Glass Slippers {Part 2}

glass slippers

Title : Glass Slippers

Main Cast :
Choi Sooyoung
Seo Joohyun
Cho Kyuhyun
Jung Yonghwa

Other Cast
Choi Minho
Kwon Yuri

Type : Series

Genre : Romance

Rating : PG-15

Annyoeng uri readers
Jeongmal mianhamnida hiatus karena authornya pergi liburan
Sebelumnya author mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan
Mohon maaf lahir dan batin ^^
Part 2 updated~
Prolog | Teaser to part 1 | Part 1
~Sooyoung POV~
Aku memutar tembikarku. Membiarkan tanganku memutar secara sempurna. Sesekali, aku menengok ke arah namja itu. Cho Kyuhyun. Yang tengah berkeliling sambil mengamati pekerjaan mahasiswa yang lain. Benar-benar namja yang jenius.
“Hei, tidakkah kau merasa dia keren?” ujar Yuri yang duduk di sebelahku
“Ne?”
“Lihat saja. Baru berusia 22 tahun saja sudah menjadi dosen. Dia benar-benar jenius. Dan juga tampan. Betapa beruntungnya yeoja yang bisa mendapatkannya.”
Aku tersenyum kecil dan kembali fokus pada tembikarku. Tiba-tiba seseorang berdiri di depanku. Memangku tangannya.
“Kudengar kau cucu tunggal dari Cho Jungnam ahjeossi,” ujarnya yang membuatku menoleh
“Darimana sonsaengnim tahu?”
Dia tersenyum kecil dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Berhati-hatilah sooyoungssi. Aku mengawasimu,”  bisiknya lalu pergi
“Kyaa..aku benar-benar iri. Dia bahkan mengajakmu berbicara,” ujar yuri
Aku menatapnya dengan bingung. Bahkan dia bisa membuat seluruh tubuhku merinding.

