Infinitely Yours {Part 10-End}

Infinitely Yours

Title : Infinitely Yours

Main Cast :
*Choi Sooyoung
*Cho Kyuhyun
*Choi Siwon
*Shim Changmin
*Kris Wu

Other Cast :
*Choi Minho
*Leeteuk
*Heechul
*Sungmin
*Shindong
*Donghae
*Eunhyuk
*Yesung
*Ryeowook
*Tiffany
*Sunny
*Jessica

*Taeyeon

Type : Series

Genre : Romance,Friendship,Comedy

Rating : PG-15

Jeongmal gomawo chingudeul commentnya TT_TT~
Next part updated ^^~

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9

~Kyuhyun POV~
Aku membawa makanan ke meja itu. Kulihat youngie di sana, sedang duduk dan menghela nafas. Sekarang adalah jam istirahat. Aku duduk di depannya
“Haish..kau terlihat lebih jelek kalau begitu.”
“Oppa.”
“Ne?”
“Aku..bukan maksudku untuk ikut campur masalahmu.. Tapi.. aku kasihan melihat appamu.”
Aku menarik nafas dalam
“Sejujurnya aku juga kasihan padanya. Tapi aku tidak mungkin kembali ke rumah, berada di satu atap dengan mereka.”
“Appamu terlihat sangat frustasi.”
“Tapi hanya ini caraku agar dia mendengar keinginanku.”
“Oppa, aku…hanya ingin mengatakan hal ini. Kau sudah kehilangan eommamu, sekarang kau mau kehilangan appamu juga?”
Aku terdiam mendengarnya. Dia benar. Memang hanya appa yang kupunya. Tapi….
“Mianhae, aku masih perlu waktu”

————————————————

~Siwon POV~
Lambat laun suasana di rumah ini makin kacau. Memang bukan karena pertengkaran. Tapi karena keheningan. Tidak ada suara. Semuanya diam. Kurasa appa masih sering menemuinya. Benar-benar gawat. Bagaimana kalau mereka berbaikan? Rencana ini gagal sudah.
~Kyuhyun appa POV~
Aku datang ke cafe itu lagi. Dan seperti biasa, dia ada di sana untuk memberiku vanilla latte. Tapi hari ini berbeda. Dia tidak memberikan minuman itu padaku. Dia justru memberiku secangkir teh gandum panas
“Tidak baik kalau terlalu sering minum kopi.”
Aku tersenyum mendengarnya. Dia sama dengan eommanya dalam hal ini
“Gomawo.”
Kulihat dia diam di depanku
“Sekarang adalah jam istirahat. Kurasa..ada baiknya kita berbicara.”
Aku tercengang mendengarnya
“Du..duduklah.”
Dia duduk di depanku. Baru kali ini aku melihatnya dari sangat dekat. Dia benar-benar terlihat menyedihkan. Wajahnya kelelahan. Kulitnya terlihat lesu seperti kurang tidur. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang dulu. Matanya sayu. Dan dia lebih banyak diam sekarang.
“Kudengar…sebentar lagi kau ujian.”
“Ne.”
“Kau butuh istirahat. Jangan memforsir dirimu.”
“Selama ini aku bisa mempertahankan beasiswaku dan tetap hidup. Jadi kau tenang saja.”
“Kyu ah, kalau kau memang butuh uang, appa bisa memberimu kapan saja. Asalkan kau jangan memforsir tenagamu seperti ini.”
“Nae gwaenchanha.”
Aku tersenyum melihatnya. Dia tetap cho kyuhyunku yang tegar
“Yeojachingumu cantik dan pintar,” ujarku
“Ne. Dia sempurna. Tidak seperti seseorang,” ujarnya menyindir eomma tirinya
“Bagaimana..teman-temanmu di Kwanbon?”
“Mereka baik. Terutama minho.”
“Minho?”
“Ne. Dia oppa sooyoung.”
“Pantas rasanya aku pernah melihat yeojachingumu.”
“Mereka kembar.”
“Pasti sangat menyenangkan. Roomatemu adalah oppanya, dan yeojachingumu adalah yeodongsaengnya.”
“Ne. Mereka seperti keluarga bagiku.”
“Kyu ah…”
“Mianhamnida. Aku tidak bisa menganggap choi siwon sebagai salah satu di antaranya.”
“Sebenarnya apa salah siwon padamu? Kalau kau membenci eomma dan appa, itu terserahmu. Tapi siwon? Apa salahnya?”
“Salahnya adalah karena dia hidup dan mempertemukan kalian berdua di Kwanbon.”
Aku menarik nafas dalam. Julukan sharp tongue memang pas untuknya
“Kyu ah, kau tidak boleh berkata seperti itu. Itu sama saja kau berharap dia meninggal.”
“Aku hanya ingin bertanya pada appa.”
Aku menatapnya
“Jika seandainya aku, appa, dan siwon berada dalam sebuah kapal yang diterjang badai. Dan hanya ada satu orang yang harus appa selamatkan yaitu aku atau siwon, siapa yang akan appa pilih?”
“A….apa?”
“Seandainya salah satu di antara kami meninggal, siapa yang akan lebih appa sesali kepergiannya. Aku atau siwon?”
“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.”
“Aku mohon appa memikirkan hal itu.”
Kulihat dia membungkuk dan pergi. Aku masih belum mengerti. Kenapa dia menanyakan pertanyaan seperti itu?

