Enchanted {Part 4}

enchantedTitle : Enchanted

Genre : Fantasy, Comedy, Romance, Angst

Rating : PG-15

Main Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Kris Wu
  • Im Yoona

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Jessica Jung
  • Victoria Song
  • Shim Changmin
  • Kwon Yuri
  • Choi Minho

Cameo for part 4 :

  • Nickhun
  • Tiffany

~Kris POV~
Aku tersenyum kecil sambil mendengar melodi itu dari depan pintu gudang. Kulangkahkan kakiku ke kamar. Tersenyum kecil memandang foto keluarga kami yang sudah terpasang di ruang tengah. Cho Kyuhyun. Kurasa posisimu tidak aman. Aku menengok ke lemari pajangan. Di sana terdapat foto kyuhyun yang masih kecil dengan eommanya. Mantan nyonya di rumah ini.
“Ahjumma. Mianhaeyo.”
Aku menaruh foto itu dan pergi ke kamar eomma. Kulihat eomma sedang berpikir keras
“Kris. Kita dalam bahaya.”
“Mwo?”
“Aku mendapat kabar dari Sekretaris Jang. Hari ini, appamu menandatangani surat wasiat yang menyatakan Cho Kyuhyun adalah ahli waris dari semua hartanya.”
“Eomma tenang saja. Itu–”
“Dan walinya adalah Sekretaris Kim.”
“Bukan kau?”
“Bukan. Oleh karena itu aku tidak bisa tenang, kris. Sekretaris Kim bukan orang yang bisa diajak bekerja sama. Dia sangat menyayangi namja itu seperti anaknya sendiri karena dia tidak menikah. Kau mengerti maksudku kan, Kris?””
Aku berpikir sejenak
“Haish.. biar bagaimanapun memang sulit mengubah pemikirannya. Kyuhyun adalah anak kandungnya. Mana mungkin kita bisa mengubah keputusannya begitu saja?”
“Eomma, sepertinya aku memiliki ide.”
“Mwo?”

—————————————-

~Yoona POV~
Aku terus memandang dua orang itu. Itu…appa dan si anak baru. Bagaimana mungkin mereka bisa makan bersama di restoran semahal ini?
“Yoona, apa yang kau lihat?” tanya eomma
“Eomma. Coba eomma lihat namsong dan yeoja di sana. Itu..appa, bukan?”
“Pasti kau salah lihat.”
“Coba lihat ke sana eomma.”
Eomma menengok ke arah yang kutunjuk. Wajahnya terlihat bingung
“Ah..ya kau benar. Tapi..siapa yeoja itu?”
“Itu teman sekelasku. Namanya Choi Sooyoung.”
“Choi Sooyoung?”
“Ne. Dia masuk karena beasiswa.”
“Sejak kapan SEHS memberi beasiswa?”
“Molla. Yang jelas dia menyebalkan.”
“Menyebalkan?”
“Ne. Dia mencari perhatian sunbae ku. Cho Kyuhyun. Eomma mengetahuinya kan?”
“Maksudmu..putra tunggal Cho corp?”
“Ne. Tapi aku heran dengan sikap appa.”
“Waeyo?”
“Padahal dia sangat cuek padaku. Tapi bagaimana bisa dia memperhatikan yeoja itu? Bahkan makan malam bersamanya.”
“Mungkin..karena kasihan.”
“Mungkin.”
“Sudahlah. Anggap kita tidak melihatnya.”

—————————————

~Sooyoung POV~
“Gamsamida ahjeossi atas tumpangannya.”
“Ne, chenmanaeyo. Annyeong~”
“Ne, annyeong.”
Aku berbalik dan berjalan ke rumahku. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Jalanan mulai gelap. Hanya diterangi beberapa lampu. Aku terus berjalan hingga akhirnya kulihat beberapa orang namsong sedang meminum soju di dekat sana. Aku pura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan. Hingga seorang namsong memegang tanganku
“Apa yang kau lakukan hingga pulang selarut ini, nona?”
“Joesonghamnida ahjeossi, tolong lepaskan aku.”
“Kau terlihat manis meski sedang marah. Hahahaha.”
“Ahjeossi, jebal lepaskan aku sebelum aku berteriak,” ancamku. Padahal sejujurnya aku ketakutan sekarang
“Hahahahahhaha. Kau mengancamku?”

~Donghae POV~
Aku berniat menjalankan mobilku. Tiba-tiba sebuah hal menarik perhatianku. Tas tentengnya tertinggal. Aku memarkirkan mobilku dan berjalan menyusulnya. Tiba-tiba kulihat segerombol namsong yang mabuk menahannya
“Lepaskan dia!” ujarku
“Wah wah. Ada yang ingin menjadi pahlawan. Hahahaha.”
Aku mendatanginya dan… BUK! Aku menonjok namsong itu
“Beraninya kau!”