——————————————-

~Kyuhyun POV~
Aku menyetir mobilku. Menyetel mp3 playernya. Craig David-Do you believe in love. Aku memakai kacamata hitamku. Matahari yang hampir terbenam terlihat sangat menyilaukan. Tetapi aku malas pulang ke rumah.
Do you believe in love?
And the promise that it brings
That you’ll never grow apart
Well that’s what she said to me
Why did you have to go?
Aku terdiam mendengar lirik itu. Lirik yang selalu menyindirku setiap saat aku menyetelnya. Apa aku mempercayai cinta dan janji? Aku tersenyum kecil. Aniya. Cinta itu hanya omong kosong negeri dongeng dan janji hanyalah perkataan manis sesaat yang akan segera menghempaskanmu ke dalam kesendirian. Tidak ada di dunia nyata. Janji untuk setia sehidup semati. Rasanya terlalu konyol untuk kata semati. Appa menunjukkan semuanya. Sejak kepergian eomma. Saat itu aku masih berusia 14 tahun.
Flashback
“BENAR-BENAR MEMALUKAN!”
Hari itu aku hanya diam. Menatap yonghwa hyung yang disidang dari balik ambang pintu ruang tembikar. Yonghwa hyung hanya diam dan menundukkan kepalanya. Sedangkan wajah appa memerah
“Bagaimana bisa putra seorang seniman internasional kalah di pertandingan nasional?. Ada apa denganmu yonghwa? Kau selalu menang di pertandingan!” ujar appa
“Aku…mianhamnida appa.. tapi aku tidak ingin membuat tembikar lagi dan itu bukan duniaku.”
“Bukan duniamu? Cho Yonghwa, kau adalah putra pertama keluarga ini. Dan kau adalah pewaris segalanya.”
“Tapi aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga ini!”
PLAK!
“YEOBO!!” Eomma memeluk yonghwa hyung. Sedangkan aku hanya bisa terdiam di tempat
“Lalu apa duniamu hah!”
“Musik,” ujar yonghwa
Appa berjalan keluar ruangan. Eomma dan yonghwa hyung mengikutinya. Aku berjalan perlahan ke sana. Kulihat appa membanting gitar yonghwa hyung
“APPA!!!!”
“Berhentilah bercanda, yonghwa. Musik bukan duniamu!”
Yonghwa hyung menatapnya dengan tajam
“Hari ini juga aku akan angkat kaki dari rumah ini! Dan coretlah aku dari kartu keluarga Cho! Aku tidak butuh keluarga yang tidak mendukungku.”
“JANGAN PERNAH KEMBALI SAMPAI KAU BERHASIL!” ujar appa
“Baik. Aku tidak akan kembali sampai aku bisa membuktikannya!”
“Yonghwa…” eomma meraih tangannya
“Biarkan dia pergi, yeobo!” appa menepis tangannya
Satu hal yang kusesali..aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hingga akhirnya eomma jatuh sakit. Penyakit jantungnya kambuh. Dan ia merasa tertekan dengan kepergian yonghwa hyung.
“Yonghwa..” ia terus memanggil namanya seperti itu. Membuatku dan appa tersiksa. Tapi yonghwa hyung tidak kunjung ditemukan. Bahkan sampai detik terakhir eomma menghembuskan nafasnya. Tidak ada yonghwa hyung disana. Hingga setahun kemudian, yonghwa hyung kembali dan membawa sebuah album. Yang didapatinya hanyalah reaksi dingin dari appa
“KELUAR DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI. KAU BUKAN ANAKKU LAGI!”
Aku tidak bisa melupakan wajah yonghwa hyung saat itu. Kaget. Kecewa. Dan tidak bisa diartikan. Sejak itulah yonghwa hyung keluar dari dunia musik dan membangun sebuah cafe. Sedangkan aku, menggantikan posisinya sebagai anak pertama di keluarga ini. Yang menanggung semua tanggung jawab atas tembikar dan museum seni. Dan appa.. dia berubah. Dia bagaikan orang asing yang menghabiskan waktunya dengan banyak yeoja. Dan hidupku..bagaikan robot yang tidak berperasaan. karena sejak itulah aku sadar. Cinta itu tidak semati.
Flashback End

—————————————–

~Seohyun POV~
Aku meneguk wineku. Memandang ke arah kota Seoul. Musim gugur. Musim yang romantis bagi para pasangan. Tapi aku tidak menemukan segi romantisnya. Sooyoungie. Entah dimana dia sekarang. Seo Sooyoung, kembaranku. Mungkin sudah berkali-kali aku menyebutkan namanya. Tapi dia tidak kunjung datang. Tidak seperti saat kami masih kecil, dimana dia selalu datang saat kusebut namanya.

