Love Destiny {Part 7}

cropped-love-destiny.jpg

Title : Love Destiny

Main Cast :
*Choi Sooyoung
*Cho Kyuhyun
*Seo Joohyun
*Choi Siwon
*Victoria Song
*Shim Changmin

Other Cast :
*Kim Hyoyeon
*Kim Taeyeon
*Im Yoona
*Kwon Yuri
*Lee donghae
*Park Jungsoo
*Lee Sunkyu
*Lee Sungmin
*Ye Eun

Type : Series

Genre : Romance,Family,Friendship

Rating : PG-15

Part 1 | Part 2Part 3 Part 4 | Part 5 | Part 6

~Kyuhyun POV~
“Ne?” ujarnya
Aku menciumnya dan menindihnya. Kulihat dia hanya diam
“Kuberi tahu, satu hal bagus choi sooyoung,” ujarku
“N..ne?”
“Pertama, aku tidak mungkin jatuh cinta pada penyebab kematian kedua orang tuaku,” ujarku
“A..apa maksudmu oppa?” ujarnya
Aku tersenyum
“Apa kau merasa ini semua takdir seperti dongeng?”
“Aku..tidak mengerti,” ujarnya
“Kau terlalu naif untuk mempercayai ini semua sebuah kebetulan. Saat aku menolongmu di tengah para perampok, saat aku menolongmu yang hampir dibunuh, saat pernikahan appamu, semua kebetulan?” ujarku
Kulihat dia terdiam
“Ne?”
“Kurasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan ini semua darimu. Itu semua bagian dari rencanaku,” ujarku
“Aku..tidak mengerti,” ujarnya. Kulihat dia menitkkan air mata
“Kau bukan tidak mengerti chagi. kau memungkiri kenyataan bahwa kau telah terjebak dalam neraka baru,” ujarku
“Oppa bohong,” ujarnya
“Aku sudah berjanji pada eomma. Kalau aku akan membalas seseorang yang mengkhianatinya. Apa yang kau alami sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya!” ujarku
Kulihat dia terdiam
“Oppa..berncandamu tidak lucu,” ujarnya
“Apa menurutmu aku bercanda hah? Setelah appamu, Choi Siwon menghancurkan perusahaan appaku demi kehidupan nyamanmu. Setelah bumonimku bunuh diri karena itu. Setelah aku dibuang selama 20 tahun kau masih mengatakan aku bercanda? AKU SERIUS CHOI SOOYOUNG!” ujarku
“Oppa..”
“Selama ini aku sudah lelah bersandiwara manis di depan putri choi. Dan sudah saatnya semua itu berakhir. Kau adalah penyebab appamu dan harabeojimu tega menghancurkan perusahaan appaku dan aku tidak akan membiarkanmu bahagia di atas kematian appa! Aku bersumpah, kau akan merasakan perasaan yang appa, eomma, dan aku rasakan dengan caraku sendiri!”
Aku menggendong dan menghempaskannya ke tempat tidur.
“Dan kau adalah caraku,” ujarku
“Oppa…jebal…jangan lakukan ini semua..”

——————————————————

~Siwon POV~
Aku tidak bisa tidur. Entah kenapa aku terus terbayang padanya. Pada putriku. Apa aku..telah melakukan kesalahan? Kenapa perasaanku sangat tidak enak. Aku melihat ke arah cellphoneku. Kulihat jam menunjukkan pukul 11 malam. Apa..sebaiknya aku menelponnya? Tiba-tiba kulihat vict mengambil cellphoneku dan mematikannya
“Kau tidak boleh mengganggu mereka yeobo,” ujarnya
Aku tersenyum
“Ne.”

——————————————

~Sooyoung POV~
Aku mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan shower, menutup suara tangisanku.  Eomma…sekarang kurasa aku telah kehilangan semuanya. Tidak ada seorang pun lagi yang mempedulikanku. Appa… hanya mempedulikan keluarga barunya. Mungkin juga kebahagiaan barunya.. Dan kyuhyun oppa… kenapa aku sebegitu bodohnya mempercayainya.. mencintainya… dan bahkan menangisinya sekarang. Eomma..aku tidak mau mengakui kenyataan..aku telah dijebak. dia tidak mencintaiku. dia tidak menikah denganku untuk kebahagiaanku. Eomma…tubuhku rasanya sakit semua.. tapi hatiku jauh lebih sakit… Dan bahkan…diary yuri.. kurasa hanya akan kuisi dengan penyesalan… namun aku tidak bisa berbuat apa-apa… bahkan terlalu sakit rasanya..menceritakan ini pada siapapun..kecuali eomma

————————————————-

~Siwon POV~
Aku mengerjapkan mataku. Ini sudah jam 7. Apa dia sudah bangun? Aku sudah tidak tahan untuk tidak menelponnya. Kuputuskan untuk menelponnya.