~Sooyoung POV~
BUK! BUK! BUK!
Aku menggigit bibir bawahku sambil berusaha melepaskan diri dari namsong yang memegang tanganku
“Ahjeossi!”
“Diam!” ujar namsong yang memegang tanganku
Aku tidak kuat melihatnya. Mereka saling menonjok satu sama lain. Donghae ahjeossi berhasil mengalahkan empat namsong itu. Dia menonjok namsong yang memegang tanganku sekarang. Semuanya berhasil dikalahkan
“gwaenchanha?” tanyanya padaku
Wajahnya terlihat khawatir. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa memerhatikanku seperti ini. Aku mengangguk kecil. Kulihat dia tersenyum dan mengusap kepalaku. Awalnya aku ikut tersenyum hingga kulihat seorang namsong berdiri dan menuju ke arahnya
“AHJEOSSI!”
JLEB.
Kurasakan sebuah benda tajam menghantam punggungku. Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi

~Donghae POV~
“Gawat!”
Kulihat mereka semua berlari. Aku masih berdiri mematung. Kakiku terasa kaku untuk bergerak
“Youngie?”
Aku memegang punggungnya. Gemetaran. Darah mengucur deras dari sana.
“YOUNGIE IRREONA!!!”

————————————-

~Jessica POV~
Hosh..hosh..
Aku berlari sambil mencari ruang operasi. Tuhan..tolong selamatkan putriku.. hanya dia yang kupunya. Setelah menemukan ruang itu, kakiku terasa lemas. Namja itu disana. Bajunya berdarah. Dia hanya menunduk meski aku sudah berdiri di depannya sekarang
“Apa yang terjadi pada putriku?”
Dia hanya diam
“JAWAB AKU CHOI DONGHAE!”
“Mianhamnida…ini semua..karenaku..karena aku tidak mengikutinya hingga sampai ke rumah dan…”
PLAK! Aku menamparnya
“KAU MENGAKU SEBAGAI APPANYA. TAPI MENJAGANYA SAJA KAU TIDAK BISA!”
“Kau benar.”
Aku duduk berjarak dua kursi darinya. Menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan. Sama seperti saat dia meninggalkanku untuk yeoja itu. Krek..ruang operasi terbuka. Aku langsung berdiri bersamaan dengannya
“Bagaimana, sonsaengnim?”
“Kami sudah menanganinya. Hanya perlu menunggunya sadar saja.”
Aku menghela nafas lega. Aku menoleh ke arah Donghae yang berdoa saat itu juga. Menitikkan air mata. Tidak sica. Kau tidak boleh simpatik padanya. Dia yang menyebabkan ini semua terjadi. Sebuah kapas putih di lengannya menarik perhatianku
“Itu..kenapa?” tanyaku
Dia hanya diam. Baiklah. Aku salah untuk menanyakannya. Mungkin dia merasa aku memperhatikannya sekarang
“Dia kehilangan banyak darah. Jadi aku mendonorkan darahku untuk putriku. Apa itu salah?”
Sekarang giliran aku yang tidak bersuara. Kau salah donghae. Kau membuat bukti baru kalau dia  memang putrimu.

————————————————

~Kyuhyun POV~
Latihan basket dimulai. Aku mengintip dari tralis. Tidak ada sosok tinggi itu di antara para anggota cheers.
“Apa yang kau lihat?”
“Ah ani. Aku hanya merasa…anggota cheers berkurang.”
“Ah..soal itu. Kudengar ada seorang anggota mereka yang diopname kemarin.”
“Diopname?”
“Ne. Namanya Choi Sooyoung.”
“Choi Sooyoung?”
“Ah! Aku juga mendengarnya. Katanya, dia ditusuk oleh seorang namsong yang mabuk tiga hari yang lalu.”
“Jin..Jinjjayo?”
“Ne.”
“Apa..kau tahu dimana dia dirawat?”

~Jessica POV~
“Ini aneh. Padahal kondisinya sudah stabil dan bagus. Tapi dia tidak sadarkan diri.”
Aku memegang tangannya. Menatapnya dengan bingung. Youngie..kenapa kau tidak sadar juga..
“Ini malah akan berbahaya bagi kondisinya jika terus berlanjut.”

~Kyuhyun POV~
Aku berdiri di depan ruangan itu sambil mengintip dari kaca. Kamar nomor 501. Seharusnya aku tidak salah masuk. Aku mengetuk pintunya perlahan lalu membukanya. Kulihat seorang yeosong duduk di sana
“Annyeonghaseyo ahjumma.”
“Ne, annyeonghaseyo. Nuguseyo?”
“Joneun..Cho Kyuhyun imnida. Aku adalah teman sooyoung.”
“Ah…kau datang untuk membesuk?”
“Ne.”
Aku duduk di sebelah eommanya. Kulihat dia masih belum sadar
“Kyuhyunssi..bisakah kau menjaganya sebentar? Ahjumma harus keluar untuk mengurus administrasinya.”
“Ne, ahjumma.”
Setelah eommanya keluar, aku duduk di sampingnya
“Hei, yeoja menyebalkan. Apa kau tidak lihat, eommamu sangat kelelahan?”
Aku memegang tangannya perlahan
“Aku merindukan keberisikanmu. jadi cepatlah sembuh, arrachi?”

