran. Tiba-tiba appa berteriak
“YEOBO! ITU…..!”
Aku menutup koranku. Memfokuskan pandanganku pada televisi
“Hingga kini, petugas masih berusaha menemukan jasad korban. Menurut keterangan warga setempat, kebakaran diakibatkan karena gas yang meledak. Korban yang terluka parah kini dirawat di rumah sakit umum Busan. Dan–”
Klik. Appa mematikan televisi.
“Siwon. Kau tidak perlu sekolah hari ini.  Kita ke Busan.”

~Sooyoung POV~
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Silau. Saat aku terbangun, aku berada di tempat tidur yoona. Dia duduk di sebelahku. Wajahnya cemas
“Yoong, semalam aku mimpi buruk. Sangat buruk.”
Dia hanya diam.
“Aku bermimpi.. rumahku kebakaran. Dan aku melihat eommaku tertimpa kayu api di depan mataku sebelum dia melompat dari jendela.”
“Youngie..”
“Kurasa aku ditegur lewat mimpi. Hahahaha. Kalau begitu, aku pulang dulu. Kurasa..aku harus meminta maaf pada mereka.”
Yoona menahan tanganku
“Youngie… dengarkan aku baik-baik.”
“Yoong, aku harus segera pulang.”
“Itu bukan mimpi.”
Aku tersenyum kecil
“yaa! Jangan bercanda! Kau mau menakut-nakutiku eoh?”
“Youngie..jebal jangan seperti ini.”
“Aku tidak mengerti maksudmu, yoong. Sudah. Aku mau pulang. Annyeong.”
“Youngie–!”
Aku berlari ke rumahku.
“YOUNGIE TUNGGU!”
Seketika aku menghentikan langkahku mendapati tempat itu penuh puing-puing. Beberapa petugas terlihat menyingkirkan reruntuhan itu. Seketika aku sadar…itu bukan mimpi
“Youngie..”
Aku menepuk pipiku
“Kenapa aku belum bangun juga, yoong?”
“Youngie, jebal berhentilah,” dia memohon
“Yoona! Katakan ini mimpi dan akan hilang saat aku bangun nanti!”
“Choi Sooyoung berhentilah melakukan hal bodoh seperti itu! Jebal, mereka tidak akan suka melihatmu lemah seperti ini!” dia membentakku sambil menangis
Aku masih diam di tempat. kakiku terasa lemas. kaku. Aku terjatuh ke lantai. Yoona ikut terjatuh bersamaku. memelukku
“Yoona… aku benar-benar anak durhaka. Aku membiarkan eomma meninggal di saat.. di saat aku justru tertidur di rumahmu. Aku bahkan tidak bisa menyenangkan bumonimku sampai mereka meninggal. Aku bahkan memberi kenangan terakhir yang buruk untuk mereka ingat. Mereka pasti sangat membenciku. Aku–”
“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Itu takdir, youngie.”
Aku hanya bisa menangis di pundaknya.
“Youngie!” Im ahjeossi memanggilku
“Appamu..mencarimu di rumah sakit.”
“Appa..selamat?”
Dia hanya diam. “Ppali.”

——————————

~Siwon POV~
Aku masih diam di mobil. Kami sudah ada di Busan. Appa hanya diam dan menarik nafas dalam. Sedangkan aku masih bertanya-tanya
“Memangnya…apa hubungannya appa dengan…namsong itu?”
“Dia..appa benar-benar berhutang budi padanya, siwon ah. Dulu, saat usiamu masih 2 tahun.. appa menderita leukimia. Dan dia adalah pendonor appa. Dia yang menyelamatkan nyawa appa, siwon ah.”
“arra..”
Tiga puluh menit kemudian, kami sampai di rumah sakit itu. Mencari ruang ICU.
“Suster, aku harus bertemu dengannya.”

