Enchanted {Part 1}

Annyeong uri readers *bow*
Author kembali dengan FF Enchanted
First of all, jeongmal gomawo untuk semua yang comment
Sesuai janji, author akan membuat main cast sesuai dengan voting
Hasil Voting Cast Pertama : ******* (39 suara)
Hasil Voting Cast Kedua : **** (20 suara)

Sebelumnya author ingin bertanya satu hal :
Judul wp ini purenaturalstarkyusoowon, bukan begitu?
Dan bukankah ada kebebasan bagi seseorang untuk berkarya sesuai aspirasi mayoritas readernya?
Mianhae kalau ada yang tidak setuju, tapi author disini demokratis dan fleksibel
Kalau nggak, gimana mau maju?

Kita disini sama-sama belajar.
Author belajar menulis dan mendengar aspirasi, readers belajar mencintai.
Kalau nggak suka, tombol close bisa di klik kapan saja readers mau; daripada buang-buang waktu buat bashing.
Membuat karya itu nggak semudah yang dibayangkan ^^ jadi tolong dihargai. Gomawo

Aku memiliki sebuah rahasia.
Ini hanya di antara kita bertiga; Kau, aku, dan penulisnya.
Dia tidak tahu, maka berjanjilah untuk menutup mulutmu.

Ini bukan kisahku.
Bukan pula dongeng.
Ini hanya kunci kecil untuk membuka gembok yang menutup segalanya.
Dan sekarang kau membuka kotaknya.
Kau melihat segalanya.
Kau menemukanku. Dan saatnya kau membukaku untuk mengetahui
Bahwa dua orang insan manusia itu telah terpesona satu sama lain.
Karena aku adalah saksi dari segalanya.

~Author POV~
Pesta pernikahan. Bukankah seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi sepasang pengantin? Ya, memang. Tetapi ketahuilah. Di tiap pernikahan, ada dua orang yang terluka. Dua. Entah kutukan apa yang membuatnya menjadi nyata. Seorang namja berusia sekitar 16 tahun tengah memandang tajam ke arah dua pasangan yang berbahagia itu. Seorang namsong menepuk bahunya dengan pelan. Seketika, namja itu menepis tangannya. Namsong itu terdiam. Bibirnya terasa kelu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Menghibur? Ayolah, dia bukan anak kecil berusia lima tahun yang bisa dibohongi dengan sebuah permen.
“Tuan Muda..”
“Ahjeossi tidak perlu menghiburku. Apalagi mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku..tidak berniat mengatakan seperti itu,” bohongnya
“Yeoja itu sudah menggeser posisi eommaku.”
“Selamanya, posisi Nyonya Cho tidak–”
“Itu dulu. Sekarang berbeda. Lihat saja iblis itu. Dia dengan mudahnya mendapatkan appa. Hanya tinggal menunggu waktu, semuanya akan menjadi miliknya.”
“Tuan Muda..”
Namja itu melirik tajam ke arah seorang namja beramput coklat di sebelah kedua ‘orang tua’ nya.
“Mungkin, eommanya bisa menggeser posisi eommaku. Tapi aku. Selamanya. Tidak akan pernah rela jika posisiku digantikan oleh namja itu,” ujarnya sengit
Sekretaris Kim hanya bisa tercengang menatapnya. Melipat kedua tangannya sambil menatap ‘Tuan Muda’ nya pergi. Ia menggelengkan kepalanya.

———————————————————–

~Author POV~
Klinting. Suara itu terdengar nyaring dari pinggir jalan. Bunyi itu tak lain berasal dari sebuah sepeda tua. Seorang yeoja menggoesnya disana. Memakai kaos putih dan celana panjang berwarna biru. Rambutnya terkuncir dengan rapi. Tring. Ia menghentikan sepedanya di sebuah rumah. Menaruh dua botol susu dan sebuah koran di sana. Yeoja itu kembali menaiki sepedanya, mencari rute jalannya. Dengan senyuman berbinar saat melihat  sebuah gerbang sekolah. Sebentar lagi, dia akan menjadi murid disini. Percaya atau tidak, itu akan segera terjadi. Yeoja itu kembali menggoes sepedanya. Menuju rute selanjutnya