~Jessica POV~
“Mwo? Sudah dibayar semua?”
“Ne. Oleh Tuan Choi.”
Aku terdiam sejenak. Namja itu benar-benar merasa bisa menebus semuanya dengan uang. Saat aku berbalik, kulihat dia sudah berdiri di belakangku
“Apa maksudmu dengan–”
“Aku yang harus bertanggung jawab atas pengobatannya. Pertama, dia adalah putriku. Kedua, aku yang menyebabkan ini semua terjadi.”
“Aku akan menganggapnya sebagai alasan yang kedua.”

————————————

~Yoona POV~
Seminggu tanpa kehadiran yeoja itu. Rasanya cukup menyenangkan. Aku duduk di balkon kamar sambil meminum jusku. Aku meraih cellphoneku dan mencari contact yuri di sana. Call.
“Yeoboseyo.”
“Yuri ah! Aku bosan hari ini. Bagaimana kalau kita pergi ke lotte world?”
“Ah..mianhamnida yoong. Aku dan beberapa anak cheers sedang menuju ke rumah sakit.”
“Rumah sakit?”
“Ne. Sudah seminggu dia tidak masuk. Kudengar dia masih belum sadar. Aku merasa tidak enak jika tidak menjenguknya.Jadi..”
Aku mematikan sambungannya. Kenapa mereka harus mengkhawatirkan yeoja itu?

~Jessica POV~
Aku duduk di sampingnya. Mengusap tangannya
“youngie..apa kau tidak kasihan pada eomma dan teman-temanmu?”
Aku menitikkan air mata. Jujur, aku merasa gelisah. Sudah seminggu lebih sehari. Dan dia belum sadar juga. Padahal kondisinya stabil. Ini benar-benar aneh
“Youngie..”
Tuk. Kurasakan tangannya bergerak kecil
“Youngie!!”
Perlahan, dia membuka matanya.
“Youngie, sebentar. Eomma akan memanggilkan euisa!!”
~Sooyoung POV~
Eomma langsung berlari keluar ruangan. Sedangkan aku masih merasa pusing. Kepalaku terasa berat. Ini dimana? Rumah sakit? Apa yang terjadi padaku? Aku menoleh ke sebelah kiri. Tiba-tiba kulihat seorang yeosong berdiri di sampingku
“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”

————————————————

~Jessica POV~
“Eomma~ jebal cepat pindahkan aku dari ruangan ini..jebal.”
“Youngie, sebenarnya ada apa denganmu?” tanyaku heran
Dia hanya diam dan malah menangis
“Jebal eomma~ aku takut.”
Aku terheran melihatnya. Padahal dia tidak pernah semanja ini padaku
“Baiklah. Eomma akan mengatakannya pada suster.”
“Eomma!! Kajima!! Jangan pergi dari sini.”
“Youngie ah, kau meminta eomma memindahkanmu. Tapi kenapa kau melarang eomma keluar dari kamar ini?”
“Aku takut..sendirian disini.”
“Yaa! kenapa kau jadi semanja ini?!”
“Eomma~~!!”
“Eomma ingin ke toilet sebentar.”
“Eomma!! Jangan pergi sebelum ada orang lain yang masuk ke sini!! Jebal!!”
Aku melepaskan tangannya dan masuk ke toilet. Sejak kapan dia jadi semanja ini
~Sooyoung POV~
Aku memejamkan mataku sambil memeluk lututku
“Ahjumma..kumohon pergilah dari kamar ini..” gumamku
Dia tidak bergeming. Malah memanggil-manggilku. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Krek.. kudengar pintu kamarku terbuka. Donghae ahjeossi di sana. Membawa sebuah boneka. Penyelamat
“Annyeong!!” ujarnya
“Annyeong ahjeossi!!”
“Dia terus datang ke sini dari kemarin,” ujar ahjumma yang berdiri di sebelahku
“Jinjja?”
“Kau bicara dengan siapa?”
“A..itu ani…”

———————————————-

~Kyuhyun POV~
Kabar membahagiakan bagi mereka. Tidak bagiku. Setan kecil akan lahir 9 bulan lagi. Dan mereka merayakan hal itu
“Aku tidak sabar menantinya. Hahahahaha.”
Aku hanya memangku wajahku. Dusta. Aku tidak percaya seorang yeosong berusia 45 tahun masih bisa memiliki anak. Apalagi yeosong itu adalah si nenek sihir
“Ne, nado!” ujar kris
Aku hanya tersenyum kecut dan meminum jusku. Yang ada di kepalaku sekarang justru yeoja itu. Apa dia sudah sadar?
~Sooyoung POV~
“Jadi..dia datang ke sini?”
Ahjumma itu mengangguk
“Dia bahkan menangis di sebelahmu sambil memegang tanganmu. Memohon agar kau terbangun.”
Aku terdiam sejenak. Berpikir keras. Kulihat ahjumma itu tersenyum
“Rasanya ini aneh. Kemarin kau ketakutan saat melihatku. Sekarang kita mengobrol.”
“Ne ahjumma. Tapi aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa melihatmu sekarang.”
“Kau tidak sadar? Kau koma seminggu lebih sehari dan berkeliaran di rumah sakit.”
“MWO?”
“Ah ya. Teman-temanmu juga datang menjengukmu.”
“Pasti tim cheers.”
“Dan seorang namja yang tampan menjagamu disini.”
“Namja?”
“Ne. Mungkin dia namjachingumu.”
“Ani. Aku tidak punya namjachingu.”
“Jinjja? Padahal kau sangat cantik.”
“Hahaha. Ahjumma bisa saja.”
~Jessica POV~
“Hahaha. Ahjumma bisa saja.”
Aku terdiam mendengarnya. Dia..bicara sendiri?
“Maksud ahjumma…kyuhyun?”
“Ah! Ani! Dia hanya sunbaeku.”
“MWO? Dia menyebutku menyebalkan?”
“Youngie, kau bicara dengan siapa?” tanyaku
“Ah..eomma. Aku–”
“Tidak ada siapa-siapa disini,” ujarku
“Aniyo eomma. Aku hanya berpikir beberapa dialog…untuk drama!”
“Drama?”
“Ne. Tugas drama. Aku melewatkannya. Aigoo..”
“Arra. Kukira..kau bicara sendiri.”