~Sooyoung POV~
Nit.Nit.
Aku menitikkan air mataku. Kondisi appa benar-benar memprihatinkan. Banyak luka bakar dan luka lain di tubuhnya. Appa hanya tersenyum kecil. Tapi aku tahu dia merasa sakit
“Appa..mianhae. Aku hanya bisa jadi anak pembangkang. Aku hanya bisa menyulitkan appa dan eomma. Bahkan aku…sering mengecewakan kalian. Membuat kalian marah dan–”
“Kami..tidak..pernah..merasa..begitu.”
“Appa…aku.. seharusnya aku yang berada disini..menggantikan posisi appa. Seharusnya aku–”
“Appa..senang..youngie..selamat.”
Aku memegang tangannya. Appa mengusap wajahku perlahan
“Appa..bangga.”
“Ani. Aku sama sekali tidak bisa membanggakan appa. Aku hanya bisa merepotkan appa dan eomma. Aku janji. Mulai saat ini, aku janji akan rajin belajar dan menjadi anak penurut. Aku akan melakukan apapun yang appa inginkan dan appa katakan. Aku janji. Aku akan menjadi ranking satu di sekolahku. Aku janji akan masuk kelas pertama di tahun ajaran baru dan melakukan semua pekerjaan rumah. Aku tidak akan malas-malasan lagi appa. Aku janji appa. Jebal..appa harus bertahan untuk melihatku membuktikannya.”
Appa tersenyum tipis. Kulihat dia menoleh ke samping. Aku mengikuti arah matanya. Seorang namsong berdiri di sana.
“Annyeonghaseyo. Apa kau..masih mengingatku?”
Appa mengangguk kecil. Dia mengisyaratkanku untuk keluar. Aku membungkuk dan keluar dari ruangan

~Siwon POV~
Krek..pintunya terbuka. Aku menoleh ke sana. Kulihat seorang yeoja keluar dari ruangan itu. Wajahnya sembab. Memakai celana pendek dan kaus berwarna putih. Rambutnya berantakkan. Seketika aku tahu. Itu putrinya. Dia duduk di sebelahku. Hanya diam. mengusap air matanya. Aku memberikan sapu tanganku padanya
“Kurasa kau membutuhkannya.”
“Ani..nanti saputanganmu kotor.”
Basa-basi.
Aku menaruh saputanganku di tangannya. Seketika dia menangis dengan kencang di sebelahku
“Huweee…”
Seisi rumah sakit memperhatikanku
“Bukan aku yang membuatnya menangis,” ujarku
“Huweee…”
Mereka mulai berbisik. Aku menatapnya. Apa dia tidak bisa mengecilkan volume tangisannya?

~Leeteuk POV~
“Itu..putrimu?”
Dia mengangguk kecil
“Dia putri yang cantik dan manis.”
“Ne..meski..agak nakal.”
“Semua remaja seperti itu.”
Dia tersenyum kecil
“Bisakah..kau..menjaganya untukku?”
“Ne?”
“Jika..terjadi..sesuatu.”
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau menyelamatkan nyawaku.Kau pasti bisa menyelamatkan nyawamu juga.”
Dia menggeleng kecil
“Kumohon..jika..terjadi sesuatu..padaku. Perlakukan dia..seperti..putri..kandungmu.”
“Apapun yang kau minta, aku akan melakukannya. Karena..kau tahu. Aku berhutang nyawa. Mungkin aku sudah meninggal jika saat itu kau tidak ada.”
“Dia sudah berjanji..akan menjadi baik..dan penurut. Jadi..dia tidak..akan merepotkan..kau.”
“Dia anak yang baik. Aku tahu itu.”
“Aku..ingin bicara dengannya.”

————————————

~Sooyoung POV~
Krek..pintu itu terbuka. Namsong itu keluar dari ruangan. Tersenyum tipis.
“Appamu..ingin bertemu denganmu lagi.”
Aku kembali masuk ke dalam. Memakai pakaian steril dan menghampirinya. Appa memegang tanganku
“Youngie..kalau..appa..pergi… jaga dirimu..baik-baik.”
“Appa! Appa yang appa katakan? Appa pasti baik-baik saja.”
“Saranghae..nae ttal.”
Nit………
Mata appa terpejam
“APPA! APPA IRREONA! SUSTER!! TOLONG!!”
“Tenanglah agassi, mohon tunggu di luar.”

