Enchanted {Part 11-End}

enchanted

Title : Enchanted

Genre : Fantasy, Comedy, Romance, Angst

Rating : PG-17

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Kris Wu
  • Im Yoona

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Jessica Jung
  • Victoria Song
  • Shim Changmin
  • Taeyeon
  • Leeteuk
  • Kwon Yuri
  • Choi Minho

Cameo : Hyuna

~Kyuhyun POV~
“Sajangnim, rapat akan diadakan jam 4.”
“Ne. Aku mengingatnya.”
“Permisi.”
Aku mencoret kalender itu. Menghela nafas dalam. Setahun berlalu. Tepatnya hari ini. Tapi dia hilang tanpa kabar. Setahun. Aku mencoba menghubunginya dengan berbagai cara. Tapi dia selalu menghindar. Entah apa alasannya. Hingga akhirnya aku kehilangan kontak. Aku kehilangan ide untuk menemukannya. Aku sudah pernah mendatangi hotel milik choi corp. Tapi mereka bilang, yeoja itu sudah pergi ke Swiss bersama appanya. Mengurus proyek, kata mereka. Tapi tidak seorangpun mau memberikan informasi padaku tentang keberadaannya
“Bogoshipo,” ujarku pada frame itu.

~Sooyoung POV~
“Pembangunannya tinggal 25 persen lagi.”
Aku tersenyum sambil memandang gedung tinggi itu. Sebentar lagi, hotel choi corp yang berada di Swiss akan selesai dibangun. Appa merangkulku dengan hangat. Berbisik pelan
“Kau akan pulang ke Korea setelah pembangunannya selesai?”
Aku menggeleng kecil
“Pembangunannya memang selesai. Tapi itu tidak berarti semua masalah selesai. Promosi dan pelayanannya harus dipantau dengan baik.”
“Bukan karena kyuhyun?”
Seketika aku terdiam. Kyuhyun. Ya. Dia salah satu alasannya. Aku menengok ke arah ‘namja’ yang berdiri di sampingku. Aku masih melihat mereka. Karena itulah aku tidak akan kembali ke Korea dan melibatkan kyuhyun lagi. Semakin aku mendekatinya, dia akan semakin terluka dan mendapat masalah
“Sampai kapan kau mau menghindarinya?” tanya appa
“Aku tidak menghindar.”
“Tidak menghindar? Melarang semua pegawai memberi tahu keberadaanmu padanya bukan menghindar?”
“Aku akan menyakitinya appa, jika dia berada di sampingku. Appa mengerti maksudku kan?”
Appa mengangguk pelan
“Kau sudah dewasa. Appa tidak akan memaksamu menemuinya seperti anak kecil. Tapi appa hanya bisa bilang, jangan menyesal jika kau kehilangannya nanti,” ujarnya sambil menepuk bahuku. Aku terdiam sejenak. Tidak. Aku tidak akan menyesal jika kehilanganmu. Karena itu lebih baik…daripada melukaimu

~Yoona POV~
“Setelah ini, aku harus kembali ke kantor. Appa jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan. Arra?”
“Ne. Gomawo.”
“Annyeong.”
Aku melangkahkan kaki menjauh. Setahun berlalu cepat. Banyak perubahan terjadi. Begitu pula hidupku. Aku menghela nafas dan tersenyum kecil. Mungkin, inilah yang dinamakan hukum karma. Setidaknya aku bersyukur..karena aku bisa bertemu appa kandungku dan hidup bersama eomma meski sederhana.
“Hwaiting!”

—————————————

~Kris POV~
Aku melangkahkan kaki memasuki rumah. Appa dan eomma sedang pergi ke Jeju. Rumah sangat sepi. Aku masuk ke kamar kyuhyun. Kosong. Bukankah..seharusnya dia sudah pulang?
“Kemana kyuhyun?” tanyaku pada pelayan
“Tuan Muda… sedang berada di dapur.”
“Ne?”
Pelayan itu hanya menunduk. Aku berjalan dengan cepat ke sana. Kulihat dia sedang duduk di kursi bersama sebotol wine
“YAA! Kau gila hah!”
Aku mengambil gelas itu darinya
“Berisik.”
“Apa masalahmu, cho kyuhyun?! Bagaimana bisa kau menghabiskan satu botol ini sendirian?”
“Hyung… dia menghilang.”
Aku hanya diam. Seketika aku mengerti siapa yang dibicarakannya
“Sudah setahun, aku menunggunya. Mencarinya. Tapi dia menghindariku. Aku tidak tahu dimana dia sekarang dan kontaknya. Dia memang berkata kalau dia tidak berjanji untuk kembali. Bodohnya, aku menunggunya.”
“Kyu…”
“Di satu sisi, aku ingin menunggunya, sesuai dengan perkataanku. Di sisi lain…aku lelah berada di hubungan yang tidak jelas seperti ini.”
“Dia pasti punya alasan, kyu.”
“Ne. Kurasa dia sudah menemukan seorang namja yang jauh lebih baik dariku.”
“Kurasa dia bukan yeoja seperti itu.”
“Memang bukan. Tapi dia di Amerika, hyung.”
“Itu… cukup logis.”
“Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan.”
“Kurasa…sebaiknya kau menunggunya setahun lagi. Dan jika dia tidak kembali, lupakan dia. Carilah yeoja lain yang bisa membahagiakanmu. Arra?”
Dia tidak menjawabku. Tertidur di meja bersama wajah kusutnya. Ternyata yeoja bisa membuatmu menjadi lemah

————————————–

~Sooyoung POV~
Dua tahun. Aku mengusap wajahku perlahan. Kepalaku terasa berat dan pusing. Mungkin karena terlalu sering lembur untuk mengurus berkas-berkas. Aku menoleh ke frame itu
“Bogoshipo, oppa.”
Aku mengusap wajahnya perlahan. Aku tidak bisa memungkiri kenyataan kalau aku merindukan wajah itu, tawa itu, dan mata itu. Tapi.. tidak. Aku tidak boleh egois. Aku sudah memutuskan..untuk membiarkannya bahagia dan terbebas dari rasa khawatir ataupun bahaya.
“That’s your boyfriend? (Itu pacarmu?)” tanya yeoja di sebelahku
Aku tidak memedulikannya dan kembali ke pekerjaanku
“Handsome. I think he likes you lot. (Tampan. Kurasa dia sangat menyukaimu)”
Aku hanya menghela nafas kecil
Kenapa kau menghindarinya?” tanyanya dalam bahasa Korea.
“Bisakah kau diam? Kau menggangguku.”
“Kenapa kau menghindarinya di saat kau sangat menyukainya?”
“Apa yang kau tahu tentang aku?”
“Dengan menyimpan fotonya, berarti kau masih menyukainya.”
Aku terdiam sejenak. Aku tidak bisa membohongi mereka
“Ne. Tapi aku akan selalu mencelakakannya jika dia berada di sekitarku.”
“Kau tidak menyesal, jika dia bersama orang lain?”
“Kenapa kau mau tahu segalanya hah?”

~Kyuhyun POV~
“Sebentar lagi dia datang.”
Aku duduk di kursi. Menghela nafas dalam. Keputusanku sudah bulat. Dua tahun lebih enam bulan aku berada dalam sebuah hubungan yang tidak jelas. Aku tidak bisa terus berdiam diri dan menunggu seseorang yang entah ada dimana dan menghindariku. Mianhamnida, youngie. Tapi kau yang memaksaku. Perusahaan ini butuh kejelasan. Begitu pula penerus.  Aku tidak bisa terus menunggu dan merisaukan bumonimku. Dalam lubuk hatiku, aku memang tidak bisa melupakan yeoja itu. Tapi perlahan..aku harus mencoba menghapusnya
“Mereka datang.”
Aku bangkit berdiri. Memasang senyuman palsu terbaik yang kubisa. Pada calon tunanganku.
“Annyeonghaseyo, joneun Cho Kyuhyun imnida.”
“Annyeonghaseyo, joneun Hyuna imnida.”

——————————————–

~Kyuhyun POV~
“Selamat, atas pertunanganmu.”
“Gomawo.”
Aku tersenyum palsu sambil menjabat tangan para tamu. Hari yang melelahkan.

~Kris POV~
Aku meneguk wineku sambil menghela nafas kecil melihat kyuhyun. Jujur, aku tahu perasaannya kacau sekarang. Di satu sisi, pertunangan ini membawa dampak positif bagi perusahaan dan membantunya untuk melupakan sooyoung. Di sisi lain…aku tahu hatinya tidak sesuai dengan senyumannya saat ini. Sooyoung ah. Kau dimana? Apa kau bisa menerima pertunangan ini?

—————————————

~Hyuna POV~
“Besok diadakan launching tas Double M yang terbaru,” ujarku padanya di mobil
Dia tidak berkomentar. Tetap menyetir
“Aku diundang ke sana. Apa kau bisa menemaniku?”
“Besok aku harus mengadakan meeting dengan Han corp,” ujarnya tanpa menatapku sedikitpun. Aku menghela nafas kecil
“Kurasa kau tidak akan mengatakan itu jika choi sooyoung yang memintamu,” ujarku sinis
Dia menginjak rem. Seketika aku maju ke depan
“Yaa! Kenapa berhenti mendadak?” protesku
“Kenapa kau membawa-bawa nama sooyoung?”
“Karena kau selalu hidup bersama hantu itu.”
“Dia bukan hantu.”
“Oppa, kita sudah bertunangan. Dan beberapa bulan lagi, kita akan menikah. Seharusnya kau sudah melupakan yeoja yang tidak jelas keberadaannya itu.”
Dia hanya diam
“Aku lelah bersaing dengan hantu. Sebenarnya apa lebihnya yeoja itu dibandingku?”
“Mianhae,” ujarnya lalu lanjut menyetir. Aku hanya diam. Aku tahu dia tidak sungguh-sungguh mengucapkan kata-kata itu. Dan cincin di jarinya tidak punya arti sama sekali.

—————————————–

~Sooyoung POV~
“Segelas americano.”
Aku tersenyum kecil dan memandang ke arah pemandangan kota Seoul. Tiga tahun berlalu dengan cepat. Banyak hal yang berubah dari kota ini. Kecuali kenangannya. Aku menjentikkan jatiku ke meja. Kyuhyun.. seperti apa dia sekarang. Aku berdiri di sisi jendela. Memandangnya dengan takjub. Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk bahuku
“Jogiyo.”
Sentuhan itu terasa seperti setruman. Apa aku berhalusinasi? Air mataku terasa ingin menetes. Suara itu. Sentuhan itu. Hanya dimiliki oleh satu orang. Cho Kyuhyun

~Kyuhyun POV~
“Aku ingin membooking lantai atas restoran ini untuk meeting. Apa bisa?”
“Maaf, Tuan. Tapi ada seorang yeoja yang sedang duduk di sana.”
“Yeoja?”
“Ne.”
“Arra. Aku akan menemuinya dan memintanya segera pulang.”
“Tapi…tuan–”
Aku berjalan ke lantai atas. Kulihat seorang yeoja berdiri di dekat jendela restoran itu. Posturnya tinggi seperti model.
“Jogiyo,” aku menepuk bahunya.
Sosok itu hanya diam dan berbalik perlahan. Seketika aku terdiam memandangnya
“Sooyoungie…”
“Oppa…”
Tiga tahun.. tepat hari ini. Aku tersenyum kecut melihatnya berada di depanku sekarang. Penampilannya berubah jauh. Dia mengenakan terusan peach yang senada dengan jaket kulitnya. Tas tenteng kecil berwarna peach dan stiletto berwarna hitam. Rambut wavy panjangnya berwarna coklat tua sekarang. Tiga tahun dia menghilang. Dan aku menemukannya di tempat yang tidak kuduga. Deg. Kurasakan jantungku berdetak keras. Aku memandang mata itu. Tidak berubah. Tetap mata yang kusukai. Dan dia..tetap choi sooyoung yang bisa membuatku berdebar saat di sampingnya

~Sooyoung POV~
“Wine,” ujarnya pada pelayan.
Setelah itu, dia menatapku sambil tersenyum
“Tiga tahun.”
“Ne?”
“Tiga tahun kau menghilang. Kemana saja?” tanyanya sinis
“Aku harus mengurus proyek appaku di Swiss,” ujarku santai. Seolah tidak bersalah. Padahal aku tahu kalau aku berdosa besar. Sialnya, aku bertemu namja ini di tahun ketiga. Aku meneguk kopiku perlahan sambil menatapnya. Dia membuatku salah tingkah. Matanya terus memandang ke arahku dengan tatapan yang sulit kuartikan
“Kau masih melihat mereka?”
Aku menggeleng kecil
“Aku sudah tidak melihat mereka,”bohongku
“Jinjja? Lalu kenapa kau tidak menemuiku dua tahun lalu?”
“Terlalu banyak tugas menumpuk sampai–”
“Sampai kau menjadi terlalu sibuk. Bahkan hanya untuk menghubungiku.”
“Kau seperti polisi yang mengintrogasiku.”
“Kenapa kau menghindariku?”
“Aku tidak menghindar. Aku–”
“Permisi, wine nya,” seorang pelayan menyelamatkanku
“Bagaimana pekerjaanmu di sana? Menyenangkan?” perhatiannya teralih
“Ne. Mereka semua baik dan memberiku banyak pengalaman.”
Kulihat dia menuangkan wine itu ke sebuah gelas
“Untukmu.”
“Ne?”
“Kau sudah tidak melihat mereka lagi. Jadi..bukankah tidak masalah untuk meminum wine?”
Aku terdiam sejenak. Baik aku terjebak dalam kebodohanku.
“Untuk kesuksesanmu dan pertunanganku,” ujarnya
“Ne?”
Otakku serasa tersengat listrik. Tanganku terasa kaku. Mati rasa. Aku menoleh ke arah tangannya. Sebuah cincin terpasang manis di jarinya. Dadaku terasa sesak. Menyesal? Tidak. Aku sudah mengatakan kalau aku ingin dia bahagia. Apapun resikonya.
“Cheers,” ujarnya
Aku mengambil wine itu dan langsung meminumnya
“Kurasa kau sangat menikmatinya sekarang. Kau bisa meminum wine sebanyak yang kau mau.”
Aku menuang wine itu ke gelasku dan meminumnya lagi. Setelah itu, aku langsung berdiri dan membungkuk
“Aku harus pulang. Appaku menungguku di rumah. Annyeonghaseyo oppa.”
“Ne, annyeonghaseyo.”
Aku cepat-cepat berjalan menjauh sebelum dia menyuruhku meminumnya lagi. Kepalaku terasa pusing dan hatiku terasa sesak. Aku memegang cincin darinya  yang kugantung di kalungku
“Kenapa rasanya sangat sesak…”
Aku menarik nafas dalam. Tidak. aku tidak bisa menangisi keputusanku sendiri. Wajar saja dia bertunangan dengan orang lain. Aku yang menabur garam di lukaku sendiri. Aku memegang kepalaku sambil berjalan perlahan ke bawah. Benar-benar bodoh. Aku adalah peminum yang buruk. Kulihat seorang ‘yeoja’ berdiri di sampingku
“Yaa! Jangan protes padaku karena kau meninggal. Salahmu sendiri meminum wine sampai mabuk! Haish..orang-orang sepertimu menghancurkan hariku.”