~Kyuhyun POV~
“Nae mameul sarojamneun daensing geu hwaryeohan somssi
Neoui geu igijeogin maepsi geu ajjilhan”
Haish..suara itusangat menggangguku. Kuputuskan untuk mengangkatnya
“Yeoboseyo,” ujarku dengan suara mengantuk
“Annyeong..kyuhyun ah. Youngie eodiyo?”
Ternyata appanya. Seharusnya aku tidak perlu mengangkatnya
“Youngie..masih tidur. Atau appa ingin aku membangunkannya?” bohongku
“Ah ani..jangan dibangunkan. mianhae mengganggumu. Annyeong,”
“Ne annyeong”
Aku menutup cellphonenya.  Aku melihat ke sekitar. Dimana dia? Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7. Aku bersiap ke kantor. Kulihat tidak ada dia di lantai bawah. Kemana dia? Tunggu dulu. Untuk apa aku mencemaskannya? Akhirnya aku memutuskan tidak mempedulikannya dan ke kantor

—————————————-

~Sooyoung POV~
Aku memutuskan tetap pergi ke kampus. Biar bagaimanapun, kewajibanku sebagai mahasiswi harus tetap kujalankan.. Kulihat yuri di sana melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum. Aku tidak boleh menunjukkan ini semua di depannya.
“Annyeong Nyonya Cho!!” ujarnya
“Annyeong~” ujarku
“YA! Shikshin kenapa kau lemas seperti itu!” ujarnya
“Aku..hanya lelah,” ujarku
“Omona! Kalian..?”
Aku hanya tersenyum singkat. Mengingat itu semua.. hanya berdasarkan balas dendamnya..itu semua membuatku sakit

~Seohyun POV~
Benar-benar nyaman. Hari pertama menjadi putri Choi. Aku duduk di sofa. Rasanya sangat nyaman. Kulihat kepala pelayan Kim lewat
“Ambilkan jus,” ujarku
Kulihat dia hanya berjalan
“YA! Kubilang ambilkan jus!” ujarku
“Kau pikir aku pelayan pribadimu hah?” ujarnya
“Mwo? Bicaralah sedikit sopan padaku!” ujarku
“Wae? Aku lebih senior di sini. Bahkan sebelum kau ada. Dan aku kepala pelayan. Bukan pelayanmu. Kutegaskan sekali lagi. Permisi,” ujarnya
Haish..apa-apaan yeoja itu!

———————————————–

~Sooyoung POV~
Aku sedang berada di rumah yuri. Aku beralasan ingin main ke rumahnya. Padahal sebenarnya..aku tidak tahu bagaimana caranya pulang ke rumah itu. Aku pasti akan bertemu dengannya. Bagaimana aku harus menghadapinya? Aku tidak tahu. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6
“Youngie, apa tidak masalah kau di sini sampai larut? Kurasa kyuhyun mencarimu,” ujar yuri
“Dia tidak mungkin mencariku,” ujarku
“Ne?”
Gawat. Babo youngie..kenapa kau mengatakannya
“Maksudku..dia sedang tugas di luar kota. Mana mungkin dia mencariku,” ujarku
“Aigo..dia memang orang sibuk,” ujar yuri
Aku tersenyum singkat
“Lalu kau sendirian di sana?” ujar yuri
“ne,” ujarku
“Kenapa kau tidak menginap di sini saja? Kyuhyun juga tidak ada di rumah kan? Yeoja berada sendirian di sebuah rumah sangat menyeramkan,” ujar yuri
“Jinjjayo?Aku boleh menginap di sini?” ujarku
“Hahaha, memangnya kau siapa? Tanpa kau bertanya pun kau boleh menginap di sini,” ujarnya
“Gomawo yul!!” ujarku

~Kyuhyun POV~
Aku memasuki rumah. Kosong. Kemana dia sebetulnya? Ini sudah jam 7 malam. Kenapa dia tidak memberi kabar? Tunggu dulu..kenapa aku mencemaskannya? Ingat kyuhyun…ingat… kau tidak mencintainya. Dan dia bukan urusanmu. Demi eomma, appa, dan Mom.