~Siwon POV~
Dia duduk di kursi. Terus berdoa sambil menangis. Sedangkan aku berdiri di sebelah appa. Menatap dari jendela. Para dokter berusaha menyelamatkannya. Tetap garis lurus. Aku menghela nafas panjang. Begitu pula dokter yang ada di dalam. Mereka menutup wajah namsong itu dengan kain putih. Mencopot semua alatnya. Aku menatap ke arah yeoja itu. Masih menggumamkan doa. Aku tidak tega melihatnya. Krek.. euisa keluar dari ruangan itu. Seketika dia terjaga. Masuk ke dalam ruangan.
“Appa….. APPA IRREONA! APPA TIDAK BOLEH MENINGGAL! JEBAL APPA!!”
Ini memang terlalu tiba-tiba. Kurasa..dia seumuran denganku. Bagaimana bisa seorang anak SMA kehilangan kedua orang tuanya sekaligus? Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menenangkannya
“Euisa..kenapa..ini bisa terjadi? Dia masih bisa berbicara tadi.”
“Terjadi pendarahan di bagian tulang belakang. Disebabkan oleh hantaman keras dari benda berat yang jatuh di atasnya saat kebakaran. Sejujurnya..Meski kemungkinannya kecil, tapi masih ada harapan baginya untuk bertahan jika bisa diadakan operasi.”
“Kalau begitu..kenapa tidak dilakukan operasi?”
“Tuan Choi menolak. Lagipula.. beliau pernah menjalani operasi pendonoran sumsum tulang belakang. Jika dioperasi lagi..kemungkinannya malah jadi fatal. Saya harap Anda mengerti. Terima kasih.”
Seketika aku terdiam. Appa terduduk lemas di kursi
“Kau mengerti..maksudnya, siwon ah?”
Aku hanya diam
“Aku…akulah yang menyebabkannya meninggal secara tidak langsung.”
“Dia meninggal karena kebakaran itu appa. Bukan karena appa.”
“Tapi jika dia tidak mendonorkannya padaku, mungkin saja bisa diadakan operasi dan–”
“Ini semua sudah digariskan.”
Appa hanya diam. Mengusap wajahnya
“Dia menyelamatkanku. Tapi..kenapa aku tidak bisa menyelamatkannya?”
“Appa..”
“Aku benar-benar bodoh, siwon ah.”
“Tolong! Ada seorang gadis yang pingsan!”
Appa berdiri dari kursinya dan menuju ke ruangan itu. Sedangkan aku hanya bisa menatapnya menjauh bersama para perawat yang membawa gadis itu.

——————————

~Sooyoung POV~
Aku  membuka mataku. Tempat yang sangat silau. Kepalaku masih pusing. Kali ini aku tidak mau berpikir kalau ini mimpi. Aku kehilangan kedua orang tuaku sekarang. Sendiri. Entah akan jadi apa aku nanti. Appa dan eomma tidak memiliki saudara. Teman mereka pun tidak mungkin mau menampungku di rumahnya. Aku pun tidak bisa menjadi beban bagi orang lain. Aku menahan sesak di nafasku. Rasanya sendiri. Sakit. Krek.. pintu kamar inapku dibuka. Kulihat seorang namsong di sana.
“Kau sudah sadar.”
Aku hanya diam. Itu bukan hal yang patut disyukuri. Mungkin jika aku meninggal bersama mereka, semuanya akan menjadi lebih baik.
“Ajjeosi.. nuguseyo?”
“Aku adalah sahabat appamu.”
“Aku..tidak pernah melihat ajjeosi sebelumnya.”
“Aku tinggal di Seoul.”
Aku baru tahu appa memiliki seorang sahabat di Seoul. Kenapa..dia tidak pernah bercerita padaku?
“Sooyoungssi, mungkin cobaan ini sangat berat bagimu. Tapi ketahuilah, Tuhan selalu punya rencana yang baik. Bumonimmu, mungkin mereka meninggal dengan cara yang tragis. Tapi kau harus ingat, Tuhan sudah menanti mereka untuk berbahagia di surga. kau percaya itu?”
Aku hanya diam. Aku sangat ingin mempercayainya. Tapi saat aku tahu kalau hanya aku yang selamat di saat mereka meninggal….
“Entahlah.”
“Appamu.. telah menitipkan sebuah pesan untukku.. untuk menjagamu.”
“Gamsahamnida ajjeosi. Tapi aku tidak bisa menjadi beban bagi orang lain.”
“Aniyo. Kau bukan beban bagi keluarga kami. Istriku pasti akan sangat senang jika ada seorang anak perempuan di rumah kami.” Dia berusaha menghiburku.
“Tapi–”
“Kau tahu sooyoungssi.. appamu pernah menyelamatkanku di kondisi tersulit dalam hidupku.”
“Kondisi..tersulit?”
“Ne. Dan jasanya tidak dapat tergantikan oleh apapun. Maka aku tidak mungkin keberatan untuk memenuhi keinginannya. Apapun itu.”
Aku tersenyum kecil
“Appamu bilang, kau sudah berjanji menjadi anak baik dan penurut.”
“Ne. tapi..sayangnya dia meninggal sebelum melihatnya.”
“Hidup ini..tidak ada yang tahu kapan berakhirnya, anak muda.”
Aku memainkan jariku. Berusaha menenangkan pikiranku
“Kau sudah berjanji pada appamu, maka tepatilah. Begitu pula aku sudah berjanji pada appamu, maka aku akan menepatinya.”
“Apa..yang diminta appaku?”
“Dia ingin aku merawatmu seperti putri kandungku sendiri. Dan kuharap..kau bersedia untuk membantuku menepati janjiku. Demi appamu.”
Aku tersenyum dan mengangguk kecil. Aku tidak punya pilihan lain
“Ne.”