——————————————

~Sooyoung POV~
Hari pertama untuk kembali ke sekolah. Aku sudah siap dengan semua keanehan yang akan kulihat. Aku menarik nafas dalam dan melangkahkan kakiku ke dalam pintu masuk sekolah. Kulihat seorang yeoja duduk di kursiku
“Permisi, ini kursiku.”
Dia hanya diam dan menatapku dengan tajam
“Maaf, ini kursiku,” ujarku
“Kyaaa!! Youngie!! Akhirnya kau kembali!! Bogoshipo!!” ujar yuri sambil memelukku.
“A..h..”
“Ah, ya maaf! Aku memelukmu terlalu erat. Hahahaha. Kami sangat mencemaskanmu.”
Aku tersenyum kecil
“Kenapa kau berdiri di sini?”
“Ah. Yeoja ini tidak mau pindah dari kursiku.”
“Yeoja yang mana?”
Aku menoleh ke kursiku. Kulihat dia masih duduk di sana. Baik. Baru hari pertama. Dan aku sudah menemukan keanehan disini
“Ah..sepertinya dia pergi karena kalian datang. Tapi…rasanya aku tidak bisa lagi duduk di kursi paling belakang. Aku…ketinggalan banyak pelajaran dan harus duduk di kursi yang agak depan.”
“Ah..kalau begitu, tukar saja dengan yoona. Dia pernah bilang ingin duduk di belakang!”
Aku terdiam sejenak. Sepertinya agak kejam membiarkannya duduk disini sedangkan aku tahu ada ‘seseorang’ di sana. Tapi…
“Yoona! apa kau mau pindah ke belakang? Sooyoung bilang dia ingin pindah ke kursimu.”
“Tentu saja. Aku malas duduk disini. Lagipula aku bisa tidur di belakang.”
Baik. Aku tidak punya pilihan lain untuk membiarkannya. Setelah yuri pergi, aku berbisik pada yeoja itu
“Tolong..jangan ganggu dia.”
Yeoja itu hanya menatapku. Aku cepat-cepat pergi ke tempat yoona.

—————————————

~Yoona POV~
Aku menatap yeoja itu dengan kesal. Haish..lihat saja. Sekarang dia bisa mengobrol dengan yuri saat pergantian jam. Kenapa dia tidak dirawat lebih lama saja? Tapi kesialan hari ini bukan itu saja. Ulangan mendadak sejarah. Aku tidak bisa mengerjakannya. Benar-benar menyebalkan. Aku menoleh ke arah yeoja itu. Dia bisa mengerjakannya dengan cepat. Haish..kalau begini terus, dia akan terlihat bagus di mata appa. Bagaimana cara untuk menyingkirkannya? Aku kembali mengerjakan ulanganku. Tiba-tiba kulihat ada tetesan darah di kertasku
“KYAAAAAAAA!!”
Seketika semua siswa melihatku.
“Ada apa yoona?” tanya park sonsaengnim
“Ker…..kertasku!!”
Park sonsaengnim datang dan memegang kertasku
“Yaa! Choi Yoona! Jika kau tidak bisa mengerjakan satupun, bisakah kau tidak membuat keributan?”
“Hahahahaha,”seisi kelas menertawakanku
“Ta..tapi di sana ada darah.”
“Darah yang mana hah! Jelas-jelas kertas ini kosong!” ujar sonsaengnim
Aku menatap kertas itu dengan bingung. Mustahil…..

