Glass Slippers [Part 1]

Title : Glass Slippers

Main Cast :
?

Other Cast :
?

Type : Series

Genre : Romance

Rating : PG-15

Ini bukanlah kisah tentang cinderella yang bertemu dengan pangeran melalui sebuah sepatu kaca.
Tetapi hidupku memang seperti seorang cinderella
Yang tergelincir dari tangga hingga menemukan takdirku.

~Sooyoung POV~
Aku melangkahkan kakiku memasuki showroom Double M. Memilih beberapa tas. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah tas berwarna putih. Aku berniat mengambilnya. Hingga seorang yeoja merampasnya begitu saja
“Aku yang memegangnya duluan, itu berarti aku yang membelinya,” ujar yeoja itu
Aku tersenyum kecil
“Agassi, sebaiknya anda memberikan tas itu,” ujar asisten Kim di belakangku
“Mwo? Apa kau tidak tahu aku ini siapa?” ujar yeoja itu
Less manner. Aku menatap yeoja itu. Pakaiannya memang mahal. Guess limited edition. Sepatunya pun merk Ivory. Dia mengenakan parfum BVLGARI. Tetapi pertanyaannya menunjukkan kalau yeoja ini tidak berkelas. Pertanyaan orang amnesia : Apa kau tidak tahu aku ini siapa?

~Seohyun POV~
“barang-barangmu memang barang berkelas. tapi mannermu nol,” ujar yeoja itu
“M…mwo?”
“Asisten Kim, biarkan dia memiliki tas itu. Lagipula aku cukup bosan dengan warna putih.”
“Algesseumnida, nona.”
Dia tersenyum kecil. Senyuman penghinaan. Setelah itu dia pergi begitu saja.
1006277_685307138152668_839649979_n
Aku menatapnya dengan kesal. Yeoja macam apa itu? Kuakui dia memang cantik. Pakaiannya pun berkelas, sesuai dengan bentuk tubuhnya yang sangat proporsional. Cara berjalannya pun menunjukkan kalau dia memang dididik dengan baik manner nya. Tapi perkataannya benar-benar tajam dan menyebalkan. Mannerku nol? Tidakkah dia sadar mannernya yang bernilai nol. Berkata seperti itu di hadapan seseorang sangat tidak sopan. Yeoja menyebalkan.

———————————————————

~Kyuhyun POV~
Put your hands up
Put your hands up!
Dentuman suara itu terdengar dari ruangan ini. Aku tidak mempedulikannya. Mengambil wineku lalu meminumnya.
“Hello, babe.”
Aku mengabaikan sapaan itu
“Bagaimana kabarmu?”
“Buruk.”
Aku meneguk wine itu. Bayangan mengesalkan itu menghantuiku
“Bagaimana..kalau kita bersenang-senang di dance floor?” tanya yeoja itu sambil bergelayut manja di bahuku. Aku melepaskannya perlahan
“Mian. Aku tidak mood.”
Aku menengok ke arah cellphoneku. Panggilan masuk. Dari asisten Jung.
“Tuan muda, tuan memerintahkan anda untuk pulang sekarang.”
Aku terdiam sejenak
“Katakan padanya aku sibuk.”

————————————————-

~Sooyoung POV~
“Kyaaaa!! Chukkhae! Kau benar-benar hebat president class!” ujar sica sambil memelukku
“Gomawo sica ya.”
“Aku ke bumonimku ya. Annyeong!!”
“Ne annyeong.”
Aku tersenyum menatapnya menjauh. Semua orang disini bersama keluarganya. Kecuali aku. Hanya bersama asisten Kim. Aku menarik nafas dalam. mencoba memahami. harabeoji sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan bumonimku sudah meninggal. Aku sendiri tidak mengingat persis bagaimana mereka meninggal. Dimana aku tinggal dulu. Setelah mengalami kecelakaan, yang kuingat hanya bumonimku sudah meninggal. Aku tidak mengingat masa kecilku secara jelas. Tapi yang kutahu, aku hanya memiliki seorang harabeoji yang sangat menyayangiku meskipun dia sangat sibuk dengan dunianya.
“Nona, Harabeoji nona ingin bicara.”
Aku mengambil cellphone itu
“Harabeoji..”
“Annyeong sooyoungie. Chukkhae atas kelulusanmu. Kudengar kau mendapat predikat terbaik.”
Aku tersenyum kecil “Ne.”
“Mianhamnida, harabeoji tidak bisa datang ke kelulusanmu. Tetapi pekerjaan ini tidak bisa harabeoji tunda.”
“Gwaenchanhanyo. Aku bisa mengerti.”
“Kau memang cucu terbaik. Apa hadiah yang kau inginkan?”