—————————————————-

~Sooyoung POV~
Meja belajarku penuh dengan buku. Tiga hari lagi adalah hari ujian. Aku harus bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Kulihat tae sudah tertidur di kasurnya.
“Leeteuk…” igaunya yang membuatku menahan tawa
Krek…kudengar pintu kamarku dibuka. Tiffany di sana
“Annyeong,” ujarnya
“Annyeong. Ada apa?” tanyaku
Kulihat dia berdiri di sebelahku
“Aku….ke sini ingin mengatakan salam perdamaian.”
“ne?”
“Sebelum kita ujian, aku ingin kita berbaikan.”
Aku tercengang mendengarnya
“Memang…aneh. Tapi… bisa kan..kita menjadi teman?”
Aku tersenyum mendengarnya
“Ne,” aku menjabat tangannya
“Kau tahu.. perkataanmu membuatku banyak berpikir. Selama ini aku menghabiskan waktu-waktu bodoh untuk menarik perhatian kyuhyun.”
“Terkadang, jatuh cinta itu sama seperti taruhan. Kau bisa saja menang, dan juga kalah.”
“Kau benar.”
Dia menepuk pundakku
“Hwaiting! Kau harus mempertahankan cho kyuhyun. Atau aku akan merebutnya kalau kau berani menyakitinya!”
“Siap!”

————————————————–

~Kyuhyun POV~
Hari ini adalah hari ujian. Syukurlah aku bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Malam ini pun aku sedang belajar. Begitu pula minho.Tiba-tiba aku jadi teringat..
Flashback
“Kyu ah, jangan terlalu memforsir dirimu.”
“Gwaenchanha eomma.”
Eomma menuangkan segelas teh gandum untukku
“Minumlah selagi hangat.”
“Gomawo eomma.”
Ia mengusap kepalaku perlahan dan memelukku
“Kyu ah.. aku akan selalu berada bersamamu. Dimanapun, kapanpun.”
Flashback End

“YA! CHO KYUHYUN!”
“Ah..ne?”
“Haish..kau melamun? Kau memikirkan si kecil bawel itu?” tanya minho
“Ah..kau..mau menanya yang mana?”
“Yang nomor tiga.”

———————————-

~Sooyoung POV~
“SELESAAAAAI!!!”
Semua siswi berteriak setelah bel itu dibunyikan. Akhirnya hari ujian selesai juga. Aku membuka cellphoneku. Kulihat sudah ada pesan di sana
‘Annyeong chagiya ^^ Keluarlah dari dorm setelah selesai ujian’
Aku tersenyum membacanya. Kudengar seseorang berdehem di sebelahku
“Ehm..” ujar tae
“Hehehe. Aku pergi dulu. Annyeong~”
Aku berlari ke luar dorm. Kulihat dia sudah berdiri di sana dengan sepedanya
“Teddy Bear Museum!!”

~Siwon POV~
“Ini benar-benar gawat siwon. Mereka bahkan mulai berbicara.. haish.. ini semua karena yeoja itu.”
“Eomma…”
“Bagaimana bisa dia membuat cho kyuhyun berbicara dengan appanya? Aku tidak mengerti.”
“Eomma sudahlah..”
“Sudahlah? bagaimana bisa aku tenang choi siwon? Rencana kita terancam gagal. biar bagaimanapun, kyuhyun anak kandungnya. Semua harta dan perusahaannya pasti jatuh ke tangan kyuhyun.”
“Tapi sooyoung tidak…”
“Tutup mulutmu siwon. Siapapun yang berusaha mengganggu rencanaku harus bertanggung jawab.”
“Bertanggung…jawab?”
“Sekaligus ini menjadi peringatan bagi cho kyuhyun.”