———————————————-

~Sooyoung POV~

Aku mencari buku-buku untuk kupelajari di perpustakaan untuk mengisi waktu senggang. Aku berniat mengambil sebuah buku.
“Kenapa tinggi sekali..”
Aku berusaha berjinjit mengambilnya. Tiba-tiba kulihat seorang namja mengambilkannya. Itu adalah kris, teman sekelasku
“Gomawo kris,” ujarku
“ne.” ujarnya
Aku duduk di salah satu bangku. Kulihat dia duduk di depanku
“Kau membaca buku untuk persiapan kelulusan?” ujarnya
“Ne, aku harus mulai mempelajari skripsi dari sekarang,” ujarku
Kulihat dia tersenyum
“Oh ya, chukkhae atas pernikahanmu,” ujarnya
“Gomawo,” ujarku
“Dia pasti namja yang sangat beruntung,” ujarnya
Aku tersenyum sekilas
“Kudengar dia pemilik Girls’ Chic? Dia pasti sangat pintar,” ujarnya
“Ne,” ujarku
Dia memang sangat pintar. Bahkan dalam menjebakku
“Apa kau bisa merekomendasikan buku untukku?” ujarku mengalihkan perhatian
“ah ne, tentu saja”

~Kyuhyun POV~
Akhirnya kuputuskan menjemputnya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jadi mengkhawatirkannya. Aku menunggunya di kampus. Dia pasti di sana. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok seorang yeoja yang tertawa bersama namja di sebelahnya. Bagaimana bisa dia tertawa seperti itu di depan namja lain? Haish.. Aku menuruni mobil dan berjalan ke arahnya. Kulihat dia terlihat kaget melihatku
“Oppa..”
“Annyeonghaseyo,” ujar namja itu
“Ne annyeonghaseyo,” ujarku singkat
Aku menarik tangan youngie ke mobil meninggalkan namja itu. Aku menyetir ke rumah. Kulihat dia hanya diam
“Kenapa kau tidak pulang kemarin?” ujarku
Dia hanya diam
“Kutanya sekali lagi, kenapa kau tidak pulang kemarin?”
“Aku..ada tugas yang harus kuselesaikan,” ujarnya
“Bersama namja itu?”
“Ani..aku..”
“Apa kau tidak sadar pada statusmu hah?! Bagaimana kalau ada media yang melihatmu bersama namja itu. Kau bisa terkena kasus!” ujarku
“Apa kau lupa kau ini siapa? Kau putri Choi Siwon, seorang produser terkenal dan statusmu adalah istriku,” ujarku
Dia hanya diam

——————————————–

~Sooyoung POV~
Aku terdiam di ruang tamu. Sejak kejadian itu, dia seakan menghindariku. Sebenarnya seharusnya aku merasa tenang terhindar darinya, karena itu lebih baik daripada bingung harus bersikap apa. Kudengar pintu diketuk keras. Aku membukakannya. Kulihat dua yeoja berpakaian ketat masuk ke dalam bersamanya. Aku terdiam menatapnya. Tuhan..cobaan apa lagi ini

~Siwon POV~
Aku terdiam melihat bangkunya yang kosong. Sudah 3 minggu..bangku itu tidak diduduki oleh youngie saat makan. Jujur, aku merindukannya. Choi Sooyoung kecilku. Entah kenapa aku marah pada diriku sendiri yang membuatnya meninggalkanku secara tidak langsung secepat ini. Apa dia..sedang tertawa bersama kyuhyun sekarang? Kuharap begitu..

~Sooyoung POV~
Aku mengunci pintu kamar. Kudengar tawa 3 orang itu dari sini. Aku menutup telingaku dan menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan. Kudengar banyak kata chagi yang terdengar. Tuhan…apa aku masih sanggup menghadapi ini semua..aku tidak tahu. Kurasakan kepalaku pusing. Aku berjalan perlahan ke tempat tidur dan merebahkan diri di sana.

——————————————

~Yuri POV~
Aku menunggunya di depan kelasnya. Kulihat para mahasiswa sudah keluar. Kemana dia? Bukankah biasanya dia keluar pertama? Aku masuk ke dalam kelasnya. Aku terheran melihatnya. Youngie..tidur? Aku berjalan ke arahnya
“Choi Sooyoung irreona,” ujarku
Dia hanya diam
“Ya! Choi Sooyoung!”
“Ne sonsaengnim,” ujarnya
“YA! Kau tertidur dari kapan?” ujarku
“Mwo? Kenapa kelasnya kosong?” ujarnya
“Semuanya sudah pulang babo,” ujarku
“MWO?”
“Ya! Kau tertidur berapa lama!?”ujarku
“Aigoo..bagaimana bisa aku tertidur dari tadi,” ujarnya memegang kepalanya
Kulihat wajahnya pucat
“Kau sakit?” ujarku
Dia menggeleng
“Gwaenchanha, aku hanya sedikit pusing,” ujarnya
“Ya! Kalau pusing tidak perlu kuliah babo!” ujarku
“Gwaenchanha,” ujarnya
Aku berjalan di sampingnya. Menjaganya agar dia tidak jatuh.
“Apa kyuhyun menjemputmu?” tanyaku
Dia menggeleng
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah,” ujarku
“Gwaenchanha, aku bisa pulang sendiri. Gomawo yul,” ujarnya menaiki sebuah taksi lalu melambaikan tangan padaku
“Hati-hati,” ujarku
Aku menatapnya berlalu. Entah kenapa..aku merasa ada yang disembunyikan dariku