~Sooyoung POV~
Aku masuk ke kelasku. Sepi. Belum ada orang. Yang ada hanyalah kyuhyun sonsaengnim yang tengah membuat tembikarnya. Aku mengamatinya diam-diam. wajahnya terlihat serius. Tangannya bergerak dengan lincah, memutar meja kecil itu. Pro memang berbeda
“Mau sampai kapan kau berdiri di sana?” tanyanya
“Ne?”
Dia berhenti dan menatapku
“Kau yang di sana,” ujarnya sambil menunjukku
Aku berjalan keluar ke arahnya.
“Annyeonghaseyo,” ujarku
“Kenapa kau formal sekali?”
Aku mengusap tengukku “Aku..berbicara dengan sonsaengnimku.”
“Itu kalau di kelas. Disini tidak ada siapa-siapa kecuali kita. Memanggilku dengan sebutan sonsaengnim rasanya terlalu tua dan formal.”
“Mianhae”
“Nice girl,” ujarnya
“Ne?”
“Kau meminta maaf padahal kau tidak salah apa-apa. Dan kau berkata ‘ne?’ padahal kau mendengar apa yang kuucapkan. Hanya nice girl yang melakukannya.”
“Nice girl?”
“Sudahlah. Terlalu rumit menjelaskannya. kau tidak akan mengerti.”
“Algesseumnida, sonsaengnim.”
“Kyuhyun.”
“Ne?”
“Kau bisa memanggil namaku saja jika berada di luar kelas. Usia kita hanya berbeda tiga tahun. Memanggil sonsaengnim rasanya terlalu tua.”
“Arra, kyuhyunssi.”
Aku duduk di depannya. Memperhatikan tembikar itu
“Sudah berapa lama kau belajar tembikar?” tanyaku
“Hm..sekitar tujuh tahun.”
“Tujuh?”
“Ne. Karena empat belas tahun lainnya kusebut memainkan tembikar.”
Aku tersenyum kecil. “Pasti sangat berat menjadi putra seorang seniman profesional.”
Dia menatapku sebentar. “Kau benar. Tanggung jawab atas nama orang tuamu dipertaruhkan. Oh ya, aku hanya mendengar cerita tentang harabeojimu. Orang tuamu bagaimana?” tanyanya
“Aku tidak ingat persis seperti apa wajah dan kenangan tentang mereka. Saat kecil, aku mengalami kecelakaan dan yang kuingat hanyalah bumonimku sudah meninggal. Setelah itu, harabeoji merawatku sampai sekarang.”
Dia menghentikan gerakan tangannya. “Bersyukurlah. Masih ada seorang harabeoji yang sangat menyayangimu.”
“Kau benar.”

————————————————————

~Yonghwa POV~
“Segelas teh inggris,” aku menaruh cangkir itu di mejanya
“Aku..”
“Meminum kopi setiap hari tidaklah baik. Lagipula teh inggris tidak perlu gula untuk membuatnya menjadi enak.”
Dia tersenyum kecil
“Gomawo.”
“Ne.”
Aku duduk di depannya. Kulihat dia memandang ke arah beberapa siswa SMA yang berlalu lalang
“Aku iri dengan mereka.”
“Ne?”
“Kau tahu, aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk karier. Aku ikut homeschooling. Tidak pernah merasakan masa-masa seperti itu. Seharusnya..sekarang aku menikmati masa menjadi mahasiswa.”
“Berapa usiamu?”
“19 tahun. Kau?”
“28 tahun.”
“Jinjjayo? Kau terlihat seperti namja berusia 20 tahun,” ujarnya
“Gomawo. Itu berarti wajahku awet muda.”
“Hahahaha.”

—————————————–

~Kyuhyun POV~
Aku berada di ruang tembikar. Mengamati seluruh isinya. Perlahan, aku meraih gelas wineku. Meneguknya. Udara musim gugur mulai dingin. Sama seperti ruangan ini. Krek..kudengar pintu itu terbuka. Aku tersenyum kecil melihat siapa yang berdiri di sana
“Annyeong kyu ah!”
Aku menuangkan wine untuknya. Memberikan gelas itu padanya. Kulihat dia menggelengkan kepalanya dan meraih gelas itu
“Benar-benar parah. Kau tidak berubah.”
“Yaa Minho! Kapan kau kembali dari Amerika? Kenapa kau tidak memberi tahuku eoh?”
“Baru kemarin.”
“Cheers.”
“Cheers.”
Kami bersulang dan meminumnya
“Kudengar kau sudah menjadi dosen.”
“Ne.”
“Bagaimana? Apa di sana banyak mahasiswi cantik?”
“Kubur harapan itu dalam-dalam.”
“Jadi kau sudah punya yeojachingu?”
“Pertanyaan bodoh.”
“Kau masih bermain-main? Ayolah, kyu ah. Sudah saatnya kau serius,” ujarnya
“Yaa Minho. kau sendiri bagaimana eoh?”
“Kalau aku..biar bagaimanapun bumonimku ingin menantu asli Korea. Jadi mana mungkin aku mencari yeojachingu di Amerika kemudian memutuskannya! Aku ingin serius.”
“Jadi kau kembali ke sini untuk itu?”
“Aniya. Aku harus mengurus perusahaan baru appaku sampai setahun lagi.”
“Jadi kau tinggal dimana?”
“Di rumah sepupuku.”
“Mwo? Sepupu? Yaa! Choi Minho. Aku sudah menjadi temanmu selama bertahun-tahun. Tapi aku tidak pernah tahu kau punya sepupu!”
“Yaa! Dengarkan dulu. Dia sepupu jauhku. Harabeojinya adalah adik harabeojiku! Aku juga baru mengetahuinya saat pernikahan noonaku di Amerika!”
“Keluargamu rumit dan terlalu besar.”
“Ne. Sangat disayangkan. Padahal kau tahu, sepupuku sangat cantik dan baik. Kalau saja kami tidak memiliki garis keturunan yang sama, mungkin aku sudah menjadikannya yeojachinguku.”
“Aku jadi penasaran seperti apa sepupumu itu.”
“Nah. Kalau begitu tolong antarkan aku ke rumahnya.”
“Mwo?”
“Aku naik taksi ke sini! Hitung-hitung, aku tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk ke sana lagi.”
“Yaa!! Kenapa kau tidak langsung ke sana saja hah!”
“Bogoshipoyo~” ujarnya dengan aegyeo
“Kau terdengar seperti homo.”
“MWO? Aku normal seratus persen! LURUS!”