~Kyuhyun POV~
Aku terdiam melihatnya menjauh. Dia berubah. Menjadi cukup dingin. Aku menghela nafas dalam. Kenapa rasanya sangat menyesakkan? Tiga tahun aku tidak bertemu dengannya. Sekalinya bertemu, kami mengakhirinya dengan cepat. Aku memegang dadaku. Kenapa melihatnya pergi terasa lebih menyakitkan dibanding melihatnya di bandara?  Aku tidak bisa memungkiri kalau aku…memang masih mencintainya. Tapi aku tidak bisa memaksanya..yang mungkin sudah berpaling sekarang. Dan statusku sudah bertunangan dengan Hyuna. Aku menoleh ke kursinya. Tasnya tertinggal. Haish..yeoja itu. Kenapa dia sangat ceroboh? Aku mengambil cellphoneku. Hyuna benar soal yang satu ini.
“Sekretaris Kim. Batalkan meeting dengan Han corp.”

————————————

~Author POV~
“Ajjeosi.. tolong antarkan aku ke rumah abu Lee.”
“Rumah abu? Bukankah kita akan pergi ke English Village?”
“Sebelumnya..tolong antarkan aku ke tempat yang menjual kain lap.”
“Kain lap? Agassi, apa yang anda bicarakan?”
“Ajjeosi, apa anda pernah hidup di sebuah wadah keramik dan banyak abu yang ada di atas wadah itu?”
“N…ne?”

~Kyuhyun POV~
Aku terus mengikuti taxi itu. Aku menekan klakson mobilku dan membuka kaca
“Hentikan taximu!”
“Ne?”
“Hentikan ke sebelah kanan!”
Supir itu mengikutinya. Aku turun dan mobilku dan membuka pintu taxinya
“Choi Sooyoung. Kau meninggalkan tasmu di restoran.”
“Kau mengenal yeoja itu? Dia yeojachingumu? Cepat bawa dia turun! Dia membuat masalah!”
“Masalah?”
Youngie turun dari taxi itu. Kulihat matanya berwarna kemerahan
“Aku harus pergi ke rumah abu Lee.”
Seketika aku tersadar. Seseorang memasukinya
“Kau siapa?”
Dia hanya diam dan tersenyum
“Pergilah dari hadapanku.”
Aku memeluk choi sooyoung. Tiba-tiba dia terbaring lemas di pelukanku. Aku mengusap kepalanya perlahan. Perlahan, aku memeluknya dengan erat
“Kau tahu..seberapa ingin aku memelukmu seperti ini..tiga tahun lalu?”

——————————————–

~Changmin POV~
“Bagaimana kabar appa?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu dari putriku.
“Baik.”
Mungkin aku tidak menjadi orang kaya. Tapi aku tersadar bahwa kebahagiaan itu..adalah saat kau bisa bersama keluargamu. Dan yoona memberi tahuku tentang itu
“Bersabarlah, sebentar lagi..appa akan bebas.”

—————————————-

~Kyuhyun POV~
Aku membuka kulkasku dan mengambil segelas air dingin. Tiba-tiba kulihat dia duduk di kursi dan menatapku
“Ajjeosi…ice cream juseyo..”
“Ne?”
“Ice cream juseyooo!! Ice cream!!”
Aku menatapnya dengan kesal. Baik. Sekarang hantu seorang anak kecil merasukinya. Aku menyendokkan satu scoop ice cream ke mangkuk. Dia memakannya dengan cepat
“Lagi!”
“Mwo? Andwae. Perutnya bisa sakit jika kau makan es krim terlalu banyak. Dan dia bisa menjadi gendut!”
“Ajjeosi…ice cream..ice creamm… ” dia merengek sekarang
“Andwae!” aku menyentil jidatnya. Tiba-tiba choi sooyoung terjatuh. Untung aku berhasil menangkapnya
“Haish..”
Aku menggendongnya ke sofa.
“Diam dan jangan berbuat macam-macam.”
Aku berjalan ke kamarku. Mengambil sebuah selimut. Saat aku kembali, dia sudah menghilang. Haish..kemana lagi dia
“Neomu banjjak banjjak nuni busyeo. No No No No No.Neomu kkamjjak kkamjjak nollan naneun Oh Oh Oh Oh Oh. Neomu jjarit jjarit momi tteollyeo. Gee Gee Gee Gee Gee Oh jojeun nunbit. Oh Yeah. Oh joeun hyanggi. Oh Yeah Yeah Yeah!”
Aku mengusap wajahku dengan kesal.
“Sekarang siapa lagi?!”
“Jigemeun Sonyeoshidae!”
“Kau–”
“To the next song!”
“Naneunyo oppaga joheungeol~~ eotteokhae~!”
“Eotteokhae? Kojyeo!” aku menyentuh jidatnya dengan jari telunjukku dan dia langsung tergeletak di sofa. Sepertinya malam ini akan melelahkan. Aku menggendongnya ke tempat tidurku dan membiarkannya tidur di sana. Aku berjalan ke sofa dan merebahkan diri. Benar-benar memusingkan.

~Donghae POV~
Aku terheran melihat cellphonenya. Tidak aktif. Apa…dia sedang pergi? Atau pesawatnya di delay? Entahlah. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang harus ia lakukan.

~Kyuhyun POV~
Krek… kudengar pintu kamarku terbuka. Aku menghela nafas. lagi-lagi ada yang mengganggunya
“chérie(sayang)”
Aku mengerjapkan mataku. Kulihat dia duduk di sampingku dengan posisi yang sangat seduktif.
“Je suis seul ce soir. accompagne-moi à boire (aku kesepian malam ini. Temani aku minum)”
Aku melihat botol yang dia pegang di tangannya.
“Yaa! Parisian. Itu adalah toner yang kau gunakan untuk wajah. Bukan minuman.”
“beau mec (handsome guy)”
“Kau ingin aku mengatakannya padamu dalam bahasa prancis? Baiklah. se perdre (get lost)!”
Dia melempar botol itu ke lantai. Kulihat tangannya bergerak ke wajahku
“Berpuaslah dengan melihat. Kau akan menghilang jika menyentuhku.”
Dia tidak menurutinya. Jari telunjuknya mengusap hidungku dengan pelan dan… BRUK! Dia terjatuh di atasku
“Aku benar-benar bisa gila.”

—————————————————

~Kris POV~
“Katakan pada eomma dan appa. Aku tidur di apartmentku dan tidak bisa pulang ke rumah.”
“Arra. Annyeong.”
Aku mematikan cellphoneku dan merebahkan diri di tempat tidur. Perlahan aku memejamkan mataku sambil mengingat kejadian tiga tahun lalu. Sangat cepat berlalu

~Kyuhyun POV~
“Minumlah susu ini untuk menetralkan winenya.”
Dia meminumnya perlahan. Kulihat dia masih menggumam tidak jelas
“Ini benar-benar mengesalkan. Semua rencanaku berantakkan!”
“Kenapa kau tidak menghubungiku jika akan pulang? Kau tidak merindukanku?”
Dia memegang tanganku dan mengusapnya
“Aku sangaaaaaattt sangat sangat merindukanmu.”
“Lalu kenapa kau tidak menghubungiku selama tiga tahun?”
“Karena aku masih bisa melihat mereka.”
“Ne?”
“Aku tidak ingin membuatmu dalam bahaya. Jadi kuputuskan..untuk membiarkanmu bahagia bersama orang lain.”
“Kau..tidak mencari namja lain?”
Dia menggeleng “Pikiran yang bodoh. Bagaimana mungkin aku mencari namja lain di saat.. aku tidak bisa melupakan cho kyuhyunku?”
Aku terdiam sejenak. Kulihat dia memegang kalungnya dengan erat
“Padahal aku sudah merelakanmu. Bahkan berkata kalau aku tidak masalah jika pada akhirnya kau memilih yeoja lain. Tapi..saat mendengarmu bertunangan dengan yeoja lain..perasaanku sangat sesak. Ini aneh. Kenapa aku sangat egois dan plin plan, oppa?”
Aku melepaskan tangannya perlahan. Kulihat sebuah cincin digantung dengan manis di kalungnya. Itu…cincin dariku..
“Tunanganmu..dia yeoja paling beruntung,” ujarnya
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menciumnya perlahan. Dia hanya diam. Tidak membalas ataupun memberontak. Aku melepaskannya perlahan. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya
“Kenapa kau menciumku? Tidakkah kau berpikir, tunanganmu akan terluka jika dia mengetahuinya.”
“Aku tidak peduli. Kami dijodohkan dan baru bertunangan 2 bulan. Dia bukan tipeku. Kalau kau mau, aku akan berkata pada keluarganya dan keluargaku untuk membatalkan pertunangan itu.”
“Apapun alasanmu, kalian sudah bertunangan. Dan memisahkan ikatan itu tidak akan mudah. Aku tidak mau menjadi–”
Aku menciumnya. Entah darimana keberanian itu kudapat. Tapi aku tidak bisa melepaskan yeojaku lagi. Kurasakan dia membalasnya perlahan. Tangannya merangkul leherku.
BRUK!
Dia terjatuh di sofa. Aku melepaskan ciuman itu perlahan. Aku bisa merasakan deru nafas dan sentuhannya di wajahku. Aku merindukan yeoja ini. Dan aku tidak akan mengalah untuk melepaskannya kali ini
“Aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan.”
Dia mentikkan air matanya
“Aku tidak suka menjadi antagonis, oppa. Kau tahu itu. Aku tidak disebut sebagai orang ketiga dalam hubungan orang lain atau hantu yang membayangimu setiap hari. Aku tidak mau menghancurkan pertunanganmu yang baik-baik saja karena kemunculanku yang tiba-tiba. Aku–”
“Kau bukan antagonis, chagi. Dan kau bukan orang ketiga di hubungan ini. Dia lah orang ketiganya. Dia yang bertunangan dengan hantu yang tidak pernah mencintai atau bahkan melihatnya.”
“Kalau aku tidak muncul, kau pasti akan menikah dengannya.”
“Belum tentu.”
“Tapi mungkin.”
“Sejak kapan kau memikirkan perasaan orang lain seperti ini?”
“Dan sejak kapan kau menjadi cowok? Kemana cho kyuhyun yang konsisten?”
“Dia hanya ada untukmu. Tidak untuk orang lain.”
Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca. Perlahan dia menciumku. Membuatku bisa merasakan perasaannya. Dia memegang tanganku perlahan. Tersenyum kecil. Membuatku mengerti. Dia menginginkan yang lebih

————————————————

~Sooyoung POV~
Matanya masih terpejam dengan sempurna. Aku mengamatinya diam-diam. Tampan. Dan aku tidak percaya kami melakukannya semalam. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan otak dan mulutku hingga semua perkataan itu keluar dalam keadaan sadar. Aku memegang tangannya. Menahan air mata sebisaku.
“Ini yang terbaik untuk kita. Oppa.”

~Kyuhyun POV~
“Sampai.”
Aku memarkirkan mobilku di halaman rumahnya. Dia hanya diam. Belum turun ataupun bergerak. Dia hanya menatapku dengan ekspresi datar. Aku cukup lega karena dia tidak bangun dengan memukuliku karena ikut terbawa suasana. Aku tahu dia tidak sepenuhnya di bawah pengaruh alkohol kemarin. Buktinya dia ada disini bersamaku.
“Kita akhiri semuanya disini,” ujarnya yang membuatku terdiam
“N..ne?”
“Anggap saja kita baru bertemu kemarin. Menghabiskan satu malam bersama. Dan hubungan kita hanya itu saja.”

~Sooyoung POV~
“Sooyoungie.”
“Anggap saja kita hanya terbawa suasana dan pengaruh alkohol.”
Aku menahan air mataku sekuat yang kubisa.
“Tidak ada yang spesial dari hubungan kita. Hanya semalam. Anggap semua yang terjadi selama ini hanya mimpi. Kau sudah bertunangan dan aku ingin pertunanganmu bahagia.”
Munafik. Padahal aku sangat ingin menjadi perusak hubunganmu dan yeoja itu. Tapi aku tidak bisa. Aku membenci dirimu karena itu. Karena aku sangat ingin memonopolimu. Tapi aku tidak bisa karena aku terlalu takut untuk membawamu dalam masalah. Terlalu bodoh untuk mengakui perasaanku yang sebenarnya. Dia masih diam. Menatapku tidak percaya.
“Selamat tinggal oppa.”
Aku turun dari mobilnya dan berjalan dengan cepat ke dalam.
“Nona sudah pulang,” ujar seorang pelayan
Kulihat appa berjalan dengan cepat ke depan.
“Kau membuat appa khawatir. Kenapa–”
Pertahananku runtuh.