~Sooyoung POV~
Aku melangkahkan kaki ke kamarku. Aku mengunci pintunya.  Aku merebahkan diri di tempat tidur. Kepalaku terasa sangat berat. Bagaimana bisa aku tertidur selama jam pelajaran.. Tiba-tiba aku merasa sangat mual. Aku melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan kekuatan yang kupunya
“Hoekk..”
Kurasa..aku kelelahan

————————————

~Siwon POV~
Sudah sebulan ini aku tidak melihatnya. Dia bahkan tidak menelponku sama sekali. Apa dia sudah benar-benar membenciku sampai berniat menghapus ingatan tentangku? Aku tidak mengerti. Tapi jujur, aku baru merasa sangat hampa sekarang. Tanpanya…

~Yuri POV~
Kami sedang berada di kantin sekolah. Kulihat youngie tidak makan
“Kau tidak lapar shikshin?” ujarku
“Ani..kalau aku makan nanti aku mual lagi,” ujarnya
“Arra..”
Aku melanjutkan makan. Tiba-tiba aku teringat akan sebuah hal
“Youngie..tidakkah kau merasa ini aneh?” ujarku
“Ne?”
“Pulang kampus nanti, aku akan menemanimu ke dokter,” ujarku
“Waegeurae?” ujarnya
“Sudah pokoknya menurut saja”

—————————————

~Sooyoung POV~
“Gomawo Yul,” ujarku
“Ne. Annyeong! Ingat! Jangan lupa katakan pada kyuhyun dan beristirahat!” ujarnya
Aku tersenyum padanya. Setelah melihatnya menghilang aku melangkahkan kaki memasuki rumah. Kosong. Syukurlah dia belum pulang. Aku melangkahkan kaki ke kamarku. Aku menghela nafas. Aku terduduk lemas di lantai. Tuhan…apa aku akan sanggup menerima cobaan yang kali ini.. kurasakan air mataku menetes. Aku mengelus perutku perlahan. Bagaimana cara mengatakan hal ini padanya…

——————————–

~Kyuhyun POV~
Aku melangkahkan kaki memasuki rumah. Kulihat dia duduk di sana menatapku. Aku tidak mempedulikannya dan berjalan ke atas
“Oppa..ada yang ingin kukatakan..” ujarnya
Aku menghentikan langkahku dan menatapnya
“Katakan saja,” ujarku
“Aku…”
Kulihat dia memainkan tangannya. Terlihat berpikir keras
“YA! Cepat katakan aku sudah lelah,” ujarku
“Aku..hamil oppa,” ujarnya
“NE?”
Aku menatapnya
“Kau bercanda,” ujarku
“Aku serius oppa, apa ini terlihat lucu sebagai candaan?” ujarnya
“But I’ve just done it once,” ujarku
“And so do I,” ujarnya
“Darimana aku bisa yakin pada hal itu?” ujarku
“Ne?”
“Bagaimana bisa aku mempercayaimu sedangkan kau dekat dengan namja lain,” ujarku
PLAK! Kurasakan dia menamparku
“BISA-BISANYA KAU MENUDUHKU SEPERTI ITU! KAU PIKIR AKU YEOJA SEPERTI APA OPPA!” ujarnya menitikkan air mata
“Lalu apa maumu sekarang hah?” ujarku
Kulihat dia hanya diam
“Euisa menyarankanku cuti kuliah demi keselamatannya karena kandunganku lemah tapi..aku akan lulus 6 bulan lagi. Jika aku mengambil cuti sekarang, aku akan lulus tahun depan,” ujarnya
“Maka lakukanlah apa yang kau yakini lebih benar,” ujarku
“Aku..tidak bisa memilih,” ujarnya
Aku menatapnya
“Kau sudah dewasa, kau bukan anak-anak lagi. Pilihlah mana yang kau yakini lebih benar. Kalau aku menjadimu aku akan memilih karierku dan menunda kehamilanku,” ujarku
“Maksudmu?”
“Gugurkan,” ujarku
“Ne?”
“Pertama, kurasa kariermu tinggal mencapai puncaknya sebentar lagi. Kedua, kepercayaanku padamu sangat minim. Ketiga, kau masih terlalu kekanak-kanakkan untuk memiliki seorang bayi. Kurasa pikirkan alasan itu baik-baik,” ujarku meninggalkannya