———————————————–

~Sooyoung POV~
Ting…tong… kudengar bel pintu berbunyi. Aku melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Harabeoji bilang, sepupu jauhku, Choi Minho akan tinggal disini selama setahun. Hitung-hitung, aku memiliki teman untuk mengobrol. Lagipula dia cukup baik. Kulihat pintu itu terbuka
“Annyeong, sooyoungie!” ujarnya
“Annyeong minho o…ppa..”
Aku terdiam melihat sosok itu di sana. Kyuhyun sonsaengnim yang membawakan kopernya
“Kyuhyunssi?”
“Sooyoungssi?”
“Kalian saling mengenal?” tanya minho
“Selamat datang minho..”
“Annyeonghaseyo harabeoji, aku hanya mengantarnya sampai ke sini,” ujar kyuhyun
“Annyeonghaseyo. Dia chinguku, harabeoji,” ujar minho
“Wah.. dunia ini ternyata memang sempit hahahahahaha. Kyuhyun ah, gamsamida sudah mengantarnya. Mianhamnida telah merepotkanmu”
“Itu bukan masalah. lagipula minho adalah chinguku.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita minum teh dulu?”
“Gwaenchanhayo,harabeoji. Appa menungguku di rumah.”
“Kalau begitu kau harus datang lain kali untuk kujamu. Arraseo?”
“Algesseumnida. Annyeonghaseyo.”
“Ne, annyeonghaseyo.”
Aku menatapnya menjauh
“Harabeoji mengenalnya?” tanya minho
“Ne, dia adalah putra tunggal cho corp, yang juga mengelola museum seni. Dia seniman tembikar internasional, sekaligus dosen sooyoung. Aku mengenalnya dengan baik dari appanya. Dia tidak hanya tampan dan jenius, tapi juga sopan. Kau?”
“Dia adalah temanku sejak kecil.”
“Hahahahaha. Ini benar-benar menarik. Bukan begitu, sooyoungie?” tanya harabeoji
“Ne.”