——————————————–

~Sooyoung POV~
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku sengaja menunggu semua siswa keluar. Setelah itu, aku menghampiri yeoja yang duduk di dekat jendela itu.
“Kenapa..kau mengganggu yoona?” tanyaku
“Gadis itu berpikiran negatif padamu. Kenapa kau mengkhawatirkannya?”
Akhirnya dia berbicara
“Kau..melakukannya..untukku?”
“Ani. Aku juga bosan. Berhubung dia adalah tipe yeoja yang kubenci, jadi aku mengerjainya sekalian.”
“Tapi..kau membuatnya dalam masalah.”
“Apa pedulimu?”
“Karena..aku membuatnya pindah ke sini.”
Yeoja itu hanya diam
“Kenapa..kau ada disini?” tanyaku
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku melihat ke arah jendela. Kulihat ada sekelompok tim baseball disana. Dia melihat namja nomor 15. Nickhun
“Mereka sangat hebat,” ujarku
“ne.”
“Kau..mengagumi Nickhun sunbae?”
“ne.”
“Kau disini..untuk melihatnya?”
Dia hanya diam dan tersenyum kecil
“Bisa dibilang begitu.”
“Ah ya! Kita belum berkenalan. Sooyoung imnida.”
“Tiffany imnida.”
Drap..drap..drap.. kudengar langkah kaki mendekat. Yuri masuk ke dalam kelas
“Youngie..kenapa kau masih disini?”
“Aku..hanya melihat tim baseball setelah piket.”
“Oh..”
“kau sendiri?”
“Aku hanya mengambil barang yang ketinggalan. Kaja. Kita pulang. Kita tonton mereka dari bawah saja.”
“Ah..ne!”

———————————-

~Nichkun POV~
Homerun!
Aku tersenyum melihat kemenangan tim kami. Semua penonton bersorak. Tiba-tiba sebuah hal menarik perhatianku. Jendela itu terbuka. Aku tersenyum kecil mengingat bagaimana yeoja itu menontonku dari sana. Tapi semuanya..tinggal kenangan

Flashback
“SEMANGAT NICKHUN!”
Itulah yang dia tulis. Dia memperlihatkan tulisan itu dari jendela kelasnya saat aku bertanding. Aku menghela nafas kesal. benar-benar memalukan
“hahahaha yeojachingumu menyemangatimu!” ujar chinguku
“Haish..sudah kubilang dia bukan yeojachinguku! Mana mungkin aku berpacaran dengan yeoja freak itu hah!”
“Hahahaha”
Ya, mereka menjuluki yeoja itu ‘yeojachinguku’. Dia adalah Tiffany Hwang. Teman masa kecilku. Tapi itu dulu. Semuanya berubah semenjak tingkah lakunya menjadi aneh. Lihat saja. Dia menuliskan “SEMANGAT NICKHUN” dengan karton yang besar dan berwarna pink. Memalukan. Semuanya berjalan begitu saja selama satu tahun. Hingga akhirnya hari itu tiba
“Nickhun! Yeojachingumu mencarimu! Dia ingin memberi masakannya untukmu!”
“Sudah kubilang, dia bukan dan tidak akan pernah menjadi yeojachinguku!”
“Hahahahha. Sudah mengaku saja!”
“Dia memang bukan yeojachinguku. Mana mungkin aku berpacaran dengan yeoja freak itu?”
“Ya sudah. Kalau begitu, kau keluar dan buktikan pada kami. Tolak makanan buatannya! jangan beri dia harapan palsu, nickhun!”
“Baik!”
Aku keluar dari lokerku. Kulihat dia berdiri di sana dan menyodorkan sebuah pudding
“Nickhun! Lihat aku membuat pudding strawberry hari ini di kelas memasak. Ini masakan pertamaku yang berhasil. Kau harus menjadi orang pertama yang mencobanya. Aaaaa..”
Aku menebas tangannya. Seketika gelas puddingnya terjatuh
“berhenti melakukan hal-hal yang menyebalkan seperti ini, fany.  Aku sudah lelah. Kau tahu, semua orang mengejekku karenamu. Dan aku benci hal itu. Aku tidak dan tidak akan pernah menjadi namjachingumu. Yeoja freak sepertimu bukan tipeku, arrachi!”
Dia hanya diam dan membungkuk. Setelah itu berlari.
“Kau sangat sarkastis,” ujar chinguku
“Biarkan saja. Aku tidak bisa memberinya harapan palsu.”
Memang itu yang keluar dari mulutku. Tapi berikutnya tidak. Keesokan harinya, kulihat ada sebuah bunga yang ditaruh di kursinya beserta frame fotonya. beberapa orang yeoja di kelasku menangis. Sedangkan aku hanya berdiri mematung karena tidak percaya dengan apa yang kulihat
“Kemarin..dia mengalami kecelakaan mobil. Fany dan supirnya tewas dengan mengenaskan.”
Dan itulah kebodohan terbesar dalam hidupku. Karena aku baru sadar bahwa sesungguhnya orang itu sangat penting…justru di saat dia menghilang untuk selamanya
Flashback End

“Yaaa! Jangan melamun! Kaja kita makan-makan!” ujar chinguku
“ne.”