~Sooyoung POV~
Aku terduduk lemas. Tidak..aku tidak boleh membunuhnya.. dia tidak bersalah. Dia hanya korban kebodohanku terjebak dalam tipu muslihat appanya. Bisa-bisanya namja itu mengatakan hal seperti itu. Aku menghapus air mataku. Aku tidak boleh menangisinya. Aku akan membutkikan padanya kalau aku kuat. Aku bisa mempertahankan keduanya. Aku bisa mempertahankan karierku..dan juga anakku

——————————————————–

~Yuri POV~
Aku tersentak melihatnya berjalan menyusuri lorong kampus
“YOUNGIE!” teriakku
Kulihat dia menengok
“Annyeong,” ujarnya sambil tersenyum
“Ya! Baboya! Kau tidak mendengar saran dokter kemarin!” ujarku
Dia hanya tersenyum
“Haish..yeoja ini pasti sudah gila. Apa kau tidak mengatakan pada kyuhyun soal ini?” ujarku
“Aku mengatakannya,” ujarnya
“Dan kau…tidak mengatakan saran dokter?”
Kulihat dia diam
“Haish..kau pasti tidak memberi tahunya!” ujarku
“Yul, kali ini biarkan aku memilih jalanku. Aku mengerti kondisiku,” ujarnya
“Tapi..”
“Yul, aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu mana yang benar dan salah. Aku tahu batas kemampuanku,” ujarnya
“Ne.”

~Sooyoung POV~
Hari sudah malam. Aku tetap memaksa mengerjakan tugas. Kurasakan kepalaku pusing. Aku menahannya. Kita harus kuat. Kita harus membuktikan pada appamu kalau kita bisa berjuang. Akan kubuktikan padanya. Aku bisa tanpa bantuannya

~Kyuhyun POV~
Kulihat lampu kamarnya masih menyala. Entah kenapa aku merasa bersalah padanya atas perkataanku kemarin. Bagaimana bisa dia belajar sampai selarut ini. Bagaimana dengan kandungannya.. Tidak. Kyuhyun. Ingat. Dia adalah penyebab kematian appa dan eomma. Dan aku sudah berjanji pada Mom..untuk membalaskan dendam appa dan eomma

—————————————————-

~Siwon POV~
Sudah 3 bulan lebih aku tidak bertemu dengannya. Aku benar-benar merindukannya. Tapi…menghubunginya..kurasa hanya akan menambah kekesalannya… Aku menutup cellphoneku. Yoona..kenapa aku jadi canggung pada putri kita

~Sooyoung POV~
Aku mengerjakan essayku selama jam makan siang. Aku ingin beristirahat lebih pagi hari ini. Kulihat yuri menyuapiku
“Yul..”
“Makanlah, kau tidak kasihan padanya? Kyuhyun pasti marah kalau tahu kau tidak makan?” ujarku
“Dia tidak akan tahu,” ujarku
Tepatnya dia juga tidak akan peduli
“Akan kuadukan padanya!” ujar yuri
“YA..”
Yuri langsung memasukkan makanan ke mulutku
“Kau harus makan yang banyak! Kau tidak lihat perutmu mulai membesar hah?!” ujarnya
Aku tersenyum sekilas. Usia kandunganku sudah 15 minggu sekarang. Aku bersyukur, ada yuri di sampingku. Kalau tidak..kurasa aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi ini sendirian. Padahal seharusnya, nampyeonku atau bumonimku yang mempedulikanku sekarang. Tapi keadaan ini tidak seindah itu. Hanya yuri yang mempedulikanku. Kyuhyun..dia bahkan menolak keberadaannya dan..
“Ah…” tiba-tiba kurasakan perutku sangat sakit
“Gwaenchanha?”
“Yuri ah, jeongmal appayo..”
“Tenang youngie, kajja kita ke rumah sakit sekarang.”

~Yuri POV~
“Bagaimana keadaannya?” tanyaku pada euisa
“Dia kelelahan dan stress. Bukankah aku sudah menyarankanmu untuk bedrest hah?” ujar euisa padanya
“Aku..akan lulus 3 bulan lagi,” ujarnya
“Kau pikir 3 bulan waktu yang singkat hah! Pikirkan keselamatan bayimu! Dan apa yang kau pikirkan sampai stres?” ujar euisa
Kulihat dia hanya diam. Aku menatapnya. Apa yang membuatnya stres? Kulihat dia tetap tertawa
“Kau pasti memikirkan tugas kuliah eoh? Sebagai euisa, aku akan marah jika kau hanya memikirkan kariermu. Bagaimanapun juga keselamatan bayimu sangat penting.”
“Algesseumnida,” ujarnya

—————————————————-

~Victoria POV~
Setelah yeoja itu menikah, bukannya mempedulikanku dia malah bersikap cuek seakan tidak ada aku di rumah ini. Sering melihat cellphonenya, album foto. Haish..apa-apaan ini. Aku tidak mengerti lagi..