————————————-

~Minho POV~
“Bagaimana kyuhyun mengajar di kampus?” tanyaku sambil menyetir ke kampusnya
“Baik-baik saja. Dia sangat teliti, kesalahan terkecil pun bisa ditemukan.”
“Tidak berubah. Dia memang perfeksionis.”
“Sudah berapa lama oppa mengenalnya?”
“19 tahun. Kami berasal dari playgroup yang sama.”
“Lama sekali.”
“ne. aku tahu persis evolusinya dari katak yang kena kutukan sampai pangeran.”
“Hahahahhaha.”
“Kau tahu, dulu dia gemuk dan pendek. Entah kapan dia menjadi pangeran tinggi dengan tubuh atletis.”
“Setiap orang berubah.”
“Ne.”
Aku memarkirkan mobilnya di lapangan parkir. Kemudian mengikutinya ke kelas. Kulihat hanya kyuhyun yang ada di sana
“Annyeong!” sapaku
“Kenapa kau kemari?”
“Aku hanya ingin melihat bagaimana kau mengajar.”
“Atau melihat mahasiswi?”
“Yaa! Teman macam apa kau!”
“Hahahaha. Aku hanya bercanda. Haish..kau ini benar-benar. Bukankah appamu menyuruhmu mengurus perusahaan?”
“Aku hanya mengantar sepupuku. Lagipula aku baru sampai di Seoul kemarin. Aku masih lelah.”
“Alasan.”
“Kalau begitu aku pergi dulu untuk melihat ke sekitar. Annyeong!!”
Aku berlari keluar dengan cepat. Tiba-tiba aku menabak seorang yeoja
“A..h…”
“Joesonghamnida..”

~Yuri POV~
“Mianhamnida”
Aku masih tercengang melihatnya membersihkan noda di mantelku. Wajahnya asing. Mungkin bisa dibilang ini aneh. Tapi di beberapa film..tokoh utama bertemu dengan pasangannya saat ditabrak dan..aish..apa yang kupikirkan. Ini dunia nyata yuri ah!
“Sepertinya aku tidak pernah melihatmu.”
“Aku adalah chingu dari kyuhyun, sonsaengnimmu. Sekaligus sepupu dari sooyoung.”
“Sooyoung…choi sooyoung?”
“Ne. Kau mengenalnya?”
“Dia chinguku.”
“Ah..ya. Kalian sekelas. Minho imnida,” ujarnya sambil menyodorkan tangan
“Yuri imnida.”

————————————–

~Minho POV~
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sekarang aku berada di ruang tengah. Menonton televisi. Sooyoung belum pulang dan aku merasa bosan. Tiba-tiba kudengar suara batuk yang keras dari ruang kerja harabeoji
“UHG…”
Aku pergi ke sana. Kulihat harabeoji tergeletak di lantai
“HARABEOJI!!!”

~Sooyoung POV~
“Suster, dimana kamar pasien bernama Choi Jungnam?”
“Di sebelah kanan lorong ini. Kamar 510”
“Gamsamida.”
Aku berlari ke sana secepatnya. Aku membuka pintunya. Kulihat minho oppa di sana.
“Annyeong,” ujar harabeoji
“Harabeoji gwaenchanhayo?”
“Nae gwaenchanhayo. Kau tidak perlu khawatir. Hanya batuk ringan hahahaha..”
“Harabeoji..”
“Aish..jangan membesar-besarkan. Aku masih sehat. Iya kan, min?”
“A..ne.”
Aku menatapnya. Entah kenapa aku merasa ada yang disembunyikan disini.

~Minho POV~
“Dokter berkata harus segera dilakukan bypass,” ujarku
“Berapa persen kemungkinan harabeoji akan selamat dan mati?” tanya harabeoji
“Harabeoji.. jangan bertanya seperti itu.”
“Bypass itu beresiko tinggi, min. Bagaimana kalau harabeoji meninggal? Siapa yang akan menjaga sooyoungie?”
“Harabeoji tidak akan meninggal.”
“Setidaknya..harabeoji tidak bisa melakukan operasi jika harabeoji belum tenang.”
Aku berpikir keras
“Harabeoji tenang saja. Aku akan menjaga sooyoungie selama harabeoji dirawat.”
“Bukan itu maksudku, min.”
“Lalu?”
“Harabeoji tidak ingin…dia seperti eommanya.”
“Eo..mmanya?”
“Kau tahu.. harabeoji baru menemukannya saat dia berusia 5 tahun. Eommanya,putri harabeoji pergi dari rumah karena harabeoji menolak pernikahannya dengan seorang namja bermarga Seo. Oleh karena itu harabeoji tidak akan bisa meninggal dengan tenang..seandainya harabeoji belum melihat sooyoung menikah..atau setidaknya bertunangan dengan namja pilihan harabeoji.”
“Harabeoji…”
“Harabeoji tidak rela..jika dia bertunangan atau bahkan menikah dengan namja yang tidak bisa mempertanggung jawabkannya..dan memanfaatkannya.”
“Tapi harabeoji, resiko tidak dioperasi juga sama besarnya.”
“Entahlah, min.”
Aku menarik nafas dalam. Mianhamnida harabeoji. Sooyoung harus tahu soal hal ini