~Kyuhyun POV~
“Bwara Mr.Simple Simple~”
Aku menengok ke arah cellphoneku. Itu dari Sekretaris Kim. Pasti namsong itu marah karena aku kabur dari pernikahannya. Namsong itu, maksudku appa. Apa aku masih harus memanggilnya dengan sebutan itu? Rasanya tidak. Dia tidak pantas. Hina. Meski aku sedang ‘mencuri’ mobilnya sekarang. Aku mematikan cellphoneku lalu melemparnya dengan asal. Kembali menyetir sambil tersenyum membayangkan wajah kesalnya sekarang. Biarkan saja. Aku berbelok ke kiri. Dan bertepatan dengan itu, sebuah sepeda menuju ke arahku
“AAAAA!!”
Aku menginjak remnya. Mobilku tidak menabraknya. Sepeda itu malah beralih ke samping dan jatuh di samping mobilku. Aku menghela nafas dalam. Sepertinya aku harus menobatkan hari ini sebagai hari tersial dalam hidupku. Aku turun dari mobil. Kudengar yeoja itu meringis
“A..h..”
“Gwaenchanha?” aku menepuk pundaknya
“Nae gwaenchan… kyaaaa!!! Susunya!!!”
Dia membereskan susu dan koran-koran yang jatuh dari sepedanya. Aku mengusap tengkukku perlahan. Yeoja itu berbalik menatapku. Pertama, aku tercengang. Baik, harus kuakui kalau dia cukup cantik. Tapi berikutnya, reaksiku adalah bingung saat melihat wajah sengitnya.
“Kau!” ujarnya sambil menunjuk hidungku
“Aku?”
Dia mengangguk
“Kau harus mengganti rugi. Semuanya.”
Aku mendecak kesal, mengeluarkan seratus ribu won dari tasku. Kulihat dia malah membulatkan matanya. Menatapku dengan kesal
“Yaa! Kau tidak tahu nilai mata uang, eoh?”
“Wae? Kurang?”
“Aish.. aku benar-benar paling kesal dengan orang-orang sepertimu. Apa kau tahu hah! Kau bisa membeli puluhan karton susu dengan uang seratus ribu won!”
“Kau tidak perlu munafik.”
“Mwo?”
“Kau membutuhkannya kan? Ambil saja.”
PLAK! Pipiku memanas. Aku menatapnya dengan sengit
“Dengar baik-baik. Aku masih punya harga diri, arraseo!”
“Yaaa! Sebenarnya apa maumu hah! Aku bisa menuntutmu karena sudah menamparku!”
“Yaa! Aku benar-benar paling benci dengan orang kaya sepertimu! Kau pikir semua dapat selesai dengan uang hah! Aku tidak yakin kau memiliki lisensi menyetir!”
Seketika aku terdiam. Bagaimana bisa dia mengetahuinya? Dia mengeluarkan tangannya
“Dua puluh ribu won.”
“Mwo?”
“Dua puluh ribu won dan kasus kita berakhir disini.”
“Katamu, kau tidak butuh uangku.”
“Aku tidak mengatakannya. Lagipula, itu kewajibanmu. Karena kau menghancurkan susu dan koranku.”
“Aku tidak punya uang senilai dua puluh ribu won. Hanya ada seratus ribu won yang tadi.”
“Pembual.”
“Mwo?”
Dia masuk ke mobilku dan mengacak laci kecilnya
“Yaa! Kau!”
“Lihat. Disini ada dua puluh ribu won.”
Aku menggeleng tak percaya. Yeoja ini mengambil uang parkir?
“Annyeong,” ujarnya lalu pergi
Aku menatapnya dengan kesal. Siapa bilang dia bisa kabur semudah itu?

~Sooyoung POV~
Aku berjalan sambil menuntun sepeda tuaku. Rusak. ini karena namja itu.
Nit.nit…
Dia membunyikan klakson. Aku tidak menghiraukannya. Tiba-tiba, mobilnya lewat dan membasahi bajuku dengan genangan air hujan
“Yaa!”
Mobilnya pergi dengan cepat. Aku menggerutu kesal. Dasar orang kaya yang tidak memiliki manner. Tidak sopan. menyebalkan. Bagaimana bisa ada manusia seperti itu? haish..

~Kris POV~
“Haish..benar-benar keterlaluan! Kemana perginya anak itu?”
Aku hanya menarik nafas dalam. Ini baru hari pernikahan. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Aku menoleh ke arah eomma. Mencoba menenangkan appa
“Mianhae yeobo. Dia bersikap seperti ini padamu.”
“Gwaenchanha.”
Aku tersenyum kecil. Benar-benar namja bodoh. Tidakkah dia tahu, sekarang dia terlihat sangat jelek di mata appanya

——————————————–

~Kyuhyun POV~
Aku berdiri di depan abu eomma disimpan. Terdiam di sana. Tidak bisa beranjak. Setetes air mataku jatuh diam-diam. Aku benar-benar bodoh. Bagaimana bisa aku memperlihatkan diriku yang lemah seperti ini di hadapan eomma?
“Eomma, namsong itu menikah dengan seorang nenek sihir.”
Aku tersenyum kecut.
“Dibanding aku, eomma yang paling terluka. Bukan begitu?”
Aku memejamkan mataku. Mengusap air mataku. Terjatuh di sana
“Aku tidak tahu..apa yang harus kulakukan setelah ini..eomma.”