——————————————-

~Sooyoung POV~
“Wuah!!!! Neomu kwiyeopta!!!”
“Gembul. Dia pasti seorang shiksin sepertimu.”
Aku menggembungkan pipiku
“Benar-benar mirip.”
“Kau juga!” aku menjulurkan lidah padanya.
Setelah berjalan-jalan di sana, kami berjalan-jalan di taman. Kulihat dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong karton yang dibawanya
“Mana cellphonemu?”
“Ne?”
“Eodi?”
Aku mengeluarkan cellphoneku. dia memasangkan sebuah gantungan beruang di sana
“ini….”
Dia mengeluarkan cellphonenya yang juga ada gantungannya
“Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang.”
“Gomawo oppa~!” aku memeluknya
“ne”
Kurasakan dia menggenggam tanganku
“Aku akan selalu ada di sampingmu. Apapun yang terjadi.”
“Oppa, kenapa kau mengatakan hal seperti itu, seolah-olah kau akan pergi jauh.”
“Aku serius chagi.”
“Kyuhyunie..”
“Kau bisa berdiri dengan kakimu sendiri. Dengan atau tanpa aku. Arra?”
“Oppa..jangan bicara yang tidak-tidak..”
Kurasakan dia mendekatkan wajahnya padaku. Perlahan aku memejamkan mata. Dia menciumku lembut
“Saranghae.”Aku hanya diam mematung
“Mukamu merah,” ujarnya
“Oppa!! Berhenti menggodaku seperti itu!”
Dia mengusap kepalaku dan menggandeng tanganku
“Kaja. Kita pulang. Hari sudah mulai malam.”
“Ne.”
Kami mempercepat langkah ke mobilku. Tiba-tiba kyuhyun oppa meminta kuncinya
“Biar aku yang menyetir.”
“Arra.”
Aku memberikan kunci itu padanya. Kulihat dia tidak memakai seatbelt
“Oppa, kau harus memakai sabuk pengamanmu”
“Gwaenchanha.”
“Haish..itu sangat berbahaya.”
“Tenang saja.”
Aku menggeleng melihatnya. Kenapa dia keras kepala sekali? Aku menguap
“Tidurlah,” ujarnya
“Bagaimana bisa aku membiarkanmu menyetir sedangkan aku tidur?”
“Gwaenchanha.”

~Kyuhyun POV~
Aku tersenyum melihatnya tertidur di sampingku. Perlahan aku menyelimutinya dengan jaketku. Aku kembali menyetir mobilnya. Jalanan mulai sepi. Kulihat lampu hijau sudah menyala. Aku kembali memicu gas. Tiba-tiba kulihat sebuah truk dari sebelah kanan melaju dengan cepat meski lampunya merah.  Refleks, aku memeluknya dan BRUK! Truk itu menabrak mobil hingga terguling. Pecahan-pecahan kaca mulai berhamburan mengenai kulitku. Setelah itu…semuanya gelap

~Sooyoung POV~
Aku mengerjapkan mataku. Kenapa tempat ini terang sekali? Samar-samar kulihat seseorang di atasku
“Youngie…”
Kurasakan seseorang memelukku hangat. Itu..minho oppa
“syukurlah…akhirnya kau sadar.”
“A…apa maksud oppa?”
Tiba-tiba aku merasa perih di bagian pipiku
“Aaappo..”
“Mana yang sakit?” tanyanya sambil meniup luka itu
“Apa yang terjadi?” tanyaku
Minho oppa hanya diam. Aku melihat ke arah tanganku. Ada 3 luka gores di sana. Di kakiku hanya ada satu. Dan di wajahku hanya ada satu luka gores yang kecil
“Sepertinya…tadi aku bersama kyuhyun oppa.”
“Youngie..dengarkan ini dengan tenang.”
“Kenapa oppa berbicara seserius itu? memangnya ada apa?”
“Kyuhyun…”
“Oppa! Ada apa dengannya?”
“Youngie..”
Aku turun dari ranjangku dan mulai memandang ke sekitar luar ruangan. Aku..di rumah sakit?
“Bagaimana bisa aku tertidur di mobil dan terbangun di rumah sakit?” tanyaku
“Youngie..kyuhyun..kritis.”
Aku menghentikan langkahku
“Bercandamu tidak lucu oppa.”
“Apa menurutmu ini lucu untuk dijadikan candaan?”
“APA MAKSUDMU OPPA?”
“Dia..”
“kalau aku hanya terluka beberapa gores, mana mungkin dia kritis?!”
“Youngie…”
“Antarkan aku ke ruangannya.”
“Tapi…”
“Atau aku akan mencarinya sendiri.”
Minho oppa menghela nafas
“Kau bisa melihatnya besok. Kondisimu masih belum stabil.”
“AKU INGIN MELIHATNYA SAJA OPPA. APA ITU SALAH?”
“Ne.”
Minho oppa memapahku ke suatu ruangan. Aku melihat ruangan itu dengan bingung..