~Seohyun POV~
Aku mengambil gelas wineku. Meneguknya perlahan. Kejadian tadi masih membuatku kesal. Tapi ya sudahlah. Tidak usah dipedulikan. Aku menarik nafas dalam. memandang ke arah pemandangan kota Seoul dari apartement mewahku. Perjalanan ke sini sangat panjang, apalagi hingga menjadi agen rahasia. Masa lalu membuatku seperti ini. Sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun sejak aku berpisah dengan kembaranku, youngie. Entah dimana keberadaannya. Aku tidak mengerti. Dia masih hidup atau tidak, aku tidak tahu. Seiring bertambah dewasa, wajahnya pasti berbeda. Apalagi kami kembar non identik. Bagaimana wajahnya saat dewasa? Aku tidak tahu. Selama masa penyekapan itu, sebuah keberuntungan datang padaku. Tempat itu digeledah. Polisi menemukan tempat itu dan menyelamatkanku dari penjualan organ ilegal. Setelah itu, aku yang tidak memiliki keluarga sama sekali diadopsi oleh Park sajangnim, ketua agen rahasia ini. Dan aku menikmati hidupku sekarang. Mengacaukan hidup orang dan memperindah hidup seorang yang lain adalah tugasku. Kami hanya menerima permintaan klien. Dan tidak pernah ada kata gagal dalam kamusku. Semua misi pasti berhasil. Dan sekarang aku bisa menghela nafas lega sambil menunggu misi selanjutnya datang

———————————————————–

~Kyuhyun POV~
Aku melangkahkan kakiku memasuki rumah. Kulihat namsong itu berdiri di sana. ‘Menyambut’ kedatanganku
“Kau ke bar lagi?” tanyanya
Aku tersenyum kecil
“Berhentilah meminum alkohol terlalu banyak. itu tidak baik,” ujarnya
“Aku adalah cerminan dirimu, Tuan Cho.”
“Cho Kyuhyun, jangan pancing emosiku”
“Wae? Kau membawa seorang wanita pulang ke rumah dan bercumbu. Aku hanya pergi ke bar.”
“Tapi aku tidak meminum alkohol sampai mabuk sepertimu.”
“Kau munafik.”
Aku berjalan menuju kamarku. Dia menahannya
“Kita belum selesai berbicara.”
Aku menebasnya

—————————————————-

~Sooyoung POV~
Aku sedang berada di Glamours’ Hotel. Harabeoji mengadakan pesta kemenangan perusahaan kami. Aku mengenakan dress berwarna coklat. Membiarkan rambutku tergurai begitu saja. Pesta ini dihadiri banyak tokoh penting dari dunia perfilman dan seni. Aku memegang gelas champagne sambil melihat ke sekitar. Lagi-lagi pesta membosankan. Aku hanya mengikuti harabeoji saja. Ini bahkan lebih membosankan daripada duduk diam di perpustakaan.
“Sooyoungie, perkenalkan. Ini adalah Tuan Cho, pemilik museum tembikar di Seoul sekaligus pemilik Cho corp.”
Aku membungkuk padanya
“Mannaseo panggapseumnida. Joneun Choi Sooyoung imnida.”
“Wah..kau sangat beruntung memiliki cucu sesopan dan secantik ini. Hahahahhaa.”
“Ne. kau benar. Tak hanya itu, dia juga sangat pintar dan berbakat.”
“Aku bisa melihatnya dari wajahnya. Hahahahha.”
Aku tersenyum kecil “Gamsamida.”
“Kudengar putramu yang kedua membuat sebuah mahakarya untuk museummu.”
“Ne, dia sangat  berbakat dan pintar. Hanya dia yang bisa kuandalkan untuk meneruskan perusahaan.”
“Kau sangat beruntung memiliki putra seperti itu. Dengan wajah tampan dan postur yang tinggi seperti itu, ditambah bakatnya, kurasa banyak yeoja yang menyukainya. Hahahahahha.”