~Sooyoung POV~
“Haish. Benar-benar menyebalkan!” ujarku sambil menjemur baju itu. Namja macam apa itu? Benar-benar tidak gentle. Aku masuk ke kamar sewaanku. Seketika aku tersenyum melihat seragam Seoul Elite School terpampang di sana. Buah perjuanganku untuk menjadi siswa ujian terbaik..
“manjil suga eobseodo dwae. aneul sudo eobseodo dwae. Lonely love Yes I love you nae unmyeong cheoreom. geudael neukkil su isseoyo.”
Aku menengok ke sana. Tersenyum kecil melihat nama eomma terpampang di sana
“Yeoboseyo, eomma”
“Annyeong youngie. Bogoshipoyo.”
Aku tersenyum kecil
“Nado eomma.”
“Hwaiting! Besok hari pertamamu,” ujarnya

~Sica POV~
“Aku berjanji akan belajar dengan rajin dan mempertahankan beasiswaku disini.”
Aku tersenyum kecil.
“Baiklah kalau begitu. Eomma harus lanjut bekerja. Semangat, chagi. Annyeong.”
“Annyeong.”
Aku mematikan teleponnya. Menarik nafas dalam. Mianhae, youngie. Eomma tidak bisa mengatakan hal yang sejujurnya padamu
Flashback
Hari itu sama seperti hari biasanya. Aku bekerja menjadi kasir di supermarket. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menghidupi kami berdua. Ceritanya terlalu panjang dan menyakitkan. Yang jelas, aku tidak pernah menyangka namja brengsek itu akan menampakkan dirinya di depanku dengan sebotol wine di tangannya
“Si…sica?”
Telingaku beraksi mendengar suara itu. Membuatku menoleh ke arah pemiliknya. Donghae. Jika aku tidak sedang bekerja, kupastikan tanganku mendarat di pipinya. Aku cepat-cepat mencsan barcodenya
“150.000 won.”
“Kau..bekerja disini?” tanyanya
“Ne. Oleh karena itu jangan ganggu pekerjaanku,”ujarku dengan dingin
“Eonni, shiftmu sudah selesai,” ujar seorang temanku
Sial. Donghae meninggalkan winenya disana. Menarikku begitu saja
“Lepaskan aku!”
Dia tidak mendengarkannya. Dia malah memelukku dengan sangat erat.
“Lepaskan aku atau aku akan berteri..”
“Bogoshipoyo,” suaranya bergetar. Membuatku luluh begitu saja. Mengapa kau sangat lemah, sica? Aku mendorongnya dengan kuat
“Katakan itu lima belas tahun lalu. Kau terlambat.”
Dia menahan tanganku. Membuatku melihat tangannya yang tidak bercincin
“Cincinmu..”
“Sudah kubuang.”
“Mwo?”
“Aku mencarimu dan anak kita kemana-mana sica. Tapi..”
“Anak kita?” tanyaku, menegaskan kalau aku tidak salah dengar
“Jangan pura-pura bodoh, sica.”
Aku terdiam. Lidahku terasa kelu hanya untuk mengucapkannya. Tidak. Aku tidak boleh tertipu dengan wajahnya yang memelas. Aku menepis tangannya
“Sejak kau meninggalkanku untuk yeoja pilihan bumonimmu. Dia bukan anak kita.”
Dia tetap menahan tanganku. Membuatku muak dengan segala perlakuannya.
“Izinkan aku melihatnya, sica. Kumohon.”
“Andwae. Aku tidak bisa menjelaskan situasi kita padanya. Lebih baik kau melupakan kami daripada semuanya bertambah rumit, donghae.”
Flashback End
Aku menggali luka yang sudah kututup. Bodoh, memang. Tetapi begitulah namja itu bisa membuat pertahananku runtuh. Dan caranya, melalui youngieku
Flashback
“Eomma! Aku mendapatkan beasiswa di Seoul Elite High School!”
“MWO?”
Aku membaca surat penerimaan itu. bagaimana…bagaimana bisa? Aku membalik halaman demi halaman. Hingga aku menemukan tanda tangan di sana. Tanda tangan pemilik sekolah itu… tanda tangan donghae. Aku mengenalinya dengan persis.
Drrt..
cellphoneku bergetar dari nomor tak dikenal. Aku mengangkatnya
“Yeoboseyo.”
Tidak ada suara
“Yeoboseyo?” aku mengulangnya
“Sica.”
Aku terdiam mendengar suara itu. Aku keluar dari rumahku agar youngie tidak mendengar percakapan kami
“Donghaessi. Aku sudah memperingatkanmu untuk..”
“Aku memberinya beasiswa karena dia siswi yang cerdas. Apa itu salah?”
“Kau tidak bisa membodohiku. Seoul Elite’s tidak akan memberikan beasiswa untuk anak pintar sekalipun.”
“Ya. Kau tahu itu, sica.”
“Aku tidak butuh belas kasihanmu.”
“Sica, apa kau seorang eomma?”
Aku terdiam mendengarnya “Apa maksudmu?!”
“Jika kau seorang eomma, izinkan putrimu mendapat pendidikan dan lingkungan yang berkualitas.”
“Donghae..”
“Terlepas dari masa lalu kita. Sica, kumohon kali ini pikirkan masa depannya.”
Flashback End
Drrt.. cellphoneku bergetar. Membuyarkan lamunanku. Setelah melihat nama penelponnya, aku mematikan cellphoneku. Aku melakukan ini untuk putriku. Bukan untuk putri kami.

