Cupid’s Diary {Part 2}

cupid diary

Title : Cupid’s Diary

Main Cast :
*Choi Sooyoung
*Cho Kyuhyun

Other Cast :
*Kris Wu
*Leeteuk
*Kim Hyoyeon
*Choi Sulli
*Lee Taemin
*Jo Yoonwoo
*Jessica Jung

Type : Series

Genre : Romance,Friendship,Comedy,Fantasy

Rating : PG-15

“Cupid juga punya hati. Dia bisa merasakan sakit yang kau rasakan saat ini”
-Cupid’s Diary halaman 2-

~Sooyoung POV~
Aku menggerutu melihat namja bernama yoonwoo itu. Lagi-lagi dia hanya diam di kamarnya
“Haish…kapan kau keluar?”
Lama-lama kesabaranku habis. Aku mengambil sebuah buku dan melempar buku itu padanya
“M..MWO?!” ujarnya

~Yoonwoo POV~
Aku tercengang melihat buku itu. Bagaimana bisa sebuah buku terbang dan jatuh di hadapanku?
“YA! Kapan kau keluar dari rumah?”
Aku menengok ke arah suara itu.
“MWWWOOOOOO!?!”
Aku menjauhkan diriku darinya. Dari seorang yeoja tinggi dengan dress putih
“NUGUYAA!!! Bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?!”
“Ka….kau bisa melihatku?” dia bergerak menjauhiku
“Ka…kau…”
“Wuah!! Akhirnya selama enam tahun aku menjadi cupid ada yang bisa melihatku!”
“N…ne?”
“Sooyoung imnida!” ujarnya sambil mengulurkan tangan
Aku menatapnya tidak percaya
“Yoon…woo…imnida.”
“Kau seperti melihat setan,” ujarnya
“Ba…bagaimana bisa ka….kau disini?”
“Begini yoonwoo ssi. Kau punya masalah berat. Pertama, jodohmu itu kosong namanya. Jadi aku berada di sini untuk menghadirkannya.”
“n..ne?”
“Terlalu sulit menjelaskannya. Yang jelas mulai hari ini aku akan membantumu.”
Aku tercengang mendengarnya. Apa ini…mimpi?

———————————–

~Kyuhyun POV~
Aku sedang berada di ruang rapat. ya. ruang rapat. aku, leeteuk, dan kris sedang merapatkan seorang yeoja bernama stella kim
“Jadi, seharusnya dia sudah meninggal enam tahun lalu. tapi bagaimana bisa dia menikah kemarin?” tanya kris
Leeteuk menghela nafas
“Entahlah. Tapi ini cukup aneh. Kalau bukan dia yang meninggal, lalu siapa?” tanya leeteuk
Aku menyandarkan kepalaku ke kursi
“Terkadang inilah mengapa manusia menyebalkan. Mereka membuat kita pusing mencari berkas,” ujar leeteuk
“Menurut laporan, seharusnya dia meninggal karena terjebak di laboraturium,” jelas kris
“Kalau begitu kita harus mencari orang yang meninggal di laboraturium di tanggal itu,” ujar leeteuk
“Masalahnya tidak ada babo,”ujar kris
“Berarti tidak ada yang mati,” ujarku
“Tidak mungkin! Aku yakin pasti ada yang menggantikan stella kim,” ujar leeteuk
“Lalu siapa?”
Aku berpikir keras
“Berarti orang itu…adalah orang yang seharusnya menikah dengan choi siwon.”
“Nugu?” tanya kris
“Kita harus mencari tahu hal itu dari cupid,” ujar leeteuk
“YA! Apa kau gila? Menanyakannya pada cupid adalah bentuk perendahan bagiku!” ujar kris
“Kris! Kalau kau ingin kasus ini selesai, kau harus menanyakannya!”
“Haish…lebih baik biarkan kasus ini jadi misteri daripada menanyakannya pada cupid!”
“Bisakah kalian diam?”