중환자

Aku memasuki ruangan itu. Kulihat seorang namja berbaring di sana. Dia…
“Oppa…”
Aku terduduk lemas di lantai. Bagaimana…bisa..
“Dia melindungimu.”
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku
“Dia memelukmu agar kau tidak terkena pecahan kaca itu.”
“Oppa…”
Aku memegang tangannya. Kepalanya diperban. Di tangannya terdapat luka gores yang cukup serius. Sedangkan aku… oppa..kenapa kau membuatku berdosa besar..
“Youngie…”
“Tinggalkan aku di sini oppa.”
“Youngie..”
“Jebal oppa.”
“Arra..”
Minho oppa menutup pintunya. Aku terdiam dan mengusap tangannya yang dingin. Kenapa kau harus melindungiku oppa? Kenapa kau harus menggantikan posisiku di sini? Kau benar-benar membuatku menjadi orang jahat. Yang bahkan terluka kecil di saat lukamu sangat parah. Aku menitikkan air mata. Oppa…aku tidak bisa berdiri dengan kakiku sendiri

~Kyuhyun appa POV~
“Suster, dimana kamar pasien bernama cho kyuhyun?”
“Cho kyuhyun berada di jonghanja.”
“jong…hanja?”
Aku melangkahkan kakiku dengan lemas. Bagaimana bisa… dia.. Aku melihat dari jendela. Yeojachingunya di sana. Menghangatkan tangannya dan menangis. Sedangkan aku hanya bisa duduk di luar. Mustahil.. dia…

“Seandainya salah satu di antara kami meninggal, siapa yang akan lebih appa sesali kepergiannya. Aku atau siwon?”

Seketika kata-kata itu terngiang dalam benakku. Jadi…dia…memberikanku….pertanda?

———————————————————-

~Minho POV~
“Makanlah biar cuma sedikit. Kau membuatku pusing,” ujarku
“Aku tidak akan makan sampai dia bangun.”
“YA! Apa kau mau mati sebelum dia bangun?”
“Seharusnya aku yang berada di sana oppa. Andai saja aku yang menyetir.”
“Youngie..ini semua takdir.”
“Huweeee oppa!!!!!”
“Aku menepuk pundaknya
“Uljima..kyuhyun pasti menertawakanmu kalau kau menangis begini. Ini zaman modern youngie, dia pasti sadar.”
“OPPA! Kenapa kau jadi membuatku takut?!”
“Aku..”
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya.”
“Youngie…”
“Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri oppa”

~Siwon POV~
“Kita sedikit meleset dari target. Tapi…baguslah kalau dia pergi. Sainganmu tidak ada lagi,” ujar eomma
Aku menarik nafas dalam.
“Entah kenapa aku merasa cara ini sangat kejam.”
“Siwon, apa menurutmu cara mereka tidak kejam? Membunuh appamu?”
Aku menghela nafas
“ne.”

~Kyuhyun appa POV~
Aku melangkahkan kakiku dengan gusar ke ruangannya. Aku memegang tangannya
“Hana, apa kau menghukumku?”
Aku menitikkan air mata
“Kyuhyunie…mianhamnida.. appa… appa bahkan belum menebus kesalahan appa..”
“Kalau kau bangun nanti….appa janji…appa akan..menuruti..semua yang kau mau.. semua…”
“Appa..takut kehilanganmu kyu ah… appa takut…”
Aku mengusap tangannya
“Appa janji..kalau kau bangun…appa akan melakukan hal yang kau mau.. appa…akan berpisah dengan yeoja itu.. appa janji.”
Aku memegang tangannya. Tiba-tiba kurasakan tangannya bergerak
“Kyu ah!”
“Chagi…”
“KYU AH?”
Kulihat dia membuka matanya perlahan
“Kyu…”
Aku memeluknya erat
“Appa..”
Dan bahkan…aku mendengarnya memanggilku appa…
“Ini dimana?” tanyanya
“Kau…kecelakaan dan…dirawat di sini.”
“Ne?”
Krek… kulihat pintu kamarnya dibuka. Yeojachingunya di sana
“Oppa!!!”
Dia berhambur memeluknya. Sedangkan kyuhyun hanya terdiam
“Nu…guseyo?”

~Sooyoung POV~
“Nu…guseyo?”
Aku terdiam mendengarnya
“Oppa…kau…”
“Kau siapa?” tanyanya
“Oppa! Setelah aku nyaris frustasi memikirkanmu, sekarang kau mencoba mempermainkanku! Bercandamu tidak lucu!”
“Apa yang kau katakan? Kau ini siapa? Masuk ke ruangan orang seenaknya, memelukku yang bahkan tidak tahu kau siapa.”
“Kyuhyun Oppa…kau…benar-benar tidak mengingatku?”
“Kau…darimana kau tahu namaku?”