~Kyuhyun POV~
Aku sedang berada di Cafe milik hyungku. Entah apa yang membawaku ke sini. Aku hanya ingin melihatnya. Melihat pengecut yang kabur dari rumah setelah gagal memenangkan kompetisi nasional. Tetapi biar bagaimanapun, dia adalah hyung ku. Cho Yonghwa. Dia membawa secangkir kopi. memberikannya padaku kemudian duduk di depanku
“Bagaimana kabar appa?”
“Entahlah.”
“Kau masih sering bertengkar dengannya?”
“Kami memang tidak cocok.”
Dia tersenyum kecil. Membiarkanku meminum secangkir vanilla latte terlebih dahulu.
“Tidak peduli seberapa sering kalian bertengkar, kau selalu menjadi putra kesayangan appa. Menjadi kebanggaan appa. Sedangkan aku hanya berperan seperti figuran.”
Aku menatapnya sebentar. Kulihat dia melihat ke arah tanganku
“Aku tahu kau bosan dengan semua tembikar dan appa. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Kau memiliki segala hal yang tidak kumiliki dan aku sangat menginginkan tangan itu.”
“Hyung..”
“Sejak aku kalah di pertandingan nasional, appa tidak pernah melihatku lagi. Dan sejak itu, tanganku terasa mati. Lucu sekali membayangkan anak seorang seniman tembikar kelas internasional, yang memiliki museum seni di Korea justru tidak bisa menang di pertandingan tingkat nasional. Di saat itu, kau justru muncul dan menunjukkan bakatmu, bahkan hingga ke internasional. Seakan-akan kau menjadi satu-satunya putra bagi appa.”
Aku hanya diam. Menatap ke arahnya
“Kau tahu, aku sangat iri padamu. Dari dulu, kau adalah putra kesayangan eomma dan appa. Sedangkan aku hanya menjadi pengecut yang kabur dari rumah dan menyebabkan kematian eomma. Sejujurnya aku ini figuran yang hebat, yang bahkan bisa menghancurkan sebuah keharmonisan.”

—————————————-

~Yonghwa POV~
“Secangkir kopi. Tanpa gula dan creamer.”
“Gamsamida.”
Aku tersenyum kemudian mundur. Memperhatikan yeoja itu dengan bingung. Yeoja tinggi berambut panjang lurus itu selalu datang setiap pagi. Meminta menu yang sama. Kopi pahit. Entah apa yang membuatnya menyukai kopi itu. Berdasarkan filosofi kopi, orang sepertinya adalah tipe orang yang mengalami banyak kesulitan dalam hidup. Aku membuyarkan lamunanku dan kembali ke pekerjaanku. Itu bukan urusanku

~Seohyun POV~
Aku meminum kopi itu. Terasa pahit. Tapi aku lebih menyukainya daripada kopi manis dengan gula yang membuat warnanya menjadi coklat muda. Pahit. Sama seperti diriku. Aku tidak mengerti tujuan hidupku. Bisa dibilang aku tidak tahu untuk apa dan siapa aku hidup. Aku hanya menjalani misiku. Satu peraturan dalam hidupku. Aku tidak ingin jatuh cinta. Karena aku tidak ingin merasa kehilangan. Sama seperti kehilangan youngie, appa, eomma. Aku mengernyitkan dahiku sambil meminumnya. Seandainya youngie masih hidup…seperti apa dia sekarang?

———————————————-

~Sooyoung POV~
Hari pertama menjadi mahasiswi. Aku mengenakan terusan putih dengan jaket kecoklatan. Melangkahkan kakiku memasuki universitas. Management business dan Fine art. Itulah jurusanku. Aku mengambil dual degree untuk kuliahku. Aku tidak ingin membuang waktu. Memanfaatkannya secara maximal. Sekarang aku berada di kelas Fine Art. Menunggu sang dosen tiba. Sesekali memandang ke sekitar. Ada beberapa meja dengan tanah liat di atasnya. Pajangan tembikar yang indah. Krek.. pintu itu terbuka. Menampakkan seorang namja tinggi. Namja itu berjalan dengan cepat ke depan.
“Annyeonghaseyo, joneun Cho Kyuhyun imnida. Saya adalah dosen untuk Fine Art khususnya kelas seni tembikar dan musik. mannaseo panggapseumnida.”
Semuanya bertepuk tangan
“Kita langsung mulai kelas membuat tembikar.”
Kami duduk di kursi masing-masing. Dia menjelaskan beberapa teori di depan kelas. Aku mendengarkannya dengan cermat sesekali mengira-ngira. Usianya sekitar 20 tahun an tetapi dia sudah menjadi seorang dosen. Benar-benar hebat.
“Baiklah. Kita masuk ke kelas pertama. Bentuklah tanah liat itu menjadi benda apapun yang kalian inginkan.”
Aku mulai menggerakkan meja putar itu perlahan. Membuatnya dengan cermat hingga tak berongga.Sesekali menengok ke arahnya yang sedang tersenyum sambil melihat para mahasiswa berkarya

309291_4151703562565_2085625534_n (1)Aku baru pertama kali melihat senyuman seperti itu. Kuakui dia cukup tampan.