~Sooyoung POV~
Aku tengah berada di kelas Yoonwoo. Dia sedang mengerjakan ulangan. Aku melihat jawabannya.
“Ini salah, seharusnya E.”
Dia menghela nafas dan membiarkannya begitu saja
“Haish..kalau itu D.”
Dia tidak menghiraukanku
“Itu A!”
“Bisakah kau diam?”
Seketika seisi kelas memperhatikan yoonwoo dan tertawa
“Mereka tidak bisa mendengar dan melihatku, bodoh,” ujarku
Yoonwoo kembali ke kertasnya. Kalau begini tidak ada pilihan lain. Aku mendatangi murid terpintar di kelas, choi sulli dan memotret lembarnya. Kemudian memperlihatkannya pada yoonwoo
“Itu jawaban choi sulli.”
Yoonwoo melihatku tajam dan menulis di kertasnya “aku tidak akan menyontek kertas ulangan seorang yeoja.”
Aku menghela nafas panjang. Aku menggerakkan tangannya. Yoonwoo terlihat ingin memprotesku. Aku tidak mempedulikannya. Dia harus mendapatkan seratus agar para yeoja mengaguminya

~Sulli POV~
Aku menyandarkan kepalaku ke kursi. Hari yang melelahkan. Aku hanya bisa terdiam melihat namja itu dari jauh. Taemin. Aku memang bodoh karena menolak pernyataan cinta seorang taemin. tapi aku lebih bodoh lagi kalau menyakiti na eun, sahabatku
“Sulli ah?”
“Ne?”
“Daritadi kau melamun,” ujar na eun
“Ah…tidak..”
“Hei! Apa kau mau dengar berita baru?”
“Ne?”
“Kau tahu cho yoonwoo?”
aku menengok ke arahnya. Namja itu memasang earphone di telinganya dan tertidur
“ne?”
“Dia mendapat seratus!”
“MWO?”
“Kurasa setelah ini kau punya saingan,” ujar na eun
“Maldo andwae.”
“Tapi sulli ah..kalau dilihat-lihat dia tampan dan cool. Dan..juga pintar. Benar-benar prince charming.”
“Na eun, kau tidak berpikir untuk melupakan taemin dan beralih untuknya kan?”
“Mana mungkin! Aku hanya mengira-ngira. Sepertinya dia cocok untukmu.”
“Haish..sudahlah jangan bicara yang bukan-bukan.”

——————————–

~Yoonwoo POV~
“Kenapa kau membantuku?” tanyaku
“Tugasku adalah membuka jalanmu menemukan cinta,” ujarnya
“Tapi apa kau tahu. Itu sangat menyebalkan untukku.”
Dia hanya diam dan tersenyum sinis
“Kau mirip seseorang.”
“Nugu?”
“Malaikat pencabut nyawa!”
“Haish..jangan mengatakan hal yang tidak kuketahui.”
Dia mematut kesal
“Bagaimana bisa kau menjadi cupid?” tanyaku
“Tadi kau marah padaku. Kenapa sekarang kau bertanya padaku?” ujarnya
“Ne, ne. Aku meminta maaf.”
“Arra.”
“Jadi, bagaimana bisa kau menjadi cupid? Apa kau terlahir sebagai cupid?”
Dia menggeleng
“Dulu, aku juga manusia. Sama sepertimu.”
“N..ne?”
“Aku sendiri…tidak terlalu mengerti kenapa aku bisa terbangun menjadi cupid.”
“Bagaimana kau meninggal?” tanyaku
“Ne?”
“Mianhae aku…hanya ingin tahu..”
“Aku.. menyelamatkan nyawa yeoja yang dicintai oleh namja yang kucintai.”
Aku tertegun mendengarnya
“Padahal, kalau dia yang meninggal, aku akan menikah dengan namja itu kemarin.”
“Kau hebat.”
“ani.”
“Kalau aku jadi dirimu. aku akan menyelamatkan diriku.”
Dia hanya tersenyum
“Oh ya. Apa aku boleh bertanya padamu?”
“ne?”
“Kenapa kau tidak pernah berosialisasi? Apa kau tidak tahu, kau sangat populer di kalangan yeoja. Mereka menyebutmu prince charming.”
Aku terdiam sejenak “Hyung membuatku seperti ini.”
“Ne?”
“Kau tahu.. saat aku berusia 5 tahun, hyungku berusia 12 tahun. Dia sangat menyayangiku. Dan dia meninggal karena menyelamatkanku dalam sebuah kecelakaan. Dia…sangat sempurna. Dia tampan, tinggi, hangat, jago olahraga, dan pintar. Sejak hyung meninggal, eomma merasa sangat terpukul dengan kepergiannya. Dia selalu membandingkanku dengan hyung, seolah-olah berharap kalau akulah yang seharusnya meninggal, bukan hyung. Jadi aku berusaha keras agar aku bisa seperti hyung. Tanpa kusadari, aku belajar keras dan melupakan lingkungan sosialku. Tapi aku terbiasa hidup seperti ini.”
“kau tidak boleh seperti itu.”
“Aku…selamanya tidak akan bisa menebus rasa bersalah pada hyung yang meninggal untuk melindungiku.”
“Yoonwoossi, terkadang meninggal untuk orang yang kita cintai tidak seburuk yang kau bayangkan.”
Aku menatapnya
“Ada suatu kepuasan dan kebahagiaan melihatnya tetap hidup. Meski kau tidak bisa menyentuhnya. Meski kau jauh darinya. Aku yakin, hyungmu merasa senang melihatmu ada sampai sekarang.”
Aku tersenyum kecil “Seandainya dia masih hidup, kurasa dia seumur denganmu.”
“Berarti…kau harus memanggilku noona.”