—————————————————–

~Sooyoung POV~
Aku membawakan koper berisi baju harabeoji ke rumah sakit. Perlahan, aku membuka pintunya. Kulihat harabeoji sudah tertidur. Aku menaruh kopernya di samping lemari
“Gomawo oppa sudah menjaganya.”
“Ne.”
“Oppa beristirahat saja di rumah. Biar aku yang menjaga harabeoji.”
“Sooyoungie.”
“Ne?”
“Ada yang harus oppa katakan. Tentang harabeoji. Kita bicarakan di luar.”
“Arra.”
Aku pergi ke luar kamar harabeoji. Menutupnya perlahan
“Kondisinya semakin memburuk. Dokter menyarankan bypass.”
“Bypass?”
“Ne. Tapi harabeoji tidak ingin melakukannya karena mengkhawatirkanmu.”
Seketika aku terdiam
“Harabeoji ingin melihatmu menikah atau setidaknya bertunangan dengan namja pilihannya terlebih dahulu sebelum dia dioperasi.”
“N..ne?”
“Resikonya sangat tinggi. Tetapi membiarkannya seperti ini pun sama bahayanya dengan dioperasi. Harabeoji tidak bisa dioperasi jika dia tidak tenang. Dia hanya bisa tenang jika dia sudah memastikan kau memilih namja yang tepat.”
Aku menatap ke arah harabeoji yang tertidur. Harabeoji..kenapa di saat seperti ini harabeoji masih saja mengkhawatirkanku
“Kita bermain dengan bom waktu, sooyoungie. Kita tidak tahu kapan bom itu akan meledak.”
Aku menatapnya. Minho oppa benar. Tapi apa yang harus kulakukan..
“Gomawo oppa..tolong biarkan aku sendiri dan memikirkannya.”
“Arra.”
Dia tersenyum lalu pergi. Aku melangkahkan kaki memasuki kamar harabeoji. Duduk di sampingnya. Memegang tangannya yang dingin. Harabeoji. Padahal hanya dia keluarga terekat yang kupunya. Dan kini bisa dibilang hidup dan matinya sedang di awang-awang. Tes. Kurasakan setetes air mataku menetes. Bagaimana bisa dia tidak memberitahuku tentang hal ini? Bukankah tidak ada rahasia di antara kami? Aku mengusap tangannya perlahan. Harabeoji. Selama ini dia telah banyak mengalah untukku. Meluangkan waktunya untuk perayaan natal. Merawatku sendirian. Menjadi appa, eomma, oppa, chingu, sekaligus harabeoji bagiku. Entah bagaimana cara membalas semua kebaikannya. Harabeoji…sepertinya sudah saatnya aku yang mengalah kali ini.