~Kyuhyun POV~
Aku menengok ke sebelah kiri. Kulihat seorang yeoja memperhatikanku. Mata kami saling bertemu. Kemudian dia memalingkan wajahnya. Aku tersenyum kecil. Berjalan ke arahnya
“Apa kau mengalami kesulitan?” tanyaku
“Ani,” ujarnya
Aku memperhatikan tangannya yang terus memutar benda itu
“Sepertinya kau sudah mahir membuatnya.”
Dia hanya tersenyum kecil. Aku memperhatikannya. Tipikal nice girl. Tipe yeoja yang tidak kusukai. Perasaan mereka terlalu lembut untuk dipermainkan. Aku menjauh darinya. Mulai melihat karya mahasiswa lain sambil mencari ketidaksempurnaannya

——————————————–

~Sooyoung POV~
“Bagaimana kelas pertamamu?” tanya harabeoji di sela makan malam
“Baik.”
“Siapa nama dosenmu?””Cho Kyuhyun.”
“CHO KYUHYUN?”
“Ne. Waeyo harabeoji?”
“Kau tahu, dia adalah putra Tuan Cho yang bertemu denganmu di pesta itu.”
“Tuan Cho…pemilik museum seni?”
“Ne. Wah..ini benar-benar mengagumkan. Bagaimana bisa seorang namja berusia 22 tahun menjadi seorang dosen? Hahahahhaa.”
Aku tercengang mendengarnya. Benar-benar hebat
“Dia memang genius. Bahkan namanya dikenal internasional di bidang seni tembikar. Harabeoji pernah bertemu dengannya di perlombaan internasional itu. Dia sangat sopan dan ramah. Dia tampan bukan?”
“Ne.”
“Kau menyukainya?” tanyanya
“Aniyo. Mana mungkin. Dia dosenku.”
“Tapi usia kalian kan hanya berbeda tiga tahun.”
“Aku tidak ingin memikirkan cinta. Aku ingin fokus pada pendidikan,” ujarku
“Tetapi kan tidak ada salahnya memiliki seorang namjachingu yang bisa mendukungmu. Lagipula kau tidak pernah merasa kesepian saat melihat temanmu bergandengan tangan sedangkan kau tidak pernah berpacaran?”
Aku tersenyum kecil “Aniyo.”

——————————————–

~Kyuhyun POV~
“Apa ada salah satu dari mahasiswamu yang bernama Choi Sooyoung?” tanya appa saat aku membuat vas di ruanganku
“Choi Sooyoung…?”
“Dia adalah cucu tunggal dari Choi Jungnam, pemilik choi corp. Dia tinggi dan putih. Cantik dan rambut wavynya panjang. Dia juga pintar dan multi talented. Dia pasti menonjol di kelasmu, jika kau mengajarnya.”
Aku berpikir sejenak. Satu hal yang terlintas di pikiranku adalah si nice girl. Aku membuka cellphoneku. Mencari foto daftar siswa. Di sana tertulis nama choi sooyoung.
“Dia sangat sempurna, bukankah begitu?” tanya appa
“Ne. Tapi aku tidak tertarik padanya.”

———————————————-

~Yonghwa POV~
Lagi-lagi yeoja itu di sana. Meminum kopinya. Aku membawakan kopi itu padanya. Sebelum dia memesannya, aku bahkan sudah membuatkannya
“Darimana kau tahu..aku akan memesan americano?” tanyanya
“Kau tidak pernah mengganti pesananmu.”
Dia tersenyum kecil dan meneguk kopinya
“Yonghwa imnida. Aku pemilik Cafe ini.”
“Seohyun imnida,” ujarnya
“Bolehkah aku duduk di sini? Sambil menemanimu minum kopi.”
“Sure.”
Aku duduk di depannya. Meneguk kopiku.
“Apa pekerjaanmu?” tanyaku
“Aku…model,” ujarnya
Aku mengangguk mengerti. Pantas dia tidak menyukai gula dan creamer. Menjaga berat badan
“Kurasa tidak baik jika meminum kopi setiap hari,” ujarnya
“Ne, tapi aku membutuhkannya untuk begadang.”

————————-TBC————————-

105 thoughts on “Glass Slippers [Part 1]

  1. Kyuppa ma younghwa saudara?
    Soo dan seo bertemu tapi slg menilai 1 sama lain..
    Soo blg Kyuppa tampan..
    Soo bkn tipe Kyuppa karna dy terlalu baik..
    Hati ny terlalu lemah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s