~Kyuhyun POV~
Aku dan Kris duduk di kursi, mengamati pengantin baru bernama stella kim dan siwon yang tengah makan bersama
“Mereka serasi,” ujar kris
Aku hanya diam
“Seharusnya ada yeoja lain yang sedang tertawa di kursi itu. Bukan stella,” ujar kris
“Ne.”
“Jadi apa yang ingin kau lakukan?” tanya kris
“Maksudmu?”
“Satu pukulan dibalas satu pukulan. Seharusnya bukan dia yang sedang bahagia di sana. Jadi bagaimana?” tanya kris
“Maksudmu, memberinya sanksi?”
Kris mengangguk
“Aku tidak ingin menghakiminya sepihak. Aku harus mencari orang yang seharusnya hidup dan bahagia dengan choi siwon. Biar dia yang menentukan sanksinya.”
Aku melangkahkan kaki menjauh dan menjentikkan jariku. Pergi ke tempat itu. Aku tercengang melihat si cupid pengganggu itu duduk di kursi dan tertawa bersama yoonwoo
“YA! Apa yang kau lakukan di sana!” ujarku
Seketika si cupid melihatku
“YA! Kenapa kau datang ke sini!”
“Kau bicara dengan siapa?” tanya yoonwoo
“Dia…bisa mendengarmu?” tanyaku
“Ne. Bahkan dia bisa melihatku,” ujar cupid itu
“MWO?”
“Untuk apa kau ke sini? Jangan-jangan….. MWO? Kau ingin membawanya?” tanya si cupid sambil menunjuk yoonwoo
“Ani..”
“Kau bicara dengan siapa noona?” tanya yoonwoo
“Noo…na?”
“Wae? kau mau dia memanggilmu hyung?” tanya si cupid
“Ba…bagaimana cara agar dia bisa melihatmu?” tanyaku
“Molla. Aku hanya menjatuhkan buku dan dia melihatku.”
Aku mencoba mengambil sebuah buku. Tapi tidak bisa
“YA! Apa yang kau lakukan?”
“Kenapa aku tidak bisa menyentuh apapun di sini?” tanyaku
“Karena kau menggangguku!” ujarnya
“MWO?”
“Kau melempar panahku pada yeoja lain!”
“Aku…”
“Noona, sebenarnya kau bicara dengan siapa?” tanya yoonwoo
“Aku bicara dengan…”
“Katakan padanya, kau bicara dengan cupid lain.”
“N…ne?”
“Jebal,” ujarku
“Aku…bicara dengan cupid lain,” ujarnya
“Annyeong,” ujar yoonwoo
Aku hanya bisa tercengang. Yoonwoo ah… akhirnya hyung bisa melihatmu tersenyum dan mengatakan kata-kata itu
“Katakan padanya. Aku sangat senang bisa bertemu dengannya.”