~Donghae POV~
“Pesawatnya tidak di delay?”
“Ne, Tuan.”
“Tapi…bagaimana bisa dia belum pulang sampai sekarang?”
“Terakhir yang saya dengar, Nona pergi ke Autumn Cafe dan setelah itu..dia belum kembali.”
Aku mencoba menghubungi ponselnya. Tidak aktif
“Mungkin, nona pergi ke rumah temannya.”
Aku berpikir sejenak
“Mungkin.”
“Nona sudah pulang,” ujar pelayan
Aku menghela nafas lega.
“Kau membuat appa khawatir. Kenapa–”
Dia hanya diam. Menitikkan air mata. Setetes demi setetes
“Youngie..”
“Aku..ingin beristirahat,” ujarnya lalu cepat-cepat ke kamarnya.
Aku hanya mematung di tempat. Apa..yang terjadi

————————————-

~Sooyoung POV~
“Kenapa rasanya sangat sakit..” aku memegang dadaku. Sesak. Aku menoleh ke jendela. Mobil kyuhyun masih di sana. Tak lama kemudian, pergi meninggalkan halaman rumahku. Aku menutup jendela dan terduduk lemas di lantai. Ini lebih baik. Karena jika kau memang mencintai seseorang, kau akan membiarkannya bahagia bersama seseorang yang lebih pantas. Yang tidak menempatkannya dalam bahaya.

~Donghae POV~
Hari sudah pagi. Dia mengurung diri seharian di kamar kemarin. Entah apa alasannya. Aku mengetuk pintu kamarnya perlahan
“Youngie.”
Dia tidak membukakan pintu
“Appa masuk ya.”
Aku masuk ke dalam. Kulihat dia sudah siap dengan jas dan terusannya
“Kau…berangkat ke kantor?”
“Ne. Banyak dokumen yang harus kuurus. Waeyo appa?”
“Ah…ani. Appa..khawatir. Karena kemarin..”
“Mianhae appa aku mengkhawatirkanmu. Aku..hanya bertengkar dengan temanku kemarin,” ujarnya sambil memelukku
Aku mengusap kepalanya perlahan
“Gwaenchanha. Yang penting putri appa baik-baik saja. Tadinya..appa pikir itu masalah berat karena putri appa yang biasanya ceria tiba-tiba menangis. Kau terlihat jelek kalau menangis.”
Dia tersenyum kecil
“Tidak usah ke kantor hari ini.”
“Ne?”
“Appa ingin mengajakmu ke Jeju.”
“Jinjja?”
Aku mengangguk

~Kris POV~
“Kamar VVIP dengan view taman bunga dan makan malamnya sudah tersedia, sajangnim.”
“Gamsahamnida.”
Aku cepat-cepat berdiri dari kursiku dan menanti mereka di pintu masuk. Tiga tahun, akhirnya aku bertemu dengannya. Entah seperti apa dia sekarang. Aku sengaja tidak menghubungi kyuhyun. Kurasa…tidak akan baik jika dia bertemu dengan sooyoung di saat dia sudah memiliki seorang tunangan. Kulihat sebuah mobil sampai. Yeoja itu keluar dari mobilnya, mengenakan dress putih dan jaket kulit
“Kris!” panggilnya
“Sooyoungie?!”
Aku memeluknya
“Bogoshipo.”
“nado.”
“Yaa! Kau kemana saja hah! Tidak memberi kabar. Dasar bos sombong,” ledekku
“Mianhae. Banyak hal yang harus kuurus.”
“Annyeonghaseyo, ajjeosi.”
“ne, annyeonghaseyo, kris.”
“Silakan masuk, makan malam spesial sudah disiapkan untukmu, tuan putri.”
“Gomawo.”

————————————

~Sooyoung POV~
Hari sudah malam. Aku tidak bisa tidur. Hotel ini memang indah. Tapi.. pikiranku kacau. Aku melangkahkan kaki keluar kamar. Menuju ke lobby. Setibanya di sana, kulihat seorang namja yang kukenal memainkan grand piano hitam itu. Aku berdiri di sampingnya sambil mendengar musik itu. Tiba-tiba dia berhenti
“Kenapa berhenti?” tanyaku
“Kenapa cinderella masih berkeliaran jam 12 malam? Bukankah sepatu kacanya akan hilang?”
Aku tersenyum kecil dan duduk di sampingnya
“Sepertinya lagu itu asing,” ujarku
“Ne. Itu ciptaanku.”
“Jinjja?”
Dia mengangguk
“Untukmu.”
Seketika aku terdiam mendengarnya
“Untukku?”
“Ne.”

~Hyuna POV~
“Sayang sekali. Padahal tunanganmu sangat tampan. Mapan pula.”
Aku mengangguk kecil
“Awalnya, aku menerima pertunangan itu agar appaku tidak melakukan ide anehnya untuk memberikan hartanya untuk sosial. Tapi seiring berjalannya waktu, kurasa menikah dengan namja setampan itu bukan hal yang buruk.”
“Kurasa juga begitu.”
“Sayangnya.. dia sulit untuk move on dari mantannya.”
“Mantan?”
“ne. Dia seperti berpacaran dengan hantu. Tidak melihatku yang jelas-jelas tunangannya. Memangnya apa kurangnya aku dibanding yeoja itu?”
“Dia yang berpacaran dengan hantu..atau kau yang bertunangan dengan hantu?”
“Maksudmu?”
“Kau menyukainya. Padahal dia tidak melihatmu.”
Aku melempar bantal ke arah Jihyun
“Menyebalkan.”

—————————————-

~Sooyoung POV~
“Gamsahamnida, sajangnim.”
“Ne.”
Setelah sekretarisku pergi, aku menyandarkan punggungku ke kursi. Hari ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku sangat malas untuk melakukan apapun. Tidak seperti biasanya.  Aku memejamkan mataku dan mengusap dahiku pelan. Penat.
“Permisi sajangnim,” ujar seorang namja di sampingku
“Ne. Taruh saja berkasnya di meja.”
“Yaa! Apa itu sikapmu pada tamu?”
“KRIS?”
“Tadinya..aku ingin mengajakmu pergi. Tapi kelihatannya kau tidak–”
“Ani. Jebal. Aku merasa sangat penat hari ini. Kaja.”
“Arra.”

~Kyuhyun POV~
Hari ini, aku terjebak di Lotte Dept store. Menemani yeoja bernama Hyuna itu belanja.
“Kenapa lama sekali? Hanya dress untuk makan malam kan?” protesku
“Hei. Aku harus tampil cantik di depan bumonimmu.”
“Mereka tidak akan peduli dengan bajumu.”
“Haish..kenapa namja selalu begitu?”
Setelah tiga puluh menit, dia mendapatkan sebuah dress.
“Bawakan untukku,” ujarnya
“Mwo?”
“Yaa! Kau tunanganku dan kau namja. Mana ada namja yang membiarkan tunangannya membawa belanjaannya?”
Aku terdiam sejenak. Sooyoung pernah mengatakan hal sejenisnya : “Mana ada namja yang membiarkan yeojachingunya membawa tas sendirian kecuali cho kyuhyun?” Aku menoleh ke arah yeoja itu. Seketika bayangan sooyoung terlintas di depanku. Aku membawakan tas belanjaan itu. Tiba-tiba tangannya bergelut di lenganku
“Aku harus membeli kutek yang cocok untuk baju ini.”
“Arra.”
“Kaja.”

~Sooyoung POV~
“Lihat. Yang ini cocok untukmu,” ujar kris sambil mencoba kutek itu di jariku
“Ne. Yeppeuda.”
“Agassi, tolong bungkuskan yang ini.”
“Ani, Kris. Biar aku yang–”
“Aku yang mengajakmu pergi, Nona.”
Aku tersenyum kecil sambil melihatnya ke kasir. Kris. Bagaimana bisa ada namja semanis itu? Dia sangat perhatian pada hal terkecil yang disukai oleh yeoja
“Ini.”
“Gomawo.”
“Ne. Kaja. Kita makan es krim,” ujarnya sambil menggandeng tanganku
“Ne.”
Saat keluar dari toko itu, aku berpapasan dengan seorang namja..yang paling tidak ingin kutemui. Aku tersenyum kecut melihat yeoja itu merangkul tangannya. Dia membawakan tas belanjaannya. Sejak kapan cho kyuhyun jadi semanis ini? Menemani yeoja berbelanja? Jangan bercanda. Dia menatapku dan hanya diam. Begitu pula aku.
“Annyeong, oppa,” sapa yeoja itu pada kris
“Annyeong, hyuna.”
“Apa..itu yeojachingumu?” tanya yeoja itu
“Ani..ini..”
“Sooyoung imnida,” ujarku padanya
“Hyuna imnida. Mannaseo panggapseumnida, sooyoungssi.”
Aku berusaha tersenyum sebisaku
“Apa dia tunanganmu oppa?” tanyaku pada kyuhyun. To the point. Dia hanya diam
“Ah..kau mengenal kyuhyun oppa? Ne. Aku tunangannya.”
Aku hanya diam dan menatap kyuhyun. Begitu pula dia. Sebagian dari diriku ingin menampar kyuhyun untuk menyadarkannya kalau kami sudah selesai atau marah padanya karena yeoja itu diperbolehkan merangkul tangannya di saat dia berkata ‘aku tidak mencintai yeoja itu’. Sebagian lagi ingin memeluknya dan berkata kalau aku cemburu melihat yeoja itu memperkenalkan diri sebagai tunangannya. Munafik.
“Hyuna, apa yang kau cari disini?” tanya kris
“Aku mencari kutek berwarna biru donker.”
“Ah. Sepertinya aku melihatnya di sana.”
“Baiklah..aku..ke sana dulu,” ujar yeoja itu lalu pergi bersama kris. Meninggalkan kami berdua berdiri mematung disini.
“Aku baru tahu kalau seorang cho kyuhyun bisa menemani yeoja berbelanja, membawakan barang-barangnya, dan bahkan membiarkan yeoja itu merangkul tangannya. Tapi yang lebih kubingungkan…itu disebutnya sebagai ‘bertunangan dengan hantu’. ”
“Youngie, ini tidak seperti yang–”
“Kau memuakkan.”
“Kau lebih memuakkan. Kau memutuskanku dengan tidak jelas. Memberiku secercah harapan dan setelah itu mengucapkan perpisahan. Sekarang, kau berjalan dengan Kris. Setahuku, choi sooyoung tidak pernah berjalan dengan seorang namja yang bukan namjachingunya. Sejak kapan mengajakmu berjalan-jalan menjadi semudah itu?”
Aku menatapnya tidak percaya. Dengan kata lain dia bertanya, kenapa kau semurah itu. Aku tidak bisa menahannya lagi. PLAK!
Tanganku menamparnya. Dia hanya diam. Memegang pipinya. Tak percaya kalau aku akan melakukannya
“Aku tidak percaya kalau pikiranmu sepicik itu.”
“Aku juga tidak percaya kau bisa menamparku.”
“Aku benar-benar membencimu,” ujarku lalu berjalan dengan cepat meninggalkannya. Air mataku menetes lagi. Entah untuk ke berapa kalinya.
“YOUNGIE!” kudengar kris memanggilku. Aku tidak menghiraukannya dan mempercepat langkahku. Berlari secepat mungkin. Klek.
“Ah..” aku memegang kakiku. Rasanya seperti terkilir. Persetan. Bagaimana bisa heelku patah di saat seperti ini.
“Youngie..gwaenchanha?”
Aku hanya diam. Menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan. Kris langsung memelukku. Membiarkanku menangis di pelukannya
“Kris…dia benar-benar brengsek.”
“Uljima. Dia tidak pantas untuk ditangisi.”

~Hyuna POV~
“YOUNGIE!” kudengar kris berteriak dan berlari begitu saja meninggalkanku. Aku menengok ke luar toko. Dia mengejar yeoja itu.
“Dia kenapa?” tanyaku pada kyuhyun
Dia hanya diam. Berjalan meninggalkanku. Seketika aku mengerti. Yeoja itu.. adalah choi sooyoungnya

~Kris POV~
Aku menggendongnya ke parkiran karena kakinya terkilir. Dia tertidur karena kelelahan menangis. Aku merebahkannya di jok mobil perlahan, kemudian duduk di sampingnya. Diam-diam, aku memperhatikan raut wajahnya yang kelelahan.  Kenapa dia harus kehilangan orang itu di saat dia kembali? Aku menghela nafas kecil
“Bisakah aku menggantikan posisinya di hatimu, youngie?”

———————————–

~Sooyoung POV~
“Hoek..”
Sudah kelima kalinya dalam hari ini. Aku merasa mual dan pusing. Kepalaku terasa berat. Padahal aku belum sarapan. Tapi perutku terus menekan segala sesuatu untuk dimuntahkan. Aku berjalan perlahan ke tempat tidur. Sepertinya aku terlalu memforsir pekerjaanku
Krek..kudengar pintu kamarku terbuka. Appa mendatangiku dan memegang dahiku
“Kau sakit?”
“Sepertinya hanya kelelahan.”
“Apa..mau appa panggilkan dokter?”
“Ani. Tidak perlu. Kurasa..beristirahat sehari sudah cukup.”
“Kau yakin?”
Aku mengangguk pelan
“Baiklah. Jangan beraktivitas dulu. Minta tolong pada pelayan jika kau mau.”
“Arraseo.”
Appa mengecup keningku
“Appa pergi dulu. Annyeong.”
“Ne annyeong.”
Aku menoleh ke nakasku. Berniat mengambil majalah yang bisa kubaca di sana. Seketika sebuah benda mengganggu pandanganku. Kalender. Kosong. Tidak ada coretan sama sekali. Tunggu dulu. Aku langsung menyambarnya dan membalik halaman sebelumnya. Aku telat sebulan. Memori di otakku kembali berputar. Kejadian itu… tidak. tidak mungkin.

~Kyuhyun POV~
Aku berada di kamarku. Hyuna, eomma, dan appaku sedang memilih desain pelaminan. Aku kurang tertarik membicarakannya. Mereka berencana menggelar pesta pernikahan enam bulan lagi. Entah kenapa mereka merencanakannya dari sekarang. Krek..pintu kamarku terbuka. Kris ada di sana. Dia masuk dan duduk di sampingku
“Kau yakin…akan menikah dengan hyuna?”
“Mollayo.”
“Kyu. Kusarankan, sebaiknya kau kuatkan komitmenmu. Menikah bukan masalah sehari pesta. Menikah adalah selamanya.”
“Aku tahu itu , hyung.”
“Apa yang kau bicarakan dengan sooyoung kemarin..sampai dia menangis?”
Aku hanya diam
“Dia mengataimu namja brengsek,” ujar kris
“Aku tahu. Dia sangat membenciku.”
“Kyu. Cepat atau lambat, dia pasti akan menerimanya. Hanya butuh proses. Yang jelas, kau harus ingat. Tunanganmu itu hyuna. Jangan sakiti dia, arra?”
Aku hanya diam. Kris beranjak dari tempatnya. Menepuk pundakku lalu keluar dari kamar. Aku memandang pintu yang tertutup itu sambil menarik nafas dalam
“Hyung, kau tidak tahu apa-apa.”