~Kyuhyun POV~
Aku melangkahkan kaki memasuki rumah. Kulihat appa dan ibu tiriku di ruang tengah. Menatapku dengan tajam. Aku pura-pura tidak melihatnya dan melangkahkan kaki ke lantai atas.
“Darimana kau?” tanya appa
“Apa itu urusanmu?” aku meninggalkannya
“Kyuhyun, kita belum selesai bicara.”
“Kita sedang berbicara? Kukira kau hanya basa-basi.”
“Cho Kyuhyun, jangan buat aku marah.”
“Seharusnya aku yang berkata seperti itu.”
“Kau benar-benar keterlaluan. Setidaknya, kau bisa kan menghargai pernikahan ini sedikit saja dengan tidak membuat ulah?”
Aku bebalik menatapnya
“Anda yang keterlaluan, Tuan Cho yang terhormat. Saya tidak pernah menyetujui pernikahan ini. Sekalipun. Jadi saya tidak punya tanggung jawab untuk menghadirinya sampai selesai. Selamat malam.”
“KYUHYUN!”

—————————————–

~Sooyoung POV~
Aku tersenyum melihat diriku di cermin. Sudah sejak lama aku mengimpikan saat dimana aku bisa memakai seragam ini. Seoul Elite School. Mungkin hanya keajaiban yang bisa membuatku berada di sana. Aku memakai tasku. Tersenyum di depan cermin
“Hwaiting!”

~Kyuhyun POV~
Aku tersenyum kecut melihat pemandangan asing di meja makan. Ibu tiriku di sana. Ah bukan. Iblis itu disana. Bersama putranya.
“Kyuhyun ah. Ayo kita makan bersama,” ujar iblis itu
Hei. Tidak perlu bersandiwara di depanku. Aku tahu isi hatimu.
“Ani. Aku kehilangan selera makan.”
Aku terdiam sejenak melihat namja itu memakai seragam yang sama denganku
“Kau…”
“Ah ya. Appa belum memberi tahumu. Mulai hari ini, Kris akan bersekolah di sekolahmu.”
Aku tersenyum licik sesaat. Baiklah. Ini mungkin kabar buruk bagi orang-orang dramatis. Tapi ini kabar baik untukku. Lihat saja kau, anak baru. Aku akan membuat kehidupan sma yang tidak akan terlupakan untukmu
“Arra. Sampai bertemu nanti, Kris.”
“Kenapa kalian tidak berangkat bersama saja?” tanya appa
“Ada yang perlu kukerjakan. Annyeong.”

——————————————————–

~Sooyoung POV~
Aku memandang sekolah baruku dengan takjub. Ini seperti red carpet di acara penghargaan. Orang-orang keluar dari mobil mewah, dibukakan pintu oleh supirnya. Mungkin hanya aku yang naik sepeda. Aku menarik nafas dalam. Sooyoungie. Justru itu kelebihanmu. Naik sepeda menyehatkan. Ingat itu. Dibandign mobil ber AC dengan manner yang menyebalkan dan.. haish..kenapa aku jadi mengingat namja itu? Aku mencari parkiran untuk sepedaku. Nihil. Semuanya berisi mobil mewah.
“Anda..mencari apa?” tanya seorang satpam di sebelahku
“Ah..Dimana tempat sepeda?”
“Sepeda?”
“Ne.”
“Ah..itu.. sejujurnya tidak ada.”
Aku terdiam. Sekolah ini aneh. mereka punya tempat parkir untuk mobil. Tapi tidak untuk sepeda
“Tapi jika anda ingin..anda bisa menitipnya disini,” ujarnya
“Ah..apa tidak merepotkan?”
“Tidak.”
“Gamsamida.”
“Ne.”
Aku berjalan ke dalam. Sesekali memandang lukisan mewah di dinding. Bahkan aku tidak tahu berapa banyak kotak susu yang bisa kudapat dengan menjual lukisan itu. Aku memandang ke sekitarku. Para yeoja memakai tas selempang dengan brand terkenal. Rambut mereka tertata rapi. Wajah mereka cerah dan jam tangan yang mereka pakai bermerk. Benar-benar kelas atas. Aku tersenyum melihat penampilanku sendiri. Siapa yang peduli dengan penampilan? Aku memegang tas ranselku. Ke kelas 1-1

~Donghae POV~
Aku tersenyum melihat sosoknya di kelas 1-1. Kelas terbaik untuk anak-anak favorit. Dia duduk di dekat jendela. Mengingatkanku pada sosok sica yang saat itu juga duduk di sana. Youngie, jika eommamu melarangku untuk menemuimu sebagai appamu, maka aku punya cara tersendiri untuk bertemu denganmu, putriku.