—————————————————-

~Sooyoung POV~
Sekarang ini aku berada di kelas. Yoonwoo ditugaskan untuk mengikuti olimpiade matematika bersama sulli, murid terpintar di kelas sekaligus orang yang seharusnya jadian dengan taemin tapi gagal. Aku terus mengamatinya. Haish..kenapa mereka diam? Kenapa mereka tidak bicara sepatah katapun? Kurasa aku harus melakukan sesuatu

~Sulli POV~
Aku sedang belajar di kelas. Sesekali menengok ke arah namja yang duduk di depanku. Cho Yoonwoo. Kami berdua ditugaskan untuk mewakili sekolah dalam olimpiade matematika. Daritadi namja itu hanya diam. Aku membalik halaman bukuku. Kulihat di sana ada tulisan
“Cupid?”
“Ne?” tanyanya
“Ah..ani..aku hanya bingung siapa yang mencoretnya di sini,” ujarku
Dia hanya tersenyum “Kau percaya mereka ada?” tanyanya
“Ne.”
“Mereka memang ada,” ujar yoonwoo
“Darimana kau yakin?”
“Karena aku melihatnya.”
“Mwo?”
“Maksudku…kau lihat. Orang-orang yang tidak saling kenal bisa berkenalan, jadian, menikah, hidup bahagia. Bagiku ada yang mengatur itu semua.”
“Arra…Aku juga berpendapat demikian.”

—————————————————–

~Kyuhyun POV~
Aku melangkahkan kakiku memasuki rumah itu. Aku menghentikan langkahku. Kulihat eomma duduk di teras. Aku melangkahkan kakiku perlahan ke sana. Kudengar dia menghela nafas. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya
“Kyu ah..bogoshipo..”
Aku terdiam mendengarnya
“Do bogoshipo eomma.”
“Kenapa….kau pergi terlalu cepat? Kalau kau masih hidup…kau pasti sudah kuliah..atau bekerja…punya yeojachingu..atau bahkan menikah.”
“Eomma..jangan mengatakan hal seperti itu..”
“Seandainya saat itu…kau duduk di sebelah eomma…ini tidak akan terjadi..”
Aku mencoba memeluknya. Tapi semuanya sia-sia
“Seandainya..yoonwoo yang pergi..”
“Eomma…jebal..jangan berkata seperti ini. Pikirkan perasaan yoonwoo.”
Aku melangkahkan kaki ke atas. Kulihat yoonwoo di ruang tengah. Terdiam dan menarik nafas dalam melihat fotoku dan fotonya
“Aku ingin bisa seperti hyung. Aku…ingin eomma melihatku. Sekali saja.”
Aku terdiam melihatnya “Mianhae…yoonwoo..”