————————————-

~Sooyoung POV~
Untuk pertama kalinya, aku berbohong pada appa. Aku pura-pura sembuh di depannya,memakai seragam kantor dan berkata kalau aku baik-baik saja. Padahal aku tahu..aku tidak baik-baik saja. Aku berada di rumah sakit. Dugaan ini sangat menggangguku. Aku duduk di depan euisa sekarang. Memainkan tanganku dengan cemas
“Dimana suami anda?” tanyanya
“Ne?”
“Tidakkah anda ingin, dia mendengar kabar ini?”
“Dia..sedang sibuk,” bohongku
“arra.”
“Jadi…bagaimana hasilnya euisa?” jantungku berdetak keras. Lebih parah dibanding menaiki wahana ekstrim
“Chukkhae, anda mengandung satu bulan.”
Jedar. Tanganku bergetar. Perasaanku cemas. Bumi terasa hancur sekarang. Sret. Aku berdiri dari kursi dan langsung pergi dari ruangan. Berlari ke atas atap rumah sakit secepat yang kubisa. Srek. Aku membuka pintunya dengan keras. Memandang ke arah langit
“BODOH!”
Aku terduduk lemas di sana. Kau benar-benar lemah dan bodoh, choi sooyoung.
“Shireoyo….”
Aku memukulinya dengan lemas. Kakiku terasa mati. Aku takut. Takut menghadapi semuanya sendirian. Takut mengecewakan appa. Takut pada diriku sendiri karena tidak bisa menjaganya. Bayangan mengenai kyuhyun dan yeoja itu terus menggangguku. Aku tahu ini juga merupakan dampak dari kebodohanku. Tapi rasanya sangat klise jika aku datang dan meminta pertanggungjawabannya di saat aku lah yang memutuskannya. Apalagi setelah dia mencapku seperti itu karena kris. Aku melangkahkan kaki ke pinggir. Melihat ke bawah. Sangat tinggi. Kaki dan tanganku gemetaran. Aku memejamkan mataku. Aku tahu aku sangat berdosa jika aku melompat dari sini. Tapi.. ini semua terlalu berat untuk kujalani sendirian. Aku tidak bisa mengecewakan appa dengan berita ini. Aku tidak bisa membesarkannya sendirian, tapi aku juga tidak mau disebut sebagai orang ketiga dalam pertunangan mereka. Kyuhyun membenciku. Aku tahu itu. Akulah yang membuat luka itu. Dan seharusnya aku lebih pintar untuk memperkirakan kemungkinan terburuk. Aku melangkahkan satu kakiku ke sana. Tiba-tiba kudengar seseorang berteriak
“JANGAN!”
Aku menoleh ke kiri. Kulihat seorang ‘yeoja’ di sana. Memakai pakaian rumah sakit.
“KENAPA KAU MENGHALANGIKU HAH?! BIARKAN SAJA AKU MATI DARIPADA MENANGGUNG INI SEMUA!”
“Apa menurutmu..masalahmu selesai dengan bunuh diri?”
“Ne. Aku tidak perlu melihat appaku kecewa karenaku. Aku tidak akan disebut sebagai penghancur pertunangan orang lain. Dan anak ini tidak perlu merasa tersingkir. Kau tidak akan memahami perasaanku!”
“Kau akan mati, tapi kau akan menjadi roh sepertiku. Kau masih bisa melihat appamu kecewa saat melihatmu bunuh diri. Kau akan melihat namjamu terluka karena kau bunuh diri karena anaknya. Dan anakmu tidak bersalah. Dia hanya korban. Kenapa kau mencabut nyawanya secara sepihak?”
Kakiku melemas. Aku terduduk di lantai. Menangis di depan ‘yeoja’ itu
Sooyoungssi,” panggilnya pelan padaku
“Darimana…kau tahu namaku?”
Kau pasti lupa. Saat kau koma disini, kau mengobrol denganku. Kau bilang, kau kasihan melihat para roh yang ingin memanggil tapi tak didengar. Lalu kau bilang, kau ingin hidup dan meneruskan masa depanmu apapun yang terjadi. Bahkan, kau berjanji akan membantu orang-orang yang membutuhkanmu bila kembali.”
Aku terdiam sejenak. Koma..
“Aku sama sepertimu,” ujarnya
“N..ne?”
Disini, akupun membunuh diriku dengan melompat karena namjachinguku tidak ingin bertanggung jawab. Aku sangat menyesalinya. Kau tahu, hidupmu masih panjang. Jangan berpikir kau akan bahagia. Kau akan dihantui rasa bersalah pada keluargamu, namjamu, dan anakmu. Dia tidak bersalah. Dia hanya hadir di saat yang kurang tepat”
Aku mengusap perutku perlahan. Kulihat yeoja itu tersenyum
“Kau tahu, menjadi seorang ibu adalah hal yang paling membahagiakan. Apapun situasinya.”
Seketika bayangan eomma terlintas di kepalaku. Eomma… dia berada di posisi yang sama sepertiku. Tapi dia memutuskan untuk bertahan..
“Kau hidup karena eommamu bertahan. Begitu pula seharusnya kau memberikan kesempatan bagi anakmu.”
Dia tersenyum lalu menghilang. Meninggalkanku sendirian di sini. Aku menggigit bibir bawahku. Bodoh. Kenapa aku bisa terpikir untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri? Tidakkah aku melihat para roh ingin hidup dengan mataku sendiri? Aku memejamkan mataku. Membiarkan air mataku jatuh sepuasnya
“Maafkan eomma, sayang.”
Aku mengusapnya perlahan. Untuk sementara ini…biar aku saja yang tahu..kalau kau ada disini

—————————————

~Kris POV~
“Bersulang untuk The Pasific.”
Aku tersenyum dan meminum wine itu. Hari ini adalah hari ulang tahun The Pasific Hotel. Aku mencari sosoknya di tengah kerumunan. Kulihat dia duduk di kursi, berbalut dress putih dan sepatu flat yang senada
“Cheers?” tanyaku sambil memberikan segelas wine untuknya
“Aku bukan peminum yang baik.”
“Gwaenchanha. Sedikit saja,” bujukku
“Ani. Aku..benar-benar tidak kuat minum kris.”
“Arra.”
Aku meletakkan gelas itu di meja
“Penampilanmu berbeda hari ini.”
“Ne?”
“Tidak biasanya seorang choi sooyoung memakai flat shoes.”
“Ah..itu.. aku takut terkilir lagi jika memakai high heels.”

~Kyuhyun POV~
“Kalian terlihat serasi.”
“Ne, kami berencana menikah bulan depan.”
“wah! Itu sangat bagus.”
Aku tidak menghiraukan pembicaraannya.Mataku terus tertuju pada dua orang itu. Kris dan Sooyoung. Sejak kapan mereka seakrab itu?
“Bukan begitu kyu ah?”
Aku melihat sooyoung dengan heran. Penampilannya memang masih modis. Tapi tidak seperti biasanya. Setahuku, dia tidak pernah memakai flat shoes. Bahkan dia pernah bilang, kalau sepatu itu tidak nyaman untuknya.
“Kyu?”
“Ah. Ne.”

~Kris POV~
Srek. Kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak obat kecil dan meminumnya. Aku terheran melihatnya
“Kau..sakit?”
“Ah..ini vitamin.”
“Vitamin?”
“Ne. Aku..akhir-akhir ini sering lembur.”
“Arra.. Kau menyetir?”
Dia menggeleng
“Kalau begitu..bagaimana kalau aku yang mengantarmu pulang?”
“Apa tidak merepotkan?”
“Ani.”

~Hyuna POV~
“Sudah sampai,” ujarnya seolah mengusirku untuk cepat turun.
Aku menoleh ke arahnya. Dia memandangku dengan bingung
“Tidak turun?”
Aku mendekatkan wajahku padanya. Berniat menciumnya. Tiba-tiba dia menghentikannya
“Waeyo?” tanyaku
“Mianhae, hyuna. Aku..tidak bisa.”
“Cho Kyuhyun, kau adalah tunanganku. Dan sebulan lagi, kau adalah nampyeonku,” aku mengingatkannya
“Mian. Tapi aku tidak bisa mencium yeoja yang tidak kucintai.”
“Sebenarnya apa yang kurang dari diriku, kyu?” tanyaku
Dia hanya diam
“Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mendekatimu. Tapi kau–”
“Kau bukan dia. Itu kekuranganmu. Dan selamanya tidak ada solusinya.”
“Kau–”
Aku membuka pintu mobil dan membantingnya. Kulihat dia pergi begitu saja
“Namja tak berperasaan.”
Aku mengepalkan tanganku. Seberapa hebat yeoja itu?

——————————

~Kris POV~
“Gomawo, kris. Sudah mengantarku.”
“Ne. annyeong.”
Dia turun dari mobil dan melambaikan tangan padaku. Aku menyetir pulang ke rumahku. Choi Sooyoung. Kenapa semakin hari yeoja itu semakin manis? Aku tersenyum kecil.
“Sowoneul malhaebwa~”
Aku menoleh ke samping. Tasnya tertinggal. Haish..tidak berubah. Masih saja ceroboh. Aku membuka tasnya. Kulihat penelponnya dari nomor tak dikenal. Berarti..tak masalah kalau aku mengangkatnya
“Selamat malam, Nyonya Choi. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa besok adalah jadwal kontrol kandungan anda,” ujar orang itu
“N…NE?!”
“Ah, Joesonghamnida. Anda nampyeonnya?”
“Ah….ne?”
“Saya perawat Han dari rumah sakit Seohan. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa besok adalah jadwal kontrol kandungan Nyonya Choi dengan dokter Lee. Janjinya adalah jam 10 di ruang 3.”
“Arrayo.”
Klik. Aku mematikan cellphonenya. Jantungku berdetak kencang. Otakku masih belum mengerti semuanya. Jadwal..kandungan? Aku membuka tasnya. Vitamin ini…dari rumah sakit Seohan. Kulihat ada sebuah resep di sana.
“Dokter Lee Jiwon spesialis kandungan.”
Aku terdiam membacanya. Mustahil..

——————————

~Sooyoung POV~
“Anda harus banyak beristirahat. Jangan terlalu diforsir. Saya akan memberi vitamin untuk menjaga antibodi anda. Makanlah yang teratur.”
“Ne, sonsaengnim. Gamsahamnida.”
Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Berjalan ke apotik. Tiba-tiba seseorang menahan tanganku
“Lepas–”
Aku terdiam melihat kris di sana. Dia menatapku dengan tegas dan menuntut. Aku tidak pernah melihatnya seserius ini. Dia memberikan tasku yang tertinggal di mobilnya
“Apa appanya adalah kyuhyun?”
Aku hanya diam dan merebut tasku
“Kau tidak berhak membongkar isi tasku!”
“Katakan padaku choi sooyoung. Apa Cho Kyuhyun adalah appanya?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Kau membiarkan mereka menikah di saat kau hamil anaknya? Apa kau gila hah?!”
Aku menggigit bibir bawahku
“Aku tidak ingin disebut sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka, kris.”
“Hyuna lah orang ketiga dalam hubungan kalian!”
“Ani. Ini semua memang karena kebodohanku. Jadi kumohon jangan ikut campuri urusanku.”
“Ini tidak benar, soo.”
“Aku adalah eommanya. Jadi aku berhak memutuskan.”
“Soo-”
“BISAKAH KAU MENGERTI PERASAANKU, KRIS? Aku terlalu pusing untuk memikirkan semua ini. Bisakah kau tidak menambahnya lagi? Aku sudah merasa sangat terbebani dengan perasaan serba salah, berbohong pada appaku, bersembunyi dari kyuhyun, dan berdosa pada diriku sendiri. Apa kau mengerti kris?”
Dia hanya diam dan memelukku. Mengusap kepalaku perlahan
“Mianhae.”

————————————

~Kyuhyun POV~
“Ini desainnya. Apa kau menyukai desain panggung ini?” tanya eomma
“Ne,” ujarku datar. Jujur, aku tidak merasa excited dengan ini semua. Padahal pernikahanku tinggal dua minggu lagi. Aku menatap nanar undangan yang sudah disebar itu. Aku bukan anak kecil yang bisa lari lagi. Dia berubah. Dan aku harus mencoba berubah juga untuk terus melanjutkan hidupku.
“Kau yakin, mau menikah dengannya?” tanya kris
“Kenapa kau betanya seperti itu?” tanya appa
“Ne. Kenapa kau bertanya seperti itu, kris?” tanya eomma
“Pikirkan itu sebelum kau menyesal, kyu,” ujarnya lalu pergi
Aku menatapnya menjauh. Jujur. Aku tahu kalau aku akan menyesal jika meneruskan ini, kris. Tapi semuanya terlambat.
“Besok, pergilah ke bridal bersama hyuna. Kalian harus melakukan fitting terakhir baju pengantinnya.”
“Ne.”

—————————————–

~Sooyoung POV~
“Strawberry Juice. Spesial buatan Kris,” ujarnya sambil menaruh segelas jus di atas meja kerjaku
“Kenapa kau–”
“Apa nona ini tidak mengingat pesan dokter hah? Kau harus makan makanan yang bergizi.”
“Arra, euisa.”
“Apa ada yang ingin nona makan?”
“Hm… kentang goreng.”
“Kaja.”
“Ne?”
“Sekarang jam makan siang. Jangan terlambat makan.”
Dia menarik tanganku. Aku tersenyum melihatnya. Tuhan..bagaimana bisa ada namja sebaik dia?