—————————————-

~Siwon POV~
“Aku ingin wallpaper ini dipasang secepatnya. Pokoknya harus selesai besok. Lalu tempat tidurnya juga. Ah ya! Meja rias dan nakas. Jangan lupa aksesoris yang manis.”
“Algesseumnida, Nyonya.”
“Dan ah. Sekretaris Park. Tolong urus kepindahannya ke sekolah terbaik di Seoul.”
“Algesseumnida.”
“Eomma, ini berlebihan,” ujarku
“Berlebihan? Ini jelas tidak berlebihan. Kau tahu, dia akan menjadi bagian dari keluarga kita.”
“Eomma..akan mendaftarkannya sebagai putri eomma? Ke kartu keluarga kita?”
Dia berpikir sejenak
“Kami tidak bisa melakukan hal itu. Dia sudah dewasa. Bisa memilih apa yang dia mau. Lagipula marganya kebetulan sudah sama dengan kita. Tapi kami akan memperlakukannya selayaknya anak kandung kami. Dan begitu pula kau harus memperlakukannya seperti adik kandungmu sendiri, siwon ah.”
“Algesseumnida, Nyonya Tae,” ujarku mengikuti gaya appa

———————

~Sooyoung POV~
“Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa mengirim email,” ujar yoona
“Ne. Pasti.”
“Aku akan merindukanmu disini,” dia memelukku
“Nado.”
“Semangat di SEOUL!” ujarnya
Aku tersenyum kecil
“Aku memang ingin ke Seoul. Tapi..tidak dengan cara ini sebenarnya.”
Yoona menepuk pundakku
“Kau harus kuat. Arra?”
“Ne.”
“Hwaiting!”
“Hwaiting!”
“Kaja,” ujar leeteuk ajjeosi. Dan mulai hari ini..aku harus terbiasa memanggilnya dengan sebutan..
“Ne….appa.”

———————-

~Siwon POV~
Eomma berdiri di depan pintu. Menunggu kedatangan mereka. Aku menyandarkan punggungku di sofa
“Eomma. Kenapa eomma seantusias ini?”
“Dari dulu eomma ingin sekali memiliki seorang putri.”
Aku menggeleng dan menaruh kedua tanganku di belakang kepala
“Kau harus memperlakukannya seperti adik kandungmu sendiri, arrachi?”
“Ne.”
“Kau sudah dengar sendiri kan ceritanya dari appa?”
“Ne.”
“Di sekolah, kau harus memperlakukannya dengan baik pula.”
“Tunggu dulu. Dia..satu sekolah denganku?”
“Ne. Dan kelasnya sama denganmu”
“MWO?!”