~Sooyoung POV~
Aku melangkahkan kakiku ke sana. Kulihat malaikat pencabut nyawa berdiri di belakang yoonwoo. Dia berusaha menepuk pundaknya. Aku terdiam melihatnya. Sebenarnya….apa hubungan malaikat pencabut nyawa dan yoonwoo? Aku bertanya-tanya dalam hati. Kulihat dia berbalik dan menarik tanganku
“Ka..kau..”
“Apa aku…bisa meminta satu hal padamu?”
“N..ne?”
“Kau bisa menyatukan namja dan yeoja. Apa kau…bisa menyatukan eomma dan anaknya?”
“A..apa?”
“Jebal…”
“Aku…tidak bisa.”
“Wae?”
“Karena…tidak ada panahnya.”
Dia menghela nafas
“Mianhae…aku menanyakan hal yang aneh.”
“Gwaenchan..ha”
Dia melihat yoonwoo dari kejauhan
“Sebenarnya…apa hubunganmu dengannya?” tanyaku
“ne?”
“Kenapa kau sangat peduli pada yoonwoo?”
“Itu bukan urusanmu cupid.”
“Berhenti memanggilku cupid, malaikat pencabut nyawa! Aku juga punya nama”
“Berhenti juga memanggilku malaikat pencabut nyawa. Itu terdengar sarkastis”
“Baiklah. Sooyoung imnida.”
“Kyuhyun imnida.”
“Baiklah kyuhyunssi. Mulai hari ini tidak ada kata cupid.”
“Dan malaikat pencabut nyawa.”
“Kau bicara dengan siapa noona?” tanya yoonwoo
Kulihat kyuhyun menghilang dari hadapanku
“Ani…aku..hanya melihat ruangan ini”
Dia hanya tersenyum
“Ini kamar hyungku.”
Yoonwoo merebahkan diri di tempat tidurnya. Sedangkan aku melihat seisi kamar ini. Masih tertata rapi dan terawat. Ada beberapa frame foto di sana. Ada foto dua orang anak kecil. Dan seorang anak berusia sekitar 10-12 tahun yang memegang piala. Aku menengok ke arah lemari. Banyak piala di sana. Yoonwoo benar, hyungnya sangat pintar. Aku melihat ke arah meja belajar. Kulihat di buku itu ada sebuah label nama yang usang. “Cho…Kyu…hyun.” kalau tidak salah begitu ejaannya. Tunggu dulu. Cho Kyuhyun?
“Yoonwoo…”
“Ada apa noona?”
“Apa…hyungmu..bernama cho kyuhyun?”
“Ne.”
Aku terdiam mendengarnya. Cho Kyuhyun…Cho Yoonwoo…mereka..kakak adik?
“Kamar ini tidak berubah,” ujar yoonwoo
“ne?”
“Eomma merawatnya dengan sangat baik. Seolah-olah dia selalu menunggu hyung pulang.”
“Yoonwoo..”
“Kurasa selamanya dia tidak akan pernah merelakan kepergian hyung. Dan kurasa…dia ingin aku yang mati. Bukan hyung. Dan kurasa…memang aku yang lebih pantas untuk pergi dibanding hyung,” ujarnya sambil tersenyum lalu keluar dari kamar. Aku menarik nafas dalam. Yoonwoo. Kenapa hidupnya sangat berat?

————————————————

~Kyuhyun POV~
“Jadi siapa list kita bulan depan?” tanya leeteuk
“Victoria Song, Choi Sooyoung, dan Choi Sulli,” ujar kris
“Aku..kurasa victoria,” ujar leeteuk
“Kalau begitu aku choi sooyoung,” ujar kris
“arra. Aku yang akan menjemput choi sulli,” ujarku lalu keluar dari ruangan. Aku membuka berkas itu. Lagi-lagi meninggal dalam sebuah kecelakaan. Aku menarik nafas dalam. Kenapa aku selalu harus menjemput orang yang akan meninggal dalam sebuah kecelakaan?

~Sooyoung POV~
Yoonwoo sedang belajar di kamarnya. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Lama kelamaan aku bosan di sini. Aku melangkahkan kakiku ke luar kamar. Kulihat sosok seorang yeosong berdiri di depan pintu kamarnya. Aku terdiam melihatnya. Itu…eommanya? Yeosong itu menarik nafas dalam dan tidak jadi masuk
“YA! Ahjumma!! Masuk saja kalau kau ingin melihatnya!!”
Yeosong itu melangkahkan kakinya menuruni tangga.Benar-benar aneh. Aku membuka pintu kamar yoonwoo. Kulihat kyuhyun di sana. tengah memperhatikannya belajar
“Ka..”
“Sst,” ujarnya
Aku mengangguk mengerti dan berdiri di sebelahnya
“Katakan pada yoonwoo, dia salah menyelesaikan soal nomor 4.”
“Ne?”
“Ppali.”
“Yoonwoo, nomor 4 bukan begitu cara menyelesaikannya.”
“Ne?”
“Katakan padanya. Gunakan rumus W=FxS,” jelas kyuhyun
“Gunakan rumus W=FxS,” ujarku
Yoonwoo melihat kertasnya sejenak “Ah..iya. Kau benar noona.”
Kulihat kyuhyun tersenyum melihatnya. Aish..aku benar-benar tidak tahan lagi
“Bukan aku yang mengetahuinya. Tapi..”
Kyuhyun menutup mulutku
“Tapi?”
“Katakan padanya. Lupakan saja,” ancam kyuhyun
“Lupakan saja.”
Yoonwoo kembali sibuk dengan bukunya. Sedangkan kyuhyun menarikku ke luar
“YAA! Apa yang kau lakukan?”
“Jebal, jangan beritahukan keberadaanku di sana.”
“Yoonwoo akan lebih senang kalau…”
“Dia harus sadar kalau aku sudah meninggal Sooyoungssi!” ujarnya
Aku tercengang mendengarnya
“Dia harus sadar kalau selamanya aku tidak akan pernah kembali. Dia harus sadar kalau dia yang lebih pantas hidup. Jadi jangan pernah mengikutcampuri urusan lain selain percintaan manusia. Arraseo?”
Dia menghilang begitu saja dari pandanganku. Kyuhyun…apa itu memang cara terbaik untuknya?