———————————————-

~Kyuhyun appa POV~
“Sepertinya..kepalanya terbentur cukup keras.”
Aku mengusap wajahku
“Apa ingatannya akan kembali?”
“Entahlah. Yang jelas, jangan paksa dia untuk mengingatnya. Biarkan dia mengingatnya sendiri.”
Aku memasuki ruangannya. kulihat dia sedang memainkan PSP nya
“Kyu ah… apa…saja yang kau ingat?” tanyaku
“Kenapa appa menanyakan pertanyaan yang aneh?”
“Appa…hanya ingin…mengetahuinya.”
Krek..kulihat teman-temannya datang.
“Annyeong kyu ah!”
“Annyeong!” ujarnya
“Kau ingat mereka?”
“Tentu saja. Mereka teman-temanku.”

~Minho POV~
“Sepertinya aku dihukum,” ujar youngie
“Ne?”
“Karena seharusnya aku yang berada di sana dan amnesia. Bukan dia.”
“Youngie…menurutku itu hanya sementara. Dia bisa mengingat semua anak asrama dua kecuali aku dan kau.”
“Apa aku tidak penting di pikirannya?”
Aku menghela nafas”Mungkin karena kau yang terpenting, kau lah yang dia lupakan.”
“Oppa!! Kenapa kau menegaskan kalau hanya aku yang dilupakan?”
Aku menghela nafas. Kulihat dia berdiri
“Kau mau kemana?”
“Membuatnya mengingat sedikit saja.”

————————————-

~Sooyoung POV~
Aku memasuki kamarnya. Kulihat dia memainkan starcraft
“Annyeong.”
Dia hanya diam dan sibuk bermain. Aku mengeluarkan gantungan teddy darinya
“Kau ingat ini?”
Dia melihatnya sebentar
“Sepertinya…aku pernah melihatnya” ujarnya lalu kembali ke starcraftnya
“Oppa…”
“Bisakah kau diam? Kau mengganggu konsentrasiku daritadi. Benar-benar berisik.”
Aku menarik nafas dalam. Dia bahkan tidak sedingin ini saat pertama kali bertemu denganku
“Jangan datang lagi dan memanggilku oppa. Aku benar-benar pusing mendengarnya.”
“Oppa, apa kau sekejam itu padaku?”
Kurasakan setetes air mata jatuh di pipiku
“Aku bahkan tidak mengenalmu.”
Aku melangkahkan kaki ke luar kamarnya. Kulihat leeteuk di sana. Aku berlari ke kamarku. Kenapa dia berbicara sangat dingin

~Kyuhyun POV~
Entah kenapa….aku merasa sakit melihatnya menangis. Haish…ada apa denganku?
“Kenapa..sooyoung keluar dengan menangis?” tanya leeteuk
“Sebenarnya siapa dia? kenapa dia menggangguku dari kemarin?”
“Kau..benar-benar tidak mengingatnya kyu?”
“Haish..ahjeossi. Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang sama dengannya?”
“Karena..dia memang orang terpenting di hidupmu.”
“Mwo?”
“Kau tidak ingat apapun? Tentang choi sooyoung? choi minho?”
“Rasanya….nama itu tidak asing. Apa kau…bisa menceritakannya sedikit?”
“Sooyoung masuk ke Kwanbon dengan memanfaatkan identitas choi minho, kembarannya.”
“MWO? Yeoja di sekolah khusus namja?!”
“Haish…diamlah”
“Ne, lalu?”
“Dia menjadi roomatemu. Awalnya kita semua tidak tahu kalau dia yeoja. Tapi entah darimana kau mengetahui kenyataan kalau dia yeoja. Kemudian kau sangat memperhatikannya. aku tidak terlalu mengerti bagaimana kalian bisa saling menyukai. Tapi yang jelas, dia dipindahkan ke Jeongsin oleh oppanya. Setelah itu kalian jadian dan..kau malah lupa ingatan.”
“Dia…yeojachinguku?”
“Ne.”
“Kenapa…aku tidak ingat apapun.”
“Molla.”
Aku berusaha mengingatnya. Tiba-tiba kurasakan kepalaku sangat sakit
“Ar..gh..”
“Jangan memaksa untuk diingat.”

~Kyuhyun appa POV~
Aku sedang berada di kantor polisi. Pemilik truk itu telah ditemukan. Aku kini berada di depannya. Namja itu berada di dalam sel
“Kupastikan kau dihukum seberat mungkin!”
“Tapi….tuan. Saya tidak melakukan hal itu dengan tidak sengaja.”
“Apa maksudmu?!”
“Ada seseorang yang menyuruh saya…”
“NUGUYA?!”
“Itu…”
“KATAKAN atau aku akan memastikan kau dijatuhi banyak pasal. Dan aku berjanji akan membebaskanmu kalau kau mengatakannya”
“Dia…”

~Siwon POV~
BRUK! Pintu rumah dibuka keras. Aku menengok ke arah  pintu. Kulihat beberapa orang polisi dan appa memasuki rumah
“Appa…”
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu!” ujarnya
Aku tercengang melihatnya.
“ADA APA INI?” itu suara eomma
Aku mengikutinya
“Anda kami tahan atas tuduhan pencobaan pembunuhan”
“LEPASKAN! YEOBO! HENTIKAN MEREKA!”
“Mulai detik ini juga. Aku akan memprosesmu secara hukum. Pertama karena kau mencoba membunuh putraku. Dan kedua, aku akan berpisah denganmu.”