~Kyuhyun POV~
“Apa menurutmu aku terlihat cantik?”
Aku hanya diam melihatnya memakai wedding dress itu. Pertanyaan kris mengusikku. Apa kau yakin akan menikah dengan yeoja itu? Aku terdiam sejenak. Bayangan yang terlihat di mataku justru bagaimana choi sooyoung mengenakannya.
“Hm,” akhirnya hanya itu yang bisa kujawab.
“Gomawo.”
Hyuna kembali untuk mengganti bajunya. Aku masih duduk diam. Melihat ke luar jendela. Musim gugur. Aku tidak yakin akan menikah sebentar lagi dengan yeoja itu. Saat kami berjalan keluar dari bridal, kudengar hyuna berteriak
“Kris oppa!”

~Sooyoung POV~
“Gomawo, kris!”
“Ne. Ada lagi yang ingin kau makan?”
Aku menggeleng
“Aku harus kembali ke kantor.”
“Arra. Kaja,” kurasakan dia merangkulku. Hangat. Awalnya begitu. Hingga kudengar seseorang berteriak di belakang kami
“Kris oppa!”
Saat aku menoleh, aku mendapati namja itu dan tunangannya. Tuhan. mengapa?
“Hyuna. Annyeong,” ujar kris santai
“Annyeong,” ujarnya
Aku hanya tersenyum kecil. Kulihat kyuhyun berjalan dari depan toko bridal
“Kalian dari bridal?” tanyaku
“Ne. Fitting terakhir,” ujar hyuna
Kyuhyun hanya diam dan menatapku. Aku benci tatapan itu. Tatapan yang selalu dia berikan untuk memohon padaku.
“Kaja, kris. Kita pergi,” ujarku
“arra. Kami..pamit ya. Annyeong!”
“Ne annyeong!”
Aku berjalan dengan cepat. Kurasakan setetes air mata jatuh lagi. Kenapa eomma selemah ini baby?
“Hei, sudah berapa kali aku bilang. Jangan menangis untuknya.”
“Kris…”
Kali ini aku memeluknya. Aku membutuhkannya. Aku tidak kuat melihat mereka. Cho Kyuhyun. Demi apapun aku sangat membencimu. Dia sangat jahat, baby. Bagaimana bisa dia akan menikah enam bulan lagi di saat aku harus menjadi single mother?
“Sooyoung, dengarkan aku.”
Aku hanya diam. Mencoba mendengarnya
“Bisakah aku menjadi appanya?”
Aku terdiam mendengarnya. Dia..serius dengan ucapannya?
“Bisakah aku, sooyoung ah? Aku berjanji. Aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku tidak akan menyakitimu, seperti yang dia lakukan. Aku akan membahagiakan kalian. Bisakah, youngie?”
“Kris..aku..”
“Katakan, kau mencintaiku. Dan kita akan mengawali semuanya. Bisakah?”
“Aku..”
Bibirku terasa kelu. Rasanya terlalu sakit untuk membohongi perasaanku sendiri. Kris terlalu baik untuk kulibatkan dalam masalahku. Dia…
“Aku tidak bisa, Kris. Maafkan aku.”
“Youngie..”
“Kris.. kau pantas mendapatkan yeoja yang lebih baik.”
“Apa ini karena kyuhyun?”
Aku hanya diam
“Apa kau masih mencintai namja itu?”
“Selamanya, Kris. Dia adalah appa dari anakku dan aku tidak bisa memungkiri hal itu. Dia memang namja brengsek. Tapi aku mencintainya, lebih dari yang aku tahu.”
“Tapi anakmu…”
“Selamanya, appanya hanya Cho Kyuhyun.”
Kris tersenyum kecil. Memelukku. Helaan nafasnya bisa kudengar jelas
“Mianhae, Kris. Kau terlalu baik untukku.”

———————————–

~Kris POV~
Aku terdiam dan melihat langit-langit kamarku. Ini semua menggangguku.  Awalnya aku berpura-pura tidak mendengar apapun karena aku yakin, lambat laun dia akan mencintaiku. Tapi aku bukan orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Aku tahu sooyoung masih mencintainya dan dia mengandung anaknya. Dan aku juga tahu kalau kyuhyun berada di posisi yang sangat sulit sekarang; antara cinta dan keputusan. Aku melihat ke arah kalender. Pernikahannya tinggal sebentar lagi. Kurang dari 12 jam. Sekarang sudah jam 1 pagi. Aku tidak bisa menahan fakta ini sendirian. Semuanya terserah namja itu.

———————————

~Kyuhyun POV~
Aku terdiam di kamarku. Menatap diriku yang mengenakan tuxedo di cermin. Aku tahu ini tidak benar. Aku tidak bisa menikah dengan yeoja itu. Bayang-bayang sooyoung selalu menghantuiku. Aku tidak bisa memungkiri kenyataan kalau aku masih mencintai yeojaku. Aku kesal melihatnya bersama Kris. Aku kesal melihatnya menjauhiku. Dan aku… merindukannya ada di sampingku sebagai shelternya. Krek..pintu kamarku terbuka pelan. Kris di sana
“Aku sangat iri padamu, Kyu. Berkali-kali aku mencoba berada di sisinya, meyakinkannya, membahagiakannya, semua itu tidak ada artinya jika bukan kau yang melakukannya. Berkali-kali aku mencoba menggantikan posisimu baginya, semuanya sia-sia.”
“Hyung–”
“Katakan padaku dengan jujur. Apa kau masih mencintai Choi Sooyoung?”
Aku terdiam sejenak. Pertanyaan itu. Tanpa kujawab pun sudah jelas jawabannya. Meski yeoja itu berubah. Meski dia mungkin memilih kris sekarang. Dia tetap choi sooyoung yang membayangiku. Bahkan ketika aku melihat yeoja lain. Yang terbayang hanya senyuman dan matanya.
“Ne. Bahkan lebih dari yang kutahu. Kau tahu hyung, aku mencoba melupakan yeoja itu dengan berbagai cara. Tapi semuanya gagal. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku merindukannya. Aku…tidak bisa melepaskannya.Tapi–”
“Sooyoung mengandung anakmu.”
Aku terdiam. Entah kenapa sebagian dari diriku kaget mendengarnya. Dan sebagian lagi ingin lompat keluar jendela sekarang untuk menemuinya.
“N..ne?”
“Kau punya waktu yang terbatas untuk kabur. Cepatlah pergi sebelum appa dan eomma keluar dari kamar. Aku akan mengatur semuanya.”
“Hyung–”
“Aku tidak melakukan ini untukmu. Tapi untuk yeojaku yang tidak bisa berpaling darimu.”
Aku tersenyum dan memeluknya
“Gomawo.”
“Chukkhae. Jaga dia baik-baik. Atau kau akan menyesal karena aku adalah orang pertama yang akan merebutnya.”
“Tidak akan.”

—————————————

~Sooyoung POV~
“Euh..”
Aku masuk ke kamarku. Wajahku sangat pucat. Perutku benar-benar mual. Aku melihat ke arah kalender. Hari ini..hari pernikahan kyuhyun dan yeoja itu. Aku melihat diriku di cermin. Bodoh. Aku benar-benar manusia terlabil abad ini. Aku tidak ingin memposisikannya dalam bahaya. Aku ingin dia mendapatkan yeoja yang lebih baik. Faktanya, aku tidak rela melepaskannya. Bodoh. Padahal sebagian dari diriku ingin menghancurkan pernikahan itu dengan alasan aku mengandung anaknya. Tapi sebagian lagi terlalu takut untuk melakukannya.
“Eomma terlihat memprihatinkan.”
Aku mengusap wajahku perlahan. Sangat pucat dan menyedihkan. Cho Kyuhyun adalah penyebab semuanya. Appa sedang pergi. Menghadiri pernikahan itu. Pernikahan paling terkutuk bagiku. Seketika, kulihat bayangan seorang ‘yeoja’ di sebelahku. Wajahnya hancur dan tangannya mengerut
“KYAAAAAAA!!!!!!! PERGI!!!”
Aku berusaha berlari darinya. Dia mengikutiku. Aku mundur ke tempat tidurku. Dia tetap mengikutiku
Sebaiknya kau pergi daripada menderita.”
“HENTIKAAANN!! PERGI DARI KAMARKU!”
“Cepat atau lambat appamu akan tahu. Dan namjamu akan menikah. Kurang dari 2 jam.”
Aku menutup telingaku dengan bantal dan memejamkan mata
“JEBAL! TINGGALKAN AKU!”
“Kau takut? Kau kehilangan sheltermu”
Aku berdiri dari tempat tidurku dan melempar barang padanya. Dia mengejarku dengan sangat cepat
“A..h..” kurasakan perutku sakit.
“Kau tidak bisa berlari. Kau bisa membunuh bayimu”
Aku terdiam dan memejamkan mata. Aku tidak kuat kabur darinya lagi. Dia semakin mendekat. Tuhan..tolong aku. Wajahku mengeluarkan keringat dingin
“Jebal..pergilah dariku..”
“Kau–“
Sret. Kurasakan seseorang memelukku. Seketika yeoja itu menghilang. Aku terdiam sejenak. Wangi ini.. Tubuh ini.. Deru nafasnya.. Seketika aku mengenalinya. Tidak. Apa aku berhalusinasi karena ketakutan?
“Bodoh,” aku nyaris menitikkan air mata saat mendengar suara itu. Aku memeluknya perlahan. Tidak pernah terasa senyaman ini
“Aku tidak akan melepaskanmu dan anak kita lagi. Tidak akan.”
Seketika aku terdiam mendengarnya. Aku melepaskan pelukanku perlahan. Dia memegang wajahku. Matanya teduh dan tenang. Dia menatapku dengan lega. Aku masih tidak percaya melihatnya berdiri di depanku. Cho Kyuhyun. Dengan tuxedo. Bahkan tangannya memakai sarung tangan putih. Groom.
“Syukurlah kau baik-baik saja.”
Tidak sooyoungie. Kau tidak boleh menangis di depannya
“Kenapa…kau disi–”
“Kenapa kau sembunyikan?”
Aku hanya diam. Aku tahu dia tidak bodoh dan akan menyadarinya dengan lebih cepat
“Kau marah?” tanyaku pelan
“Ani. Tapi aku kesal karena Kris mengetahuinya duluan.”
“Aku tidak memberitahunya. Kris yang membongkar tasku.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” bisiknya pelan
“Aku tidak ingin menjadi penghancur pertunanganmu dengan hyuna. Aku tidak ingin terus menjadi yeoja aneh yang membuatmu dalam bahaya. Aku–”
“Kami hanya dijodohkan. Dan aku tidak mencintainya”
“Tapi kyu–”
“Aku tidak peduli pada perkataan orang lain. Mereka hanya figuran yang tidak tahu apa-apa. Yang penting adalah kebahagiaanmu, dan kita.”
“Kau tidak bisa kabur dari pernikahanmu seperti ini. Kau akan mempermalukannya.”
“Lalu kenapa? Siapa yang peduli? Aku sama sekali tidak punya minat dalam pernikahan itu. Lagipula kau. Kenapa kau sangat bodoh hah? Bisa-bisanya mengira aku menyukai gadis itu.”
“Karena kau tidak pernah menemaniku belanja, membawakan barang-barangku, dan membiarkan tanganku bergelut di lenganmu saat kita berjalan-jalan.”
“Kau cemburu?”
“Ne.”
“Dia yang menyuruhku.”
“Itu salahmu. Kenapa kau mau disuruh yeoja itu?”
“Hwanajima. Aku terpaksa membawakannya karena dia yeoja manja yang akan menjadi berisik jika kemauannya tidak dituruti.”
“Arra. Kalau begitu aku akan menjadi seperti itu juga agar kau menuruti keinginanku.”
“Kau tidak perlu menjadi manja. Aku akan menuruti semua keinginanmu tanpa terkecuali.”
“Tanpa terkecuali?”
“Kecuali yang aneh.”
“A..h..”
“Kenapa?”
“Perutku sedikit sakit.”
“Mana yang sakit? Disini?” dia memegang perutku
Aku tersenyum melihat raut wajahnya berubah menjadi khawatir
“Yaa! Kau membohongiku?”
Aku berjinjit dan mencium pipinya dengan cepat
“Bogoshipo.”
“Salahmu sendiri. Siapa suruh membohongiku.”
Seketika aku tersadar. Mengenai ‘mereka’
“Aku–”
“Choi Sooyoung. Dengarkan aku. Aku tidak peduli kau masih bisa melihat mereka atau tidak. I’m your home.”
“Kau tidak masalah, menikah dengan yeoja aneh yang bisa berlaku aneh jika dia meminum wine dan bisa berteriak saat dia melihat sesuatu yang tidak kau lihat?”
“Dia tidak aneh. Dia unik. Dan aku mencintai yeoja itu dengan segala keunikannya itu.”
“Bagaimana kalau aku membuatmu dalam bahaya lagi karena kebodohanku?”
“Aku akan selalu memegang tanganmu seperti ini. Jadi kau tidak akan diganggu oleh mereka.”
Aku tersenyum memandang tangan kami. Hangat.
“Kau jadi lebih pendek karena tidak bisa memakai heels.”
“Ish..”
“Matamu seperti panda. Sudah berapa hari kau tidak tidur?”
“Seabad.”
“Baiklah. Kurasa sudah saatnya kau tertidur saat pangeran menciummu.”
“Kau membalik dongengnya.”
“Sedikit.”
Dia menyelimutiku dan memegang tanganku. Aku menatapnya yang duduk di lantai
“Jangan tidur di sana.”
“Memangnya aku boleh tidur di sebelahmu?”
Aku mengangguk kecil. Dia berbaring di sebelahku. Memegang tanganku. Menaruhnya di pipinya
“Mianhae,” ujarnya pelan
“Untuk?”
“Karena aku berkata kasar padamu. Saat itu aku sangat cemburu. Kau memutuskanku dan kris–”
“Kami tidak punya hubungan spesial. Kami hanya sahabat. Kau tahu itu kan?”
Dia mengangguk kecil
“Kau tahu. Aku marah karena aku takut.”
“Aku tahu.”
Dia memejamkan matanya dan memelukku.
“Mianhae. Karena aku membuatmu marah dan tidak memberitahumu. Karena aku tidak ingin menyulitkan posisimu. Kau tahu, aku benar-benar merasa labil dan munafik. Padahal aku tidak rela melepasmu, tapi aku berpura-pura seolah-olah kau tidak berarti sama sekali. Padahal aku ingin kau bahagia bersama gadis lain. Tapi faktanya, aku malah membuatmu kabur dari pernikahanmu. Kurasa…mereka semua akan sangat marah pada kita.”
Dia merapatkan pelukannya
“Aku tidak peduli. Dan kau tenang saja karena kita akan menghadapi ini berdua.”
“Kita seperti pencuri.”
“Kau benar.”