—————————————

~Sulli POV~
Hujan turun lebat. Aku tidak bisa pulang ke rumah. Aku terus menunggunya reda di dekat pintu sekolah. Banyak siswa yang sudah pulang. Tinggal aku di sana. Haish..kenapa hujannya tidak kunjung reda? Aku mengusap tanganku yang dingin. Kapan dia reda?

~Sooyoung POV~
Aku mengikuti yoonwoo yang akan pulang sekolah. Hujan turun lebat. Yoonwoo terus menunggu di dalam. Sedangkan aku keluar untuk melihat keadaan. Pandanganku tertuju pada seorang yeoja yang berdiri di sana. Dia…choi sulli? Aku cepat-cepat berlari ke dalam
“Kita pulang sekarang!” ujarku
“MWO? Noona hujannya..”
“Haish..jangan pedulikan hujannya. Kaja!”Aku menarik tangannya keluar
“Cepat hampiri choi sulli dan lepaskan jasmu untuknya!”
“Noona, untuk apa aku..”
“Cepatlah!!”
“Tapi..”
“Haish..cho yoonwoo, aku akan mengabulkan satu permintaanmu kalau kau menurutinya. Cepat!”
“Ne..tapi..”
Bruk! Aku mendorongnya sampai menabrak choi sulli
“Mi…mianhaeyo!!” ujar yoonwoo
“Gwaenchanha.”
“Kau..belum dijemput?” tanyanya
“Aku pulang sendiri. Tapi..aku lupa membawa payung. kau?”
“Nado.”
“Cepat lepaskan jasmu!” ujarku
Yoonwoo menurutinya
“Sekarang ajak dia mencari bus!”
“Kaja kita..ke stasiun bus.”
“Jasmu..”
“Mana mungkin aku membiarkan seorang yeoja kehujanan? Ppali.”
Aku tersenyum melihat mereka berdua menjauh. Aku membuka daftar pasangan itu. Kulihat ada tulisan samar-samar yang mulai muncul di sebelah nama yoonwoo. Kenapa samar-samar? Aku tidak mengerti. Aku membuka daftar yang lain.Seketika aku teringat pasa pasangan itu. Fany dan Nickhun..bagaimana mereka sekarang?

~Sulli POV~
Setelah beberapa menit, bus kami sampai. Aku masuk ke dalam dan membersihkan rintik hujan di tanganku. Kulihat rambut yoonwoo sangat basah
“Mianhae kau…kehujanan karenaku.”
“Gwaenchanha.”
Aku mengembalikan jasnya. Tiba-tiba kudengar dia bersin
“Hatchi..”
Aku mengambil sapu tangan dari tasku
“Pakailah ini untuk mengeringkan kepalamu.”
“Itu…”
“Gwaenchanha.”
“Gomawo.”
Aku tersenyum melihatnya. Kukira dia namja yang dingin. Ternyata..dia baik pada yeoja. Gentle. Pintar. Dan cukup tampan. Haish..apa yang kupikirkan