——————————————

~Kyuhyun POV~
Aku menatap bangku yang kosong itu. Kenapa dia tidak datang ke kelas hari ini? Haish..kenapa aku jadi mengkhawatirkannya. Memang apa bedanya dia dengan yeoja lain? Aku kembali mengajar di kelasku. Setelah kelas selesai, aku membuka cellphoneku. Tunggu dulu. Kenapa aku jadi berniat menghubunginya? Drrrtt… panggilan masuk. Choi Minho.
“Yeoboseyo?”
“Kyu ah. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk mengirimkan pelajaran seminggu ini ke emailku?”
“Untuk apa?”
“Sooyoung tidak bisa masuk. Harabeojinya dirawat di rumah sakit. Sepertinya dia tidak bisa masuk untuk seminggu ke depan. Dia pasti akan ketinggalan banyak pelajaran. Ayolah, kau bisa membantuku kan?”
“Yaa! Mana bisa begitu choi minho. Aku tidak bisa mengirimkan folderku ke mahasiswa. Itu peraturan. Aku harus mengajarnya secara langsung, dan folder tidak boleh dicopy”
“Haish…cho kyuhyun. Ayolah bantu aku. Aku tidak tega membiarkan sooyoung kelimpungan mengejar materi.”
Aku menghela nafas
“Arra. Aku akan ke sana untuk mengajarnya.”
“Jinjjayo?”
“Ne. Kau puas?”
“GOMAWO! Kau memang sahabat terbaikku, cho kyuhyun!”
“Yaaa! Hentikan aegyeomu! Itu membuatku merinding!”

——————————–

~Sooyoung POV~
“Kau tidak kuliah?” tanya harabeoji saat aku menyuapinya
“Aku bisa mengejar materi. Yang penting harabeoji sembuh dulu.”
“Asisten bisa menemaniku, youngie.”
“Andwae. Aku harus menjaga harabeoji. Bagaimana kalau dokter datang? Aku harus mendengar sarannya dan memastikan harabeoji mengikutinya.”
“Tugasmu akan menumpuk dalam seminggu.”
“Gwaenchanha. Harabeoji tidak perlu memikirkan itu. Arra?”
“Kau ini memang keras kepala seperti eommamu.”
Aku tersenyum dan menyuapinya. Krek.. pintu kamarnya terbuka. Kulihat kyuhyun di sana. Membawa separsel buah
“Annyeonghaseyo, harabeoji.”
“Annyeonghaseyo kyuhyun ah. Aigo..kenapa kau jadi repot-repot begini untuk menjengukku?”
“Gwaenchanhayo.”
Aku menatapnya dengan bingung. Darimana dia tahu harabeoji dirawat?
“Lagipula aku sekalian ke sini untuk membawakan materi pelajaran yang dilewatkan sooyoung hari ini.”
“Wah…kau benar-benar baik dan perhatian. Mianhamnida dia merepotkanmu.”
“Aniya.”
Kulihat dia mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya
“Itu ringkasan untuk ujian teori minggu depan dan pembelajaran yang kau lewatkan di kelas managementmu.”
“Gomawo.”
“Cheonmanaeyo. Baca dulu saja isinya. Jika ada yang tidak kau mengerti, kau bisa menanyakannya.”