~Hyuna POV~
Aku menunggu di ruanganku dengan gelisah. Sudah mundur 3 jam. Dia tidak kunjung datang. Apa dia sudah gila hah? Kemana perginya namja itu? Kulihat pintu ruanganku terbuka. Asistenku masuk ke dalam
“Bagaimana?”
Dia hanya diam
“YAA! Jawab! Bagaimana? Dia sudah datang?”
“Joesonghamnida, nona. Kami tidak bisa menahan para tamu. Mereka semua sudah pulang.”
“M….mwo?”
“Dan..Tuan Muda Cho..menghilang. Tidak seorangpun tahu dia di mana.”
“Namja brengsek!”umpatku sambil melempar buket itu. Bisa-bisanya dia mempermalukanku.

~Donghae POV~
Aku sampai di rumahku. Benar-benar konyol. Pernikahannya dibatalkan. Desas-desusnya, pengantin pria menghilang. Aku melangkahkan kaki ke kamar youngie. Saat aku berniat membuka pintunya.. krek. terkunci. Tidak biasanya dia mengunci pintu kamarnya
“Youngie?”
Aku mengetuk pintu. Tidak ada suara. Apa dia tidur?

~Kyuhyun POV~
“Youngie?” kudengar appanya memanggil dari luar pintu. Aku mengerjapkan mata perlahan. Kulihat dia masih tertidur di sebelahku. Tangannya masih meremas tanganku dengan erat. Aku tersenyum dan merapikan helai rambut yang menutupi wajahnya. Aku melihat ke arah ponsel. Seratus missed call dan sepuluh pesan. Aku tersenyum kecut. Baik. Aku dalam bahaya. Kulihat ada panggilan masuk. Dari appa. Aku menarik nafas dalam dan mengangkatnya
“Yeobose–”
“YAA! CHO KYUHYUN KEMANA SAJA KAU HAH! APA KAU SUDAH GILA?! BAGAIMANA BISA KAU PERGI TANPA KABAR? KAU BENAR-BENAR MEMPERMALUKAN KAMI!”
Aku menjauhkan cellphone itu. Baik. Aku tidak pernah mendengarnya semarah ini
“Katakan. Dimana kau sekarang?”
Aku hanya diam. Melihat ke arah yeojaku yang tertidur dengan pulas
“Mianhamnida appa. Aku tahu kalau aku berbuat kesalahan besar.”
“NE SANGAT BESAR!”
“Tapi aku punya alasan appa.”
“MWO?”
“Aku..tidak bisa menikah dengan yeoja yang tidak kucintai.”
“Kyuhyun. Dengarkan ini baik-baik. Aku dan eommamu–”
“Aku tahu kalau appa dan eomma tidak menikah karena saling mencintai.”
Dia hanya diam
“Oleh karena itu, aku tidak mau menikah dengan Hyuna. Aku tidak mau anakku merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. Dan aku tidak ingin yeojaku mengalami hal yang sama seperti ibu tiriku. Appa mengerti maksudku kan?”
“Tapi kyuhyun, tidak begini caranya. Seharusnya kau menolaknya sejak awal jika memang–”
“Itu teorinya appa. Praktiknya beda. Awalnya aku menerimanya. Tapi…aku tidak bisa kehilangan yeojaku, appa.”
Appa tidak bersuara
“Kau membuat Hyuna dan keluarganya marah besar.”
“Aku tahu.”
“Jika kau namja, selesaikan masalahmu, kyu ah. Katakan. Dimana kau sekarang.”
“Aku ada di kediaman keluarga Choi.”
“M…MWO?”

———————————–

~Sooyoung POV~
“Ne appa, annyeong.”
Aku mendengarnya mengucapkan itu. Aku mengerjapkan mataku perlahan. Mengusapnya dan menguap kecil
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya sambil mencium keningku
“Ne. Sangat.”
Dia tersenyum. Kulihat tanganku masih memegang tangannya
“Appamu…menelpon?” tanyaku hati-hati
“Ne. Dia akan kesini sebentar lagi.”
Kulihat tangannya berkeringat. Wajahnya terlihat khawatir
“Kau takut dia marah?” tanyaku
Dia menggeleng
“Aku sudah tahu dia akan marah. Dia sudah mengeluarkan semuanya di telepon. Tapi aku takut.. dia membentakmu.”
Aku tersenyum dan memegang wajahnya
“Kita akan menghadapinya berdua. Untuk apa takut?”
Dia memegang tanganku
“Kalau appa tidak menyetujui kita, bersediakah Anda, Choi Sooyoung untuk saya culik ke New York?”
“Kau sudah gila.”
“Ne. Karenamu.”

~Donghae POV~
Aku duduk dan menatap mereka berdua dengan tajam. Begitu pula orang tua kyuhyun. Aku menghela nafas dan mengusap jidatku. Ini benar-benar memusingkan.
“Jebal, appa,” ujar sooyoung
“Appa,eomma, kumohon.”
“Aku masih tidak bisa mengerti ini. Kyuhyun. Kau kabur dari pernikahanmu. Kau harus punya alasan untuk melakukannya,”ujar nyonya cho
“Mengenai itu–”
“Aku tidak bisa menerima pernikahan ini,” ujarku
“Appa!!!” protes sooyoung
“Ini terlalu terburu-buru,” ujarku
“Ne. Aku sependapat. Bagaimana bisa kau langsung menikah dengan yeoja lain, di saat kau baru meninggalkan pernikahanmu dengan Hyuna. Apa kau pikir menikah semudah itu?” tanya tuan cho
“Tapi appa–”
“Ini terlalu terburu-buru. Aku tahu kalian sudah pernah menjalin hubungan yang relatif lama. Tapi kalian sempat break. Tiba-tiba kalian bersatu dan langsung ingin menikah. Mana bisa semudah itu? Bukan berarti ajjeosi tidak mempercayaimu, kyu ah. Tapi menikah bukan soal sehari dua hari. Tapi selamanya. Ajjeosi tahu kau adalah namja yang baik, pintar, dan bertanggung jawab. Umurmu pun sudah siap untuk membangun keluarga. Tapi masalah menikah dengan putri ajjeosi, itu terlalu cepat,” ujarku
“Saya sependapat. Sooyoung ah, kami tahu kau adalah yeoja berbakat, pintar, cantik, dan baik. Tapi menikah tidak semudah itu. Menikah bukan permainan. Ini masalah komitmen,” ujar nyonya cho
“Kesimpulannya, kami setuju kalian menjalin hubungan. Tapi tidak menikah secepatnya. Arra?” ujar tuan cho
Mereka berdua hanya diam. Saling memandang satu sama lain dengan cemas
“Memangnya kenapa kalian ingin buru-buru menikah hah?” tanyaku
“Kami–”
“Kami bisa menunggu, ajjeosi. Tapi anak kami tidak bisa.”
“M…MWO?!”
“A..pa..?” BRUK! Nyonya Cho jatuh pingsan
“YEOBO!!”

~Sooyoung POV~
Aku benar-benar ketakutan sekarang. Kami berdua duduk di depan appaku dan appanya. Aku memegang tangan kyuhyun daritadi.
“Kalian berdua benar-benar keterlaluan,” ujar appanya
“Jangan menyalahkan sooyoung soal hal ini appa. Karena yang salah adalah aku.”
“Ani..aku..juga bersalah.”
“Lalu apa alasanmu, kyuhyun?” tanya appaku
“Karena saya tidak mau melepaskannya.”
Aku terdiam mendengarnya. Dia..
“Tapi itu bukan jalan yang tepat,” ujar appanya
“Aku tahu, appa. Tapi aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku.”
Aku menatap appa. Kulihat dia hanya diam
“Aku menghargai keberanianmu.”
“Tuan Choi–”
“Anak ini sudah menjawabnya dengan jujur. Mereka saling mencintai, sudah lama menjalin hubungan, usia mereka sudah dewasa. Memang caranya salah. Tapi apalagi yang mau kita lakukan? Mencegat? Bisa saja kan, mereka kabur lalu menikah di luar negeri atau di luar kota.”
Aku menoleh ke kyuhyun. Itu bahkan ide gilanya kalau kami tidak disetujui
“Meski memang salah, kita juga harus menghargai keberanian dan niat anak-anak kita untuk mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab. Bukan begitu?”
“appa…”
Appa menepuk pundak kyuhyun
“Aku sudah memberimu kepercayaan untuk menjaga putriku yang paling berharga. Jangan sia-siakan, arraseo?”
“Ne, ajjeosi.”
“Mulai sekarang, belajarlah memanggilku appa.”
“Ne appa.”
Aku berdiri dan memeluk appa
“Gomawo appa”

——————————————

~Donghae POV~
Aku terdiam di kamarku.Mengusap wajahku perlahan. Aku meraih foto jessica
“Sica. Mengapa kita tidak bisa seberani itu dulu?”
Aku terdiam sejenak. lebih tepatnya : Mengapa aku tidak seberani itu dulu. Mengapa aku tidak seberani kyuhyun untuk kabur dari pernikahanku? Kalau saja aku melakukannya…mungkin kau masih ada disini, sica

~Kyuhyun POV~
PLAK! Hyuna menamparku dengan sangat keras
“Dasar namja brengsek! apa menurutmu kau setampan dan sesempurna itu hah? Aku juga tidak sudi menikah denganmu! Seharusnya aku yang pergi dari pernikahan itu kau tahu!”
“Mianhamnida, Hyuna. Kau pasti bisa menemukan namja yang lebih baik.”
“Tentu saja! Chukkhae atas pernikahanmu! Berbahagialah! Permisi!” ujarnya dengan ketus
Seketika aku tersenyum. tadinya kukira akan sangat sulit
“GOMAWO HYUNA!” ujarku
“DASAR NAMJA SINTING!”

——————————————-

~Sooyoung POV~
“Yang ini manis,” ujarku sambil menunjuk sebuah undangan. Pernikahan kami dilaksanakan dua minggu lagi. Tangan kyuhyun melingkar di pinggangku. Dia menoleh ke arahku
“Bagaimana kalau warna peach?”tanyaku
Dia mengangguk. “Aku akan menyetujui semua pilihanmu soal yang ini.”
Aku tersenyum dan memegang tangannya
“Tolong urus semuanya. Aku ingin undangannya selesai dalam waktu 3 hari,”ujarnya pada sekretarisnya
“Ne, algesseumnida.”
Rute selanjutnya adalah Bridal. Dia menolak ideku untuk membuat foto prewedding yang ekstrim : bersepeda di Nami Island. Aku memahami alasannya. Akhir-akhir ini dia menjadi overprotektif. Contohnya seperti sekarang
“Kau lelah?”
ini sudah ketiga kalinya dia menanyakan hal itu
“Ani. Persediaan bekal kita banyak. Kau seharusnya lebih takut jika aku lapar.”
Dia tersenyum dan menatapku sejenak
“Mianhae, kita tidak bisa mengadakan resepsi yang megah ataupun ramai.”
“Gwaenchanha. Aku mengerti. Lagipula aku tidak terlalu suka pesta. Aku lebih suka private wedding.”
“Kau jadi dewasa sekarang.”
“Kau juga.”

——————————————

~Kyuhyun POV~
“Yeppeuda!!” ujarnya sambil duduk di sofa. Aku duduk di sebelahnya. Menatap ke apartemen pribadiku. Dia menjadikan apartemen bergaya minimalis ini menjadi vintage. Wallpapernya diganti menjadi warna salem terang dengan motif bunga kecil yang manis. Peralatan di dapurku bertambah banyak. Mulai dari piring, mangkuk, alat makan, sampai mug kembar. Oven, tray pemanggang kue, mixer, juicer, dan lain-lain. Semuanya menjadi lengkap. Meja-meja berwarna hitam menjadi putih. Pajangan pesawat berganti menjadi bingkai foto yang manis. Bahkan ada bunga di ruang tamu. Buku-buku dan majalah yang berantakan kini tertata rapi di raknya.Kamarku pun ikut kena dampaknya. Gordennya berganti warna menjadi putih. Meja rias berdiri dengan manis di sudut kamar. Lemariku menjadi lebih besar. Peralatan di kamar mandi pun berubah. Ada tempat sikat gigi berbentuk mickey mouse. Ini semua adalah ulahnya. Dan anakku. Aku menatap ke arah kalender. Besok adalah hari pernikahanku. Mereka benar. Perasaanmu akan berdebar kencang saat akan menikah. Gugup namun bahagia. Aku merasakannya sekarang.

————————————

~Kris POV~
“Sajangnim, dimana saya harus meletakkan mejanya?””
“Di sana.”
Aku tersenyum memandang  dekorasi itu. Cantik. Sederhana tapi elegan. Aku duduk di salah satu kursi. memandang ke pelaminan. Besok, dia akan berdiri di sana. Relakan, Kris. Hanya ini cara membuatnya bahagia
“Permisi, buket bunganya datang.”
Aku berbalik dari kursiku. Seketika aku tercengang melihat yoona di sana
“Yoona?!”
“Kris?”
“Kau..membuka florist?”
Dia mengangguk
“Bagaimana kabar vict ahjumma dan changmin ajjeosi?”
“Mereka baik-baik saja. Eomma membantuku di florist. Appa membantuku mengirim bunga. Tapi hari ini dia tidak bisa karena pergi dengan eomma.”
“Arra..”
Aku tersenyum melihatnya. Dia sangat berubah. Bukan yoona manja yang sombong lagi
“Siapa yang akan menikah?” tanyanya
“Kyuhyun dan Sooyoung.”
“Wah…benar-benar hebat. Mereka bisa bertahan selama itu. Tolong sampaikan salamku. Selamat untuk mereka.”
“Kau berubah jauh,” ujarku
“Aku..berdosa besar pada mereka dan donghae ajjeosi.”
“Itu masa lalu. Yang penting bagaimana kau sekarang, kan?”
“Ne.”
“Kau sudah punya namjachingu?”
“Belum. ”
“Jinjja?”
“Ne. Aku terlalu sibuk dengan florist.”
“Kau ada janji minggu depan?”
“Tidak ada. Waeyo?”
“Aku harus menghadiri pernikahan temanku minggu depan. Dia memintaku membawa pasangan. Bisakah..kau menemaniku?”
“N…ne?”
“Kau keberatan?”
“Ah. ani. Tentu saja.”
“Aku akan menjemputmu di rumahmu. Jonhwa bonho mwoyeyo?”