~Yoona POV~
“Hei lihat. Appamu kesini, yoong,” ujar yuri
Aku menoleh ke jendela. Yuri benar. Appa melihat dari kaca. Aku kembali ke bukuku
“Yoong..”
“Dia tidak mungkin ke sini untuk melihatku. Dia pasti melihat sonsaengnim. Sudahlah. Kita kembali belajar.”
Meski aku berkata begitu, sejujurnya aku sendiri heran dengan keberadaan appa. Aku baru tahu seorang CEO bisa berkeliaran di sekolah miliknya saat hari sibuk. Yang jelas, dia tidak mungkin mengkhawatirkanku. Pernikahan politik. Itulah alasannya.

———————————————-

~Kyuhyun POV~
“MWO? Disekolahkan disini?” tanya minho
“Sekelas dengan kita?” tanya changmin
“Majayo,” ujarku sambil tersenyum
“Yaa! Bukankah itu kabar buruk untukmu?”
Aku menggeleng
“Itu kabar yang sangat bagus.”
“Wae?”
“Aku akan memastikan. Kehidupan SMA nya. Mengesankan,” ujarku
“Sepertinya aku mengerti arti kata mengesankan itu,” ujar changmin
Aku melihat ke arah jendela kelas. Tiba-tiba sebuah pemandangan menarik perhatianku
“Kau mau kemana?”
“Sebentar.”
Aku berlari ke luar. Mengikuti gadis itu. Itu..si gadis koran?! Aku menoleh ke sekitar. Tidak ada. Apa aku..berhalusinasi? Jelas. mana mungkin dia berada disini?

~Sooyoung POV~
Aku memasukkan tanganku ke dalam kantong. memandang yeoja di sekitarku. Obrolan mereka membosankan. Brand, fashion show, konser. Aish..useless. Apa gunanya mereka? hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya. Apa mereka tidak tahu berapa berharganya seratus ribu won? Aish..kenapa bayangan namja menyebalkan itu tidak bisa lepas dari kepalaku? Sepertinya hari-hariku akan menjadi panjang disini. Sangat panjang.

———————————————

~Kris POV~
“Jogiyo..dimana…ruang musik?”
Semua orang berlalu begitu saja. Tidak ada yang mendengar pertanyaanku. Ini aneh.
“Jogiyo,”
“Ne?”
Aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya ada orang yang menjawabku
“Dimana..ruang musik?” tanyaku
“Ah..itu..aku sendiri tidak tahu. Aku siswi baru disini.”
“Ah….kelas 1?”
“ne. kau..?”
“Kelas 2. tapi aku baru pindah ke sini.”
“Ah, sunbae.”
“Apa kau tahu…kenapa orang-orang tidak memedulikanku daritadi?”
“Mollayo. Mungkin..mereka terlalu sibuk membicarakan brand atau fashion show?”
“Begitu?”
Dia mengangguk

~Kyuhyun POV~
“Hahahahahahhaa. Kau benar-benar keterlaluan. Aku tidak habis pikir.”
“Yaa! Itu salahnya. Siapa suruh dia berada di sini?”

—————————————–

~Kris POV~
Aku memainkan rubiksku. Tersenyum. Cho Kyuhyun. Apa menurutmu aku tidak tahu kalau ini semua idemu? Membuat satu sekolah tidak bicara padaku? Aku menggeleng tak percaya. Cara anak SD. Tapi..kenapa yeoja itu menjawabku? Entahlah. Krek…pintu kamarku terbuka. Eomma masuk ke kamar. Mengusap kepalaku
“Dia pasti melakukan sesuatu padamu.”
“Ne. Sesuai yang kita duga, dia menyerangku melalui teman-temannya.”
“Kekanak-kanakkan.”
“Benar.”
“Lalu, kau sendiri bagaimana?”
“Apa aku butuh teman? kurasa tidak.”
“Good job, boy. Kau harus bertahan. Untuk mimpi kita. Arra?”
“Ne, arrayo.”

~Kyuhyun POV~
“Kudengar kau membuat satu sekolah mendiamkan kris.”
Aku tidak beranjak dari komikku. Membaliknya dengan santai.
“Ternyata, seorang CEO bisa peduli pada urusan anak kecil.”
“Kyuhyun ah. Sebenarnya apa maumu?”
Aku menutup halaman komikku
“Mauku, dia pergi dari rumah ini bersama eommanya.”
“Aku lelah berbicara dengan anak keras kepala sepertimu,”ujarnya lalu pergi
“Nado.”