—————————————————–

~Minho POV~
Aku benar-benar tidak tahan melihatnya diam seperti ini. Terlihat menyedihkan.
“Hanya karena kyuhyun melupakanmu, itu bukan akhir dari hidupmu bodoh. Aku kesal melihatmu diam.”
“Oppa…bagaimana cara membuatnya mengingatku….”
“Kau tidak boleh memaksanya. itu berbahaya untuknya.”
Dia mengangguk. Kurasa..ada satu cara membuatnya sedikit tersenyum
“Besok…kita pulang ke Amerika.”
“MWO?”
“Aish..tidak usah sekaget itu. Hanya beberapa hari. Setidaknya kau bisa tersenyum dan saat kau kembali ke sini, kyuhyun sudah mengingatmu.”
“Tapi…”
“Kau berada di sini pun percuma. Dia tidak mengingatmu.”
“Aku….”
“Ayolah..”
“Pesawat jam berapa?” tanyanya
“Jam 6 malam.”
“Arra.”

~Sooyoung POV~
Hari ini kyuhyun pulang dari rumah sakit. Begitu pula aku. Aku terdiam melihat koperku. Aku tidak akan liburan dengan tenang kalau begini caranya… Kulihat appa kyuhyun memasuki kamar inapku
“Annyeonghaseyo.”
“Kau sudah sembuh?”
“Ne.”
“Kudengar…kau akan berangkat ke Amerika jam 6.”
“Ne ahjeossi.”
“Sebelum kau pergi..aku ingin kau mengajak kyuhyun ke tempat-tempat dimana kalian biasa bersama. Setidaknya…agar dia sedikit mengingatnya.”
“Ne?”

~Kyuhyun POV~
Aku terduduk diam di cafe itu. Kulihat dia duduk di depanku. Tersenyum kecil. Entah kenapa aku merasa senang melihat senyum itu
“Mianhamnida aku….tidak mengingatmu dan malah mengatakan kata-kata yang dingin,” ujarku
“Gwaenchanha…memang salahku yang terlalu memaksakanmu untuk mengingatnya.”
“Ani…Bisakah…kau menceritakan sedikit tentang…bagaimana kita jadian?”
Dia menggeleng “Kau akan mengingatnya sendiri kalau aku memang orang yang penting bagimu.”
Aku mengusap tengkukku.
“Kau tahu, tempat ini adalah tempat kita makan siang. Kau bekerta part time di sini dulu.”
“Jinjja?”
Dia mengangguk
“Menu favoritmu Americano. Dan kita selalu duduk di sini.”

‘Dua Americano dan cho kyuhyun 10 menit lagi’

“A..rgh..”
“Gwaenchanha?”
“Nae gwaenchanha.”
“Aku…tidak akan memaksamu mengingatnya tapi..”
“tapi?”
“Aku ingin kita pergi ke suatu tempat…sebelum aku pergi ke Amerika.”
“Arra.”

—————————

~KyuhyunPOV~
Aku berada di N Tower Seoul, dimana gembok-gembok cinta tertempel di sana.  Angin musim gugur bertiup cukup kencang, membuat rambutnya tertiup angin
“Kau tahu, kita pernah memasang gembok di sini. Dua harapan dalam satu gembok. Sayangnya aku tidak tahu dimana gemboknya.”
“Memangnya…apa yang kita tulis?”
“Entahlah,” ujarnya
Aku terdiam melihat tempat ini. Entah kenapa rasanya tidak asing..
“Kalau kau berhasil menemukannya… tunggulah aku kembali dari Amerika..”
Aku hanya tersenyum kecil.
“Kau…bisa berputar-putar di sini kalau kau mau. Aku…pamit. Pesawatku berangkat satu setengah jam lagi.”
“Arra.”
“Annyeong.”
“annyeong. Safe flight.”
Dia tersenyum dan pergi. Meninggalkanku sendirian di sini. Aku berputar dan melihat harapan-harapan di gembok itu. Semuanya tentang cinta. Apa yang kutulis? Bagaimana bisa aku menemukan gembokku di antara ribuan gembok ini? Aku terduduk diam di lantai. Tiba-tiba kudengar sebuah gembok terjatuh. Aku menengok ke arahnya. Gembok yang cukup jelek dibanding gembok lainnya. Berkarat dan kecil. Tapi ada sebuah kertas di sana
“Semoga Choi Sooyoung tahu perasaan ini.”
Aku terdiam melihatnya. Ini….