~Kyuhyun POV~
Aku memasuki rumah. Kosong. Kemana dia? Bagaimana bisa dia belum pulang? Ting tong..
Kudengar bel berbunyi. Aku membukakan pintu. Kulihat yuri memapahnya
“Gwaenchanha?” ujarku
Kurasakan dia menepis tanganku. Yuri menatapnya bingung
“Dimana kamarnya?” ujar yuri
“Di..sana.”
Aku menunjuk kamarnya pada yuri. Aku menunggu di luar. Ada apa sebenarnya? Kulihat yuri keluar kamarnya dan menutup pintu rapat
“Apa yang terjadi dengannya?” tanyaku
“Dia kelelahan dan stres. Kyuhyunssi, bukan maksudku ikut campur. Tapi youngie adalah sahabatku dan aku mengkhawatirkan keselamatannya dan bayi kalian. Kuharap kau membujuknya perlahan untuk bedrest. Kandungannya lemah dan dia butuh istirahat intensif. Aku tahu kau sibuk, tapi sempatkan waktu memperhatikannya lebih,” ujar yuri
“Arra.”
“Annyeonghaseyo,” ujarnya
“Ne, annyeonghaseyo. Gamsamida,” ujarku
Kulihat yuri pulang. Aku masuk ke kamarnya. Aku menghela nafas
“Bagaimana bisa kau belajar seperti itu hah?”ujarku
“Wae? memang apa pedulimu?” ujarnya
“Sudah kubilang. Kau harus memilih salah satu,” ujarku
“Apapun yang kuputuskan tidak ada hubungannya denganmu. Dan aku tidak akan menggugurkannya sampai kapanpun!”
“Terserah,”ujarku lalu menutup pintu kamarnya

————————————————

~Yuri POV~
Aku terheran melihatnya membaca banyak buku di perpustakaan sambil menyelesaikan skripsinya
“Youngie, sampai kapan kau bersikeras begini?” ujarku
“Sampai 2 minggu lagi,” ujarnya
“Youngie, apa kau tidak lihat perutmu sudah sebesar itu. Usianya sudah 7 bulan dan kau masih saja nekat ke kampus. Apa kyuhyun tidak mencegahmu?” ujarku
“Ne, dia sangat mencegahku. Tapi ini hidupku jadi aku yang memutuskan,” ujarnya
Aku menggeleng mendengarnya. Benar-benar keras kepala. Bahkan kyuhyun pun tidak bisa mengubahnya

~Sooyoung POV~
“Itu adalah matanya.”
Aku tersenyum melihat hasil USG itu. Usia kandunganku hampir 7 bulan. 1 minggu lagi aku lulus kuliah. Aku bisa melewatinya. melewati 7 bulan.
“Sepertinya dia namja,” ujar euisa
Aku tersenyum mendengarnya
“Apa menurutmu dia mirip appanya?” tanya euisa
Aku tersenyum tipis. Aku paling benci pertanyaan itu. Karena dengan terpaksa aku harus mengakui kalau dia sangat mirip appanya. padahal appanya tidak menginginkan kehadirannya
“ne.”
“Jaga kandungan anda baik-baik Nyonya Cho,” ujarnya
“Algesseumnida”

——————————————————————-

~Yuri POV~
Aku tersenyum melihat namanya berada di peringkat teratas. Ini luar biasa!
“Bagaimana?” ujarnya
“Kyaa!! Chukkhae!! Kau peringkat pertama!!” ujarku
“JINJJA?”
Aku mengangguk
“Aku ingin sekali memelukmu tapi ada yang cemburu nanti,” ujarku menunjuk perutnya
“Hahahhahaa”
“Eommamu sangat hebat,” ujarku
“Tentu saja,” ujarnya
“YA! Aku tidak berbicara padamu!!”
Dia tertawa. Aku senang melihatnya seperti ini. Nampyeon macam apa kyuhyun itu. Tidak bisa datang ke wisuda anaenya karena pekerjaan. Haish..