———————————————–

~Sooyoung POV~
Entah kesalahan apa yang kuperbuat. Rasanya nilaiku baik-baik saja dan kelakuanku tidak bermasalah. Tapi Kim sonsaengnim memerintahkanku untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Aku menarik nafas dalam sebelum memasuki ruangan. Aku mengetuk pintunya perlahan kemudian memasuki ruangan.
“Annyeonghaseyo,” aku membungkuk
“Ah..annyeonghaseyo, sooyoungssi. Anjuseyo,” ujar kepala sekolah padaku
Aku duduk di sana. Kulihat ada seorang namsong di sebelahnya. Dia tersenyum padaku dengan ramah.
“Jadi, kau yang bernama sooyoung?” tanyanya
“Ne.”
“Ini adalah Choi Donghae sonsaengnim. Beliau adalah pemilik sekolah ini.”
Aku tersenyum dan membungkuk padanya
“Mannaseo panggapseumnida.”
“Kau tidak hanya pintar dan berperilaku baik. Tetapi juga manis. Senang berkenalan denganmu,” ujarnya
“Gomapseumnida.”
“Apa kau tahu kenapa kau dipanggil kesini?” tanyanya
Aku menggeleng.
“Kau membuat sebuah kesalahan,” ujarnya
“Kesalahan?”
“Kau tidak masuk kegiatan ekstrakurikuler manapun,” ujar kepala sekolah
“Meski tidak diwajibkan, kurasa sangat disayangkan jika bakat non akademismu tidak dikembangkan. Atau mungkin..apa semua kegiatan itu tidak menarik perhatianmu?” tanya namsong itu
“Ani..semuanya sangat menarik. Tapi…”
“Bumonimmu keberatan dengan biayanya?” tanya namsong itu
Aku mengangguk pelan
“Mengenai hal itu, kau tidak perlu khawatir. Kau adalah siswi yang sangat berpotensi. Kau bisa memilih kegiatan apapun yang kau pilih tanpa dipungut biaya apapun.”

~Donghae POV~
“N..ne?”
“Asal, kau mempertahankan prestasimu,” ujarku
Seketika dia berdiri dan membungkuk padaku
“Jeongmal gamsahamnida, sonsaengnim.”
Aku tersenyum melihatnya. Seandainya saja kau bisa memanggilku appa.
“Ne. Sekarang, sebaiknya kau kembali ke kelas. Aku tidak ingin mengganggu waktu belajarmu lebih lama lagi.”
“Algesseumnida. Annyeonghaseyo,” ujarnya lalu pergi
Dia benar-benar mirip sica soal hal ini.
“Sonsaengnim, mianhamnida jika aku terkesan ikut campur. Tetapi mengapa anda sangat bermurah hati pada gadis itu? SEHS belum pernah memberi beasiswa sekalipun.” tanya kepala sekolah
Karena dia putriku.
“Dia anak yang sangat berpotensi. Hanya saja, bumonimnya kekurangan dana untuk menyekolahkannya di tempat yang lebih berkualitas dan seimbang dengan potensinya. Hal itu sangat disayangkan, bukan?”
“Algesseumnida.”

———————————————————-

~Sooyoung POV~
Aku melihat daftar kegiatan ekstrakurikuler dengan cermat. Pertama-tama, aku ingin mengambil ekstrakurikuler piano. Berikutnya…kurasa cheerleader. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Choi Donghae sonsaengnim.

~Kyuhyun POV~
Hari sudah malam. Aku berniat mengambil air di lantai bawah. Tiba-tiba seseorang mengganggu pemandanganku. Kris duduk di depan piano. Berniat memainkannya
“Yaa!” teriakku
Seketika dia menatapku
“Kau tidak boleh memainkannya!” ujarku
“Waeyo?” tanyanya polos
Aku mengusap wajahku.
“Grand piano berwarna putih ini. Adalah. Milik. eommaku. Dan kau tidak boleh menyentuhnya,” ujarku dengan penuh penekanan
“Lalu..piano mana yang bisa kumainkan?” tanyanya
“Mintalah appa untuk membelikan yang baru!”
“Kalau begitu sekali saja. Besok, aku harus menjalani tes piano,” ujarnya
“Aku tidak peduli. Ini adalah piano eommaku.”
“Ternyata kau orang yang bodoh.”
“Apa katamu?”
“Cho Kyuhyun. Kau membuatku dikucilkan di sekolah. Tapi kau sendiri? Seperti orang gila yang melarangku untuk memainkan piano milik orang yang sudah meninggal.”
BUK! Aku menonjoknya
“Kau benar-benar sudah gila,” ujarnya
“TUTUP MULUTMU!”
“APA-APAAN INI!” teriak appa
“Omona…kris.”
“Adegan drama lagi,” gumamku
“Cho Kyuhyun. Bisakah kau mencari masalah besok pagi? Ini jam 11 malam!” ujar appa
“Namja ini mencari masalah denganku duluan!”
“Aku hanya ingin berlatih untuk ujian. Apa itu salah?” ujar kris
“Ini adalah piano eomma. Dan hanya keluarga kami yang boleh memainkannya!”
“Kris juga keluarga kita, kyuhyun,” ujar appa
“Dia keluarga anda. Bukan keluarga saya.”
PLAK! Aku memegang pipiku. Tersenyum kecil
“Sekarang dia membuatmu menamparku. Benar-benar hebat.”
“Kau benar-benar keterlaluan, Cho Kyuhyun! Ini hanya soal kecil!”