“Carilah kamar teman sekelasmu! Tidur bertiga di sana!”
“YA! Kau pikir aku mau menjadi roomatemu! Aku dipilihkan ketua asrama! Pantas saja kau tinggal sendiri di sini! Mana mungkin ada orang yang mau menjadi roomate orang sepertimu!”
“MWOYA?! Kenapa kau jadi memarahiku! Hei anak baru! Kau mencari masalah ya?!”

“Aku tidak sekejam itu membiarkan orang yang terluka tidur di luar. Dan aku bukan namja plin plan yang bisa mengubah perkataannya. Ne. Mulai hari ini itu juga kamarmu.”
“Gomawo.”

“YA! Kau ini namja atau bukan! Masa jatuh saja kau meringis”
“Ini sakit babo! Dasar ba..bo!”

“YA! KALAU AKU BERTEMU DENGANMU LAGI AKAN KUHABISI NYAWAMU!”

“Cium Minho!”
“MWO?!”

“Dan aku berjanji padamu kalau aku akan menjaganya. Akan kupastikan dia baik-baik saja.”
“A..apa maksudmu?”
“Awalnya saat aku tahu kalau dia yeoja aku heran dan bingung. Apa aku harus mengadukannya pada kepala sekolah atau guru. Tapi akhirnya aku memilih untuk membiarkannya di sana. karena di sanalah kebahagiaannya. Kau tahu, tiap orang itu punya tujuan yang berbeda. Memang agak riskan baginya untuk di sana. Tapi aku akan menjaganya. Karena dia telah membuat asrama itu menjadi hidup.”
“Ne?”
“Kau tahu, aku adalah seorang pengecut yang hanya bisa memprotes tanpa menggertak. Tapi setelah dia datang. Setelah aku tahu kalau dia, choi sooyoung seorang yeoja yang sangat berani. Dia tidak hanya menjadi pengecut yang hanya bisa berharap. tapi dia menjadi seorang pemberani yang berani mengambil keputusan dan bertindak. Dia membuatku berani menggertak dan akhirnya aku bisa hidup dengan tumpuan kakiku sendiri sekarang.”

“Oleh karena itu kau harus bersyukur menjadi orang pertama yang melihat konser ini,”
“Konser?”
“ne. Hahahhahahaa.”

“Begini. Aku..baiklah, aku berjanji akan mempebaiki hubunganku dengan appa. Tapi bukan sekarang, arra?”
“Jinjjayo?”

“Argh…”

“I will promise the piece of eternity.” entah kenapa jantungku berdetak keras. Aku mendekatkan wajahku padanya tiba-tiba kurasakan donghae mendorongku dan kris mendorongnya. Para penonton bersorak sangat keras. Sedangkan kami berdua hanya diam. Aku…menciumnya

“Kalahkan aku kalau bisa.”
“Kau menantangku? Kau sudah menantang orang yang salah.”

“Kau tahu, sayang sekali kalau aku menghamburkan gajiku untuk dua gembok. Maka aku hanya membeli satu gembok dengan dua kertas. Jadi kita bisa memakai satu gembok ini berdua,”
“Jadi ini gembok kita?”

“Bagaimana kalau kita membuat permohonan?”
“Santa, aku ingin menemukan jalan terbaik dalam semuanya.”

“Kalau kami menang, kau harus datang ke acara nanti malam.”
“Sure”

“Pakailah. Kau kedinginan.”
“Ani..kau..”
“Aku ini namja. Aku tidak mungkin kedinginan.”

“Nan neol saranghae,”
“Ne?”
“Aish.. ternyata kau tidak hanya babo. Tapi juga tuli.”
“YAAA!!!”
“Jadi… Choi Sooyoung. Apa kau rela menempuh hari-hari berikutnya dengan sepeda?”
“Pernyataan cinta macam apa itu?”
“Kyuhyun oppa style”
“Hm..kurasa aku harus menyiapkan banyak sunblock dan topi.”
“Ne?”
“Kau mengataiku tuli. kau sendiri tidak ada bedanya. NE! Cho Kyuhyun. Aku rela menempuh hari-hari berikutnya dengan sepeda.”

“Aku akan selalu ada di sampingmu. Apapun yang terjadi.”
“Oppa, kenapa kau mengatakan hal seperti itu, seolah-olah kau akan pergi jauh.”
“Aku serius chagi.”
“Kyuhyunie..”
“Kau bisa berdiri dengan kakimu sendiri. Dengan atau tanpa aku. Arra?”

Swing.. sebuah kertas jatuh di sampingku. Aku mengambilnya. Ini…
“Semoga cho kyuhyun tidak melupakanku.”
Aku terdiam membacanya dan melihat jam. Gawat.. 45 menit lagi!