——————————————

~Sooyoung POV~
Upacara wisuda selesai. Rasanya seperti mimpi. Semuanya berjalan sangat cepat. Aku pun kembali ke ‘neraka’ bagiku itu. Kulihat mobilnya di sana. Bagaimana bisa..dia sudah pulang.. Aku memasuki rumah. Kulihat dia di sana, bersama seorang yeoja. Mataku memanas aku tidak bisa melihat ini semua lagi
PLAK! Aku menampar yeoja itu
“MWOYA? Apa yang kau lakukan?” ujar yeoja itu
“Apa kau tidak punya malu hah? Datang ke rumah namja yang sudah menikah? Bersamanya berdua? Kau menggodanya untuk menjadi model? Benar-benar memalukan. Gunakan skillmu untuk hal itu! Bukan tubuhmu!”
“JAGA BICARAMU!” ujar yeoja itu
“Ya! Kenapa kau jadi marah padanya hah? Bukankah kita sepakat saling tidak mengikutcampuri urusan masing-masing?” ujar kyuhyun
“Kau namja tak berperasaan! Selama ini aku sudah mencoba menahan kesabaranku. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi sekarang!”
“Kau sendiri yang menjadi anae pembangkang. Kenapa kau menyalahkanku sekarang? Aku membiarkanmu dekat dengan namja manapun. Tapi kau juga tidak boleh melarangku dekat dengan modelku,” ujarnya
PLAK! Aku menamparnya
“KAU KETERLALUAN CHO KYUHYUN! KAU BIADAB! KAU TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN! KAU BUKAN MANUSIA!”
PLAK! Kurasakan pipiku memanas. Dia…
“AKU SUDAH MUAK DENGAN SEMUA INI! PERGILAH DARI KEHIDUPANKU!” ujarnya lalu pergi disusul yeoja itu
Aku menitikkan air mata. Bagaimana bisa dia menamparku. Bagaimana bisa dia mengatakanku untuk pergi dari kehidupannya. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini
“Baik kalau itu maumu Cho Kyuhyun..”
Aku tidak bisa memungkiri kenyataan, kalau aku mencintainya. Meski berkali-kali aku mencoba menghapusnya. Semua itu kembali di ingatanku. Aku..tidak bisa menahan ini semua lagi.. Aku sudah tidak kuat lagi

~Kyuhyun POV~
Kudengar cellphoneku berbunyi. Itu darinya. Aku malas mengangkatnya. Setelah menamparku dan mengata-ngataiku dia menelponku? Benar-benar menyebalkan. Kudengar cellphoneku terus berbunyi. Aku mengabaikannya.

~Sooyoung POV~
Aku mematikan telepon. Aku merekam voice note padanya. Aku sudah tidak kuat menjalani ini semua ke depannya. Aku tidak bisa membiarkan putraku melihat ini semua.
“Kita…pergi berdua chagi.”
Tanganku bergetar. Aku harus bisa melakukannya. Ini lebih baik.. Aku tidak bisa membunuhnya sedangkan aku masih bisa melihat dunia. Aku telah merampas haknya..maka aku harus bertanggung jawab. Jika dia tidak bisa melihat dunia, maka aku pun tidak.. Aku sudah tidak punya alasan bertahan. Mianhae chagi… Mianhae appa… Mianhae…oppa
“Ahh…”
Kulihat darah mengalir dari pergelangan tanganku. Tak lama kemudian aku terjatuh. Kurasakan perutku sangat sakit.
“Jeongmal appayo…”
Setelah itu semuanya gelap

~Kyuhyun POV~
Kulihat ada voice note. Aku berniat menghapusnya, tapi aku malah memutarnya
“Oppa…aku tidak ingin bicara banyak..”
Aku terdiam mendengarnya
“Aku..meminta maaf..atas semua kesalahan yang kubuat. Aku meminta maaf…jika aku..menjadi penyebab kematian bumonimmu. Aku meminta maaf…karena membuatmu marah..bahkan menyusahkanmu untuk menjebakku..ke dalam kotak dimana aku tidak bisa keluar meski sudah tersiksa. Oppa…seberapa keras aku mencoba membencimu…aku tidak bisa. Karena aku mencintai oppa. Meski aku tahu itu semua sia-sia. Karena biar bagaimanapun juga..cho kyuhyun..adalah appa dari janinku. Meski..mungkin oppa tidak mengharapkannya..”
“Oppa…terima kasih karena pernah menjadi satu-satunya orang yang mempedulikanku. terima kasih telah membuatku merasakan menjadi seorang eomma meski kurasa aku tidak akan bisa menggenapinya. Aku…sudah tidak kuat dengan semua ini oppa… mianhae..”
A..apa maksudnya
Jika memang itu yang kau inginkan, dan itu bisa membuatmu bahagia, aku akan pergi dari kehidupanmu oppa, selamanya. Saranghae…nae cho kyuhyun.”
Aku memutar balik mobilku ke rumah. Entah kenapa perasaanku sangat buruk. Apa maksudnya? Pergi dari kehidupanku selamanya? Entah kenapa aku merasa sangat khawatir padanya. Aku memacu mobil dengan kecepatan maximum. Sesampainya di rumah, aku berlari masuk ke dalam
“YOUNGIE?”
Tidak ada jawaban. Aku pergi ke kamarnya. Kosong. Aku membuka pintu kamar mandi. Tidak ada. Aku berlari ke arah ruang makan, aku tidak menemukannya. Kemana dia? Aku berlari ke dapur. Aku tersentak melihat di lantai dengan banyak darah.
“YOUNGIE?!”
Aku mengambil serbet dan mengikat lengannya. Aku menggendongnya ke mobil. Bagaimana bisa dia nekat mengiris pergelangannya sendiri? Darah mengucur deras dari pergelangan dan kakinya. Tuhan…kumohon selamatkan dia