——————————————-

~Yoona POV~
Aku melihat anak baru itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wajahnya bisa terkategori cantik. Tapi rambutnya model lama. Tasnya bukan barang branded. Begitu pula sepatunya. Bukan tampang seorang anggota cheers
“Kau yakin ingin mengizinkannya ikut audisi?” bisikku pada yuri
“Ayolah, yoong. Tidak ada cinderella di SEHS. Dia hanya kurang didikan untuk berpenampilan.”
“Baiklah, mulai audisinya,” ujarku

~Kyuhyun POV~
Sekarang aku berada di gudang rumahku. Bersama dengan grand piano putih yang pindah kesini. Aku mengusapnya dengan pelan. mengingat kenangan saat aku dan eomma memainkanya
“Dari awal aku sudah tahu. Kalau eomma saja bisa ia gantikan dengan mudah, kau pun akan digantikan dengan lebih mudah.”
Aku duduk di sana, menekan tuts-tutsnya dengan perlahan. Tes. Entah kenapa air mataku jatuh begitu saja. Aku menghapusnya. Apa namja selemah ini? Kurasa tidak.
“Eomma, rumah ini bertambah kacau. Appa berubah.”

—————————————————-

~Sooyoung POV~
“Selamat bergabung di anggota cheers,” ujar sosok yeoja tinggi di depanku. Dia memberikan sebuah kunci padaku. Aku nyaris lompat dari sini sebelum seorang yeoja  di sebelahnya memandangku dengan sinis
“Sebelum itu, kau harus mengubah penampilanmu.”
“Ne?”
“Sepatumu dan tasmu. Buang mereka. Dan rambutmu, kurasa sebaiknya dibuat wavy.”
Aku tersenyum kecil. Tipikal yeoja menyebalkan.

~Kyuhyun POV~
“Kau benar-benar hebat Kris!” ujar appa sambil bertepuk tangan.
Aku berlalu begitu saja. Apa-apaan itu. Aku memandang sinis grand piano hitam yang dimainkannya.
“Bagaimana menurutmu, kyu ah?” tanya nenek sihir itu
“Mainstream. Banyak orang yang bisa memainkan canon,” ujarku lalu pergi

———————————————-

~Sooyoung POV~
“Haish..”
Aku menendang kerikil sambil berjalan pulang ke rumahku. Yeoja menyebalkan. Memangnya dia siapa? Bisa-bisanya berkata seperti itu padaku.
“Aku ingin kau tampil manis besok. Jika tidak, kau dianggap gugur,” ujarku sambil menirukan gayanya. Menyebalkan.

~Donghae POV~
Aku merasa menjadi penguntit hari ini. Aku mengikuti sooyoung dari belakang. Kulihat dia menendang kerikil-kerikil di depannya. Seperti sica saat kesal. Aku menekan klaksonku. Kulihat dia berbalik.
“Annyeonghaseyo, sonsaengnim,” ujarnya
“Ne, annyeonghaseyo. Kau pulang sendiri?”
“Ne.”
“Jalanannya sepi. Berjalan sendirian di sini sangat berbahaya. Bagaimana jika kuantar pulang?” tanyaku
“Gwaenchanhayo, sonsaengnim. Aku…”
“Menolak kebaikan hati seseorang bukan hal yang baik. Bukan begitu?”
Dia tersenyum kecil
“Gomapseumnida.”
Dia duduk di sebelahku
“Ah..sebelum pulang, bagaimana kalau kita makan siang dahulu?”
“Apa tidak merepotkan?”
“Aniyo.”

~Sooyoung POV~
Aku memandang tiap menu dengan bingung. Semuanya sangat mahal.
“Apa yang ingin kau pesan?” tanyanya
“Hot ocha saja,” ujarku
“Kau harus memesan makanan,” ujarnya

~Donghae POV~
“Sonsaengnim..semuanya..sangat mahal,”ujarnya
Aku tersenyum kecil. Youngie, mianhamnida. Seharusnya, appa bisa memberimu yang lebih baik dari ini. Apapun yang kulakukan, semuanya tidak bisa menebus rasa bersalahku, youngie.
“Dua wagyu dan dua orange juice,”ujarku pada pelayan
“Algesseumnida.”
“Sonsaengnim…”
“Appa,” ujarku
“N..ne?”
“Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Jadi, aku ingin kau panggil appa,” ujarku
Dia hanya diam. Terlihat bingung dengan perkataanku
“Siapa yang tidak ingin memiliki putri yang cantik, baik, dan pintar sepertimu?” tanyaku
“Appaku,” ujarnya
Seketika aku terdiam.
“Sejak kecil, eomma membesarkanku sendirian. Appa tidak pernah mengunjungi kami. Dan aku sendiri..tidak berani menanyakan alasannya pada eomma. Aku tidak mengerti bagaimana rasanya memiliki seorang appa.”
Tuhan, aku berdosa besar. Matanya berkaca-kaca. Tapi dia tersenyum untuk menyembunyikan semuanya. Youngie, appa akan membuatmu merasakannya sekarang

~Yoona POV~
“Totalnya lima ratus ribu won.”
Aku memberikan kartu kreditku. Setelah membayarnya, aku membawa barang-barang itu. Yuri menggelengkan kepalanya
“Wae?”
“Kau benar-benar gila. Menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah tas.”
“Biarkan saja. Appa yang membayarnya. Bukan aku. Arrachi?”