~Sooyoung POV~
Tlik. Aku sampai di depan sebuah rumah kecil. Aku memasuki pintunya perlahan. Kulihat Tiffany di sana. Tengah duduk dan tertawa bersama Nickhun. Aku tersenyum melihatnya. Mereka terlihat bahagia. Perut tiffany mulai membesar dan Nickhun merangkulnya dengan hangat, menghindari tetesan hujan di atap yang bocor itu
“Oppa..”
“Ne?”
“Mianhae aku…karenaku kau jadi susah begini.”
“Fany ah, ini semua sudah menjadi tanggung jawabku. Justru seharusnya aku yang meminta maaf karena aku tidak bisa mencarikan rumah yang lebih baik daripada ini.”
“Gwaenchanha. Bagiku keberadaanmu di sini sudah lebih dari cukup.”
Aku tersenyum melihatnya. Mereka sangat serasi. Kurasa…aku akan menghadiahkan sesuatu untuk mereka. Mungkin ini terdengar aneh. Tapi setiap cupid memiliki hak untuk memberikan hadiah pada sebuah kesetiaan. Aku pergi ke luar rumah dan menjentikkan jariku. Sebuah bulgogi dan uang 50.000 won muncul di sana. Setidaknya itu cukup untuk kalian. Aku mengetuk pintu rumah itu. Kulihat sang namja keluar dari sana. Tercengang melihat bingkisan itu
“FANY!!!!!”
Aku tersenyum melihatnya masuk ke dalam dengan bahagia. Itu hadiah atas kesetiaanmu

~Kyuhyun POV~
“Hatchi..”
“Aigoo..yoonwoo.Mianhae aku tidak menyangka kau akan flu,”ujar sooyoung
“Gwaenchanha.”
Yoonwoo menutup tubuhnya dengan selimut. Sedangkan aku hanya bisa menggeleng
“Apa yang kau lakukan padanya?” tanyaku
“Aku hanya membuka jalan cintanya.”
“Dengan membuatnya sakit?”
“Aku tidak tahu dia lemah pada hujan.”
Aku menarik nafas dalam
“Dari kecil, dia memang mudah flu.”
“Kenapa kau tidak bilang?”
“Kenapa kau tidak bertanya?”
Krek..pintu kamar yoonwoo terbuka. Kulihat appa di sana
“Yoonwoo..kau sakit?”
“Gwaenchanha appa.”
“Kau demam. Apa kau mau bubur?”
“Aku hanya demam ringan.”
“Kurasa sebaiknya besok kau beristirahat.”
“Ne.”
Appa menutup pintu itu perlahan. Aku hanya bisa berdiri mematung melihatnya. Appa sudah merelakanku, kenapa eomma tidak bisa? Aku duduk di samping yoonwoo dan memegang dahinya
“Benar-benar bodoh.”

——————————————-

~Sooyoung POV~
“Bagaimana bisa mereka meninggalkanmu sendiri di rumah?” gerutuku sambil mengompresnya
“Gwaenchanha noona. Itu sudah biasa.”
“Tidak biasa bagiku. Kenapa mereka kejam sekali membiarkan seseorang yang demam di rumah sendirian.”
“Kau terlalu berlebihan noona.”
Ting tong…bel itu berbunyi.
“Aku akan membukanya.”
Aku menuruni tangga dan melihat siapa yang datang. MWOOO ITU CHOI SULLI? Aku menekan tombol untuk membuka pintu dan berlari ke atas
“Kenapa kau berlari noona?”
“CHOI SULLI KE SINI!”
“MWO?”