————————————-

~Sooyoung POV~
“Time flied,” ujar appa yang duduk di sebelahku
Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku di bahunya sambil menonton televisi
“Andai eommamu disini. Dia pasti terharu,” ujarnya
“Ne. Aku merindukannya.”
“Appa juga. Sangat.”
“Appa, bagaimana kalau aku tersendat saat mengucap janji pernikahan besok?”
“Hei. jangan berpikiran yang tidak-tidak.”
“Tapi apapun mungkin.”
“Tidak mungkin.”
“Darimana appa seyakin itu?”
“Putri appa adalah putri yang pintar dan cantik. Mana mungkin dia gugup?”
“Appa~”
Appa mencium puncak kepalaku
“Selamanya, kau tetap putri kecil appa. Jadi kalau dia berani membuatmu kesal atau menangis, dia berhadapan dengan appa.”
Aku tersenyum dan merangkul lengan appa
“Aku akan merindukanmu..ada di rumah ini,” ujarnya
“Nado.”
“Kau sudah menjadi anaenya. Jangan bangun siang lagi.”
“Algesseumnida, kapten.”

————————————–

~Donghae POV~
“Putri appa sangat cantik hari ini,” bisikku padanya.
“Aku gugup.”
Hari ini adalah hari pernikahannya. Aku berdiri di depan pintu utama bersamanya. Bersiap masuk ke dalam ballroom. Andai aku berdiri di sini bersama sica… 25 tahun lalu..
“Kau pasti bisa. Ingat, namjamu ada di sana. Dan appa menggandeng tanganmu. Arra?”
Dia mengangguk kecil. Pintu terbuka. Aku menggandeng tangannya ke dalam. Sica, putri kita menikah

~Kyuhyun POV~
Sret.. pintu utama terbuka perlahan. Aku tersenyum memandangnya berjalan dengan anggun ke hadapan altar. Cantik. Dan dia mengenakan wedding dress itu untukku. Alunan musik berkumandang. Kris memainkan pianonya. Dia menghentikan langkahnya di depanku. Memberikan senyuman termanis
“Karena citra Allah berdiam di dalam kita, kita dapat mengenal dan mengalami kasih secara pribadi. Hal itu telah dikatakan,”Dia yang berdiam di dalam kasih, berdiam di dalam Allah.” ini merupakan sebuah perwujudan yang dirayakan dalam ibadah. Dimana ada kehadiran dari kasih, disana seharusnya ada penyembahan, sebagaimana Allah adalah penulis kasih dan Dia adalah Kekudusan satu-satunya yang kita sembah. Oleh karena itu, merupakan hasrat dari hati yang paling dalam dari Cho Kyuhyun dan Choi Sooyoung untuk menyambut anda – untuk menyambut anda untuk berbagi dan untuk merayakan janji mereka dan komitmen dari kasih mereka selama waktu ibadah ini. Cinta yang sejati adalah sesuatu yang ada dibalik sebuah kehangatan dan berpijar, kegembiraan dan romantisme yang semakin dalam di dalam kasih. Hal itu harus dijaga dengan baik tentang perjuangan dan kegembiraan dari pasangan pernikahan anda sebagaimana terhadap milik anda sendiri.  Tetapi cinta yang sejati bukan sebuah penerapan total dari satu sama lain; hal itu adalah melihat keluar di dalam arah yang sama—secara bersama-sama. Kasih membuat beban menjadi ringan, karena anda menanggungnya bersama-sama. Ia membuat sukacita makin dalam, karena anda membaginya bersama-sama. Ia membuat anda lebih kuat, sehingga anda saling mengulurkan dan menjadi saling terlibat dalam hidup pada jalan yang anda tidak takut untuk mengahadapinya sendirian.Keluarga dan sahabat terkasih, yang telah berkumpul dalam tempat yang indah ini untuk tujuan dari sebuah upacara yang suci dari ikatan pernikahan, apakah anda dengan tulus bersedia memberikan wanita ini kepada pria ini dalam kunci pernikahan?”
“Ne, saya bersedia,” ujar appanya. Aku meraih tangannya
“neomu yeppo,” bisikku padanya
“oppa, berhentilah menggodaku.”
“Saudara,Cho Kyuhyun, bersediakah anda, dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda pegang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?”
Aku tersenyum sambil menatap ke arahnya “Ne saya bersedia”
“Saudari,Choi Sooyoung, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah dan senang, pria di sebelah kanan anda yang sedang anda pegang sekarang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?”
Dia menatapku. Memberikan senyuman terbaiknya. Membuatku melihat wajah itu dari balik kain kaca yang menutupi wajahnya. “Ne saya bersedia.”
“Di segala zaman dan diantara semua manusia, cincin telah menjadi sebuah symbol yang sangat berarti, lalu, pada waktu yang suci ini, sebuah symbol dari tindakan anda, kesetiaan yang tiada batas.  Cincin ini berbentuk lingkaran, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir; sehingga sampai masa tua anda, hingga kematian dan sampai selamanya anda harus mempertahankan janji yang tidak dapat digugat ini yang telah ditandai dan dimateraikan oleh sebuah cincin. Sebagai sebuah ingatan yang terus-menerus dari makna yang dalam ini, maka tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan anda.”
“Saya, Cho Kyuhyun, mengambil engkau, Choi Sooyoung, sebagai istriku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seteruusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita masih hidup. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, memberkati sampai selama-lamanya. Amin.”
“Saya, Choi Sooyoung, menerima engkau, Cho Kyuhyun, sebagai suamiku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seterusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama masa kita hidup berdua. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Allah Tritunggal berkat dari Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus,  Amin.”
Suara tepuk tangan membahana. Aku mendekatkan wajahku padanya. Menciumnya perlahan. Dan ini akan menjadi hari terindah dalam hidupku.
“Strawberry,” ujarku padanya
Seketika wajahnya memerah
“Oppa!!”

——————————-

~Sooyoung POV~
Hari sudah malam. Aku bersandar di rangkulannya. Kami melihat foto-foto kami dari SMA sampai menikah
“Lihat. Kau jelek saat masih SMA.”
“Kau sama jeleknya. Lihat. Kau sangat culun dan–”
Dia mengecup keningku dengan cepat
“Ish..menyebalkan.”
“Hwanajima~”
Tangannya merangkul perutku. Aku tersenyum kecil dan mengusap tangannya
“Sudah malam. Sebaiknya kita tidur,” dia menutup albumnya dan mematikan lampu kamar. Aku memegang tangannya dan berbaring di sampingnya
“kau tahu, tidak ada yang kutakutkan sekarang.”
“ne. mana mungkin kau melihat mereka lagi?”
“Bukan itu.”
“Apa?”
“Aku lebih takut untuk terbangun kalau ini mimpi dibanding melihat mereka.”
“Ini bukan mimpi. Jadi tidurlah Nyonya Cho jika kau mau terbangun dan melihat pangeran tampan di depan matamu.”
“Ish.. lihat appamu sangat narsis.”
Dia hanya tersenyum dan merapatkan jarak kami
“Jaljayo.”
Matanya terpejam sempurna. Aku ikut memejamkan mataku. Dia benar soal itu. Aku ingin cepat tidur dan jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat seorang pangeran tertidur di depan mataku

—————————————-

~Kyuhyun POV~
“Lihat, itu matanya.”
Aku tersenyum melihat USG itu. Enam bulan berlalu. Dua bulan lagi, little cho akan lahir
“Apa Anda benar-benar tidak ingin tahu.. anak Anda namja atau yeoja?”
Aku menggeleng
“Biar itu menjadi rahasia.”

~Sooyoung POV~
Kami ada di lotte dept store. Mencari baju bayi. Kulihat dia memasukkan jarinya ke dalam kaus kaki bayi
“Lihat. Kakinya kecil sekali.”
“Kwiyeopta.”
Aku melihat kaus kaki itu. Warnanya biru
“Kyu, kita kan tidak tahu dia namja atau yeoja. Jadi..peralatannya bagaimana?”
“Beli saja yang warnanya netral. Misalnya hijau muda, kuning, putih.”
“Tapi yang biru dan pink lebih manis.”
“Belikan saja warna biru. Yeoja atau namja sama-sama bisa memakai warna biru. Kalau pink, namja tidak bisa memakainya.”
“Waeyo? Pink warna yang netral untuk bayi.”
“Kalau begitu..beli dua-duanya saja.”
“Kalau ternyata namja bagaimana?”
“Disimpan untuk yeodongsaengnya.”
“Yaa! Itu lama sekali.”
“Kalau begitu..berikan pada temanmu yang akan punya anak sebentar lagi.”
“Haish.. taeyeon sedang kuliah di Australia dan mereka belum memiliki rencana untuk menikah. Begitupula yuri.”
Dia memasukkan dua baju itu ke keranjang
“Tinggal kita cat dan menjadikannya violet kalau dia namja,” ujarnya dengan santai
“Tidak berubah.”

~Kyuhyun POV~
“Kyuhyunie~”
“Hmph..”
Aku masih belum beranjak dari tempat tidurku. Kurasakan dia mengguncangku
“Kyu~ irreona.”
“Sebentar lagi..aku masih mengantuk.”
“Aphayo..” lirihnya yang kudengar. Seketika aku terjaga
“Mana? Mana yang sakit?”
“Sudah hilang saat melihatmu bangun.”
Aku menghela nafas kecil. Dia mengerjaiku.
“Mainkan piano untukku.”
“Ne?”
“Aku tidak bisa tidur.”
Aku melihat ke arah jam
“Jam 4 pagi?”
Dia mengangguk dan menatapku. Baik. Mata itu tidak pernah bisa kutolak permintaannya
“Arra.”
“Kaja.”
“Yeay!”

———————————–

~Sooyoung POV~
Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku menoleh ke arahnya. Dia sudah tertidur. Sangat pulas dan damai. Aku tersenyum melihatnya. Dia terlihat kelelahan karena bekerja seharian. Tapi aku tidak bisa tidur. Bukan karena aku ingin mengerjainya. Tapi aku bosan. Aku tahu ini sedikit menyebalkan. Tapi aku ingin membangunkannya. Sangat ingin
“Kyu,” aku mengguncangnya perlahan
Dia berbalik ke samping
“Kyuuu~”
“Jebal youngie. Aku ingin tidur. Dua jam saja.”
“Aku lapar.”
Dia masih diam
“Apa kau tega membiarkanku memasak sendirian di tengah malam karena anakmu ingin makan pancake?”
“Sepuluh menit saja,” dia menawar
“Sekarang.”
“Sebentar lagi. Lima menit.”
“Arra. Kalau begitu aku akan keluar dan memasak untuk anakku. Tapi aku tidak tanggung jawab kalau aku sampai jatuh karena terpeleset di dapur atau karena kaget melihat ‘mereka’ di pagi hari.”
Aku beranjak dari tempat tidurku. Tiba-tiba dia menahan tanganku
“Arra.Arra. Aku bangun. Sekarang.”
Aku mengecup pipinya
“Gomawo”

~Kyuhyun POV~
Aku menaruh pancake itu di piring. Menghiainya dengan saus coklat dan sebuah strawberry.
“Pancakenya jadi!!” ujarku
Kulihat dia tertidur di kursi. Kepalanya bersandar ke meja. Aku menaruh piring itu di depannya. Membangunkannya perlahan
“Youngie, irreona. Pancakenya sudah jadi.”
“Kau saja yang makan.”
“Bukankah kau lapar?”
Dia menggeleng
“Aku ingin kau yang memakannya.”
“Youngie, apa kau tidak kasihan dengan anak kita? Mungkin dia lapar.”
“Dia tidak lapar. Dia mengantuk,” ujarnya lalu tertidur kembali
Aku menggigit bibir bawahku. menahan kesal. Bisa-bisanya dia membangunkan nampyeonnya tengah malam, menyuruhku membuatkan pancake, bahkan mengancamku. Dan sekarang dia tertidur. Aku menghela nafas dan memotong pancake itu perlahan. Memakannya sendirian. Benar-benar mengesalkan. Aku menoleh ke arahnya. Seketika rasa kesalku hilang entah kemana. Sepertinya yeoja ini benar-benar tahu kelemahanku. Aku mengendur seketika. Melemaskan ototku yang menegang. Aku memegang tangannya. Wajahnya terlihat lelah. Aku mengusap kepalanya perlahan. Tidak seharusnya aku kesal hanya karena dipermainkan. Dia pasti lebih kesal. Sulit tidur, makan, dan bahkan beraktivitas. Setelah menghabiskan pancakenya, aku menggendongnya ke kamar perlahan. Sepertinya little cho menambah berat badannya sekitar 50%. Aku merebahkannya perlahan ke tempat tidur. Menyelimutinya. Kemudian merebahkan diri di sebelahnya sambil memegang tangannya
“Aku tidak sabar..dia lahir dan tidur di tengah kita.”

——————————————–

~Kris POV~
“hhahahhahaa. Benar-benar hebat,” aku tertawa mendengar cerita bagaimana kyuhyun masuk kantor dengan mata panda.
“Kau akan merasakannya saat istrimu hamil nanti. Dan aku akan menertawakanmu untuk membalas dendam.”
“Kurasa..aku tidak akan bercerita.”
“Itu lebih baik. Kapan kau menyusulku hah?”
“Maksudmu?”
“Haish..jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kau dan yoona menjalin hubungan. Kapan kalian mengaku di depan bumonim?”
“Belum saatnya. Kau tahu kan, paradigma bumonim tentang yoona belum sepenuhnya memudar?”
“Ne. Tapi setiap orang bisa berubah.”
“Kau benar.”