————————————

~Kyuhyun POV~
Sooyoung keluar untuk mencari makan malam. Sedangkan aku duduk di sofa sambil mengetik ringkasannya.
“Kyuhyun ah, kemarilah” kudengar harabeojinya memanggilku
Aku berdiri dari kursiku dan duduk di sampingnya
“Ne harabeoji?”
“Bisakah..kau menjaga uri sooyoungie untukku?”
“Maksud..harabeoji?”
Kurasakan harabeoji memegang tanganku
“Harabeoji harus menjalani operasi bypass.. yang kau tahu resikonya sangat tinggi. Harabeoji tidak akan bisa tenang jika operasi itu berjalan di saat harabeoji belum menemukan seseorang yang bisa menjaga uri sooyoungie.”
“Harabeoji, operasi itu pasti akan berjalan baik.”
“Tapi tetap ada resiko, kyu ah. Kemungkinan terburuk adalah meninggal. Dan jika itu terjadi, harabeoji takut tidak ada yang bisa menjaga sooyoungie.”
Aku menatapnya
“Harabeoji mempercayaimu, kyu ah. Harabeoji sudah mengenalmu sejak lama. Sejak kau berusia 16 tahun. Dan harabeoji yakin, kau orang yang tepat untuk menjaga uri sooyoungie. Dari apa yang kulihat, kalian berdua sangat serasi dan akrab.”
Aku hanya diam. Aku mengerti maksud perkataannya
“Mianhamnida harabeoji.. aku..”
“Annyeong!!” ujar minho
“Hahaha annyeong.”
“Harabeoji, bisakah aku meminjam kyuhyun sebentar?”
“Hahaha aku bukan pemiliknya. Kenapa kau harus minta izin padaku?”
“Kaja.”
Minho menarikku keluar ruangan
“Ada apa?” tanyaku
“Mianhae, aku menguping percakapanmu dan harabeoji.”
Aku mengusap tengkukku. “Ini benar-benar sulit min. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Tapi..aku tidak mungkin membohonginya.”
“Membohongi apa?” tanya sooyoung
Minho menghela nafas panjang
“Sooyoungie, harabeoji ingin kau dan kyuhyun bertunangan.”
“MWO?”
“Kyuhyun, jebal. Kali ini kau ikut andil dalam masalah ini. Apa kau mau merasa bersalah seumur hidupmu jika terjadi sesuatu pada choi harabeoji?”
“Yaa! Choi Minho kenapa kau berkata seperti itu!”
“Kali ini saja, turunkan ego kalian berdua. Ini menyangkut nyawa seseorang.”
Aku melihatnya dari jendela kamarnya. Choi Jungnam harabeoji, sosok yang kuhormati. Dan nyawanya berada di keputusan ini. Minho benar.
“Setidaknya kalian berpura-pura tunangan dulu saja. Sampai harabeoji sembuh.”
“MWO?”
“Yaa! Oppa ini bukan main-main!”
“Tapi nyawa harabeoji juga bukan main-main youngie.”
Aku menarik nafas dalam
“Hanya pura-pura,” ujar minho
Aku menatap sooyoung. Padahal yeoja ini jelas-jelas bukan tipeku. Cho Kyuhyun doesn’t date with nice girl. Pepatah itu dihancurkan? Tapi minho benar. Ini hanya pura-pura. Setidaknya sampai harabeojinya sembuh
“Bagaimana?”
“Arraseo.”
“Kau setuju?” tanya sooyoung
“Untuk Choi harabeoji. Tapi ingat sooyoungssi, kau bukan tipeku. Jadi jangan besar kepala, arra?”
“MWO? Kau juga bukan tipeku!”
“Haish..diamlah kalian berdua!”

TBC

73 thoughts on “Glass Slippers {Part 2}

  1. Iiih ceritanya bikin gemes,awalnya kan kyu sama soo bersikap biasa dan formal,kalo begini ceritanya bisa bisa bertengkar terus nih,wah pasti seru . Oke next baca part 3 :)

  2. Minal Aidzin Wal Faidzin Thor :)
    Wah.. Makin seru aja nih haha , Next part-3
    Eh udh keluar deng haha :P , Aku telat melulu bacannya :(

  3. “Kalau begitu kau harus datang lain kali untuk
    kujamu. Arraseo?”……kuja apa author artinya? aq g ngerti.

    kyuyoung jgn brantem! kyu lbh ke trauma y dan soo blm kpikiran….next part 3 izin bc y…gomawo
    ♥ⓚⓨⓤⓨⓞⓤⓝⓖ♥

  4. Sumpah bikin gregetan..
    Soo dan Kyuppa awal ny bersikap biasa aja..
    Mwo mereka tunangan?
    Pura2?
    Apa soo akhirnya suka ma Kyuppa?
    Trus apa soo terluka kah karna sifat Kyuppa yg player?
    Gmn selanjutnya..
    Seo gmn? Apa dy org ke 3 antara hub soo dan Kyuppa..
    Atw dg yonghwa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s