~Sooyoung POV~
“Namja yang nomor 15 sangat hebat ya,” ujar yuri
Aku mengangguk kecil
“Namanya Nickhun. Idaman para yeoja. Sayangnya dia sangat dingin.”
Aku terus memperhatikannya
“Tapi..kurasa setiap orang yang berada di posisinya akan melakukan hal yang sama. Pasti sulit melupakan bagaimana seseorang yang sangat dekat dengannya meninggal.”
“Maksudmu..Tiffany?”
“Bagaimana..kau bisa..tahu nama yeoja itu?”
“Ah.aku…hanya mendengarnya dari beberapa orang,” bohongku
“Ne. Dia dan Tiffany pernah menjadi bulan-bulanan. Seperti suami dan istri. Setiap Nickhun bertanding, Tiffany selalu membuat tulisan di karton yang besar untuk menyemangatinya dari jendela kelas. Yang kudengar, sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan. Nickhun menolaknya dan setelah itu..kudengar dia meninggal di hari dimana Nickhun menolaknya secara terang-terangan. Benar-benar mengenaskan. Jika aku menjadi Nickhun..kurasa aku akan merasa bersalah seumur hidupku.”
Aku terdiam sejenak. Kulihat Tiffany tetap berdiri di sana. Menatap Nickhun dari jendela kelasku
“Yuri ah..aku..pulang dulu ya. Annyeong!”
“Ne annyeong!”
Aku cepat-cepat berlari ke lantai atas. Menghampiri Tiffany. Kulihat dia masih berdiri di sana. Aku berjalan mendekat ke arahnya
“Kau sudah tahu?” tanyanya
“Tapi..kenapa kau masih ada disini?” tanyaku
Dia hanya tersenyum
“Bodoh.”
“Ne?”
“Padahal aku meninggal karena kecelakaan. Bukan karenanya. Tapi dia malah menutup diri dengan bodohnya. Benar-benar bodoh.”
Aku terdiam menatapnya. Kulihat Tiffany duduk di kursi dan menghela nafas
“Aku tidak akan bisa pergi dengan tenang. Jika Nickhun masih menyalahkan dirinya.”
Dia tersenyum dan menatapku
“Sooyoungssi. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarku disini. Bisakah…kau membantuku?”
“Membantu?”

~Kyuhyun POV~
Aku sedang berada di minimarket. Membeli beberapa cemilan untuk di gudang  rahasiaku. Saat aku menoleh ke kiri, kulihat seorang yeoja yang kukenal sedang membawa sekeranjang belanjaan sambil mengambil beberapa bahan membuat pudding
“Apa..bungkusannya yang ini?” dia berbicara sendiri
“Ah..bukan.. kalau begitu, yang ini?”
Aku menahan tawa melihatnya. Dia terlihat lucu. Seperti berbicara pada seseorang
“Ah..yang ini. Sudah selesai bukan?”
Aku berjalan ke arahnya dan menepuk pundaknya
~Sooyoung POV~
Puk. Kurasakan bahuku ditepuk seseorang. Seketika Tiffany menghilang dari hadapanku
“A..”
“Annyeong.”
Aku berbalik. Kulihat kyuhyun di belakangku.
“Sunbae..”
“Kau..ingin membuat pudding?”
“Ah. Ne.”
“Belanjaanmu sepertinya berat.”
“Gwaenchanha.”
“Haish..kau kan baru keluar dari rumah sakit. Kenapa kau sudah ingin memasak hah! Kau seharusnya beristirahat.”
“Aku…”
Aku mengambil keranjang itu dari tangannya
“Sudah selesai kan?”
“Seharusnya..begitu.”
“Ya sudah. Kita ke kasir.”
Dia langsung pergi ke kasir. Setelah petugas itu menginput datanya, aku tercengang melihat nominalnya
“20.000 won.”
Aku melihat dompetku. Hanya 5.000 won. Itupun untuk seminggu ini. Aigoo.. Kyuhyun menaruh snacknya
“Bayarnya digabung.”
Aku terdiam mendengarnya. Matilah aku. Bagaimana mungkin aku membayar ini semua?
“Totalnya 25.000 won.”
Kyuhyun mengeluarkan uangnya dan membayarnya
“Sunbae–”
“Berterima kasihlah. Jika bukan karenaku, kau dipermalukan disini.”
Aku tersenyum kecil. Harus kuakui dia sangat baik hari ini
“Gomawo.”
“Ne.”
Dia membawakan barang-barang itu ke mobilnya. Dia mengisyaratkanku untuk masuk ke dalam. Aku hanya bisa menurutinya
“Tolong antarkan nona berisik ini ke rumahnya”
“Ne, tuan muda.”
“Nona berisik,” aku menggumam sendiri
“Kau benar-benar tidak penuh perhitungan. Bagaimana bisa kau membeli bahan membuat pudding sedangkan kau tidak membawa uang?”
“Aku…lupa uangnya sudah kupakai.”
“Kau bisa memasak?”
Aku menggeleng
“Tidak terlalu.”
“Di apartemenmu..ada kompor?” tanyanya
Aku menggeleng
“Yaa! Babo! Bagaimana caranya kau memasak pudding jika apartemenmu tidak memiliki kompor!”
“Memangnya..harus dengan kompor?”
“Haish.. yeoja ini benar-benar. Ahjeossi, tolong pulang ke rumah.”
“MWO?”
“Yaa! Aku sudah berbaik hati untuk menolongmu hari ini. Jadi jangan banyak protes arrachi!”
Aku menyungging sudut bibirku. Meski menyebalkan, aku harus mengakui kenyataan kalau aku membutuhkannya untuk kasus ini

———————————–

~Kyuhyun POV~
Akhirnya aku sampai di rumah. Kulihat yeoja itu hanya diam di mobil dan tercengang
“Turunlah,” ujarku
“Kukira apa yang kulihat di televisi hanya imajinasi. Ternyata rumah seperti milik goo joon pyo benar-benar ada.”
“Haish..norak.”
Kulihat dia menatapku dengan kesal. Aku membawakan barang-barangnya
“Kaja. Masuk ke dalam.”