————————————-

~Kyuhyun POV~
Tok..tok.tok.. kudengar pintu ruanganku diketuk
“Masuk.”
“ANNYEONG!” teriak seseorang yang sangat kukenal suaranya. Aku nyaris melompat dari kursiku
“Kau… kenapa bisa disini?”
“Aku bosan di rumah,” ujarnya dengan santai
“Chagi, kau sedang hamil. Dan sebentar lagi tanggal kelahirannya. Seharusnya kau beristirahat di rumah.”
“Kau tidak senang aku datang?”
“Bukan begitu..tapi aku khawatir.”
Dia melipat tangannya
“Hwanajima..”
“Hahahahha. Kau tertipu. Mana mungkin aku marah hanya karena itu.”
“Haish..”
“Aku membawa bekal. Taraaa! ayo kita makan.”
Aku menggeleng tak percaya
“Berapa energimu cho sooyoung?”
Dia hanya tersenyum dan membuka kotak bekalnya
“Selamat makan!”
Aku mengambil sumpit dan memakannya. Memperhatikannya. Kudengar dia merintih kecil
“A…h..”
“Kenapa?”
“Ani..aku hanya merasa..dia menendang dengan keras”
“Aigoo..little cho kau tidak boleh nakal.”
Dia tersenyum kecil. Lama-lama wajahnya berkeringat dan dahinya mengerut. Aku melihat remote AC ku. 20 derajat. Mana mungkin kepanasan?
“A..h..” dia meletakkan sumpitnya dan memegang perutnya
“Gwaenchanha?”
“Manhi aphayo.”
Aku langsung menghubungi supirku
“Kim ajjeosi, cepat ke lobby kantor. Gamsahamnida.”
Aku menggendongnya ke luar ruangan. Kudengar dia merintih kesakitan
“KYUUU..”
Cairan mengalir di kakinya. Baik. Aku panik sekarang. Aku berlari ke arah mobil. Para karyawan memperhatikanku.
“Cepat ke rumah sakit terdekat.”
“Ne, sajangnim.”
“KYUUUU MANHI APHAYO!”
“Bersabarlah chagi…”
Tangannya meremas kemejaku. Dia benar-benar kesakitan. Aku mengambil tissue dan menepukkannya ke wajahnya. Akhirnya sampai. Aku cepat-cepat menggendongnya ke UGD. Dia terus memegang tanganku
“Aku takut,” ujarnya
“Tenang, ada aku disini.”
Lee sonsaengnim menanganinya dengan cepat.
“Siapkan ruang operasi.”
“Ne?”
“Dia tidak bisa melahirkan bayi kembar secara normal. Seharusnya sejak awal operasinya direncanakan.”
“KEMBAR?”

———————————-

~Sooyoung POV~
Aku dibius setengah sadar. Aku masih bisa melihat para dokter memegang beberapa alat yang menyeramkan. Aku memegang tangan kyuhyun. Aku tahu kalau ini cukup kejam. Aku tahu dia membenci segala sesuatu yang berbau darah dan operasi. Tapi aku takut ditinggalkan sendirian disini. Bagaimana kalau aku melihat ‘mereka’ ? Tidak lucu. Aku memejamkan mata. Kudengar dia berbisik
“Kau kuat.”
Meski sejujurnya aku tahu. Dia sendiri harus mempertanyakan apakah dia kuat atau tidak melihat operasinya sampai selesai. Setelah ini dia akan menjadi vegetarian. Mungkin. Waktu berjalan cukup lama. Sejujurnya biasa saja, namun terasa lama. Aku belum mendengar tangisan atau pertanda apapun. Aku bisa merasakan kyuhyun meremas tanganku. Sepertinya dia juga cemas sekarang.
“Eugh,” kudengar suara gumaman kecil. Aku masih bertanya-tanya. Apa bayinya sudah lahir? Tapi mataku belum berani terbuka. Takut-takut aku akan terbangun dengan ‘seseorang’ di depan wajahku. Tidak lucu jika aku refleks berlari dari ruangan operasi karena kaget. Tak lama kemudian, kurasakan sesuatu menutup perutku. Entah perasaan atau nyata. Kurasakan sinar terang itu dimatikan. Perlahan, mataku terbuka. Kulihat kyuhyun ada di depanku. Tersenyum dan mengecup tanganku
“Gomawo. Kau berhasil.”
Dia berbicara dengan tenang. Penuh perasaan terharu. Bukan seperti teriakan overjoy saat kami lulus. Kudengar tangisan bayi membahana. Tak jauh dari tempatku berbaring. Aku menitikkan setetes air mata terharu saat melihat dua malaikat kecilku diletakkan di sebelahku
“Chukkhae, putra dan putri Anda sehat.”
“Sepasang!” ujarku padanya. Kali ini overjoy
“Kurasa akhirnya baju pink itu berguna. Dan tidak perlu menunggu lama.”
Aku menatap wajah mereka.
“Kau tahu, kyu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada mereka.”
“Nado.”

—————————————

~Kyuhyun POV~
“Aigooo!! Manisnya!!” sekarang ruangan ini sangat ramai. Ada taeyeon, yuri, leeteuk, minho, dan kris. Aku hanya bisa menggeleng melihat kelakukan para ‘ahjumma’ itu.
“Aku tidak menyangka. Kyuhyun mengalahkan kita,” ujar leeteuk
“Hahahahha. Tadinya kukira, aku yang akan menikah duluan. Tapi dia? Sekarang punya dua anak,” ujar minho
“Aku juga tidak menyangka menjadi appa akan semenyenangkan ini.”
“Lihat kelakuan para yeoja. Seperti ahjumma,” ujar kris
“Mereka berdua sangat mirip kyuhyun,” ujar taeyeon
“Kyu! Ini tidak adil! Mereka kan juga anakku!” protes sooyoung
“Telinganya mirip denganmu,” yuri menghiburnya
“Kurasa kakinya juga,” ujar taeyeon
“Itu akibatnya karena kau mengerjai nampyeonmu saat hamil,” ujarku
“Yaa! Aku tidak mengerjaimu! Mereka yang mendorongku untuk melakukannya.”
“Hahahahahahahha.”
Aku memeluknya di depan semua orang
“Benar-benar menggemaskan,” ujarku
“Yaaa! Apa kau benar-benar sudah menjadi seorang appa?”
“Ne. Aku punya dua anak. Anak pertamaku namja dan yang kedua yeoja.”
“Hahahahahahhaa.”

~Yoona POV~
“Katakan padanya, chukkhae,” ujarku
“Kau tidak ingin menjenguknya?”
Aku menggeleng
“Aku sudah berjanji pada eomma dan appa. Tidak akan mengikutcampuri keluarga choi lagi.”
“Dia sudah menjadi keluarga cho.”
“Tapi dia tetap putri choi donghae.”
“kau benar.”
Aku menarik nafas dalam. Waktu berlalu cepat. Siapa yang akan menyangka kalau aku menjadi yeojachingu Kris sekarang? Bahkan kami berkomplotan dan bermusuhan dulu
“Yoona.”
“Ne?”
Saat aku menoleh, kulihat dia mengeluarkan sebuah cincin
“Narangkyeorhonhae jullae?”
Aku tercengang mendengarnya. Aku tidak mungkin salah dengar.
“Ini mimpi?”
“Ani.”
Aku tersenyum dan mengangguk kecil
“Kau sudah tahu jawabanku, Kris.”

———————————————–

~Sooyoung POV~
“Jadi kris melamarnya hari ini?”
Kyuhyun mengangguk
“Romantis,” ujarku
“Ne. Kris memang seperti itu kan?”
Seketika aku teringat sebuah hal
“Kyu.”
“Ne?”
“Apa kau sadar.. kau tidak pernah memberiku marriage proposal itu.”
Dia terdiam sejenak
“Kau tahu kan. Aku bukan tipe seperti itu.”
“Ne. Kau pemaksa. Bahkan saat pertama kali kita jadian. Kau memerintahkanku. Bukan berlutut dan memohon.”
“Ayolah. Aku anti mainstream.”
“Tapi kalau kupikir-pikir..bagaimana bisa kita menikah tanpa menyetujuinya terlebih dahulu dalam sebuah lamaran?”
Dia memegang tanganku
“Karena kita sama-sama tahu jawabannya.”
“Kurasa itu kata-kata paling romantis yang pernah kudengar dari mulutmu.”
“Oh ya?”
“Ne. Lebih romantis daripada dilamar dengan cara umum seperti di tepi sungai han atau N Tower Seoul.”
Aku menoleh ke arah kedua anakku yang tertidur pulas
“Mereka lebih berharga daripada cincin.”
“Apalagi karena mereka memiliki gen yang kuat dariku.”
“Aku sedikit iri karena itu.”
“Kurasa aku tahu, kenapa telinga mereka mirip denganmu.”
“Kenapa?”
“Karena mereka selalu mendengar apa yang kau dengar dariku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu dan anak kita. Kau ingat itu?”
“Ne. Dan itu menjadi kata-kata yang meruntuhkan pertahananku di hari itu.”
Aku mengusap wajahnya perlahan
“Kau tahu. Aku sangat membencimu di awal pertemuan kita.”
“Nado. Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama.”
“Aku percaya,” ujarku
“Waeyo?”
I’m enchanted to see them. And I fell in love at the first sight
They’re our children.”
That’s the reason for me to love them. And to love you more
“Kurasa aku harus mencari kesempatan untuk memonopolimu dari mereka.”
“Kau iri?”
Dia tersenyum dan menciumku dengan cepat
“Tidak. karena mereka tidak bisa menciummu seperti itu.”
Aku membalasnya. Dia pun begitu. Kami tertawa bersama
“Dan mereka tidak bisa menciummu seperti itu.”
Dia berbaring di sebelahku. Mengusap pipiku perlahan
“Aku ingin kita tetap seperti ini. Selamanya.”
Dia memejamkan matanya dan memelukku. Aku terlelap di sebelahnya. Tidak. Ini bukan akhir ceritanya. Masih ada kelanjutannya. Mungkin tidak selamanya romantis ataupun harmonis. Tapi kami akan mengembalikan tuts itu menjadi nada yang harmonis saat ada yang lepas. Mungkin, dia pemaksa dan sulit ditebak. Tapi itulah sisi lebihnya. Karena hanya aku yang mengetahuinya
“Hei, kita belum memberi nama untuk mereka.”
“Aku sudah punya nama.”
“Nugu?”
“Cho Soohyun dan Cho Euijin.”
Aku tersenyum dan memeluknya. Masing-masing memiliki cinta pertamanya dan cinta pada pandangan pertamanya. Cinta pada pandangan pertamaku memang Cho Soohyun dan Cho Euijin. Tapi cinta pertamaku, selamanya adalah Cho Kyuhyun. Karena dia lah yang mendatangkan cinta pada pandangan pertamaku. Dan lagu itu menjadi sempurna oleh dua malaikat kecil yang terbaring di sebelahku. Dan shelterku, yang kini memelukku.

The End

99 thoughts on “Enchanted {Part 11-End}

  1. wahhhh tahniah chingu!!!!!!!!!!!1
    Part endnya bener2 daebak lohhhh
    selamat lohhh Kyuppa sempet kabur dari pernikahan, kalo gak bisa jadi kayak HaeSica…T_T
    gak nyangka mereka dapat bersatu juga…
    cute bnget anak Kyuyoung…>_<

  2. waaaahhh,,,,sweetttt….awalnya sempet sabel ma kyuyoung karna mereka gak coba mempertahankan hubungan mereka,,untung ada kris yg bilang ke kyu klo soo hamill….
    yoona ma kris semoga dpt restu dari ortu nya kris,,,
    seperti biasa chingu,,ffnya ber-ending dengan memuaskan,,,, :D
    ditunggu karya selanjutnya,,,,

  3. Yah…knp udah end thor.
    Critany romantis bgt, bner2 dramatis dan mengharukan. Ff mu emg sllu daebakk thor.
    Dtunggu sequel nya…

  4. huaaaaaaaaaaa…
    uyeee.. akhirnya kyuyoung bersatu kembali.. mski mlewati berbagai rintangn… hahaha

    daebak chingu…
    seru.. keren… ;) :)

  5. Yeay happy ending <3
    kreen kreen kreen,
    neomu neomu daebak, gak tau mau komen apa, yang jelas 4 jempol untk author (y) (y) (y) (y)
    sequel thor #kalo bsa. :3
    dtggu krya selanjutnya, keep writing :)

  6. author :3
    mian baru comment setelah 11 Part yang author post :3
    baru kali ini aku bisa Sabar baca ff yng Part nya bnyak, biasanya aku ambil yng OneShoot XD *PLAKK
    tapi serius ya, ini FFkeren banget thor (y) ditunggu FF selanjutnya :3

  7. Waaahhh… Daebakkk!! Aku suka jalan ceritanya….
    Aku kira soo oen akan jadi single parent, ternyata bersatu!!! Ditunggu ff selanjutnya..!!!

  8. Waaahhh… Daebakkk!! Aku suka jalan ceritanya….
    Aku kira soo oen akan jadi single parent, ternyata bersatu!!! Ditunggu ff selanjutnya..!!! :D

  9. Akhirnya mereka bersatu jg..
    Happy end..
    Kyuppa kabur dari pernikahan ny..
    After story donk..
    As infinitely yours part 2 blm ada kelanjutan ny kah?

  10. kekeke… daebak daebak daebak deh..
    kyuyoung nappeun… tp aku slalu seneng sama cerita buatan author…
    bkin ff kyuyoung lagi dong, thor……semangat! maaf baru bs komen..

  11. Keren banget endingnyaa aaaa~
    Konfliknya bener” dapet, perasaan aku sampe ke bawa pas bacanya huhu, dan aku suka authornim ngejelasin ceritanya feelnya dapet banget huhuu, akhirnya happy end. Kyuyoung jjang!
    Good job thor, keep writing ya <3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s