~Sulli POV~
Aku menekan bel pintu rumah itu dengan ragu. Yoonwoo tidak masuk sekolah hari ini. Entah kenapa aku merasa bersalah. Apa ini..karena dia hujan-hujanan kemarin? Krek.. Pintu itu terbuka secara otomatis. Aku memasuki gerbangnya. Rumah ini terlihat hangat dan hijau. Kulihat di dalam tidak ada orang. Lalu..siapa yang membukakan pintunya? Yoonwoo?
“Permisi…”
“Hatchi.”
Aku mendengar suara itu dari atas. Kalau aku ke sana…apa itu sopan?
“Yoonwoo?”
Kulihat seorang namja menuruni anak tangga
“Annyeong.”
Aku menahannya agar tidak jatuh. Kulihat wajahnya merah
“Kau demam.”
“Gwaenchanha.”
Aku membantunya duduk di kursi
“Seharusnya kau tidak perlu turun.”
Di hanya tersenyum
“Mianhae…kau sakit karenaku.”
“Ani..aku memang mudah flu.”
“Kalau tahu begitu, kenapa kau memberikan jasmu untukku?”
“Lebih baik aku yang flu daripada kau.”
“Ne?”
“maksudku..kau kan yeoja. Namja macam apa yang membiarkanmu hujan-hujanan?”
Aku tersenyum mendengarnya. Kwiyeomi.
“Aku..membawakan bubur untukmu. Kau mau makan?”
“Aku…jadi merepotkan.”
“Ani. Ini..sebagai rasa terima kasihku.”
“Gomawo.”
“Ne.”

~Kyuhyun POV~
Aku tercengang melihat kamar itu kosong. Dimana yoonwoo? Aku mencarinya ke pelosok rumah. Hingga aku melihatnya sedang makan di sebelah seorang yeoja. Sooyoung tersenyum dari kejauhan. Aku menggeleng melihatnya
“Bagaimana bisa kau membiarkan seorang yeoja masuk ke rumah seorang namja sendirian?”
“Mereka tidak sendiri. Ada aku, ada kau.”
“Tapi kita tidak terhitung bodoh.”
“Haish…kau nikmati saja ini. Ini benar-benar manis.”
Aku menarik nafas dalam
“Dengar baik-baik, cupid. Dia sedang sakit dan kau membuatnya turun hanya untuk adegan romantismu yang konyol?”
“Haish..bisakah kau diam sedikit? lihat. Kapan lagi kau melihat yoonwoo tersenyum?”
Aku terdiam mendengarnya. Seketika aku memalingkan wajah ke arahnya. Dia benar. Yoonwoo tersenyum ceria. Senyum itu..hanya kulihat saat aku masih hidup. Selebihnya…senyuman itu tidak pernah ada lagi
“See?”
“Siapa yeoja itu?” tanyaku
“Calon spouse nya.”
“Ireumi mwoyeyo?”
“Choi Sulli.”
Aku terdiam mendengarnya
“Ch..choi sulli?”
“Waeyo?”
Dia…akan meninggal bulan depan dalam sebuah kecelakaan. Mustahil…aku mengusap wajahku. Yoonwoo…aku tidak ingin senyuman itu hilang untuk kedua kalinya. Tapi..apa yang harus kulakukan?

——————————————————

~Sulli POV~
“Aigoo…benar-benar manis,” ujar na eun
Aku mengangguk
“Oh ya, olimpiademu bagaimana?”
“Babak finalnya minggu depan.”
“Wah, berarti kau masih punya waktu satu bulan untuk mendapatkannya.”
“Na eun ah~”
“Akhirnya aku tidak perlu khawatir pada taemin.”
“Ne?”
“Ani. Lupakan saja.”

~Kyuhyun POV~
“Ini benar-benar aneh. Aku sudah melacak alamat choi sooyoung. Tapi aku tidak menemukannya,” ujar kris
“Mustahil…bagaimana bisa dia menghilang tanpa berkas?” ujar leeteuk
Aku mengusap dahiku
“Ini aneh.”
“Sangat.”

TBC

60 thoughts on “Cupid’s Diary {Part 2}

  1. Entah kenapa yoonwo jadi adiknya kyu itu cocok banget,aku ngerasa mereka mirip hehe .
    Konfliknya udah dimulai nih,kyu harus cabut nyawa sulli tapi sulli salah satu sumber kebahagiaan yoonwo .

  2. Konflik udah di mulai..
    Kyuppa mesti cabut nyawa sulli. .
    Sama aja dia buat kebahagian Yoonwoo ilang..
    Kris cari data ttg choi sooyoung?
    Tapi gk ketemu. .
    Cupid soo kah yg di maksud ma kris?
    Tpi mrk gk tau klo soo udah meninggal sebenarnya. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s