~Sooyoung POV~
Aku masuk ke dalam rumah itu dengan hati-hati. Takut-takut ada makhluk aneh disini.
“Kau sudah pulang,” seorang yeosong menyambut kami. Dia manusia. Aku cukup lega untuk hal itu.
“Seperti yang kau lihat,” ujar kyuhyun dengan dingin.
“Nuguseyo?” tanya yeosong itu sambil tersenyum
“Annyeonghaseyo ahjumma. Joneun Choi Soo–”
“Sooyoungssi, kau bilang ingin meminjam dapurnya sebentar kan? Cepat masuk ke dalam.”
Aku menatapnya dengan bingung. Bagaimana bisa dia memperlakukan eommanya seperti itu
Aku membungkuk pada eommanya dan mengikutinya ke dalam. Kulihat seorang yeosong berdiri di belakang eommanya. Menatapnya dengan sangat tajam.
“Apa yang kau lihat?” kyuhyun memegang bahuku. Seketika yeosong itu menghilang. Aku menatapnya dengan bingung. Ini persis dengan kejadian di minimarket.

~Kyuhyun POV~
Aku terus memperhatikan yeoja itu. Dia bilang, dia tidak pandai memasak. Tapi dia bisa mencampur bahan-bahan itu tanpa takaran. Tiga puluh menit kemudian, dia selesai memasak. Aku melihat pudding itu dengan teliti. Pudding strawberry
“Bolehkah aku mencobanya?”
“Ah soal itu kau ti.. ah, dia boleh?” ujarnya sendiri
Aku menatapnya dengan bingung
“Yaa! Kenapa kau senang sekali berbicara sendirian?”
“Ani. Kau boleh mencobanya.”
Aku mencobanya. Rasanya cukup enak
“Bagaimana?”
“Mashita.”
“Sunbae, bisakah aku menitip pudding ini di rumahmu?”
“Ne?”
“Di rumahku tidak ada kulkas.”
Aku terheran menatapnya. Baik yeoja ini sangat sangat aneh. Dia berbelanja tanpa membawa uang. Meminjam dapur dan sekarang menitip puddingnya di rumahku. Sebenarnya untuk apa dia memasak
“Aku tidak mengerti denganmu, sooyoungssi. Kau berbelanja tanpa membawa uang, meminjam dapurku, dan–”
“Ah! Kurang wafer. Sunbae, apa kau memiliki wafer di rumahmu? Bolehkah aku memintanya?”
Aku menghela nafas dan memberi wafer itu padanya
“Diletakkan begini? Atau begini? Atau begini?”
Aku menyentil jidatnya karena kesal
“YAAA! Kau membuatnya menghilang!” ujarnya
“MWO? MENGHILANG? Apa yang menghilang hah! Kau benar-benar yeoja yang aneh dan seenaknya. Bagaimana pula aku bisa membayarkan belanjaanmu dan meladeni keanehanmu hari ini hah! Sebenarnya untuk apa kau memasak pudding straweberry ini?!”
“Aku..”
“Kau baru keluar dari rumah sakit. Tapi tindakanmu saja sudah aneh-aneh. Kau–”
Ting…tong.. bel pintu rumahku berbunyi.
“KYUHYUN AH!” kudengar suara teriakan yang khas itu.
“HYUNG!” balasku padanya

~Sooyoung POV~
Aku tercengang melihat sosok namja yang berdiri di depanku. Nickhun. Apa hubungannya dengan kyuhyun? Ini benar-benar membuatku bingung
“Tumben kau datang kesini.”
“Hahahaha. Aku disuruh mengantarkan paket untuk appamu.”
Kulihat namja itu menoleh ke arahku
“Itu..yeojachingumu?”
“Aniyo!” teriak kami bersamaan
“Mana mungkin aku mau berpacaran dengan yeoja aneh sepertinya!”
“Mana mungkin aku mau berpacaran dengan namja menyebalkan sepertinya!”
“Kau tahu hyung. Yeoja ini meminjam dapurku untuk memasak strawberry pudding tanpa alasan yang jelas.”
“Strawberry..pudding?”
Aku menoleh ke arah Tiffany yang berdiri di sebelahku. Kulihat dia tersenyum ke arahku
“Kau…bagaimana bisa kau membuatnya?” tanya namja itu
“Bukan aku yang membuatnya. Tapi Tiffany.”
Seketika keduanya menatapku dengan bingung
“Bagaimana bisa..kau..mengenal fany?”
“Ne. Dia berdiri di sebelahku sekarang.”
Seketika kyuhyun mundur satu langkah. Nickhun hanya berdiri mematung
“Mustahil.”
“Dia tidak bisa pergi dengan tenang karena kau terus menyalahkan dirimu, sunbae.”
Nickhun hanya tersenyum kecil “Kau bohong. Dia pasti sangat membenciku karena–”
“Itu tidak benar sunbae. Dia terus menatapmu dari jendela kelas meski kau tidak bisa melihatnya. Dia berkata padaku tentang semuanya. Dia meninggal karena kecelakaan itu sunbae. Bukan karenamu.”
“Ani. Itu semua karena—”
“Dia menyukaimu sunbae. Oleh karena itu dia tidak ingin kau tersiksa karenanya. Dia ingin kau menjadi Nikchun yang dulu. Bukan Nickhun yang terus menyalahkan dirinya seperti sekarang. Dia ingin menjadi kenangan yang indah untukmu sunbae. Bukan penghalang kebahagiaanmu.”
Nickhun mengambil pudding itu. Seketika air matanya terjatuh. Dia memakannya perlahan
“Enak.”
Aku melihat ke arah fany yang tersenyum lega mendengarnya
“Jika saja..aku bisa kembali ke hari itu…aku pasti akan memakannya sampai habis. Aku akan menerimanya dan mengatakan kalau aku…aku juga menyukainya. Aku benar-benar bodoh. Kenapa aku baru merasakan seberapa pentingnya dia saat dia pergi untuk selamanya. Benar-benar bodoh..”
“Hyung..”