~Donghae POV~
“Daebak. Kau tahu, audisi cheers sangat sulit dan banyak saingannya.”
“Ne, tapi kurasa aku tidak akan mengambilnya.”
“Waeyo?”
“Mereka memintaku mengubah penampilan. Tapi, aku tidak mungkin membuang uang hanya untuk masuk cheers.”
“Memangnya, mereka memintamu melakukan apa saja?”
“Mereka memintaku mengubah tatanan rambutku, mengganti tas, dan sepatuku. Aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak akan membebani eomma untuk hal yang tidak terlalu penting.”
Aku tersenyum mendengarnya. Bahkan dia sangat memikirkan dan menyayangi sica.
“Kau ada tes besok?” tanyaku
“Tidak ada.”
“Kalau begitu, hari ini aku adalah appa yang menculik putrinya berkeliling dept store.”
“Ne?”

———————————————–

~Kyuhyun POV~
Kalian tidak akan percaya ini. Aku sedang membersihkan gudang. Karena mulai hari ini, aku akan menjadikannya ruangan yang indah untuk grand piano eomma. Setelah merapikan semuanya, aku memajang foto eomma di atas sana
“Mulai hari ini, ini menjadi ruang rahasia kita.”

~Sooyoung POV~
“Neomu yeppo,” ujarku sambil melihat ke cermin. Aku sedang mencoba pakaian yang dibelikan donghae sonsaengnim. Sebuah dress berwarna peach yang senada dengan rambut baruku. Bagaimana bisa ada orang sebaik itu?
Flashback
“Selesai.”
Aku tercengang melihat cermin. Kali ini, aku harus mengakui kebenaran berkataan yeoja menyebalkan itu. Rambut wavy terlihat lebih manis.
“Wah! Nae ttal neomu yeppo!” ujar donghae sonsaengnim
“Gomawo.”
“Dan ini hadiah untukmu,” ujarnya sambil memberi beberapa tas belanjaan
“Ini…”
Flashback End
Drrrt.. cellphoneku berbunyi. Itu dari eomma
“Eomma!! Annyeong!! Bogoshipoyo!!”
“Do bogoshipoyo. Kau sepertinya senang sekali hari ini.”
“Ne. Eomma! Pemilik sekolahku ternyata orang yang sangat baik!”
“Pe..milik sekolah?”
“Ne. Namanya Choi Donghae. Dia..”
Apa yang dia berikan padamu, youngie?”
“Dia memberiku sebuah tas, sebuah dress, dan sepatu. Dia juga mengajakku makan dan mengantarku pulang. Bahkan menjadi…”
Tut…tut…tut..
“Eomma?”
Teleponnya dimatikan. Apa eomma sedang bekerja? Entahlah.

~Donghae POV~
Kejutan bagiku hari ini. Sica menelponku. Aku menarik nafas dalam dan mengangkatnya
“Sica…”
“Untuk apa kau membawa putriku pergi hari ini?”
Aku menghela nafas
“Sica, aku hanya berniat menyenangkannya. Itu saja.”
“Menyenangkannya dengan materi? Aku sudah bilang padamu. Di samping pendidikan, kami tidak akan hidup dari belas kasihanmu.”
“Tapi, sica.”
“Aku akan menyuruhnya mengembalikan semua barang-barang itu besok.”
“Sica, aku hanya seorang appa yang ingin melihat kebahagiaan putrinya. Apa itu salah?”
“Jika kau memang ingin melihat kebahagiaannya, lakukan itu sejak..”
“Sica, aku hanya ingin dia merasa bahagia diperhatikan oleh seorang ayah. Apa itu salah? Aku tidak ingin dia merasa hanya eommanya yang menyayanginya, sica.”
“Donghae–“
“Kau tega membiarkannya gagal menjadi anggota cheers hanya karena penampilan?”
Dia terdiam dan mematikan teleponnya. Aku tersenyum kecil
“Kau tahu kalau aku benar, sica.”

——————TBC—————–

 

110 thoughts on “Enchanted {Part 1}

  1. Ahh keren..
    Sumpah Kyuppa nyebelin..
    Segala sesuatu di beli dg uang..
    Kris saudara tiri Kyuppa? Soo anak donghae?
    Saudara yoona donk?
    Yoona di sini nyebelin,, manja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s