——————————-

~Sooyoung POV~
“Sampai.”
Aku terdiam melihat rumah itu. Ini bahkan lebih besar daripada sekolah lamaku. Tanganku gemetaran.
“Mulai hari ini, ini adalah rumahmu.”
“Ne..appa.”
Aku masuk ke dalam rumah. Kulihat seorang yeosong berdiri di depan pintu
“Akhirnya kau datang. Annyeonghaseyo!”
“Annyeonghaseyo..”
“Panggil aku eomma,” ujarnya
“Ne.. eomma.”
“Aigoo.. neomu kwiyeopta,” ujarnya
Aku menoleh ke kiri. Kulihat seorang namja tinggi berdiri di sampingnya
“Ah..kenalkan. Ini Choi Siwon, oppamu,” ujarnya
“Annyeonghaseyo,” ujarku
Dia hanya tersenyum kecil
“Aku..harus mengerjakan PR ku,” ujar siwon lalu pergi. Sepertinya dia tidak suka dengan kehadiranku disini
“Dia memang seperti itu. Cuek. Tapi sebenarnya dia sangat baik,” ujar eommanya
“Algesseumnida, eomma.”
“Kau pasti lelah. Beristirahatlah di kamarmu.”
Aku mengikutinya. Dia membukakan pintu untukku. Dan kejutan kedua di hari ini.

korean_style_bedroom_set_furniture“Karena mendadak, kami mendekor ulang kamar tamu. Kamarnya jadi tidak terlalu besar dan–”
“Ani. Ini bahkan sudah cukup besar untukku.”
Bahkan empat kali lipat kamar lamaku
“Kau menyukainya?”
“Ne. Sangat manis.”
“Syukurlah kalau begitu. Ah, ya. Ada beberapa baju untukmu di lemari. Kurasa pasti pas di tubuhmu.”
“Gomawo..eomma.”

TBC

48 thoughts on “My Oh My {Part 1}

  1. wah ujung2ny sneng tp diawal2 nyesek bgt dech…kasian bgt y soo…eh knp siwon dibuat seumur dgn soo? krasa gmn gtu cocokan bd 4thn pdhl… heu next lanjut

    pkokny ffny keren bgt dech… (*^﹏^*)
    ♡ⓢⓞⓞⓦⓞⓝ♡

  2. Soo kasihan :(
    Soo sama Siwon seumuran kah !!!
    Aku lebih suka kalo Siwon yang lebih tua
    Kayaknya Soo bakal jadi yeoja yang manis + feminim nih :)
    Selalu suka sama Ff mu
    Ga sabar ngeliat Soo sekolah ^-^
    Next chingu
    Fublish nya cepetan ne

  3. Yang sabar yah eonn. Wonppa juga cuek banget nih -_-
    Tapi jujur awalnya tragis banget nih, gak nyangka kalau orang tua soo eonnie bakal meninggal dengan cara seperti itu :'(

    Lanjut chingu ^_^

  4. kasian soo appa eommanya meninggal
    untung aja ada leeteuk ahjoesi yang mau ngerawat soo :)
    siwon ga suka kah sama kehadiran soo dirumahnya?

    ditunggu kelanjutannya :D

  5. kayaknya bakal seru nih ff nya. lanjutnya jangan lama2 ya thor . ehiya mau nambahin aku selalu suka deh setiap ff kamu soalnya pasti ada gambar bayangannya kaya gimana jadi bisa sekalian berimajinasi. lanjut terus thor!!!

  6. aigooo….neomuneomu chuae….
    aq ampek mewek2 bacanya…
    author…kau memang favoritQ….
    Keep writing yach…ditunggu next partnya..
    jgn lama2 ya…
    kau memang berbakat pokoknya..

  7. Finally soowon!!! :-*
    Bagus ceritanya thor :) awalnya mirip sama drakor naughty kiss ya. Yang pindah ke rumah orang lain. Cuma memang banyak perbedaannya hihi
    Next part cepetan ya author!^^ Fighting nulisnya ;-)

  8. Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaa..SooWon hadir lagi..updatenya kalo bisa kayak pas enchanted dulu ya,Thor..cuepeeeeeeeeeeeet bgt..hehehhehehee..

  9. Akhirnyaaaaaaaaaaaaaa..SooWon is back..updatenya klo bisa kayak pas enchanted kemaren yach,Thor..cuepeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet bgt..hehehehhehee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s