~Nickhun POV~
“Sunbae. Tidak ada gunanya kau menyesali semuanya sekarang. Yang bisa kau lakukan hanyalah memperbaiki yang sudah ada. Jika kau memang mencintainya, relakan dia untuk pergi dengan tenang. Berhenti menyalahkan dirimu sunbae.”
Kakiku melemas. Aku terduduk di lantai. Menangis di sana
“Mianhae..fany ah…mianhae..”
“Kau bodoh, nickhun.”
Aku terdiam mendengarnya. Entah ini halusinasiku atau bukan. Tapi aku merasa dia memelukku sekarang
“Jika kau terus menjadi orang bodoh seperti ini, bagaimana aku bisa pergi dengan tenang?”
“Fany..”
“Jadikan aku kenangan yang manis. Jangan perlakukan yeoja yang mencintaimu dengan tulus seperti itu lagi. Arrachi?”
Aku mengangguk kecil
“Saranghae…fany ah.”
Dia diam. Kurasakan sentuhannya hilang perlahan
“Nado saranghae….oppa..”

———————————————

~Kyuhyun POV~
Aku berada di mobil bersamanya sekarang. Dia sudah berhenti menangis. Aku menatapnya dengan bingung. Kukira itu hanya film. Ternyata..ada aslinya pula..
“Kau..bisa melihat mereka?”
Dia mengangguk kecil
“Aku..terlihat seperti orang aneh karena hal itu, bukan?”
“Sedikit.”
“Mianhae…aku merepotkanmu tadi. Tapi aku tidak bisa membiarkan namja itu..terpuruk terus. Dan aku tidak bisa membiarkan yeoja itu..terus menunggu. Kau mengerti kan?”
Aku mengangguk. Seketika aku mengingat sesuatu
“Kau..apa yang kau lihat di rumahku?”
“Ne?”
“Kau..melihat eommaku?”
“Eommamu…bukankah dia yang menyambut kita?”
“Bukan. Dia nenek sihir di rumahku.”
Dia berpikir sejenak
“Maksudmu..yeosong yang berambut pendek berwarna hitam, kulitnya putih, dan tingginya sebahumu kurang sedikit?”
Aku tercengang mendengarnya. Itu..bahkan ciri-cirinya sama persis dengan eommaku
“Kau melihatnya?”
“Ne.”
“Dimana dia?”
“Dia…melihat ‘nenek sihir’ itu dengan tatapan tajam.”
“Sudah kuduga.”

——————TBC——————

 

124 thoughts on “Enchanted {Part 4}

  1. daebak, dari part 1 sampe part ini keren… mianhae ya chingu commentnya disi. solny tiap kali mau comment yg part1-3 error mulu,, jadi bingung saya.
    tapi emang daebak bgt ff ini. mana skrg soo udah bisa liat yg begituan.. tpi ini ff hampir mirip sma the master of sun. pas baca yg klo kyu pegang soo makhluk supranaturalnya ilang…
    pengen tau kelanjutannya gimana, apa vict tau klo soosica skrg udah ada di dekat dia, penasaran yang bakalan dilakuin kriss+omma…
    next part ditunggu yaaa

  2. waah.. udah lama aku gk ngujungin blog ini..
    ternyata udah ampe part 8 aja..
    aku hampir lupa udh baca sampe part brapa.. haha..
    aku telat :)
    aku cuma ngunjungin KSI aja kmren2..
    wah.. makin daebak dan keren aja nih.. lanjut dlu ya bacanya.. :)

  3. Maaf eon..
    Aku baru koment dipart4..
    Entah knpa aku suka bgt sama karya2 ff eon..
    Daebak semuaa >.<
    oiya cerita'a ngingetin k.drama "the master's sun" yaaa?
    Jd kangeen scene gong hyo jin ama so ji sub kalo lg romantis.. Hahaha

    keyeen keyeen.!

  4. sooyoung punya indera k 7 #waks
    kyuyoung udah mkin dkt ya..
    eomma nya kyu bnci ya sma “nenek sihir” nya??? syukur deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s