~Siwon POV~
“Eomma tidak tahan siwon ah….”
Aku menghela nafas panjang
“Eomma..sejak awal aku sudah bilang. Ide ini terlalu kejam.”
“Siwonie…”
“Eomma….aku..mianhamnida aku tidak bisa melakukan apa-apa.”

—————————————————

~Kyuhyun POV~
Aku berlari menerobos pintu check in
“YA! BERHENTI!”
Kudengar petugas bandara berteriak. Aku  tidak mempedulikannya. Aku harus bisa mengejarnya. Dia tidak boleh pulang ke Amerika. Aku harus bisa mencegahnya. Aku tidak bisa menunggu setahun, dua atau bahkan tiga tahun untuk mengejarnya

~Sooyoung POV~
“Kaja youngie. Kita harus masuk ke pesawatnya sekarang.”
Aku berdiri dari kursiku. Melihat ke belakang. Entah kenapa rasanya berat meninggalkan korea sekarang
“Oppa masuk duluan saja. Aku…akan masuk sebentar lagi.
“Baiklah.”
Aku duduk diam di ruangan itu. Korea. Terlalu banyak kenangan. Meninggalkannya sebentar saja terasa berat. Aku berdiri dari kursiku dan berjalan ke pesawat. Tiba-tiba kurasakan seseorang memelukku dari belakang
“Kajima.”
Aku terdiam mendengarnya.Suara ini… Aku berbalik. Kulihat kyuhyun di sana. Wajahnya berkeringat.
“Kau..berlari ke sini?”
Dia memelukku erat
“Mianhae..aku…baru mengingatnya.”
Aku tersenyum dan memeluknya. Tidak mempedulikan orang di sekitar yang memandang kami
“Ne.”
“Aku…tidak bisa menunggumu 1,2,atau bahkan 3 tahun untuk mengejarmu.”
“Ne?”
“Saranghae, chagi.”
“Nado saranghae, oppa.”
Wush….. kudengar bunyi itu. Aku menengok ke arah pesawatku. MWO ITU
“OPPA! ITU PESAWATKU!”
Dia menahan tanganku
“aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana sampai bertahun-tahun.”
“Siapa yang…”
Dan…pesawat itu terbang
“OPPA!!!”
“Siapa suruh kau mencoba kabur ke Amerika hanya karena aku amnesia hah?”
“Siapa yang mau kabur ke Amerika? Aku hanya berlibur di sana sekitar 1 minggu!”
“MWO? Bukan tahunan?”
“OPPA!!! Bagaimana dengan minho oppa? Dia sudah di pesawat!!!”
“YA! Kau yang tadi! Cepat kemari!” ujar beberapa petugas bandara mengejar kami
“Gawat!”
Kyuhyun oppa menarikku ke luar bandara
“Kenapa kita kabur?” tanyaku
“Tadi aku menerobos check in tanpa permisi.”
“MWO? HAISH!! OPPA YA!! Kalau kita berakhir di kantor satpam ini semua tidak romantis!!!”
“Tidak akan!”
Aku tersenyum melihat tangannya menggenggamku erat. Dia memang penuh kejutan. Tapi itulah yang membuatnya unik. Dia tidak terduga, seperti anak kecil. Tapi juga melebihi drama. Karena setelah ini..aku yakin dia akan membuat banyak kejutan baru. Dari pertemuan pertama kami sebagai ‘namja’ hingga berakhir dengan berlari di bandara. Aku yakin suatu saat nanti cerita ini akan berakhir di kehidupan keluarga yang bahagia. karena waktu yang kami miliki tidak terbatas. Karena kami berawal di kota Seoul dan akan berakhir di ujung dunia. Tidak ada batasan untuk mencintai seseorang, begitupula batasan untuk membuat kejutan bersamanya. Karena setelah ini, kau akan melihat kejutan berikutnya. Mungkin kau akan mengalami hal yang sama dengan novel yang kau baca. Atau bahkan melampauinya. Siapa yang tahu?

The End

73 thoughts on “Infinitely Yours {Part 10-End}

  1. suka bgt sama end’a tp terkesan gantung kyu belum baikan ama appa’a meski amnesia doi lupa kalo berantem ma appa’a…trus nasib’a siwon gmn…jd buat AS’a chingu

  2. waah sdah end trnyata..
    mianhae Q tlat bca thor..
    lg gak online akhir” ini..#gk nanya..
    tp tetep ff nya bgus thor q ska..
    fightiing author..

  3. Happy end..
    Gk tau mau comment apa..
    Kirain Kyuppa meninggal..
    Tapi untg selamat walaupun ilang ingatan…
    Tpi sementara..
    Kyuppa dan appany udah baikan..
    Eomma siwon di penjara..
    Pokoknya suka deh ma end ny..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s