——————————————

~Siwon POV~
PRANG!!! Kudengar suara pecahan beling dari ruang tengah. Aku keluar dari kamarku. Kulihat pelayan membereskan frame itu
“Joesonghamnida tuan, saya tidak sengaja,” ujar pelayan itu
“Ne, gwaenchanha,” ujarku
Kulihat foto youngie di sana. Aku mengambilnya
“Youngie..”
Entah kenapa perasaanku sangat buruk. Aku tidak bisa menahannya lagi…

~Kyuhyun POV~
Aku menunggunya dari luar ruang UGD. Air mataku menetes. Tuhan…apa yang sudah kulakukan… Apa ini yang kau inginkan Cho Kyuhyun? Seketika ingatanku kembali berputar. Dia benar. Apa aku pantas disebut manusia? Aku benar-benar marah pada diriku sendiri. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padanya. Kulihat euisa keluar dari ruangan
“Apa anda keluarganya?”
“Saya nampeyonnya.”
“Dia kehilangan banyak darah. Tapi kami tetap perlu menjalani operasi untuk menyelamatkan bayinya. Apa golongan darah anda O?”
“Ani.”
“Carilah keluarganya yang bergolongan darah O. Ppali!” ujarnya
“ne.”
Aku mencari nomor appanya di ponselnya. Kulihat appanya menelpon

~Siwon POV~
Kulihat dia mengangkat teleponnya
“Youngie?”
“Appa, kumohon..cepatlah datang ke Seohan International Hospital. Youngie kritis,” ujarnya
“N..ne?”
Aku menutup teleponku dari berlari ke mobil
“Ada apa?” tanya vict
Aku tidak mempedulikannya dan menyetir ke sana. Youngie…kritis? Bagaimana bisa… Aku mempercepat mobilku ke sana. Aku berlari ke ruang UGD. Putriku..apa yang terjadi.. Kulihat kyuhyun di sana. Kemejanya berdarah
“Kyuhyun ah, apa yang terjadi padanya?”
“Dia..”
“Apa anda keluarga Nyonya Cho?” ujar euisa
“Ne, saya appanya.”
“Apa golongan darah anda O?”
“Ne.”
“Dia membutuhkan darah secepatnya. Mari ikut saya,” ujar euisa
“Arra.”
Aku mengikuti euisa
“Euisa, apa yang terjadi pada putri saya?” ujarku
“Dia mengalami pendarahan. Selain itu pergelangan tangannya terluka,” ujar euisa
“Pen..darahan?”
“Dia harus mendapatkan tranfusi darah secepatnya atau nyawanya dan bayinya bisa terancam.”
“Bayinya?”

————————————————–

~Kyuhyun POV~
Kulihat para suster mendorong ranjangnya menuju ruang operasi. Aku mengikutinya. Aku memegang tangannya dan menciumnya
“Mianhae..” lirihku
Aku ikut masuk ke ruang operasi. Melihat proses persalinanya. Aku terus memegang tangannya. Mianhae chagi..ini semua karena kebodohanku. Aku..telah menyakiti orang yang paling kucintai.. anaeku..dan bahkan anakku sendiri. Aku benar-benar bodoh. Aku telat menyadari ini semua. Selama ini aku telah memungkirinya. Memungkiri kenyataan aku telah jatuh cinta, pada cho sooyoungku. Aku melakukan banyak cara,mulai membuatmu membenciku, tersiksa karenaku, mencoba mencari yeoja lain untuk kucintai. Semua itu sia-sia.. Chagi..kumohon izinkan aku menebus semuanya.. Izinkan aku mengatakan saranghae secara tulus padamu.. chagi..kumohon…beri aku kesempatan…

~Siwon POV~
Aku terdiam menunggu di luar ruangan. Bagaimana mungkin…dia tidak mengatakan apapun padaku..Bahkan soal kehamilannya.. kenapa dia tidak menceritakannya padaku? Dia pasti sudah sangat membenciku sekarang… Yoona..aku..telah berdosa besar..pada putri kita… dan kurasa dia benar… aku juga telah berdosa besar..pada Choi Yoona

———————-TBC——————–

52 thoughts on “Love Destiny {Part 7}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s